Note: alur nya gak terlalu cepat, jadi buat yg enjoy ama alur yang meningkat sedikit demi sedikit aja ya guys
Hidup sebatang kara semenjak ia duduk di bangku sekolah menengah membuat Alvaro mau tak mau harus bisa terbiasa dengan yang namanya usaha dan kerja keras walaupun sering mengalami kegagalan.
karena ia tahu jika ia menyerah untuk berjuang maka itu berarti mengucapkan selamat tinggal bagi masa depannya dan berakhir hidup di bawah bayang bayang jembatan.
satu hal yang menjadi alasan mengapa dia tetap tak menyerah adalah karena ucapan almarhum ibunya ketika di ujung maut dahulu bahwa dirinya harus tetap berusaha dan tidak menyerah.
namun entah takdir mempermainkan dirinya atau apa, ia harus mengalami kejadian tragis ketika dalam perjalanan pulang selepas kerja..
bagaimana kelanjutan nya?, tetap ikuti cerita nya tak lain dan tak bukan hanya di novel saya "Sistem Kekayaan dan Kekuasaan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scorpion's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Preman sekolah
Si yatim piatu, si miskin, dan banyak kata umpatan serta cemoohan lain selalu menjadi makanan sehari hari bagi Alvaro ketika murid murid lain bertemu dengan nya.
Apalagi ketika ia melihat Rudi, anak dari wakil kepala sekolah di sekolah ini.
Sebisa mungkin ia akan menghindar dari Rudi itu, bukan karena ia takut. Melainkan karena ia malas menanggapinya yang memiliki kesombongan seolah olah semua orang berada di bawah telapak kakinya.
"Wah si miskin tuh bos." Ujar salah satu anak buah Rudi ketika melihat Alvaro yang mencoba mencari jalan memutar menghindari dirinya.
"Gak sopan banget nih ketemu bos malah putar balik, apalagi utang nya belum di lunasin. Kayaknya dia perlu di kasih bunga lagi." Ujar anak lain nya yang memanas manasi situasi.
"Sialan emang tuh anak, kalian berdua seret si miskin itu dan bawa kesini." Ucap Rudi dengan wajah menggelap.
"siap bos." Ujar keduanya bersamaan, mereka pun nampak berjalan cepat menuju Alvaro yang sudah berjalan menuju arah taman.
Beberapa teman murid yang tahu apa yang akan terjadi pada Alvaro pun nampak hanya diam, beberapa diantaranya bahkan nampak menunggu apa yang akan terjadi kepada Alvaro.
Namun sedikit di antara mereka juga sedikit merasa kasihan karena Alvaro mengalami hal tak mengenakkan itu, walaupun pada akhirnya mereka pun hanya diam saja.
Sedangkan Alvaro yang tidak tahu kalau dia di ikuti oleh dua orang bawahan Rudi, dia hanya berjalan santai menuju perpustakaan untuk mengembalikan buku yang ia pinjam.
Namun ketika ia ingin berjalan masuk ke dalam perpustakaan ia merasakan bahunya dipegang oleh seseorang, sebelum ia menolah ke belakang pegangan itu berubah menjadi tarikan kuat yang membuatnya terjungkal ke belakang.
Untung saja ia secara reflek langsung melindungi bagian belakang kepalanya, kalau tidak kepalanya pasti akan menghantam lantai keras dan dingin itu.
"Woi sialan, bisa bisanya kau menghindar gitu ya ketika bertemu bos." Ucap seorang murid dengan seragamnya yang tidak rapi, siapapun tahu dia preman sekolah dari gaya berpakaian nya itu.
"Aduh... Apa sih Don?" Tanya Alvaro ketika sadar bahwa yang menariknya adalah Doni anak buah dari Rudi, diikuti di belakang nya ada Aldo yang nampak tersenyum mengejek.
"Wah berani melawan nih maksudnya?" Tanya Aldo dari belakang Doni.
"Aku cuman tanya kenapa tiba tiba kalian narik aku sampai membuatku jatuh gitu." Ucap Alvaro tak terima.
"Cuih, kau bisa bisanya ketemu bos barusan malah putar balik hah?," Tanya Doni dengan wajah dibuat buat seram.
Sebenarnya Alvaro sudah muak dengan perlakuan Rudi dan anak buahnya ini sejak awal ia masuk, hanya saja ia tak ingin hanya karena mendahulukan ego dan emosi membuatnya dikeluarkan dari sekolah.
Apalagi ia tahu sejak awal kalau Rudi memang anak yang bermasalah, dan lagi ayahnya adalah wakil kepala sekolah yang membuatnya bisa mudah semena mena pada murid lain.
"Kau ikut kita sekarang!!" Ucap Doni sambil menyeret tangan Alvaro bersama dengan Aldo dengan paksa, namun tentu saja Alvaro mencoba melawan balik.
"buakhh... Ughh.." Tiba tiba ia merasakan rasa nyeri di perutnya tatkala Doni menghantamkan pukulannya pada perut Alvaro.
"Kau pilih babak belur di sini atau ikut kami." Ancam Doni yang membuatnya mau tak mau mengikuti keduanya.
"Ting.. Misi sistem terpicu
Misi : Lawan Rudi dan para anak buah nya
Hadiah: dapatkan secara langsung peningkatan poin kekuatan sebesar 5, 5 poin sistem, dan satu kotak misteri tingkat bawah
Ya/Tidak" Tiba tiba dering Sistem terdengar di telinga Alvaro yang sedikit membuatnya terkejut.
"Cuman lima poin emang bisa lawan mereka?" Tanya Alvaro lirih pada sistem.
"Jangan remehkan hal itu tuan, bahkan itu sebenarnya sudah lebih dari cukup." Balas sistem dalam kepala Alvaro.
"Bicara apa kau hah!?" tanya Doni membentak ke arah Alvaro, sedangkan Alvaro hanya diam.
Setelah beberapa saat mereka bertiga pun sampai di halaman belakang sekolah yang cukup sepi, disana nampak Rudi dan beberapa anak buahnya yang sedang merokok sambil tertawa tawa.
Ketika mereka melihat Alvaro yang diseret Doni dan Aldo nampak wajah mereka tersenyum kejam seolah bertemu mainannya.
"Wah wah si miskin ternyata, buat gara gara lagi kah?" Tanya salah satu anak.
Rudi yang melihat Alvaro di dorong sampai terjatuh di hadapannya pun tersenyum mengejek, ia benar benar menikmati rasanya menginjak-injak orang lain yang berada di bawahnya.
"Woi sialan apa maksudmu tadi hah?, udah gak hormatin aku lagi gitu?" Tanya Rudi sambil mengangkat wajah Alvaro yang menunduk menggunakan sepatunya.
"Bisu apa tuli nih anak kok diem aja ditanya, atau mungkin mulai berani kayaknya bos." Ucap Aldo memanas manasi yang membuat Rudi geram lalu langsung menjambak Alvaro dengan tangan kirinya.
"Woi anak jal4ng, punya mulut kagak?, atau perlu gua levarin lagi tuh mulut Lo?" Tanya Rudi geram.
"Aku kan gak ngapa ngapain, aku cuman mau ke perpustakaan aja tadi. Apa salahku?" Tanya Alvaro yang masih memegangi perutnya yang nyeri.
"Kau tanya apa salahmu?, salahmu itu karena kau hidup dan mengganggu mata ku. Paham?" Jawab Rudi sambil mengeratkan jambakan nya yang membuat Alvaro sedikit meringis.
"Apakah anda akan melakukan misi?
Ya/Tidak" Tiba tiba sistem kembali berdering di kepalanya.
"Tapi resiko nya terlalu besar untuk aku lakukan, bisa bisa aku di keluarkan dari sekolah hanya gara gara aku melawan." fikir Alvaro sambil sedikit menggeleng.
"Eh iya bukannya si kumuh ini punya hutang ya?, dan lagi kayaknya dia baru gajian dari tempat kerja nya." celetuk seorang siswi diantara mereka yang membuat Rudi mengangkat satu alisnya.
Alvaro yang mendengar itu langsung membulatkan matanya tak percaya, itu karena sejak lama tak ada yang tahu kalau ia bekerja sampingan.
"Hahaha lumayan nih mumpung dompetku lagi tipis." Ucap Rudi lalu ia pun mengulurkan tangannya untuk mengambil tas milik Alvaro.
"Hei lepaskan sekarang." Ucap Rudi ketika Alvaro mengeratkan pegangan tas nya.
"duakhh.." secara tiba-tiba dengan kejam Rudi pun menendang bagian samping tubuh Alvaro yang membuat Alvaro menggeliat kesakitan.
"wah lumayan tahan nih anak, bisa bisanya dia tetap tak bersuara begitu setelah kena tendanganku." Ucap Rudi
"Kalian yang mau, hajar anak ini dan ambil tas nya. Melihatnya mencoba bertahan sepertinya ada cukup uang yang ada di dalam tas miliknya." Ucap Rudi lalu ia pun berjalan mundur kembali ke tempatnya duduk barusan di samping satu satunya siswi di sana.
"Lumayan nih mumpung tanganku gatal juga." Ucap salah satu siswa sambil melangkah maju sembari menekuk lengan seragamnya.
Pada akhirnya pukulan demi pukulan ia terima di tubuhnya yang meringkuk sembari melindungi tas yang ia bawa.
"Apakah anda masih akan bertindak seperti pengecut selamanya. TUAN??"
...Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω...
kritik dan saran boleh kokk