Juni 2026
----
Aktivitas matahari menurun drastis. Zona es meluas dari kutub hingga mencapai Indonesia. Jakarta membeku dalam suhu minus belasan derajat, hukum dan negara runtuh, dan manusia saling berburu untuk bertahan hidup. Di tengah kiamat Es itulah Arka, seorang pemuda jenius tapi pemalas , mati dikhianati tunangannya sendiri. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terbangun satu tahun sebelum bencana, dengan ingatan penuh akan enam bulan neraka yang telah ia lalui. Kini, dengan memanfaatkan pengetahuannya tentang masa depan, bisakah arka bertahan hidup di dunia tanpa hukum, di mana siapa kuat dia berkuasa saat ini ? ...
----
~ Jika waktu bisa mundur 1 tahun dari saat ini, Apa yg akan kamu lakukan? ~
----
@ThinkzIam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thinkziam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Pria itu terduduk di tanah terowongan, punggung menempel di dinding tanah yang lembap. Senter Arka menyorot wajahnya, menerangi keringat yang membeku di pelipis, bekas luka tipis di pipi kiri, dan mata yang tidak bisa menyembunyikan ketakutannya meskipun dia berusaha keras.
Di balik pintu darurat, suara-suara masih terdengar. Kadang keras, kadang berbisik. Mereka mencoba membuka pintu dari luar, tapi gagal. Beberapa kali terdengar benturan, mungkin seseorang menendang. Tapi pintu besi itu kokoh. Dibuat untuk tahan api, tahan ledakan, tahan segala sesuatu yang mungkin terjadi di stasiun kereta bawah tanah.
Pratama berdiri di samping pintu, pistol di tangan, telinga menempel ke logam dingin. Sesekali dia mengangkat tiga jari, memberi tahu Arka bahwa di luar masih ada tiga orang. Mungkin lebih. Sulit memastikan.
Arka mencondongkan tubuh ke depan. “Siapa namamu?”
Pria itu tidak menjawab. Matanya beralih ke pistol di tangan Pratama, lalu kembali ke Arka.
“Kami tidak mau membunuhmu,” kata Arka. “Tapi kami juga tidak mau mati. Jadi, bicaralah.”
“Kalian sudah mati,” suara pria itu parau, seperti orang yang sudah lama tidak minum air bersih. “Bos aku akan temukan kalian. Dan dia tidak akan tawar-menawar.”
“Bos kamu siapa?”
Pria itu tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke mata. Senyum orang yang sudah tidak punya apa-apa lagi. “Kamu akan segera tahu.”
Arka menatapnya lama. Di kehidupan pertama, dia pernah melihat senyum seperti ini. Senyum orang yang sudah kehilangan segalanya, yang hanya punya ketakutan sebagai senjata terakhir. Bukan karena berani. Tapi karena tidak punya pilihan lain.
“Kamu takut pada bosmu,” kata Arka pelan.
Senyum itu menghilang.
“Lebih takut pada dia daripada pada kami,” lanjut Arka. “Itu sebabnya kamu tidak mau bicara. Bukan karena kamu setia. Karena kamu tahu, kalau kamu bicara, dia akan membunuhmu. Tapi kalau kamu tidak bicara, kami yang akan membunuhmu. Dan kamu pilih mati di tangan kami daripada di tangan dia.”
Pria itu tidak menjawab. Tapi matanya bergerak. Tidak ada lagi keberanian di sana. Hanya perhitungan. Perhitungan yang cepat dan panik.
“Kami tidak seperti dia,” kata Arka. “Kami tidak memburu orang. Kami hanya ingin bertahan hidup. Kalau kamu bicara, kamu bisa pergi. Kami tidak akan menghentikanmu.”
“Pergi ke mana?” suara pria itu getir. “Ke atas? Mereka akan bunuh aku. Ke tempat lain? Tidak ada tempat lain. Semua sudah mati.”
“Ceritakan tentang bosmu.”
Pria itu terdiam lama. Di balik pintu, suara-suara mulai reda. Mungkin mereka pergi. Mungkin mereka mencari jalan lain. Mungkin mereka sedang menyusun rencana.
“Dulu dia tentara,” kata pria itu akhirnya. Suaranya pelan, hampir berbisik. “Pasukan khusus. Dikeluarkan karena sesuatu. Saya tidak tahu detailnya. Sebelum es datang, dia sudah punya kelompok. Anak buah. Senjata. Ketika semuanya membeku, dia bergerak cepat. Merebut gudang logistik di Tanjung Priok. Merebut stok senjata di pusat polisi.”
Pratama menoleh. Wajahnya tidak berubah, tapi Arka bisa melihat dia mendengarkan dengan seksama.
“Dia punya markas di gedung BNI. Lantai atas. Dari sana dia bisa melihat seluruh kota. Dia mengirim tim untuk mencari... mencari orang.”
“Mencari orang untuk apa?”
Pria itu menunduk. “Untuk diambil barangnya. Makanan. Obat. Selimut. Apa pun yang berguna. Dan... kadang orangnya sendiri.”
Arka tidak bertanya lebih lanjut. Dia sudah tahu.
“Berapa banyak anak buahnya?”
“Tiga puluh. Mungkin lebih. Sulit tahu. Orang datang dan pergi. Ada yang mati. Ada yang bergabung. Ada yang... diambil.”
“Apakah mereka tahu tentang pintu ini?”
“Belum. Saya yang menemukan. Saya lihat bekas jejak dua hari lalu. Saya lapor. Bos suruh cek.”
“Berapa banyak yang tahu sekarang?”
“Tiga. Saya dan dua yang di luar. Mereka akan lapor kalau saya tidak kembali.”
Arka menatap Pratama. Pria itu mengangguk tipis. Informasi ini penting. Mereka punya waktu. Tapi waktu itu terbatas.
“Satu lagi,” kata Arka. “Apakah bosmu tahu tentang pusat evakuasi di Monas?”
Pria itu tertawa kecil. Tawa yang pahit. “Monas? Itu sudah lama habis. Seminggu setelah es datang, kelompok lain sudah mengambil alih. Ada perang. Banyak mati. Sekarang Monas kosong. Hanya mayat beku.”
Arka tidak terkejut. Radio itu mungkin hanya rekaman yang terus berputar. Atau jika benar ada, tempat itu sudah tidak aman.
Dia berdiri. “Pratama, buka pintu.”
Pratama mengerjap. “Mas?”
“Buka pintu. Biarkan dia pergi.”
Pria di tanah itu menatap Arka dengan mata membelalak. “Kamu... melepaskanku?”
“Kami tidak membunuh orang yang tidak mengancam kami. Tapi sampaikan ke bosmu. Bunker ini tidak berisi makanan atau obat-obatan yang dia cari. Hanya orang-orang yang ingin bertahan hidup. Jika dia datang, kami akan melawan. Dan dia akan kehilangan lebih banyak anak buah daripada yang bisa dia dapatkan.”
Pria itu berdiri dengan susah payah. Tangannya gemetar, baik karena dingin maupun karena tidak percaya. Pratama membuka pintu darurat. Udara dingin langsung menyusup.
Di sisi lain, dua orang berdiri dengan senjata terangkat. Mereka terkejut melihat rekannya keluar hidup-hidup.
“Jangan tembak!” teriak pria itu. “Mereka lepaskan aku!”
Arka menutup pintu. Tidak menunggu jawaban. Tidak menunggu peluru.
Mereka kembali ke bunker dengan langkah cepat. Begitu panel kayu tertutup, Arka bersandar di dinding, menghela napas panjang. Di sampingnya, Pratama masih memegang pistol, matanya waspada.
“Kamu yakin dengan keputusanmu?” tanya Pratama.
“Dia tidak akan kembali. Dia tahu kita tidak seperti mereka. Tapi dia juga tahu kita tidak lemah.”
“Bosnya akan tetap datang.”
“Ya. Tapi sekarang mereka tahu kita siap. Dan kita tahu mereka. Itu sudah cukup untuk saat ini.”
Mereka masuk ke ruang utama. Umar, Dewi, Wawan, dan Rina masih di sana. Rak-rak besi sudah dipindahkan menjadi penghalang di depan pintu masuk. Wawan memegang kunci inggris seperti senjata. Rina memeluk catatan tanamnya.
“Ada yang terluka?” tanya Dewi.
“Tidak,” jawab Arka. “Mereka pergi. Untuk sementara.”
Umar menghela napas panjang, hampir seperti orang yang baru saja diselamatkan dari tenggelam. “Apa yang mereka mau?”
“Apa pun yang kita punya.” Arka duduk di kursi. Dia merasa lelah. Bukan lelah fisik. Tapi lelah yang lebih dalam. “Tapi sekarang mereka tahu kita tidak mudah ditaklukkan. Mereka akan berpikir ulang.”
“Atau mereka akan kembali dengan lebih banyak orang,” kata Pratama.
Arka mengangguk. “Itu juga bisa terjadi.”
Diam. Suara mesin ventilasi tiba-tiba terasa lebih keras dari biasanya. Atau mungkin hanya karena tidak ada yang berbicara.
“Apa yang kita lakukan sekarang?” tanya Rina pelan.
Arka menatap mereka satu per satu. Umar yang gelisah. Dewi yang tenang tapi lelah. Wawan yang masih memegang kunci inggris. Rina yang memeluk catatannya.
“Kita bertahan. Kita persiapkan diri. Dan kita tunggu.”
Malam itu, Arka tidak bisa tidur.
Dia duduk di ruang kontrol, menatap monitor yang tidak menampilkan apa pun. Di sampingnya, radio komunikasi masih menyala dengan suara statis yang tidak pernah berhenti. Sesekali, di sela-sela statis itu, dia mendengar sesuatu. Suara orang. Suara kode. Suara yang tidak bisa dia pahami.
Dia mematikan radio.
Di monitor, kamera pintu belakang hotel menampilkan putih yang sunyi. Tidak ada gerakan. Tidak ada bayangan. Hanya salju yang turun perlahan, menutupi jejak-jejak yang mungkin pernah ada.
Pintu bunker terasa begitu berat malam ini. Bukan berat besi. Tapi berat yang lain. Berat dari apa yang ada di baliknya. Berat dari ancaman yang tidak bisa dilihat, tapi bisa dirasakan.
Pratama masuk ke ruang kontrol. Dia membawa dua cangkir kopi instan yang masih mengepul. Satu diserahkan ke Arka.
“Kamu pikir mereka akan kembali?” tanya Arka.
“Ya.” Pratama duduk di kursi sebelah. “Tapi tidak malam ini. Mereka butuh waktu untuk berkumpul. Butuh waktu untuk merencanakan.”
“Berapa lama?”
“Tiga hari. Mungkin seminggu. Tapi mereka akan kembali.”
Arka menyesap kopi. Pahit. Tapi tidak sepahit yang dia kira.
“Kita perlu lebih banyak senjata,” kata Pratama.
“Dari mana?”
“Di stasiun, waktu kita bersembunyi, aku lihat ada ruang polisi. Mungkin masih ada yang tersisa.”
Arka mengangguk. “Besok kita cek.”
“Aku juga akan perkuat pintu terowongan. Pasang perangkap sederhana. Kalau mereka masuk, kita akan tahu.”
“Lakukan.”
Mereka diam sebentar. Suara mesin ventilasi memenuhi ruangan.
“Mas,” kata Pratama akhirnya. “Apa yang kamu lihat di kehidupan sebelumnya? Di dunia yang membeku itu?”
Arka menatap kopi di tangannya. Uap panas masih naik, tipis, hampir tidak terlihat.
“Aku melihat orang-orang berubah,” katanya pelan. “Orang yang baik menjadi kejam. Orang yang lemah menjadi binatang. Dan orang yang bertahan melakukan hal-hal yang tidak pernah mereka bayangkan.”
“Seperti apa yang kita lakukan sekarang?”
Arka tersenyum kecil. Senyum yang pahit. “Belum. Belum separah itu.”
Pratama tidak bertanya lagi. Dia menghabiskan kopinya, lalu berdiri.
“Besok kita mulai. Istirahat dulu, Mas.”
Arka mengangguk. Pratama keluar dari ruang kontrol.
Arka masih duduk di sana, menatap monitor. Di layar, salju terus turun. Menutupi Jakarta yang sudah mati. Menutupi jejak-jejak yang pernah ada.
Dia mematikan monitor.
Di dalam gelap, dia mendengar suara mesin ventilasi. Suara angin di atas sana. Suara sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan. Tapi dia tahu itu ada.
Dan dia tahu, mereka akan datang. Cepat atau lambat.
Sudahlah... Siapa yang tau jalan pemikiran sang Author??? 😁