NovelToon NovelToon
ARTHUR

ARTHUR

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Arthur hanyalah bocah tujuh tahun yang ingin hidup tenang di Sektor Tujuh. Namun, dunia tidak mengizinkannya. Di balik tubuh mungil itu, bersemayam jiwa The Sovereign, entitas purba yang mampu menghapus konsep keberadaan hanya dengan satu sentilan.
Arthur tidak butuh ketenaran. Ia hanya ingin memastikan tidak ada yang mengganggu waktu santainya, meski itu berarti dia harus menghancurkan dewa dari bayangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Frekuensi yang Terganggu

Episode 22

Lorong-lorong sekolah yang biasanya dipenuhi suara tawa dan derap langkah kaki kini terasa seperti terowongan hampa udara. Setelah insiden di lapangan olahraga tadi, seluruh murid diperintahkan tetap berada di dalam kelas dengan pintu terkunci. Bu Hera berdiri di depan kelas dua dengan wajah pucat. Tangannya gemetar saat mencoba merapikan lembar absensi yang berantakan.

Arthur duduk di kursinya sambil menyandarkan dagu di atas meja. Dari luar, ia tampak seperti bocah yang kelelahan karena terlalu banyak berlari. Namun, di dalam tas sekolahnya, Heart of Gaia bekerja pada kapasitas maksimal.

Kristal itu memanas dan bergetar begitu kuat hingga tas kain Arthur mengeluarkan uap tipis yang untungnya tidak disadari siapa pun.

“Kenapa kau berkeringat banyak sekali, Arthur?” bisik Mia dari meja sebelah.

Gadis itu mulai tenang, tetapi rasa ingin tahunya tetap tak terbendung.

“Kau seperti baru saja mengangkat beban sepuluh ton, bukan cuma lari keliling lapangan.”

Arthur melirik Mia dengan mata setengah tertutup.

“Aku... cuma benci olahraga, Mia. Jantungku tidak dirancang untuk lari maraton di hari seaneh ini.”

Ia tidak berbohong soal beban sepuluh ton.

Secara konseptual, Arthur sedang menahan tekanan balik dari Benih Inti Architects yang mencoba memutus “jangkar” buatannya. Setiap detik, para Architects di dimensi lain berusaha menarik kembali energi mereka, tetapi Arthur memaksa energi itu tetap mengalir menuju inti bumi, memperkuat struktur planet dengan tenaga milik musuhnya sendiri.

“Anak-anak, dengarkan,” suara Bu Hera terdengar parau. “GDC baru saja mengeluarkan status Siaga Dua. Latihan militer di Sektor Empat mengalami gangguan teknis. Kita mungkin berada di sini sampai sore, jadi mohon tetap tenang dan buka buku bacaan kalian.”

Di luar sana, di Samudra Pasifik, situasinya jauh lebih kacau daripada yang digambarkan Bu Hera.

Laut yang semula hitam pekat kini berpendar biru elektrik. Piramida hitam milik Architects berguncang hebat, seolah ada raksasa di dasar bumi yang sedang berusaha meruntuhkannya.

Valerius berdiri di dek kapal induknya sambil menatap monitor radar yang menunjukkan fluktuasi energi tak masuk akal.

“Jenderal! Laporkan status Benih itu!”

“Komandan!” teriak Jenderal Marcus dari ruang kendali. “Struktur Benih mulai retak! Tapi anehnya, retakan itu berasal dari dalam! Seolah-olah bumi sedang menelan mereka! Kita kehilangan empat puluh persen pembacaan termal setiap sepuluh detik!”

Valerius mengepalkan tangan.

Ia tahu Arthur sedang melakukan sesuatu dari sekolahnya. Namun, matanya juga menangkap hal lain di monitor. Dari langit robek di atas piramida, muncul tiga objek perak kecil yang meluncur turun dengan kecepatan melampaui kemampuan radar biasa.

“Mereka mengirim Linkers...” bisik Valerius.

Linkers adalah unit teknisi tempur Architects. Jika Pembersih bertugas menghapus, maka Linkers bertugas memperbaiki “kabel” dimensi yang terputus. Dan bagi Architects, Arthur adalah penyebab kerusakan itu.

“Komandan!” teriak operator radar. “Salah satu objek memisahkan diri!”

“Objek pertama dan kedua menuju dasar laut, tapi objek ketiga berubah arah! Ia menuju daratan!”

Valerius membelalakkan mata.

“Ke mana arahnya?”

“Sektor Tujuh, Komandan! Tepat menuju pemukiman warga!”

Jantung Valerius seolah berhenti berdetak.

Ia segera mengaktifkan transmisi mental menuju koin emas Arthur.

“Arthur! Salah satu dari mereka menuju ke arahmu! Mereka menyadari koordinat pemicunya berasal dari sana!”

Arthur yang masih duduk di kelas tersentak kecil saat suara Valerius bergema di kepalanya.

Ia menghela napas panjang dengan ekspresi jengkel yang sangat dalam.

“Mereka benar-benar tidak ingin aku lulus kelas dua dengan tenang...”

Arthur melirik ke arah jendela kelas. Di kejauhan, sebuah garis perak membelah awan dan meluncur turun menuju kompleks sekolah. Kecepatannya begitu tinggi hingga menciptakan suara siulan tajam yang hanya bisa didengar Arthur.

Ia tahu, jika objek itu mendarat di sekolah, seluruh bangunan akan lenyap dalam radius lima ratus meter.

Arthur harus mencegatnya.

Masalahnya, ia sedang berada di dalam kelas terkunci bersama tiga puluh murid lainnya.

“Bu Hera,” Arthur mengangkat tangan.

“Ya, Arthur? Ada apa?” tanya Bu Hera cemas.

“Perutku... tiba-tiba sakit sekali. Aku harus ke UKS.”

Arthur memasang wajah pucat yang sangat meyakinkan, seolah akan pingsan saat itu juga.

Melihat kondisi Arthur yang memang berkeringat dingin akibat tekanan energi konversi, Bu Hera tak punya pilihan.

“Baiklah, cepat pergi. Tapi lewat koridor dalam, jangan ke halaman!”

Arthur segera berlari keluar kelas.

Begitu pintu tertutup di belakangnya, ekspresi sakit di wajahnya langsung lenyap. Ia melesat melalui koridor sepi, tetapi bukan menuju UKS. Arthur berlari ke arah tangga menuju atap gedung sekolah.

Dalam hitungan detik, ia sudah berdiri di puncak gedung tertinggi.

Arthur menatap langit.

Objek perak itu kini terlihat jelas sebuah mesin silinder dengan banyak kaki mekanik bercahaya biru.

Linker tersebut telah mengunci posisi Arthur.

Tanpa peringatan, mesin itu melepaskan rentetan rudal mikro yang terbuat dari energi murni. Rudal-rudal itu melesat cepat, siap menghancurkan apa pun yang dianggap menghambat koneksi mereka.

Arthur tidak bergerak.

Ia hanya mengangkat tas sekolahnya yang berisi Heart of Gaia.

“Konsep Pelindung: Penolakan Ruang.”

Seketika, seluruh rudal mikro membeku di udara hanya beberapa sentimeter dari wajah Arthur.

Mereka tidak meledak.

Mereka hanya kehilangan fungsi sebagai objek fisik, lalu perlahan menguap menjadi debu cahaya.

Linker itu berhenti meluncur.

Mesin tersebut melayang diam di udara, sementara lensa merahnya berkedip cepat seolah mencoba memproses sesuatu yang mustahil dipahami.

Bagi mesin itu, Arthur hanyalah anomali biologis yang seharusnya sudah hancur dalam sekejap.

“Kau terlalu berisik untuk sebuah mesin perbaikan,” ujar Arthur dingin.

Ia tidak menyerang secara fisik.

Arthur hanya menatap Linker tersebut dengan otoritas kedaulatannya, lalu mengirim perintah biner langsung ke pusat data mesin itu—virus konseptual yang memerintahkan satu hal sederhana:

Berhenti ada.

Mesin perak itu mulai bergetar hebat.

Kaki-kaki mekaniknya melipat ke arah yang salah. Cahaya birunya berubah menjadi merah pekat. Tanpa suara, tubuh mesin seukuran mobil itu menyusut hingga sebesar kacang polong sebelum akhirnya meledak secara internal.

Seluruh energi ledakan langsung diserap Arthur agar tidak merusak sekolah di bawahnya.

Arthur menarik napas panjang.

Mengatasi satu Linker memang mudah, tetapi ia bisa merasakan dua Linkers lainnya di dasar laut telah berhasil menyambungkan kembali sebagian energi piramida hitam.

“Arthur!”

Suara Silas terdengar dari arah tangga atap.

Investigator itu muncul dengan wajah penuh keringat sambil menggenggam pistol plasma.

“Aku melihat benda itu meluncur ke sini! Kau... kau sudah mengurusnya?”

Arthur berbalik. Wajah polosnya kembali terpasang sempurna.

“Benda apa, Paman? Aku cuma mencari udara segar karena kepalaku pusing di kelas.”

Silas menatap langit yang kini bersih, lalu kembali menatap Arthur.

Ia tahu bocah ini berbohong, tetapi ia juga sadar tak ada gunanya berdebat.

“Valerius melaporkan piramida di laut mulai stabil kembali,” ujar Silas. “Benih itu mulai mengeluarkan denyutan kedua.”

“Aku tahu,” jawab Arthur sambil berjalan menuju tangga. “Architects sedang mencoba memaksa koneksinya.”

Ia berhenti sejenak.

“Silas, suruh Valerius melakukan serangan pengalih perhatian sekarang. Gunakan semua meriam yang dia punya. Bukan untuk menghancurkan, tapi untuk mengacaukan frekuensi atmosfer di sana.”

“Bagaimana denganmu?” tanya Silas.

Arthur berhenti di anak tangga pertama.

“Aku harus kembali ke kelas. Bu Hera akan curiga kalau aku terlalu lama di luar.”

Ia menoleh sedikit.

“Dan, Silas... pastikan kau membersihkan sisa logam perak di atap ini. Aku tidak ingin ada murid yang menemukannya besok saat jam istirahat.”

Arthur kembali berjalan turun, meninggalkan Silas yang hanya bisa menghela napas panjang.

Sekali lagi, nasib planet ini diputuskan di sela pergantian jam pelajaran sekolah dasar.

Di dalam kelas, Arthur duduk kembali di bangkunya tepat saat Bu Hera hendak memanggil namanya.

Ia mengambil pensil, menatap buku catatan, lalu mulai menulis.

Namun, di bawah meja, kakinya bergetar pelan, mengirim denyutan frekuensi baru menuju Pasifik untuk menghancurkan upaya perbaikan para Architects.

Pertempuran frekuensi itu baru saja memasuki tahap yang jauh lebih berbahaya.

1
Zem Pioneer
Izin nabung kak
M Agus Salim: siap💪
total 1 replies
Nur Hidayati
cerita keren tapi belum banyak yang tau
Evlogìmenes Psychès: dfZ0d zzssvFS67~
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!