“Demi ibu, apa pun akan kulakukan!”
Dianggap sampah oleh ayahnya sendiri karena tak memiliki bakat kultivasi, Shan Luo hidup dalam hinaan. Demi melindungi ibunya, ia memilih pergi meninggalkan segalanya.
Takdirnya berubah saat ia menemukan sebuah gua misterius yang menyimpan warisan terlarang: Sabit Jiwa Kegelapan.
Dengan kekuatan itu, Shan Luo bersumpah
“Aku akan membalas semua yang menghina aku dan ibuku!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Siapa dia?
Kegelapan yang pekat perlahan memudar, digantikan oleh denging tajam di telinga dan rasa panas yang menyengat di permukaan kulit.
Shan Luo terbatuk, memuntahkan sisa-sisa darah yang menyumbat tenggorokannya. Setiap inci tulang di tubuhnya terasa seolah telah diremukkan oleh palu raksasa.
"A-aku ... masih hidup?" bisik Shan Luo parau.
Ia mencoba menggerakkan lengannya, namun Dantiannya yang retak mengeluarkan rasa sakit yang menusuk hingga ke saraf pusat.
Asap hitam dari ledakan bola api Shan Feng mulai menipis, tersapu oleh pusaran angin yang aneh, angin yang membawa aroma dingin es sekaligus kehangatan yang menenangkan.
Saat pandangannya mulai fokus, Shan Luo melihat sesosok pria melayang tenang di udara, tepat di antara dirinya dan ayahnya.
Pria itu memiliki rambut hitam legam dengan helai-helai berwarna biru es dan merah api yang berkilauan seperti permata.
Jubahnya sederhana, namun memancarkan wibawa yang membuat atmosfer di aula makam itu tunduk.
"Siapa dia?" batin Shan Luo, terpaku pada ketampanan luar biasa pria itu yang tampak abadi, meski ada sedikit kerutan bijaksana di sudut matanya.
Pria itu menoleh perlahan, menatap Shan Luo dengan tatapan menyelidik. "Hmm, kau memiliki darah keturunan Klan Es Abadi ya? Aura di jiwamu ... sangat familiar. Siapa ibumu, Bocah?"
Suasana menjadi hening seketika. Pertanyaan itu menggantung di udara, seolah waktu berhenti berputar.
Di kejauhan, Shan Feng yang tadinya tampak seperti penguasa yang tak tertandingi, kini justru menunjukkan ekspresi yang luar biasa.
Matanya melotot, wajahnya pucat pasi, dan ia terbang mundur beberapa meter seolah-olah baru saja melihat hantu dari masa lalu yang paling kelam.
"K-kau ...?" suara Shan Feng bergetar, kemarahannya hilang digantikan oleh kewaspadaan tingkat tinggi.
Pria berambut tiga warna itu memiringkan kepalanya, menatap Shan Feng dengan ekspresi bosan. "Kau dapat mengenaliku? Haah ..." Ia menghela napas panjang, terlihat sangat kecewa. "Sepertinya penyamaranku kurang bagus. Padahal aku ingin bepergian tanpa harus berurusan dengan orang-orang yang mengenalku. Benar-benar merepotkan."
Shan Feng mencengkeram kristal warisan di tangannya hingga buku jarinya memutih.
Amarah kembali membakar wajahnya, namun kali ini bercampur dengan dendam yang sudah mengakar ratusan tahun. "Yan Bingchen!"
Shan Luo tersentak hebat. Nama itu ... nama yang baru saja ia dengar dari mulut ibu dan gurunya, Lin Yue. Nama cinta pertama gurunya yang kini menjadi pemimpin tertinggi Benua Binghuo.
"Nama itu ..." gumam Shan Luo, menatap punggung pria yang kini dikenal sebagai Yan Bingchen.
Yan Bingchen mengabaikan tatapan membunuh dari Shan Feng. Ia justru mengelus dagunya, menatap Shan Luo dengan lebih intens. "Hmm, dari wajahmu aku sepertinya pernah melihatnya. Tapi di mana ya? Ah, sepertinya aku sudah terlalu tua untuk memikirkan hal-hal yang tidak penting ..."
Tiba-tiba, mata Yan Bingchen melebar sesaat. Ia menjentikkan jarinya. "Tunggu! Bukannya kau orang yang menikahi anak itu?"
Yang dimaksud 'anak itu' oleh Yan Bingchen adalah Xue Ling, ibu Shan Luo. Bagi seorang penguasa abadi seperti Yan Bingchen, Xue Ling mungkin hanya terlihat seperti gadis kecil dari generasi jauh di bawahnya.
Yan Bingchen perlahan mendekat ke arah Shan Luo. Tekanan energi di sekitarnya menghilang, digantikan oleh rasa aman yang ganjil.
Namun, Shan Luo tetap waspada. Ia tahu bahwa di depan pria ini, dirinya bahkan lebih kecil dari sebutir debu.
Shan Feng menyadari bahwa kehadiran Yan Bingchen di sini akan menghancurkan seluruh rencananya. Ia tidak mungkin menang melawan orang ini, tidak di ranahnya yang sekarang.
"Berhentilah! Aku tidak ada urusan denganmu, Yan Bingchen!" raung Shan Feng. "Aku mendapatkan apa yang kuinginkan!"
Tanpa membuang waktu, Shan Feng membungkus tubuhnya dengan api hitam dan melesat pergi melalui langit-langit aula yang runtuh. "Aku akan membalas penghinaan ini, Sialan! Nikmatilah saat-saat terakhirmu, Sampah!" teriaknya dari kejauhan, suaranya menggema penuh ancaman sebelum ia menghilang sepenuhnya menuju jantung Benua Binghuo.
Yan Bingchen hanya menatap kepergian Shan Feng dengan tatapan malas. Ia tidak mengejar. Baginya, lari atau tidaknya Shan Feng bukanlah hal yang krusial.