NovelToon NovelToon
Dijodohkan Dengan Presdir Arogan

Dijodohkan Dengan Presdir Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Karina Dyah Pramesti, it-girl global sekaligus putri kandung Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, harus menelan pahitnya kehancuran karier di Korea Selatan akibat skandal politik yang menjebaknya.
-
Dipulangkan paksa ke tanah air, Karina tidak punya pilihan selain tunduk pada misi terakhir ayahnya: Pernikahan Politik.
Demi menyatukan kekuatan militer dan supremasi ekonomi, Karina dijodohkan dengan Darma Mangkuluhur, pewaris klan Cendana yang dingin dan ambisius. Di tengah kemewahan yang menyesakkan dan intrik kekuasaan antara dua keluarga raksasa, Karina harus memutuskan—menjadi bidak catur yang pasrah, atau bangkit menjadi penguasa baru untuk membalas dendam pada mereka yang telah menghancurkan impiannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 14

****

Cahaya matahari pagi Paris menyelinap malu-malu di balik gorden sutra berat suite mewah Hotel Plaza Athénée. Sinar itu jatuh tepat di atas ranjang yang tampak berantakan, menjadi saksi bisu dari penyatuan emosional dan fisik yang terjadi beberapa jam lalu. Di kejauhan, Menara Eiffel masih berdiri tegak, namun auranya kini terasa lebih bersahabat bagi Karina.

Karina Dyah Pramesti perlahan membuka matanya. Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa pegal yang luar biasa, seolah-olah seluruh persendiannya dilepas dan dipasang kembali dengan posisi yang tidak pas. Setiap inci ototnya terasa remuk, sebuah pengingat nyata akan intensitas seorang Darma Mangkuluhur saat menuntut haknya.

"Shhh... aw," desis Karina saat mencoba menggerakkan kakinya. Rasa perih di bagian intinya masih terasa, membuatnya meringis kecil.

Ia menoleh ke samping, namun ranjang itu sudah kosong. Hanya ada bekas lekukan tubuh dan aroma sandalwood yang masih tertinggal kuat di bantal. Karina menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, menarik selimut bulu angsa itu hingga menutupi dadanya yang masih memerah.

Di ujung ruangan, di atas sofa beludru berwarna gading, sosok itu duduk di sana. Darma tampak jauh lebih segar, kontras dengan Karina yang merasa seperti baru saja ditabrak truk tronton. Pria itu hanya mengenakan jubah mandi putih tebal dengan rambut yang masih basah—menambah kesan tampan yang berbahaya. Matanya fokus menatap layar tablet, jemarinya bergerak lincah, sementara wajahnya tetap sedingin es.

"Mas... Mas sudah bangun dari tadi?" tanya Karina dengan suara serak, sedikit mendengus sebal melihat suaminya tampak biasa saja seolah semalam tidak terjadi "pertempuran" hebat.

Darma tidak langsung menjawab. Ia meletakkan tabletnya di meja marmer, lalu menoleh ke arah Karina. Tatapannya sedikit melembut, namun tetap sarat akan gengsi dan otoritas klan Cendana.

"Sudah satu jam yang lalu. Seorang Nyonya Hutomo tidak seharusnya bangun siang saat seluruh dunia sedang membicarakannya," sahut Darma dengan nada datar, meskipun ada kilat kecil di matanya yang menunjukkan rasa puas.

"Bicara itu mudah bagi yang tidak merasa badannya mau patah," sindir Karina sambil mencoba duduk lebih tegak, namun berakhir dengan rintihan kecil lainnya.

Darma bangkit, berjalan mendekati ranjang dengan langkah gentleman yang sangat kaku namun protektif. Ia duduk di tepi ranjang, membuat Karina refleks menarik selimutnya lebih erat.

"Apakah... masih sesakit itu?" tanya Darma. Suaranya rendah, terdengar sedikit rasa bersalah yang ia tutupi dengan wajah datarnya.

Karina menatapnya dengan tatapan "menurut Mas bagaimana?". "Menurut Mas, kalau seseorang ditarik-tarik tanpa ampun semalaman, paginya bakal merasa segar bugar untuk ikut maraton?"

Darma hanya mengangguk singkat, mencoba menyembunyikan senyum tipis yang hampir muncul. Ia meraih tabletnya lagi dan menunjukkannya pada Karina. "Jangan terlalu banyak mengeluh. Setidaknya, rasa sakitmu itu sebanding dengan hasil yang didapat. Lihat ini."

Layar tablet itu menampilkan beranda media sosial dan situs berita internasional yang meledak.

Headline Global:

CNN: "Full Vindication: Global Star Karina Dyah Pramesti Proven Victim of Industry Sabotage. Agensi Korea Meminta Maaf Secara Resmi."

Dispatch: "Skandal Editan Terungkap! Bukti Kuat dari Hutomo Group Membersihkan Nama Sang Putri Jenderal."

Vogue: "Love in Paris: Foto-foto Mesra Darma Mangkuluhur dan Karina di Plaza Athénée Membuat Internet Lumpuh."

Komentar Netizen Internasional:

@k-pop_insider_seoul: "Hoel! Aku merinding. Agensinya benar-benar bersujud di depan media. Darma Mangkuluhur benar-benar pria paling mengerikan sekaligus paling romantis. Dia menghancurkan satu agensi demi istrinya."

@paris_paparazzi: "Aku melihat mereka di balkon semalam. Vibes-nya sangat intens. Karina tidak terlihat seperti sedang dipaksa, dia terlihat seperti sedang dilindungi oleh raja."

@global_fan_base: "Selamat tinggal hater! Karina sekarang punya pelindung yang bisa membeli seluruh internet."

Komentar Netizen Indonesia:

@warga_konoha: "Ini mah power couple sesungguhnya. Yang lain honeymoon bikin konten, Mas Darma honeymoon sambil beresin hukum internasional. Ngeri-ngeri sedap!"

@lambe_turah_update: "Netizen: 'Mbak Ayin, apakah jalanmu masih normal pagi ini?' Wkwkwk. Cincin 12 karatnya makin berkilau kena matahari Paris ya Bund."

@sobat_miskin_menangis: "Mas Darma gantengnya makin-makin pas pake Jas mahalnya doang. Mbak Ayin bener-bener menang banyak!"

Karina membaca komentar-komentar itu dengan perasaan campur aduk. "Ck, mereka tidak tahu saja jika menjadi Nyonya Hutomo itu konsekuensinya harus sesakit ini," gumamnya pelan sambil menahan rasa perih.

Darma mendengar itu. Ia mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke telinga Karina. "Apa yang kamu bilang? Kamu menyesal?"

"Nggak! Saya cuma... cuma merasa Mas ini benar-benar tidak punya rasa kemanusiaan kalau soal stamina," sahut Karina dengan wajah memerah, mencoba memalingkan muka dari tatapan tajam suaminya.

Darma justru tersenyum tipis kali ini senyum yang penuh kemenangan. "Pebisnis yang baik tahu kapan harus menggunakan seluruh energinya untuk mencapai target. Dan target semalam... sudah tercapai dengan sangat baik."

"Mas! Berhenti bicara soal target! Ini pernikahan, bukan RUPS!" bentak Karina gemas, memukul bahu kokoh Darma dengan bantal.

Darma menangkap bantal itu dengan mudah. "Sekarang, berhentilah merajuk. Saya sudah memesankan sarapan paling lengkap di Paris. Kamu butuh energi karena siang ini kita ada janji dengan pengacara dan pertemuan dengan beberapa kolega di Kedutaan."

"Saya ingin pipis, tapi badan saya masih sakit semua," sahut Karina polos dengan nada merengek yang tak sadar ia tunjukkan.

Darma terdiam sejenak. Sisi kaku dan gengsinya bertarung dengan insting protektifnya. Akhirnya, tanpa banyak bicara, ia menyibakkan selimut Karina. Sebelum Karina sempat protes karena ia hanya memakai jubah mandi yang tersingkap, Darma sudah mengangkat tubuh ringannya dalam gendongan bridal style.

"Mas! Mas Darma! Saya bisa jalan sendiri!" teriak Karina kaget, tangannya refleks melingkar di leher kokoh Darma.

"Tadi bilang sakit. Diamlah, jangan sampai saya menjatuhkanmu di lantai marmer," ucap Darma dingin, meskipun detak jantungnya yang berpacu kencang bisa dirasakan oleh Karina di dadanya.

Darma membawa Karina ke kamar mandi yang sangat luas dan mewah. Ia mendudukkannya perlahan di atas closet yang tertutup.

"Kenapa Mas masih di sini?" tanya Karina saat melihat Darma tetap berdiri di depannya dengan tangan bersedekap, seolah sedang mengawasi jalannya rapat direksi.

"Berjaga-jaga. Siapa tahu kamu butuh bantuan saya untuk berdiri atau... hal lain," jawab Darma datar.

"Enggak ada! Saya mau pipis, Mas! Sana keluar! Masa mau ditonton?" wajah Karina kini sudah menyerupai kepiting rebus.

Darma menaikkan satu alisnya dengan gaya menantang. "Kenapa? Apakah kamu malu? Bukankah semalam saya sudah melihat dan menyentuh semuanya? Tidak ada satu inci pun dari tubuhmu yang belum saya hafal, Nyonya Darma," ucapnya dengan suara berat yang serak, membuat atmosfer di kamar mandi itu mendadak panas kembali.

"MAS DARMA!" bentak Karina sambil melempar handuk kecil ke arah wajah suaminya. "Keluar sekarang atau saya batalkan janji ke Kedutaan!"

Darma menangkap handuk itu, terkekeh rendah sebuah tawa yang terdengar sangat maskulin dan penuh kepuasan. "Oke, oke. Saya keluar. Saya tunggu di meja sarapan dalam sepuluh menit. Jangan lama-lama, atau saya yang akan masuk lagi untuk memandikanmu."

Begitu pintu tertutup, Karina membuang napas panjang yang sedari tadi ia tahan. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar. Lehernya penuh dengan tanda merah samar, rambutnya berantakan, namun matanya terlihat lebih hidup.

"Beruang es itu... kenapa kalau sudah 'pecah' sifat kaku-nya jadi semenyebalkan itu sih?" gumam Karina sambil tersenyum kecil tanpa sadar.

Di luar, Darma berdiri menyandar di pintu, mengelus dadanya sendiri. Ia merasa sangat menang. Bukan karena berhasil membungkam agensi Korea, tapi karena ia baru saja menyadari bahwa ia telah benar-benar menjajah hati dan raga sang Global IT-Girl itu secara permanen. Pagi di Paris ini, bagi Darma, adalah awal dari sebuah dinasti yang ia bangun bukan lagi berdasarkan kontrak, melainkan obsesi yang mulai tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam.

****

Bersambung.....

Utututu..... Gemesnaaaa

1
Tika maya Sari
lanjut dong kak
Heresnanaa_: stay tune ya ka🙏😍
total 1 replies
Tika maya Sari
up lagi kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!