Novel ini memiliki karakter utama wanita bernama Aiena. Gadis berusia dua puluh lima tahun di awal mulai cerita yang terjebak di dalam hubungan yang tidak sehat dengan pacarnya.
Tiap hari ulang tahun adalah kesempatan untuk checkpoint bagi Aiena. Apabila ia mengatakan ia bahagia dan puas dengan hidupnya, maka itu menjadi titik checkpoint-nya. Sebaliknya, ia suatu hari pada ulang tahunnya ia menyesal akan keputusannya dan mengatakan ingin kembali ke masa lalu, maka ia otomatis kembali ke titik checkpoint terakhirnya.
Bermula dari penyesalannya tidak bisa memberikan yang keturunan bagi suami yang begitu mencintainya, Aiena di masa kini berniat kembali ke masa lalu untuk menghindari toxic relationship dengan mantannya dan bertemu jodohnya, pria yang di masa kini menjadi suaminya lebih cepat dalam kondisi yang lebih baik. Namun ketika Aiena mengulang cerita hidupnya, ia justru bertemu orang lain yang tidak mampu ia tolak pesonanya.
Cerita menjadi semakin kompleks ketika Aiena menyadari siapa pria yang merebut hatinya itu, bertemu dengan sang mantan pacar toxic, dan bertemu dengan pria yang dipercaya sebagai jodohnya dalam situasi yang kini jauh berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar Pertunangan
Angin sore berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan wangi kamboja yang menenangkan di area taman restoran tempat mereka baru saja menyelesaikan sesi foto pertunangan. Aiena menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi besi tempa yang artistik, sementara kakinya yang sedikit pegal karena terus berdiri dengan sepatu hak tinggi kini tersembunyi di balik rok panjangnya. Di sampingnya, Shane duduk dengan kemeja yang kancing atasnya sudah terbuka, tampak jauh lebih santai setelah serangakain acara formal pertunangan dan berpose di depan kamera untuk foto-foto yang nantinya akan ditampilkan di resepsi pernikahan mereka itu.
Segala sesuatunya bdua minggu laluergerak secepat kilat. Baru saja mereka bertukar cincin di depan beberapa jam lalu, kini mereka tinggal menghitung mundur ke waktu pernikahan. Tanggal pernikahan telah ditetapkan oleh kedua belah keluarga. Sebuah tanggal yang dianggap paling baik menurut perhitungan tradisi dan itu berarti mereka akan resmi menjadi suami istri dalam waktu kurang dari empat bulan lagi. Bagi Aiena, waktu itu terasa sangat singkat, seolah baru kemarin ia masih berkutat dengan ketakutan akan bayang-bayang Haze di meja kerjanya dan sebentar lagi ia akan menjadi istri dari pria yang menolongnya lepas dari itu semua.
“Nggak sampai empat bulan, Shane,” gumam Aiena memecah keheningan, matanya menatap riak air di kolam kecil depan mereka. “Rasanya kayak dikejar deadline proyekbesar. Apa kita nggak terlalu terburu-buru?”
Shane menoleh, lalu meraih tangan Aiena dan mengusap punggung tangannya dengan ibu jari. Senyumnya menenangkan, jenis senyum yang selalu berhasil meruntuhkan dinding kecemasan Aiena.
“Keluarga sudah nentuin tanggal terbaiknya, Na. Kita cuma perlu ngikutin alurnya. Lebih cepat juga lebih baik. Apa kamu nggak pengen cepet-cepet buat bisa mesra-mesraan sama aku?” godayanya setengah berbisik.
“Shane!”
“Kenapa? Jadi bayangin ya?” lanjutnya, disusul dengan sebuah tawa jahil yang mengundang cubitan dari Aiena.
“Nggak, nggak. Aku cuma pengen jadi suami kamu yang sah secepatnya, Na.”
Aiena mengangguk pelan. Ia dan Shane memang sepakat untuk menurut saja pada keputusan orang tua mereka mengenai tanggal baik tersebut. Tidak ada gunanya berdebat saat kedua keluarga besar sudah memberikan restu yang begitu hangat, terutama orang tua Shane yang sangat menyayangi Aiena meskipun ia hanyalah seorang bawahan di perusahaan putra mereka.
“Aku cuma takut ada kendala yang nggak kita duga,” lanjut Aiena jujur. “Persiapan pernikahan sebesar ini, aku nggak tahu harus gimana. Ini kali pertama.”
Shane terkekeh pelan, menarik tangan Aiena untuk diciumnya singkat. “Na, ini juga pertama buat aku. Pertama dan terakhir. Kita punya tim wedding organizer terbaik, dan yang paling penting, kamu punya aku. Kamu cukup pilih apa yang kamu suka, biar aku sama tim wedding organizer yang urus kerumitannya. Anggap saja ini kayak kencan-kencan kita sebelumnya, cuma saja kali ini ada sedikit lebih banyak administrasi yang harus ditandatangani.”
Pria itu mencondongkan tubuhnya, menatap lurus ke netra Aiena dengan penuh keyakinan. “Santai aja, nggak akan ada kendala berarti. Percaya sama aku, Na.”
“Makasih, Shane…”
Aiena merasakan dadanya menghangat. Keyakinan Shane seolah menjadi jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dalam kekhawatiran. Di taman yang sunyi itu, ia menyadari bahwa meski waktu berjalan sangat cepat, ia tidak lagi merasa takut karena ia melangkah bersama pria yang selalu memprioritaskan ketenangannya.
***
Suasana di lantai divisi pemasaran digital pagi itu tidak seperti biasanya. Seharusnya, suara denting papan ketik, bunyi klik mouse dan diskusi serius mengenai target kuartal kedua menjadi latar suara utama, namun kali ini, bisik-bisik rendah justru lebih mendominasi udara.
Aiena baru saja meletakkan tasnya di atas meja ketika ia menyadari bahwa beberapa rekan setimnya sudah berdiri tidak jauh dari kubikelnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Telinganya dapat menangkap sayup-sayup pembicaraan bisik-bisik itu adalah tentang dirinya dan Shane.
Meskipun Aiena sangat berhati-hati dan tidak mengunggah satupun foto pertunangannya di media sosial demi menjaga privasi, kabar bahwa karyawan andalan divisi pemasaran digital itu telah bertunangan dengan bos mereka, Shane, menyebar seperti api di atas tumpukan jerami kering. Mungkin seseorang melihat mereka di restoran tempat pertunangan diadakan, atau mungkin bocoran datang dari sopir keluarga yang tak sengaja berucap. Yang jelas, pagi ini identitas Aiena telah berubah di mata rekan-rekan kerjanya.
“Aiena! Benar-benar diam-diam menghanyutkan, ya!” seru Ayu, salah satu rekan divisi yang paling vokal, sambil menghampiri meja Aiena dengan langkah lebar. Sontak, lima orang lainnya ikut mengerumuni kubikel kecil itu, membuat Aiena merasa sedikit terpojok namun dalam suasana yang ramah.
“Tunggu, tunggu, apa ini benar? Ada gosip hot di divisi keuangan, katanya… kamu dan Pak Shane?” tanya rekan lainnya, menatap jemari Aiena yang kini sengaja disembunyikan di bawah meja.
Aiena menarik napas panjang, mencoba tetap tenang meski wajahnya mulai memanas karena menjadi pusat perhatian. “Iya, benar. Maaf ya kami nggak kasih tahu kalian.”
“Ya ampun, Na! Kami semua kaget setengah mati!” Ayu menepuk bahu Aiena dengan gemas. “Hebat banget kamu, putus dari yang lama langsung tunangan sama CEO. Gimana ceritanya? Siapa yang duluan? Pak Shane pasti romantis sekali, kan?”
Pertanyaan-pertanyaan itu datang bertubi-tubi seperti hujan deras. Teman-temannya mulai berspekulasi tentang kencan-kencan rahasia yang mungkin mereka lewatkan, atau tatapan-tatapan khusus selama rapat yang tidak mereka sadari sebelumnya. Beruntung tidak ada yang membahas mengenai pertikaian fisik antara Shane dan pacar Aiena—Haze—waktu itu.
Aiena hanya bisa tersenyum simpul, menjawab seadanya tanpa memberikan detail yang terlalu intim. Ia menjelaskan bahwa tidak berniat menutup-nutupi, namun tidak bisa sharing terlalu banyak juga karena menyangkut keluarga bos mereka.
“Lalu, kapan pernikahannya? Jangan bilang minggu depan!” seloroh seorang rekan pria yang ikut bergabung.
“Empat bulan lagi,” jawab Aiena pelan.
Sorakan kecil kembali pecah di sudut ruangan itu. Banyak yang merasa iri, namun lebih banyak lagi yang merasa senang karena Aiena, yang dikenal sebagai pekerja keras dan berkepribadian lembut, mendapatkan kebahagiaan yang begitu besar. Meski ada juga yang heran karena Aiena bukan termasuk karyawan yang sering ditugaskan langsung di dekat Shane, pekerjaan Aiena lebih banyak berhadapan dengan komputer ketimbang bosnya itu.
“Pokoknya, jangan lupa, kami semua harus diundang!” tutup Ayu sebelum manajer divisi mereka berdehem dari kejauhan, mengisyaratkan agar kerumunan itu segera bubar dan kembali bekerja.
“Iya, pasti. Tunggu aja.” Aiena kembali duduk, jemarinya kini dengan berani menyentuh permukaan meja, membiarkan berlian di jari manisnya menangkap cahaya lampu kantor lantai sebelas sebagai sebuah pengingat bahwa masa depannya kini telah memiliki pelabuhan yang pasti.
***