papanya elvaro dan zavira pernah sahabatan di waktu SD ,Namun nasib membedakan mereka , papanya elvaro sudah sukses sekarang. sedangkan papanya zavira hanya mempunyai toko bengkel.
keduanya bertemu setelah beberapa tahun menghilang,tapi masih dengan persahabatan yang hangat, terukir janji mereka yang dulu akan menjodohkan anak mereka. mamanya elvaro sangat keberatan menerima nya ,Karna menurutnya tidak setara. begitu juga dengan zavira menolak keras perjodohan ini Karna elvaro adalah musuh bebuyutan nya di sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mahealza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
malam dibawah sadar
Mentari pagi itu muncul dengan sangat megah di ufuk timur. Sinar keemasan mulai merayap perlahan menembus celah-celah jendela kamar, menerangi debu-debu halus yang beterbangan di udara. Langit tampak biru bersih tanpa setitik pun awan, seolah alam sedang tersenyum lebar menyambut hari baru.
Suhu udara mulai menghangat, menerpa dedaunan di halaman rumah yang masih berembun. Cahaya matahari itu begitu terang, begitu menyilaukan, dan seharusnya bisa membuat siapa saja merasa bahagia dan bersemangat. Namun, bagi Zavira, keindahan pagi itu sama sekali tidak bisa menghangatkan hatinya yang terasa membeku dan penuh beban.
Gadis itu duduk di tepi kasur, menatap lurus ke lantai. Pikirannya kacau balau. Rasa bersalah yang luar biasa terus menghantui pikirannya sejak bangun tidur.
''Sudah berapa lama waktu berlalu...'' batinnya bergumam pilu. ''Waktu yang Mama kasih tinggal sedikit lagi, tapi bukti yang aku cari sampai sekarang belum juga ketemu. Belum ada yang cukup kuat buat ngunciin pelaku itu di penjara.''
Bayangan wajah almarhum kakaknya muncul di benaknya. Wajah yang penuh kesedihan saat menceritakan pelecehan yang dia alami, hingga akhirnya trauma itu merenggut nyawanya.
''Maafin gue Kak... gue belum bisa balas dendam buat Kakak...'' air mata Zavira hampir jatuh, tapi ia buru-buru mengusapnya kasar. ia harus kuat.
Sesampainya di sekolah, suasana kelas sudah ramai. Zavira duduk bersama gengnya—Nadin dan teman-teman lainnya. Mereka melihat Zavira yang tampak murung dan selalu memikirkan sesuatu.
"Vi, lo kenapa sih dari kemaren mikir mulu?" tanya Nadin penasaran. "Kita jadi penasaran nih, sebenernya alasan kuat apa sih yang bikin lo se-yakin itu kalau pelaku yang nyakitin kakak lo itu Elvaro? Kan di sekolah atau di lingkungan sini, nama Elvaro itu ada tiga orang lho! Jangan-jangan lo salah sasaran?"
Pertanyaan itu membuat Zavira menghela napas panjang. Dia menatap teman-temannya satu per satu, lalu mulai membuka suara dengan nada yang berat dan yakin.
"Gue tau nama Elvaro itu umum. Ada tiga orang yang punya nama sama di sekitar sini," jawab Zavira pelan namun tegas. "Tapi gue yakin 100% kalau yang satu ini—Elvaro Kenjiy Devanka—dialah pelakunya."
"Kenapa bisa seyakin itu, Vi? Buktiin dong," desak teman yang lain.
Zavira mengepal tangannya di bawah meja, mengingat kembali semua petunjuk yang dia kumpulkan diam-diam.
"Alasannya simpel tapi kuat," kata Zavira mulai menjelaskan. "Pertama, sifat dia. Elvaro itu orangnya sangat angkuh, dominan, dan punya ego setinggi langit. Dia tipe orang yang kalau mau sesuatu harus didapat, dan dia nggak peduli perasaan orang lain. Karakter yang keras dan semena-mena itu cocok banget sama deskripsi pelaku yang kakak gue ceritain."
"Terus terus?"
"Terus..." Zavira terdiam sejenak, mengingat kejadian beberapa bulan lalu. "Gue pernah ngikutin dia diam-diam. Waktu itu gue penasaran, mau tau aja kelakuan dia gimana. Dan tau nggak? Gue nemuin dia masuk ke sebuah club malam yang terkenal liar dan bebas."
Mata teman-temannya membelalak kaget.
"Club malam? Serius? Padahal kan kita masih di bawah umur?"
"Iya," jawab Zavira mantap. "Dan bukan cuma masuk doang. Gue liat dengan mata kepala sendiri gimana sikap dia di sana. Dia terlihat sangat bebas, berani, dan terbiasa dengan dunia gelap yang penuh nafsu dan kekerasan. Itu yang bikin gue makin yakin."
"Jadi menurut lo, sifat dia yang angkuh ditambah keberaniannya masuk tempat-tempat terlarang itu jadi bukti kuat?" tanya Nadin.
"Betul," Zavira mengangguk mantap. "Dua orang Elvaro yang lain? Mereka orang baik-baik, pendiam, dan hidupnya normal. Beda jauh sama Elvaro Kenjiy. Dia punya segalanya: uang, kekuasaan, dan sifat yang arogan. Kombinasi yang sempurna buat jadi orang yang tega melakukan pelecehan itu."
"Gue nggak mungkin salah orang. Insting gue, semua bukti tidak langsung yang numpuk, dan kelakuan dia yang makin hari makin aneh... itu semua nunjukkin satu arah. Dialah monster yang udah hancurin hidup kakak gue."
Suasana menjadi hening. Teman-temannya kini mulai mengerti dan merasa ngeri sendiri. Ternyata di balik ketampanan dan jabatan Ketua OSIS yang dia pegang, Elvaro menyimpan sisi gelap yang begitu menakutkan.
" nanti malam gue mau ikutin dia , Karna nanti ,malam Minggu, gue mau cari tau dia kemana. "
" gue mau ikut Vi " ucap Nadin sedikit mendesak.
zavira menangguk ." tapi gue GX bisa Vi ,gue temenin mama gue cek up ke RS. imbuh Freya merasa bersalah tidak bisa membantu zavira.
" gapapa ,Lo temanin aja nyokap Lo "
***
Zavira tidak peduli dengan rasa takut. Begitu melihat pintu club itu terbuka lagi untuk tamu lain, dia langsung menyelinap masuk dengan cepat dan hati-hati.
Di dalam, suasana sangat berbeda dengan dunia luar. Musik bass yang berat berdentum keras, membuat lantai seolah ikut bergetar. Lampu-lampu disko berputar kencang, memantulkan cahaya warna-warni yang memusingkan kepala. Asap tipis mengepul memenuhi ruangan, bercampur dengan aroma alkohol yang sangat menyengat dan menusuk hidung.
Zavira berjalan tertunduk, menyembunyikan wajahnya di balik kerumunan orang. Dia memanfaatkan tubuh-tubuh orang lain yang sedang asyik menari atau berdiri berkerumun untuk menjadi perisai dirinya. Matanya terus waspada mencari sosok yang dia incar.
Dan benar saja, di sudut meja bar yang agak tinggi, dia melihatnya.
Elvaro dan Loan sedang duduk bersandar santai.
Tiba-tiba HP Nadin bergetar kencang di tangannya. Gadis itu melirik layar, wajahnya langsung pucat.
"Vi... sialan! Papa gue kirim pesan! Disuruh pulang SEKARANG JUGA! Katanya udah di depan rumah!" bisik Nadin panik.
"Hah? Serius? Tapi gue masih mau ngintip nih Nad..." Zavira ragu.
"Maaf ya Vi! Gue harus balik sekarang! Nanti gue dihukum berat kalau ketahuan keluar malam begini!" Nadin terlihat sangat sedih dan berat hati meninggalkan temannya sendirian di tempat seram itu. "Kamu hati-hati ya! Kabarin aku kalau udah keluar!"
Dengan langkah terburu-buru, Nadin pun pergi menyelinap keluar, meninggalkan Zavira sendirian di tengah lautan manusia yang asing.
Zavira kembali fokus. ia melihat Elvaro dan Loan memesan minuman. Awalnya terlihat biasa saja, mereka hanya mengobrol santai, tertawa kecil, dan meneguk wine merah dari gelas kristal mereka.
Tapi anehnya, begitu gelas pertama habis, Elvaro langsung menuangkan lagi hingga penuh. Dan lagi, dan lagi. Tangannya seolah punya keinginan sendiri, tak kunjung berhenti menumpahkan cairan merah pekat itu ke dalam gelasnya.
"el, udahan ah! Lo udah mulai kelihatan mabuk nih!" cegah Loan, mencoba menarik botol itu. "Jangan banyak-banyak, nanti lo kenapa-napa."
Tapi Elvaro menepis tangan Loan dengan malas. Wajahnya sudah mulai memerah, matanya mulai sayu dan terlihat tidak fokus.
"Gak... gapapa kok..." gumamnya pelan, lidahnya sudah mulai sedikit tebal. "Ini enak... bikin tenang... semua baik-baik aja, Loan. Gue gak mabuk."
Padahal jelas-jelas dia sudah mulai pusing. Obat perangsang dari alkohol itu sudah mulai merayap masuk ke saraf-saraf tubuhnya, membuat pikirannya semakin kacau dan emosinya tidak stabil.
Tiba-tiba, suasana berubah drastis. Tanpa aba-aba, tubuh Loan tiba-tiba lemas dan jatuh tersungkur ke meja, lalu melorot ke bawah. Dia pingsan mendadak! Entah karena minuman yang terlalu kuat, atau ada campuran obat, atau memang dia kelelahan.
Beberapa staf club segera sigap datang dan mengangkat tubuh Loan untuk dibawa ke ruang istirahat atau tempat yang lebih aman.
Tinggalah Elvaro sendirian.
Pria itu kini terduduk lunglai di kursi tinggi bar. Kepalanya terasa berat sekali, berputar-putar. Saat dia mencoba berdiri, kakinya gemetar hebat. Beberapa kali dia tidak sengaja menyenggol bahu orang yang lewat, membuat orang-orang itu memandangnya sinis, tapi karena dia terlihat seperti orang mabuk, mereka hanya mendengus dan pergi.
Tiba-tiba, sebayang tubuh langsing dan wangi menghampiri meja Elvaro. Itu adalah seorang wanita cantik, berpakaian sangat seksi dan terbuka. Dia mendekat dengan gaya menggoda, lalu duduk tepat di samping Elvaro.
"Hai... ganteng, sendirian aja nih?" bisik wanita itu dengan suara merdunya, tangannya mulai berani mengusap lengan otot Elvaro.
Elvaro hanya menatap kosong ke depan. Tatapannya hampa, tidak ada respon sama sekali. Seolah dia tidak melihat wanita itu ada di sana.
Tapi wanita itu tidak menyerah. Dia semakin berani. Dia mendekatkan wajahnya, berbisik-bisik menggoda, bahkan tangannya mulai berani meraba dada Elvaro dan memainkan kancing bajunya.
Di sudut yang gelap, Zavira menyaksikan semua itu dengan perasaan jijik yang luar biasa.
''Dasar laki-laki brengsek...'' batinnya geram. ''Beneran setipe sama monster yang nyakitin Kakak. Lihat tuh, gampang banget kena goda cewek lain!''
Tanpa membuang waktu, Zavira segera mengeluarkan HP-nya. Dia mengaktifkan mode senyap, lalu mulai merekam video dan memotret kejadian itu dari jarak aman.
Klik... Klik...
"Bagus... ini semua bakal jadi bukti kuat buat ngancurin lo, Elvaro," gumamnya mantap, matanya memancarkan kebencian.
Di meja bar, akhirnya Elvaro mulai merespons. Tatapannya berubah menjadi aneh, hyper, dan liar. Dia menatap wanita itu dengan pandangan yang tidak jelas, campuran antara mabuk dan bingung. Melihat itu, Zavira rasanya ingin muntah melihat kelakuan suaminya yang begitu bejat di matanya.
Wanita itu semakin senang. Dia mencoba memegang tangan Elvaro dan mengajaknya berdiri.
"Yuk... kita ke kamar aja ya? Lebih enak dan tenang..." bisiknya merayu, berusaha menyeret Elvaro pergi ke lantai atas.
TAPI...
Saat tangan wanita itu hampir berhasil menariknya pergi, tiba-tiba Elvaro mendorong tubuh wanita itu dengan kasar dan kuat!
BRUK!
Wanita itu terpelanting jatuh ke lantai!
"JANGAN SENTUH GUEEE!!" teriak Elvaro histeris, suaranya serak dan besar. "GUE GAK MAU! PERGI LO!"
Kejadian itu memicu keributan besar! Teman-teman wanita itu atau pengunjung lain yang merasa kesal langsung marah besar.
"HEH BA*I! MAO APA SIH LO?!"
"BERANI-ARINYA SENTUH CEWEK GUE! GEBUKIN AJA COK!"
Tanpa ampun, Elvaro yang sedang mabuk dan tidak berdaya itu langsung dikeroyok! Dipukul, ditonjok, ditendang! Suasana jadi ricuh sekali!
Zavira di tempatnya teriak dalam hati, tangannya menutup mulut. Dia ingin menolong, tapi dia sadar dia tidak bisa melakukan apa-apa. Di sana semua orang ganas-ganas, dia cewek biasa saja, pasti ikut kena masalah kalau nekat maju.
Akhirnya setelah cukup babak belur, staf keamanan club datang dan melerai mereka. Elvaro diusir keluar dengan keadaan mengenaskan. Wajahnya lebam, bibirnya pecah, baju berantakan, dan darah segar menetes dari hidungnya.
Elvaro berjalan menyeret kakinya keluar dari area club. Matanya menyipit mencari-cari motornya, tapi kepalanya terlalu pusing untuk mengingat letak parkir.
Zavira yang melihat keadaan suaminya yang menyedihkan itu, rasa benci di hatinya perlahan terganti oleh rasa kasihan yang besar. Tanpa sadar, dia keluar dari persembunyiannya dan mendekat pelan.
"Elvaro..." panggilnya pelan. "Lo... lo gak apa-apa?"
Elvaro menoleh kaget. Walaupun matanya kabur dan pandangannya berbayang, dia yakin dia melihat sosok itu.
"Zavira...?" gumamnya.
Tiba-tiba, dengan langkah sempoyongan dan kaku, Elvaro berjalan cepat mengejar Zavira. Sebelum gadis itu sempat bereaksi atau mundur, Elvaro langsung menerjang dan memeluk tubuhnya erat-erat!
HUG!
Zavira terpaku! Badannya kaku! Dia tidak bisa mengelak sama sekali karena pelukan itu begitu kuat, seolah Elvaro takut kalau Zavira akan hilang kalau dilepas sedikit saja.
Di tengah dinginnya malam dan bau alkohol yang menyengat, Elvaro mulai meraung-raung. Tangisannya pecah! Dia menangis seperti anak kecil yang tersesat.
"HUAAAAAA!! GUE SEDIH VI! GUE SAKIT BANGET!!" teriaknya di bahu Zavira. "MEREKA SEMUA BENCI GUE! ORANG TUA GUE BENCI GUE! GUE SENDIRI GAK NGERTI GUE INI SIAPA!!"
Zavira tertegun mendengar isak tangis itu. Dia bisa merasakan bahu Elvaro bergetar hebat.
"JANGAN PERGI DARI GUE YA... SAYANG..." Elvaro memanggilnya dengan sebutan yang sangat lembut dan sayang, sesuatu yang tidak pernah dia lakukan saat sadar. "TETEP SAMA GUE... GUE TAKUT SENDIRIAN..."
Kata-kata itu, nada bicara itu, dan pelukan hangat itu... berhasil meluluhlantakkan pertahanan Zavira. Rasa jijik dan marahnya lenyap seketika, berganti dengan kebingungan dan rasa haru yang aneh.
Akhirnya, Zavira pun mengangkat tangannya, perlahan membalas pelukan itu, atau setidaknya menopang tubuh berat suaminya itu agar tidak jatuh.
"Udah... udah..." bisik Zavira pelan, matanya ikut berkaca-kaca. "Gue di sini. Kita pulang ya."
Dengan susah payah, Zavira menghentikan taksi yang lewat. Dia membantu Elvaro masuk ke dalam mobil, lalu ikut duduk di sampingnya. Sepanjang perjalanan, kepala Elvaro terus bersandar di bahu Zavira, masih sesenggukan, dan sesekali menggumamkan kata-kata sayang yang membuat jantung Zavira berdebar kencang tanpa alasan yang jelas.