NovelToon NovelToon
Target Di Balik Gerobak Penyamaran Sang Komandan

Target Di Balik Gerobak Penyamaran Sang Komandan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Dokter / Identitas Tersembunyi
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Nikahi aku, Abang Tukang Bakso!"
​Demi menyelamatkan warisan Rumah Sakit dari ibu tiri yang kejam, Dokter Airine Rubyjane nekat menikahi Nata, pria penjual bakso di depan RS-nya. Airine pikir Nata hanyalah rakyat jelata yang mudah ia kendalikan.
​Namun, ia salah besar. Di balik celemek berminyak itu, suaminya adalah Arnold Dexter, Komandan Intelijen legendaris yang sedang dalam misi penyamaran mematikan.
​Satu per satu musuh Airine tumbang secara misterius. Saat cinta mulai tumbuh, Airine menyadari bahwa pria yang ia anggap "miskin" itu adalah predator paling berbahaya di negara ini yang sedang mengincar rahasia gelap kakeknya.
​"Aku bukan sekadar tukang bakso, Istriku. Aku adalah alasan musuhmu takut pada malam hari."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Kuburan Kosong

l​"Kamu membaca pesan itu juga, kan? Jangan bohong padaku, Arnold. Siapa yang kalian kuburkan lima tahun lalu jika Kakek Edward masih hidup?"

​Suara Airine memecah kesunyian ruang ganti sasana yang lembap oleh uap keringat. Ia berdiri di ambang pintu, masih mengenakan pakaian olahraga hitamnya yang kini dipenuhi noda debu lantai. Tangannya mencengkeram kusen pintu begitu kuat hingga buku jarinya memutih. Matanya yang tajam—mata seorang dokter yang terbiasa membedah kebenaran di atas meja operasi—menatap lurus ke arah Arnold yang sedang menyeka wajahnya dengan handuk.

​Arnold terhenti. Ia meletakkan handuknya perlahan ke bangku kayu, lalu menoleh. "Airine, itu baru informasi awal dari interogasi Shen. Dia bisa saja berbohong untuk mengulur waktu atau memecah konsentrasi kita."

​"Jangan gunakan nada menenangkan itu padaku!" Airine melangkah maju, suaranya naik satu oktav. "Lima tahun lalu, aku yang menandatangani sertifikat kematiannya sebagai dokter jaga di rumah sakit ini! Aku melihat tubuhnya, aku melihat grafik jantungnya mendatar, dan aku sendiri yang menutup matanya! Bagaimana mungkin seorang jenazah bisa bangkit kembali dan menjadi buronan intelijen?"

​Arnold mendekat, mencoba memegang bahu Airine, namun wanita itu menepisnya dengan kasar. "Sebagai dokter bedah, kamu tahu lebih baik dariku, Airine. Ada banyak cara untuk memanipulasi detak jantung. Ada obat-obatan yang bisa membuat tubuh masuk ke fase suspended animation—mati suri yang sangat dalam hingga peralatan medis standar pun tertipu."

​Airine tertegun. Ia mundur satu langkah, menyandarkan punggungnya ke lemari loker. "Obat-obatan... Proyek Cobra-9. Kamu ingin bilang kakekku menggunakan hasil risetnya sendiri untuk memalsukan kematiannya?"

​"Itu kemungkinan yang paling logis," jawab Arnold dengan suara rendah yang sangat stabil. "Shen bilang Edward Jane tidak pernah mati. Dia hanya 'menghilang' untuk menjalankan sindikat ini dari balik layar karena dia tahu intelijen negara mulai mengendusnya. Dan jika itu benar, maka makam di pemakaman keluarga Rubyjane itu..."

​"Kosong," potong Airine dengan nada dingin yang mengerikan. "Atau berisi orang lain."

​"Kita harus memastikannya malam ini," Arnold mengambil jaket kulitnya, kembali ke mode taktisnya. "Aku sudah menyiapkan tim untuk melakukan pembongkaran rahasia. Kita tidak bisa menunggu izin resmi pengadilan, itu akan memakan waktu berminggu-minggu."

​"Aku ikut," ucap Airine tegas.

​"Tidak. Ini terlalu berbahaya, Airine. Area pemakaman itu luas dan terbuka, target empuk untuk penembak jitu."

​"Arnold, dengarkan aku!" Airine menatap mata suaminya dengan keberanian yang baru ia pelajari di ruang latihan tadi. "Jika benar ada mayat di sana, aku satu-satunya orang yang bisa melakukan autopsi cepat di tempat untuk menentukan identitasnya. Aku tahu struktur tulang Kakek, aku tahu bekas luka operasi appendiks di perut kanannya. Kamu butuh mata dokterku, bukan hanya senjata anak buahmu."

​Arnold menatap Airine cukup lama. Ia melihat transisi dari seorang istri yang rapuh menjadi seorang profesional yang siap menghadapi kenyataan terpahit. "Baik. Tapi kamu tidak boleh lepas dari jangkauanku. Satu meter saja kamu menjauh, aku akan menyeretmu kembali ke mobil."

...****************...

​Pukul dua dini hari, hujan rintik-rintik mulai turun membasahi kompleks pemakaman mewah keluarga Rubyjane. Cahaya senter dari tim Shadow Guard bergerak lincah di antara nisan-nisan marmer. Suara cangkul yang menghantam tanah terdengar berirama, menciptakan suasana mencekam yang menusuk tulang.

​Airine berdiri di samping Arnold, mengenakan jas hujan hitam panjang. Tangannya memegang tas medis darurat yang selalu ia bawa. Jantungnya berdegup kencang, namun tangannya tetap stabil—insting seorang dokter bedah yang bersiap menghadapi prosedur tersulit dalam hidupnya.

​"Satu meter, Airine," bisik Arnold, tangannya meraba senjata di pinggangnya, matanya terus memindai kegelapan di sekitar mereka.

​"Aku tahu," sahut Airine pendek.

​BRAKK!

​Suara linggis menghantam peti kayu jati yang terkubur di kedalaman dua meter. Salah satu anggota tim Arnold memberikan kode jempol ke atas. "Peti sudah ditemukan, Komandan. Kita angkat sekarang?"

​"Angkat," perintah Arnold.

​Saat peti itu diletakkan di atas tanah, udara di sekitar mereka mendadak terasa lebih berat. Arnold memberikan isyarat agar timnya membentuk barikade melingkar. Ia kemudian menoleh ke arah Airine. "Kamu siap?"

​Airine mengangguk pelan. Ia mengenakan sarung tangan latex dan masker medis dengan gerakan mekanis yang sangat terlatih. Arnold menggunakan linggis untuk mencongkel tutup peti itu.

​KREEEKK...

​Tutup peti terbuka. Cahaya senter serentak menyorot ke dalam.

​Airine terperanjat, namun ia tidak berteriak. Ia segera berlutut di pinggir peti, menatap sesosok jenazah yang sudah menjadi mumi di dalamnya. Dengan saksama, ia mulai memeriksa sisa-sisa pakaian dan struktur fisik yang tersisa.

​"Ini pria paruh baya, tingginya sekitar 175 senti," gumam Airine, suaranya sangat klinis, persis seperti saat ia sedang memberikan laporan di meja operasi. "Struktur rahangnya... tidak sesuai. Kakek Edward memiliki maloklusi pada gigi bawahnya."

​Ia kemudian meraih gunting bedah dari tasnya, memotong sisa kain kafan di area perut jenazah tersebut. Tangannya bergerak lincah, tidak ada keraguan sedikit pun meski bau busuk mulai tercium.

​"Tidak ada bekas luka laparoskopi," Airine mendongak, menatap Arnold dengan mata yang dipenuhi kengerian yang nyata. "Kakek menjalani operasi usus buntu saat aku masih koas. Aku sendiri yang mendampingi dokter bedahnya saat itu. Pria di dalam peti ini... bukan Edward Jane."

​"Berarti Shen benar," desis Arnold. "Edward Jane masih hidup. Dan dia membiarkanmu menangisi kuburan kosong selama lima tahun."

​Tiba-tiba, suara desingan peluru memecah kesunyian malam.

​TING!

​Peluru itu menghantam nisan marmer tepat di samping kepala Arnold.

​"TIARAP!" teriak Arnold sambil menarik tubuh Airine ke bawah, melindunginya dengan tubuh tegapnya. "Kontak! Arah jam dua! Di atas bukit kecil!"

​"Arnold! Tas medisku tertinggal di atas!" teriak Airine saat mereka merayap di balik nisan besar.

​"Lupakan tas itu! Mereka menggunakan peluru kaliber .338! Itu penembak jitu profesional!" Arnold mengeluarkan pistolnya, membalas tembakan ke arah kegelapan. "Tim Dua! Lakukan flangking! Tim Tiga, siapkan jalur evakuasi untuk Nyonya!"

​Di tengah desingan peluru, Airine merasa adrenalinnya memuncak. Ketakutannya berubah menjadi amarah yang dingin. Ia melihat ke arah peti yang terbuka, tempat rahasia kakeknya terkubur.

​"Arnold, mereka tidak mencoba membunuh kita!" ucap Airine tiba-tiba, matanya memperhatikan pola tembakan.

​"Apa maksudmu?!" Arnold kembali menembak.

​"Lihat! Tembakan mereka hanya mengincar area sekitar peti. Mereka ingin kita menjauh dari sana! Ada sesuatu di dalam peti itu selain mayat itu!" Airine menunjuk ke arah dasar peti yang tadi sempat ia lihat sekilas. "Ada kotak logam kecil di bawah kaki jenazah itu!"

​Arnold melirik ke arah peti. Airine benar. Penembak jitu itu sengaja menjaga jarak agar mereka tidak mengambil barang di dalam sana.

​"Tetap di sini! Jangan bergerak!" perintah Arnold.

​Dengan gerakan berguling yang sangat cepat dan berbahaya, Arnold menerjang ke arah peti di tengah hujan peluru. Ia meraih kotak logam itu dan kembali ke balik perlindungan nisan tepat saat sebuah peluru menghantam tanah di tempat ia baru saja berdiri.

​"Dapat!" Arnold mengatur napasnya. "Kita harus pergi sekarang! Tim, smoke grenade!"

​Asap tebal menutupi area pemakaman. Arnold menarik tangan Airine, membimbingnya lari menuju mobil SUV yang sudah menunggu dengan pintu terbuka. Begitu masuk ke dalam mobil, Arnold segera memerintahkan supir untuk melaju dengan kecepatan penuh.

​Di dalam mobil yang melaju kencang, Airine menyandarkan kepalanya, napasnya tersengal. Ia melihat tangannya yang masih mengenakan sarung tangan medis yang berlumuran debu makam.

​"Kakek masih hidup, Arnold," bisik Airine, suaranya bergetar. "Dan dia baru saja mencoba membunuh kita di makamnya sendiri."

​Arnold membuka kotak logam kecil yang ia ambil tadi. Di dalamnya terdapat sebuah kunci fisik kuno dan selembar kertas dengan koordinat geografis yang mengarah ke sebuah pulau terpencil.

​"Ini bukan sekadar persembunyian, Airine," ucap Arnold sambil menatap koordinat itu. "Ini adalah lokasi laboratorium utama Cobra-9 yang sebenarnya. Kakekmu tidak sedang melarikan diri. Dia sedang menunggu kita."

​Airine menatap kunci di tangan Arnold, lalu menatap wajah suaminya. "Jika kita pergi ke sana... aku ingin menjadi orang pertama yang membedah kebohongannya, Arnold. Sebagai dokter, dan sebagai cucunya."

​Arnold menggenggam tangan Airine erat. "Kita akan ke sana. Tapi setelah ini, tidak ada lagi rahasia. Apa pun yang kita temukan di pulau itu, kita hadapi bersama."

...****************...

1
Abinaya Albab
beneran ini perang terakhir? duhhhh capek gk sih mereka baru mau bernafas lega ada lagi
Abinaya Albab: blm lagi bikin bakso urat ya Thor 😂🤭
total 2 replies
Abinaya Albab
baru ini aku baca novel yg tegangnya tak beesudahan... lanjut
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
kakek jahat ga
aditya rian
sekalian updatenya banyak dong soalnya jadi penasaran banget
aditya rian
keren arnold
aditya rian
jangan marah dong... di awal jug udh bilang
hidagede1
ke inget nya sama jendral andika🤭
Ariska Kamisa: eehh??? 🤭🤭🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
yah... thor.. ayo sih update nya yang banyak sekalian... aku ga sabaran
aditya rian: Airine mulai jeniusnya nih
total 2 replies
umie chaby_ba
ampe airine bingung manggilnya dua nama padahal satu orang 🤭🤭🫣
umie chaby_ba
waduh... judulnya aja bikin takutt... apakah... airine tidak terima dibohongi?
umie chaby_ba
hayoloh . ga bisa ngelak lagi nol
umie chaby_ba
Arnold udah demen banget nih
umie chaby_ba
bisa aja anjayy
umie chaby_ba
hayoloh....
umie chaby_ba
udah nge spill Mulu padahal Nata de Coco... tak mungkin Abang bakso seberani itu.. mikir dong airine...
Ariska Kamisa: aaa.. kaka niu bisa aja ceplosannya jadi mata de coco🤣🤣🤣
total 1 replies
umie chaby_ba
tuan Shen musuh sapa sih lu🫣
umie chaby_ba
udah komandan... cucu jenderal pula....👍
umie chaby_ba
secara komandan cuyyy....
umie chaby_ba
Arnold Dexter 😍
umie chaby_ba
tuan Shen ini.. jangan jangan orang terdekat 🫣
Ariska Kamisa: lanjut ikutin terus yaa biar tahu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!