Gladys Chandra Wiguna atau biasa dipanggil Gadis adalah mahasiswi berbakat dari fakultas bergengsi Kota A. Wajah cantik dan sosok mungilnya menyembunyikan jiwa pemberani yang kuat.
Malam itu, saat ia pulang dari cafe, seorang pria memaksanya masuk mobil. Di dalamnya menanti Langit Mahesa seorang bisnis man yang memiliki perusahaan raksasa di kota A. Pria yang sudah memiliki istri, Bella Safira. Akankah Gadis kembali ke kehidupannya yang tenang? Ataukah cinta tak terduga tumbuh di antara mereka, menggoyahkan semua yang ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceriwis07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadi Rebutan
Charlie segera mendekatkan wajahnya dan membisikkan sesuatu pada Langit. Mendengar itu, kening Langit berkerut dalam, tatapannya berubah dingin dan murka.
"Urus dia sekarang. Jangan biarkan apa-apa terjadi padanya. Dan bawa pemilik tempat ini kepadaku," perintah Langit rendah namun penuh wibawa pada sekretarisnya.
Charlie mengangguk patuh dan segera undur diri menjalankan tugas.
Langit mendudukkan tubuh kekarnya di sofa mewah dengan santai namun mengintimidasi. Tak lama kemudian, seorang wanita cantik datang menghampiri membawa botol minuman keras dan gelas kristal, diikuti oleh beberapa wanita lain yang membawa nampan berisi camilan.
Mereka semua tidak berani duduk di sofa, melainkan duduk bersimpuh dengan sopan di atas lantai yang dingin tepat di hadapan Langit. Salah satu dari mereka dengan tangan gemetar menuangkan minuman berwarna kecokelatan itu ke dalam gelas, lalu menyerahkannya dengan hormat.
Langit menerima gelas itu tanpa menatap wajah siapa pun. Ia menenggak isinya hingga tandas dalam sekali teguk, seolah ingin membuang amarah yang memuncak.
Tak!
Gelas kristal itu diletakkannya dengan kasar di atas meja, menimbulkan suara keras yang menggema di ruangan hening itu, membuat semua orang yang ada di sana menunduk ketakutan, tak berani bernapas keras.
Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka lebar. Charlie masuk diikuti oleh Mami dan beberapa anak buahnya yang tampak gugup. Begitu melihat sosok Langit yang duduk gagah di sofa utama, mereka semua serentak menundukkan kepala, tak berani menatap lurus.
Jantung Mami rasanya ingin copot. Ia tahu betul siapa pria di hadapannya ini. Langit bukan pelanggan biasa, dia adalah penguasa yang bisa menghancurkan tempat ini hanya dengan jentikan jari.
"Tuan... Ada apa Anda memanggil saya?" tanya Mami dengan suara lembut namun gemetar. "Apakah anak-anak di sini tidak bisa membuat Tuan senang?"
Langit memang langganan tetap di sana, jadi Mami paham betul cara melayaninya. Namun, aura pria itu malam ini terasa jauh lebih dingin dan menakutkan dari biasanya.
"Apa ada barang baru?" tanya Langit pelan. Matanya terpejam, kepalanya sedikit mendongak ke atas, seolah tak sudi menatap mereka.
Mami terkejut setengah mati. Matanya melirik panik ke arah kedua anak buahnya, berusaha mencari jawaban.
"Ti-tidak ada, Tuan!" jawabnya terbata-bata. "Kalau ada barang baru, pasti saya bawakan pada Tuan yang pertama kali."
"Bawa dia masuk!" perintah Charlie dengan suara lantang.
Dari luar, dua orang pria bertubuh kekar membawa masuk sosok yang baru saja digiring tadi. Itu adalah Gadis!
Mata Mami terbelalak luas, keringat dingin mulai membasahi punggungnya.
"Aduh mati anak Belanda! Dari mana dia tahu soal barang bawaan si Yanto?!" batinnya panik luar biasa.
Dengan cepat ia mencoba mencari akal, mendekat sedikit dan mencoba membujuk dengan nada manis namun penuh ketakutan.
"Ah... Maafkan saya Tuan," rintihnya. "Om Gunawan sudah lebih dulu memesan dan membayarnya tadi. Apa Tuan juga menginginkannya? Atau... Bagaimana kalau saya carikan yang lebih senior? Dia masih baru belum lihai," bujuk Mami.
Langit perlahan membuka matanya. Tatapan tajamnya langsung terkunci tepat pada sosok Gadis yang berdiri gemetar di antara kedua pengawal. Pandangan mereka bertemu, menyatu dalam sekejap.
Begitu menyadari bahwa harapan satu-satunya ada di depan mata, Gadis langsung memasang wajah paling sendu dan memelas. Matanya berkaca-kaca, seolah memohon dengan sangat agar pria itu mau melindunginya dari neraka yang sedang menunggunya.
Langit mengalihkan wajahnya menatap Mami yang tubuhnya sudah gemetar hebat ketakutan.
"Berapa Gunawan membayar mu?" tanyanya dingin, tegas, dan tepat sasaran. Suaranya tenang namun menusuk seperti anak panah yang melesat cepat.
Mami langsung panik bukan main. "Ti-tidak usah bicarakan soal uang, Tuan!" sahutnya terbata-bata. "Kalau Tuan mau, malam ini dia khusus buat Tuan saja. Milik Tuan sepenuhnya!"
Dengan cepat ia melangkah, menarik kasar tangan Gadis lalu mendorongnya paksa ke arah sofa tempat Langit duduk. Karena tubuhnya sudah lemas dan oleng, Gadis hampir saja terbentur meja kaca yang keras dan bisa melukainya.
Namun, refleks Langit lebih cepat. Tangan kekarnya langsung menyambar pergelangan tangan Gadis, menariknya kuat hingga tubuh mungil itu terseret dan jatuh tepat ke dalam pelukannya.
Deg!
Gadis terkejut setengah mati. Matanya berkedip-kedip tak percaya, berbinar-binar seperti lampu sein yang menyala bergantian. Langit pun sama terkejutnya, jantungnya berdegup kencang sejenak, namun ia segera menetralkan wajahnya dan memalingkan pandangan, berpura-pura tenang meski tangannya masih menopang tubuh gadis itu.
"Charlie, urus dia. Dan usir mereka semua keluar dari sini!" perintah Langit ketus.
Charlie mengangguk patuh. Segala orang di ruangan itu, termasuk para wanita dan Mami, segera digiring keluar dengan tertunduk malu dan takut.
Namun, tepat sebelum pintu tertutup rapat...
BRAAKK!!
Pintu itu kembali terbuka lebar dengan kasar.
"KENAPA KAMU AMBIL BARANGKU?!"
Suara menggelegar milik Gunawan memenuhi seluruh ruangan, membuat suasana yang baru saja mulai tenang kembali mencekam.
Melihat sosok Gunawan yang menerobos masuk dengan wajah beringas, Langit justru tersenyum miring, senyuman sinis yang penuh tantangan. Perlahan, ia melepaskan pelukannya dari tubuh Gadis, membiarkan gadis itu berdiri tegak di samping sofa tempat ia duduk.
Gadis yang masih gemetar karena ketakutan, tanpa sadar menarik-narik ujung jas mahal yang dikenakan Langit. Gerakan kecil itu menunjukkan betapa panik dan tidak nyamannya ia berada di situ, merasa seperti buruan yang diklaim oleh dua pemilik kekuasaan yang berbeda.
Langit menoleh sedikit, menggelengkan kepalanya pelan namun tegas.
Itu adalah isyarat bisu. Seolah ia berkata, Tenang... Jangan takut. Ada aku di sini. Dia tidak akan bisa menyentuhmu.
Pandangan mata Langit yang dingin namun menenangkan itu seketika membuat jantung Gadis yang berdegup kencang sedikit lebih tenang. Ia tahu, malam ini pertarungan bukan lagi soal dirinya sebagai barang dagangan, melainkan soal harga diri dua raja yang sedang berhadapan.
Alih-alih merasa terintimidasi atau takut, Langit justru bersikap sangat santai bahkan seolah meremehkan. Ia menyilangkan kakinya dengan gaya yang sangat percaya diri, lalu tangan kekarnya dengan tenang merogoh saku celana, mengambil sebatang rokok, dan menyalakannya.
Asap tipis mulai mengepul perlahan di udara, sementara tatapan tajamnya tak lepas dari wajah Gunawan. Sikap tenang dan dingin itu justru membuat suasana semakin mencekam.
Melihat kelakuan Langit yang seolah tak menganggapnya ada, amarah Gunawan memuncak. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya memburu menahan gejolak emosi yang siap meledak kapan saja.
"Jangan main-main denganku!" geramnya tertahan.
Langit berdeham pelan, menetralkan suaranya agar terdengar datar namun berwibawa. Ia mengusap hidungnya dengan punggung jari sekilas, lalu menatap Gunawan dengan tatapan yang sulit diterka.
"Ada apa Gunawan?" tanyanya santai, seolah tak terjadi apa-apa. "Kenapa kamu semarah itu? Seolah-olah ada yang mencuri barang berhargamu."
Suaranya tenang, bahkan terdengar sedikit mengejek, membuat amarah Gunawan semakin memuncak namun sulit untuk meledak begitu saja.
"DIA MILIKKU!"
Teriakan Gunawan meledak keras, jari telunjuknya menunjuk lurus kearah Gadis.
Gadis tersentak hebat, sekujur tubuhnya gemetar hebat seolah disetrum listrik. Lututnya lemas, pandangannya kabur, dan ia berusaha sekuat tenaga menahan kakinya agar tidak ambruk jatuh di tempat. Ketakutan yang luar biasa membuatnya nyaris kehilangan kesadaran.
Langit bisa merasakan getaran itu. Ia tahu betul betapa tertekannya gadis di sampingnya.
Tanpa aba-aba, Langit berdiri tegak. Tangan kekarnya dengan lembut namun pasti menarik pinggang Gadis, lalu dengan gerakan yang terlihat sangat posesif dan memiliki, ia mendudukkan tubuh mungil itu tepat di pangkuannya.
Tindakan Langit itu bagaikan tamparan keras bagi Gunawan. Wajah Gunawan memerah padam, urat-urat lehernya menonjol, dan amarahnya memuncak tak tertahankan melihat barang yang ia klaim duduk manis di pangkuan musuh bebuyutannya.
Apakah yang akan terjadi?