Kekaisaran Aurellian telah menikmati kedamaian selama 1500 tahun, hingga sebuah bayangan misterius jatuh tepat di atas takhta mereka. Arta Valerion, seorang penyihir muda jenius, menemukan bahwa rembulan yang selama ini dipuja kini menyimpan ancaman yang tak terbayangkan. Kehadiran sang utusan dari peradaban masa lalu yang telah binasa—membawa peringatan dingin: bahwa mereka tidak sendirian, dan mereka tidak siap.
Di ambang kehancuran yang telah menelan delapan planet sebelumnya, Aurellian harus memilih: tunduk pada teknologi asing atau menghadapi kepunahan. Bagi Arta, ini bukan lagi tentang prestasi sihir, melainkan perjuangan untuk mempertahankan senyum orang-orang yang ia cintai sebelum fajar terakhir tiba.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Manusia Ikan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 2 -BAB 1 -KOTA BATU (3)
Untuk beberapa waktu, mereka memutuskan berkeliling reruntuhan kota, berharap menemukan sesuatu yang berharga. Namun, setiap bangunan yang mereka masuki terasa hampa.
Ruangan-ruangan itu kosong, tidak menyisakan satu pun benda yang bisa dibawa. Di sudut lain kota kuno, Raylen sibuk mengumpulkan beberapa sampel tanah dan lumut. Sebagai orang yang mencintai ilmu pengetahuan dan sejarah, ia tidak ingin melewatkan detail sekecil apa pun.
Aku rasa tempat ini sengaja ditinggalkan. Tapi ke mana perabotan rumah yang seharusnya ada? Raylen membatin sambil memeriksa sudut sebuah bangunan. Bahkan tidak ada pecahan guci atau perabot rusak. Semuanya seolah-olah sudah dipersiapkan untuk dikosongkan.
Tiba-tiba, Reldia masuk ke dalam bangunan itu. Tanpa pintu atau jendela yang tersisa, siapa pun bisa melihat ke dalam dengan mudah.
"Masih asyik dengan hobi anehmu itu?" suara Reldia terdengar merendahkan.
"Hanya memastikan sesuatu," jawab Raylen pendek. Ia berusaha tetap tenang meski sebenarnya tidak menyukai sifat Reldia. Selama setahun di tim yang sama, ia selalu merasa tertekan namun tak punya keberanian untuk melawan.
"Heh, benar juga. Orang lemah sepertimu memang lebih cocok melakukan hal tak berguna daripada bertarung," ucap Reldia. Ia berjalan mendekat dan merangkul bahu Raylen dengan kasar, berpura-pura seperti teman akrab.
"Oh astaga, sepertinya kamu butuh mandi. Kamu tahu kan kalau hidung kami sangat peka? Kalau mau berada di dekatku, setidaknya kamu harus—"
Sebelum Reldia selesai bicara, Raylen menyentak tangan itu dan melepaskan rangkulan yang membuatnya sesak.
"Kalau begitu, jangan mendekatiku lagi! Menjauhlah!" teriak Raylen. Suaranya yang keras bergema di ruangan kosong itu, sedikit mengejutkan Reldia. Namun bukannya marah, wanita itu justru tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha! Aku mendekatimu? Mimpi apa kamu semalam, manusia!" Tawa Reldia terdengar puas.
Raylen menyadari kata-katanya barusan bisa menimbulkan salah paham. Wajahnya memanas karena kesal sekaligus malu. "Bu-bukan itu maksudku! Maksudku adalah—"
Raylen terdiam saat menatap wajah Reldia. Ada ekspresi aneh yang tertangkap di matanya, sesuatu yang pernah ia lihat dulu namun selalu ia lupakan. Tanpa berkata apa-apa lagi, Raylen bergegas pergi. "Sudahlah, aku mau kembali ke ketua."
"Terserahlah," sahut Reldia singkat. Ia berjalan mengikuti Raylen dari belakang dengan senyum kecil yang masih tersisa di wajahnya.
...
Di bagian lain kota, Arta dan Elian sedang mencoba memetakan reruntuhan tersebut.
"Tuan, daripada menggambarnya secara manual, aku bisa memetakan seluruh kota ini dengan jauh lebih cepat," ucap Unit 0-9 dari dalam kubusnya.
Arta menghentikan langkahnya. "Kenapa tidak bilang dari tadi? Lakukan sekarang. Kita harus segera menemukan jalan masuk ke lapisan yang lebih dalam."
"Baik." Unit 0-9 terbang melesat ke langit, memindai seisi kota dengan denyut cahaya digital yang cepat.
"Apa yang dia lakukan?" tanya Elian. Ia tidak mendengar percakapan Arta dengan AI-nya tadi.
"Kami sedang membuat peta," jawab Arta singkat sambil terus melangkah.
Elian hanya mengangguk. Matanya kemudian tertuju pada buku anonim yang terselip di kantung pinggang Arta. "Apa buku itu benar-benar bisa dipercaya? Menurutmu siapa yang menulisnya?"
"Entahlah. Buku ini sangat misterius," jawab Arta sambil menepuk sampul kulit buku itu. "Selain tidak ada nama penulisnya, tulisannya terlihat buruk, seperti sengaja ditulis menggunakan tangan kiri agar tidak dikenali."
"Tapi kepala sekolah sudah mengonfirmasinya, kan? Katanya itu buku yang sangat tua."
"Benar. Usianya hampir tiga ribu tahun."
"Sihir memang hebat, ya. Bisa mengawetkan kertas serapuh ini selama ribuan tahun," gumam Elian.
Arta hanya tersenyum tipis. Meski rasa bersalah karena kejadian di masa lalu masih sering menghantuinya, kehadiran Elian di sisinya terasa sangat membantu. Elian selalu ada, bahkan hanya untuk membicarakan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting.
Bagiku, kamu adalah penolong di saat aku hampir hancur, batin Arta. Pikiran itu terus muncul sejak mereka memulai perjalanan ini.
Tak lama kemudian, Unit 0-9 kembali dan melayang di depan mereka. "Pemetaan selesai. Ini adalah hasil pemindaian menyeluruh dalam bentuk tiga dimensi."
Sebuah hologram biru muncul, memperlihatkan bentuk kota mati itu dengan detail yang tajam. "Dan aku menemukan rute lain yang mungkin adalah jalan yang Tuan cari," tambah AI itu sambil menandai sebuah rute dengan garis merah.
"Ini sangat membantu. Kita menghemat banyak waktu berkat bantuanmu. Terima kasih," ucap Arta dengan tulus.
"Baiklah, mari kita lanjutkan," ajak Elian.
Mereka berkumpul kembali dengan anggota tim lainnya, bersiap menghadapi apa pun yang menunggu di bawah sana. Berdasarkan catatan di buku tua itu, apa yang mereka hadapi sebelumnya hanyalah permulaan dari bahaya yang sebenarnya di kuil kuno ini.
akan aku lanjut baca malam nanti, mau serius up cerita ku dulu KK😭😭
“…jadi kalian benar-benar memanggil Titan ke dunia ini.”
Bukan penolakan, justru sebaliknya. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Menarik...”
Karena setiap dunia yang mulai menyentuh kekuatan Titan… biasanya tidak akan pernah kembali sama.
“Jaga mereka baik-baik. Titan bukan sekadar kekuatan... mereka adalah awal dari perubahan.”
—Arven, Mechanist of Legacy🔥
"Sepertinya monster di dunia ini, sangat terobsesi dengan kekayaan.. bahkan serangganya pun. dari batu mahal." sahut Alice sembari duduk di singgasananya dengan anggun.
"Kalau aku disana, apa pisau ku bisa membelah mereka?" Violet tiba-tiba menatap kumpulan pisau lempar di pinggangnya.
"Bisa atau tidak, yang jelas kita kaya kalau disana!!" Xena mulai berlarian tak jelas, membuat Arthur menahan emosi.
"huuh... apa-apaan dunia ini?!" Arthur memijat pelipisnua, merasakan gejolak membara (bah?) maksudnya merasakan emosi panas yang mengalir sampai ke ubun-ubun.
"Santailah, Arthur. kau terlalu emosional!" gumam Albertio, nadanya begitu tenang bahkan sangat tenang untuk situasi absurd saat ini.
"We.. wee.. udah capek...!!! bubar!!!" Alice berteriak kesal, membubarkan pertikaian di Kuil dewi itu segera. Teriakannya menggema ke pikiran Author yang menulis cerita ini.
salut sama kak manusia ikan🐳
semangat