transmigrasi jadi tokoh yang harusnya mati mengenaskan? tidak, Terima kasih.
saat suami CEO-ku meminta cerai, aku pastikan 2 garis biru muncul terlebih dahulu. permainan baru saja dimulai, sayang.
#jadi antagonis#ceo#hamil anak ceo#transmigrasi#ubah nasib#komedi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kode dari dunia lain
"Mampus tuh si Doni. Kira-kira nanti dia nikah sama yang mana ya?" ucap Silvi sambil ketawa puas. Ketawanya lepas, puas, tapi ada nada aneh di ujung suaranya. Kayak orang yang udah nonton ending filmnya duluan.
Dua sahabat itu sekarang duduk di halte depan Le Blanche. Angin sore niup rambut mereka. Cafe di belakang masih rame, suara orang ribut sama klakson HP masih kedengeran. Video Doni dikeroyok 4 bumil udah pasti masuk FYP.
Mereka masih senyum-senyum, nginget rencana mereka yang berhasil. Vivian nyender ke tiang halte, napasnya lega. Beban 2 tahun kayak keangkat semua. Tapi ada yang ganjel.
"Silvi," tanya Vivian, nadanya mulai serius. Alisnya berkerut. "Kok kamu tahu ada 3 cewek lain?"
Seingatnya, di novel cuman ada satu nama wanita simpanan Doni. Sinta. Itu doang. Gak ada Lia, Mel, apalagi Tika. Penulis novel gak pernah nulis itu. Terus Silvi tau dari mana?
Silvi yang tadinya ketawa, langsung diem. Dia ngatur napasnya. Lama. Matanya natap jalanan depan, kayak lagi nyari kata-kata yang pas. Atau kayak lagi nyembunyiin sesuatu.
"Aku cari tahu udah dari 1 bulan lalu," jelas Silvi akhirnya. Suaranya pelan. "Pas kamu kasih tahu aku mau ngancem keluarga Wijaya pake... bunuh diri."
Vivian kaget. Dia gak pernah cerita sedetail itu ke Silvi di timeline ini. Itu niatnya Vivian asli, yang dia baca di bab 3 novel. Kok Silvi bisa tau?
"Aku gak rela, Vi. Kamu ngejar Doni itu sampe segitunya," lanjut Silvi, matanya masih gak natap Vivian. "Makanya aku cari tahu. Siapa aja yang deket sama dia. Aku stalking IG-nya, WA-nya, sampe akun ojolnya gue lacak. Tadinya mau kasih tahu kamu dari dulu, tapi belum ada kesempatan. Kamu keburu sibuk berantem sama Eric tiap hari."
Silvi ketawa kecil. Hambar. "Hari ini kamu dateng sendiri bikin rencana itu. Bilang mau putusin Doni. Itu kesempatan buat buka siapa Doni sebenarnya. Jadi ya... sekalian aja gue panggil semuanya. Biar rame."
Penjelasannya logis. Masuk akal. Tapi... caranya ngomong aneh. Kayak dia udah apal skripnya. Kayak dia tau Vivian bakal ke cafe hari ini, bakal ngajak putus, bakal bikin rencana.
Vivian diem. Ngerasa ada yang gak beres. Tapi dia tepis. Mungkin Silvi emang sahabat sejati. Terlalu sayang. Terlalu perhatian.
Vivian senyum, tulus. Lalu nyelipin tangannya di ketiak Silvi, meluk lengan sahabatnya itu. Dingin. Padahal sore-sore gini Jakarta panas. "Makasih ya, Sil. Udah bantu aku keluar dari kekacauan ini. Kamu emang bisa diandalkan. Dari dulu sampe... sekarang."
Kata "sekarang" itu berat. Karena Vivian sadar, di novel, Silvi juga mati. Kecelakaan pas mau ke pemakaman Vivian. Dia harus nyelametin Silvi juga.
Silvi noleh. Senyumnya beda. Lembut banget. Tulus, tapi ada sedihnya. Kayak orang yang mau pamitan. "Sama-sama, Vi. Kamu bakal jadi sahabat baikku di dunia ini..." dia jeda, natap Vivian dalem-dalem, "...maupun yang..."
Ucapannya kepotong.
Karena tangan Vivian yang nyelip di ketiaknya tiba-tiba melonggar. Badannya lemas. Kayak boneka yang benangnya putus.
Bruk.
Gadis itu jatuh. Ke belakang. Kepalanya hampir kejedot aspal halte.
"VI!" Silvi panik. Refleks dia nahan, tapi telat. Dia langsung jongkok, goyang-goyang tubuh Vivian. "Bangun, Vi! Jangan becanda! Bangun!"
Gak ada respon. Mata Vivian merem. Wajahnya pucet. Bibirnya biru.
"Vivian! Jangan tinggalin aku di dunia ini!" teriak Silvi. Suaranya pecah. Panik beneran. Tangannya gemeter ngecek nadi di leher Vivian. "Tolong! Ada yang bisa bantu?!"
Orang-orang di halte langsung ngerubung. Ada yang nelpon ambulans. Ada yang ngipas-ngipas. Silvi nangis. Beneran nangis. Air matanya netes ke pipi Vivian.
"Lo gak boleh mati, Vi," bisiknya, sambil gendong kepala Vivian di pangkuannya. "Lo belum selesaiin misi lo. Lo belum... belum ngubah endingnya. Gue udah susah payah..."
Kata-katanya aneh. "Misi"? "Ending"? Misi apa? Ending siapa?
Tapi gak ada yang denger. Sirine ambulans udah nyaring di kejauhan.
...
Cuman ada suara bip... bip... bip... mengisi ruangan.
Bau alkohol nyengat. Bau infus. Bau khas rumah sakit yang dingin dan steril.
Vivian tidur di ranjang pasien. Selang infus nancep di punggung tangan. Selang oksigen di hidung. Wajahnya pucet, tapi napasnya stabil. Udah hampir 5 jam belum sadarkan diri.
Di ruangan VIP itu bukan cuman ada Vivian.
Di kursi samping ranjang, ada Bu Ratna. Duduk tegak, tapi tangannya remas sapu tangan sampe kusut. Matanya sembab. Kelihatan khawatir dan tulus, biarpun Vivian selalu bikin masalah, selalu ngelawan, selalu nyakitin hatinya. Tapi menantu tetap menantu. Titipan mendiang suaminya.
Di sofa agak jauhan, 3 bersaudara Wijaya duduk. Suasananya hening, canggung.
Chindy tidur saking capeknya. Kepalanya senderan di bahu sofa, makeup-nya luntur. Butiknya dia tutup mendadak gara-gara denger Vivian pingsan. Se-galak-galaknya dia sama Vivian, dia tetap kakak ipar.
Cika masih nunduk main HP. Tapi bukan main game. Di layarnya muter video Doni yang viral. Dikeroyok 4 bumil. Caption-nya: "Karma is a Bitch. Cowok Mokondo Kena Batunya". Cika liat itu, terus lirik ke Vivian di ranjang. Ekspresinya campur aduk. Kagum, bingung, takut.
Sementara Eric, dia duduk paling pojok. Diam. Punggung tegak. Jas kantornya belum dilepas. Matanya menerawang, natap ke arah jendela rumah sakit. Tapi pikirannya jauh. Dia ingat-ingat lagi kenangan 2 tahun terakhir.
Dua tahun neraka. Vivian teriak minta cerai tiap minggu. Vivian selingkuh. Vivian ngancem. Vivian bikin malu keluarga di depan rekan bisnis. Vivian... yang sekarang tiba-tiba berubah 180 derajat.
Apalagi pas inget mendiang ayahnya, Pak Wijaya. Waktu itu, di rumah sakit ini juga. Dua tahun lalu. Pak Wijaya sekarat karena kanker. Dia manggil Eric, nyatuin tangan Vivian sama Eric buat dijodohkan. Paksa.
"Jaga Vivian, Nak," kata Pak Wijaya waktu itu, napasnya satu-satu. "Bapak titip dia ke kamu. Dia gak punya siapa-siapa lagi. Anggap ini... amanah terakhir Bapak."
Seolah melepaskan tanggung jawab menjaga Vivian pada pria muda itu. Eric yang waktu itu umur 26, dingin, ambisius, gak pernah pacaran, tiba-tiba harus nikahin cewek asing.
Vivian adalah anak sahabat ayahnya. Om Haryo. Dulu keluarga Haryo sama Wijaya deket banget. Partner bisnis, sahabat dari kuliah. Tapi keluarga Vivian meninggal tragis. Dibantai. Perampokan. Cuman bersisa Vivian yang kebetulan kuliah di luar negeri, di Swiss. Selamat karena gak di rumah.
Dalam keadaan sehancur itu, trauma, depresi, Vivian dipulangin ke Indonesia. Dan langsung dinikahkan dengan Eric. Gak pake pacaran. Gak pake pendekatan. Langsung akad.
Jadi gak heran kalau Vivian gak bisa terima kehadiran Eric. Gadis itu punya luka. Luka gede. Kehilangan orang tua, kehilangan rumah, kehilangan masa depan, terus dipaksa nikah sama orang asing.
Eric ngerti itu. Makanya selama 2 tahun dia diem. Didiemin. Dicuekin. Dihina. Dia tahan. Karena amanah.
Tapi luka yang Vivian beri juga gak bisa disepelein.
Vivian selingkuh. Vivian ngatain dia mandul di depan direksi. Vivian nyebarin rumor dia gak bisa "nafkahi batin". Vivian pernah nyoba bunuh diri di kamar mandi mereka. Darahnya... masih membekas di memori Eric.
Eric meremas tangannya. Rapat.
Lalu dia lirik ke ranjang. Ke Vivian yang pucat.
Vivian yang pagi ini masakin ayam lada hitam. Vivian yang ngusir Doni pake anjing. Vivian yang di video... ngebela nama baiknya? Vivian yang... pingsan.
Siapa kamu sebenarnya, Vivian?
Di luar ruangan, Silvi duduk di kursi tunggu UGD. Sendiri. Kepalanya nunduk. Matanya berkaca-kaca.
"Lo harus kuat, Vi," bisiknya. "Kita belum selesai."
lebih baik milih yg bernapas, sefrekuensi, dan bisa langsung di ajak ngobrol and melukis bareng-bareng 😁👍
daripada terus memandangi lukisan wanita benda mati aja, yg juga udah punya laki and lagi hamil anak orang pula 😜
buat bisa menghempas kan para hama wereng yg menggatal 😡😡💪
semoga gak goyah jika ada godaan yg bakal ganggu hubungan mereka lagi 👍👍