Perjuangan seorang anak yang lahir dari sebuah kesalahan, Prayoga berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan ibunya, Rania yang berjuang seorang diri untuk membuat putranya di akui oleh dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T Moel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ini papa-ku
Hai Reader's ku sayang, maaf ya baru up sekarang, kemarin sibuk banget. Selamat menikmati kisah ini.
Leon yang merasa sangat bahagia bisa bertatap muka langsung dengan salah satu anaknya, Rasa hari dalam dadanya menyeruak ke dalam Hat nya.
"Sini gendong papah sayang. "
Leon ingin merasakan bahagianya menggendong anak perempuan Karena banyak orang bilang kalau ayah adalah cinta pertama anak perempuan, maka dari itu Leon ingin menjadi cinta pertama anak perempuan nya.
Naila yang juga merindukan sosok papah ya, tidak menyia nyiakan kesempatan untuk di gendong papah nya.
Leon mencium pipi chubby Naila yang kegelian hingga menimbulkan tawa renyah. Leon sangat bahagia bisa mendengar tawa putrinya untuk pertama kalinya.
"Papah, ila ke kamar nenek dulu yah, tadi ila ga bilang kalau mau ketemu papah, kan ini rahasia kita berdua. ok. "
"Ok cantiknya papah, kapan kita bertemu lagi?"
"ila di sini cuma dua hari, idan mau naik gunung. " wajahnya jadi sendu.
"Mau naik gunung yang di mana sayang. "
"Kakek bilang, kyanya ke bromo, papah mau ikut ila ga? "
"Ayo papah pasti akan ikut ila ke Bromo, nanti kita bertemu lagi di sana. "
"Papah kakek tahu gak kalau papah di hotel ini juga. "
"Kakek ga tahu kalau papah kw Bali juga, karena ini acara dadakan. Jadi papah ga bilang sama kakek, dan rencananya papah mau pulang nanti sore setelah semua urusan selesai. Tapi..... "
"Tapi apa papah? "
"Tapi karena ada Princess papah di sini, jadi papah akan pulang kalau princess papah juga pulang. " kembali Leon mencium kepala Naila yang harum.
"Asyik papah pulangnya bareng ila. "
"Papah ila ke kakek dulu ya, nanti nenek nangis kalian ila ga ada. "
"Iya sayang, nanti selesai meeting, papah cari ila, kita main lagi. "
"Ok papah. " Naila mencium serta memeluk Leon.
Dengan berat hati, Leon melepaskan Naila untuk pergi menemui neneknya yang pasti sangat khawatir karena cucu kesayangannya tidak ada di dekat nya.
Sementara di luar kamar, nyonya Erlina dan tuan Aditama kelimpungan karena mencari Naila yang pergi entah ke mana, tuan Aditama mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari Naila di seputar hotel.
Saat nyonya Erlina dan suaminya sedang duduk di sofa lobby hotel, Leon tiba tiba saja lewat di depan mereka, Dan sengaja menegur mereka, Leon ingin tahu apakah mereka jujur tentang keberadaan mereka yang berada di sana.
"Mah pah, kalian ada di sini juga, kok Leon ga tahu sih.? " tanya Leon berpura pura kaget.
" Dan kenapa wajahnya mamah sangat pucat, apa mamah sakit?"
"Kamu juga ada di sini, lagi meeting? " tuan Aditama yang menjawab, karena khawatir istrinya akan keceplosan.
"Iya pah lagi meeting, nanti sore juga Leo kembali ke Jakarta." jawab nya santai.
"Mamah sama papah ingin jalan jalan ke pantai, tapi sebentar lag kepala mamah agak pusing makanya wajah mamah pucat. " alasan papah nya.
"Mamah sudah minum obat? "
"Sudah, sebentar lagi juga sembuh. "
"Pah, itu anak kecil siapa yang duduk di sebelah papah? " Tanya Leon.
Leon sebenarnya tahu kalau yang berada di samping papah nya adalah Zidan anak laki laki nya. Namun Leon diam saja ingin tahu bagaimana respon kedua orang tuanya.
Sebelum papahnya menjawab, salah seou anak buah nya membawa Naila yang membawa makanan dengan wajah yang cemong penuh coklat. Leon yang melihat wajah putrinya cemong ingin sekali membersihkan wajahnya serta mencium pipinya. Namun itu hanya dalam angan.
Ryan menghampiri Leon yang sedang bersama kedua orang tua nya.
"Tuan, klien kita sudah menunggu. "
"Tuan nyonya anda juga ada di sini? '
" Iya Ryan apa kabar? "
"Kabar saya baik tuan, maaf saya tinggal dulu." Ryan dan Leon meninggalkan tuan Aditama dan istrinya.
Kemudian nyonya Erlina dan suaminya menghampiri Naila yang masih berdiri. "Sayang kamu kemana saja, nenek sama kakek sampai khawatir loh. "
"Tadi di sana ada anak yang ulang tahun ahun, ila di ajak ikut sama mereka, terus ila di kasih kue deh. " jawab Naila merasakan tidak bersalah sudah membuat kedua nya kebingungan.
"Hadeuh cucu nenek yang cantik kenapa ga bilang kalai mau kue coklat nanti nenek beli buat ila. "
Nyonya Erlina mengelap wajah Naila yang penuh dengan coklat. Sementara Zidan hanya memperhatikan Naila yang wajah nya sedang di bersihkan neneknya.
Zidan tahu kalau Naila sedang bertemu ayah mereka yang membuatnya lupa dengan keberadaan nenek dan kakeknya. Hanya saja Zidan diam karena tidak ingin Naila kena masalah jika Zidan berbicara.
"Kamu lapar sayang? " tanya kakeknya.
"Nggak kakek, kan tadi bilang kalau ada anak yang ulang tahun terus ila di ajakin terus ila di kasih kue coklat ini deh. "
Setelah bersih, mereka berjalan keluar hotel menuju pantai yang tidak jauh dari tempat mereka menginap.
Naila tampak sangat semangat bermain istana pasir, kerena memang impiannya untuk bermain di pantai. Sedangkan kakek dan neneknya duduk tidak jauh dari tempat Naila bermain istana pasir.
Zidan yang awalnya tidak ingin ke pantai, namun meliat saudara nya yang begitu antusias bermain pasir, akhirnya ikut juga dena Naila.
Zidan mendekati Naila yang sedang asyik sendiri bermain pasir. "ila, aku tahu tadi kamu hanya beralasan saja biar kakek dan nenek tidak curiga. "
"Maksud Idan apa? ".
" Pasti kamu bertemu papah ya? "
Tanpa menjawab, Naila tahu kalau Zidan bisa menerka apa yang sudah terjadi, Zidan terlalu pintar untuk dikeabui.
"ila kangen banget sama papah, pas lihat ada papah ila langsung aja masuk kamar nya. "
"Idan yakin kalau papah pasti akan ikut naik gunung, karena pasti sudah memberitahunya
kalau kita akan pergi ke gunung. "
Naila hanya nyengir saja, Naila tahu kalau Zidan pintarnya di atas rata-rata rata hanya saja tidak di perlihatkan.
"Nanti kalau sudah di gunung, Idan mau ketemu papah? "
"Iya dong, pasti kan bukan cuma kamu aja yang kangen sama papah. "
Di tempat duduknya, nyonya Erlina memperhatikan kecua cucunya yang terlihat sedang bicara. "Pah lihat mereka, seperti nya mereka sedang bicara serius. "
Tuan Aditama yang sedang membalas semua email yang dikirim kan asistennya mengangkat kepala melihat kedua cucunya.
"Apa yang seangkatan mereka bicarakan ya mah? " tian Aditama penasaran.
"Entahlah pah, mungkin mereka bicara tentang mamahnya. "
"Mungkin juga sih mah. " tuan Aditama kembali dengan kesibukan nya membalas semua email yang masuk. Begitu juga dengan nyonya Erlina yang sedang membalas pesan pesan yang masuk dari temannya dan juga dari butik nya.
Hari menjelang sore, Nyonya Erlina memi ta kedua cucunya untuk segera pulang karena matahari sebentar lagi akan tenggelam.
"Anak anak ayo kita pulang, sebentar lagi malam. " ajak neneknya.
'Iya nek. " jawab mereka serempak.
Berempat berjalan menuju hotel untuk membersihkan badan yang kotor sesudah bermain pasir pantai.
Setelah mandi dan ganti pakaian semuanya makan malam di restoran hotel Zidan dan Naila makan sangat lahap karena sejak siang tadi mereka tidak makan lagi, karena asyik bermain pasir.
Walaupun neneknya menawarkan makanan namun mereka tidak menyentuh makanan tersebut.
"Makan nya pelan pelan sayang, tidak ada yang minta. " ucap tuan Aditama.
"Kami sangat lapar kakek, jadi kita makannya banyak. "
"Tadi kan nenek nawarin kalian makanan tapi kalian tolak. "
"He he, maaf nenek. " jawab keduanya.
"Nenek boleh tidak kami telpon mamah? " Naila bertanya karena sudah kangen.
"Iya nanti setelah makan malam kalian bisa telpon mamah., nah sekarang habiskan makannya setelah itu tidur. "
"Ok nenek cantik. "
"Siap." jawab keduanya bersamaan.
Saat sedang makan, Naila sekilas melihat papahnya sedang berjalan ke arah taman belakang hotel, hatinya sangat bahagia karena ada kesempatan untuk bertemu lagi dengan papahnya.
"Nenek, ila makannya sudah. "
"Makannya sudah selesai? " tanya nyonya Erlina untuk meyakinkan.
"Iya nenek. " Naila menjawab.
"Ila mau desert? "
"Nggak ah, nenek di sana banyak sekali orang yang lagi jalan jalan, anak kecil juga ada. Boleh kah ila main ke sana, sambil nunggu nenek selesai makan? "
Nyonya Erlina bertanya pada suaminya terlebih dahulu karena jika ada apa apa, dirinya tidak ingin di salahkan sepenuhnya.
"Gimana pah boleh? "
"Biarkan saja, toh masih ada di sekitar hotel, ada anak buahku juga yang akan menjaga Naila. "
"Boleh, tapi ingat jangan jauh jauh, nanti akan ada anak buahnya kakek yang akan menjaga kamu. " ucapan nyonya Erlina.
"Biar sama Zidan aja, biar nenek sama kakek tidak usah khawatir. "
"Tapi ingat kalian harus hati hati, kalau ada orang asing yang ingin mengajak kalian, jangan pernah mau ya,. Nenek tunggu di kamar. Kalau sudah selesai langsung pulang, ingat jangan lama lama. "
Keduanya mengangguk, lalu berjalan ke belakang hotel yang memang sedang ada acara bazar yang di selenggarakan oleh pihak hotel.
"Idan tahu, kamu pasti melihat papah berjjalan, makanya ingin ke sini. Iya kan? " tanya Zidan.
"Kalau sudah tahu kenapa harus bertanya. " jawab Naila ketus.
Dari kejauhan, Leon menatap ke dua anaknya yang ternyata Zidan ikut juga bersama Naila. Hatinya semakin berbunga bunga melihat princess nya datang bersama saudaranya. Rasanya seperti sudah memenangkan tender milyaran. Leon tersenyum senyum sendiri melihat tingkat laku anaknya yang menurut nya sangat menggemaskan.
Mungkin Zidan lebih banyak mengikuti Gen Aditama, wajahnya sangat datar, tidak ada senyum sama sekali dan juga angkuh, namun kan sangat baik pada keluarganya.
"Itu papah. " Naila menunjuk Leon.
"Ayo kita ke sana. " Ajak Naila tidak sabar.
"Papah.... " Naila berseru gembira setelah dekat dengan papahnya yang langsung Menggendong nya.
"Papah ila kangen, papah sudah lama ya nunggu ila? "
"Papah juga sana sayang, kangen sama ila. "
"Sini nak, apa kamu tidak ingin dekat dengan papah? " Leon bertanya pada Zidan yang berdiri tidak jauh dari Leon.
"Zidan kangen banget pah. " Zidan memeluk Leon.
Leon memeluk Zidan menggunakan tangan kanannya yang kosong. Ketiganya berpelukan, menangis dalam kerinduan yang baru hari ini di pertemukan. takdir.
"Nenek sama kakek tahu kalian kesini? ' tanya Leon.
" Tahu. " jawab keduanya.
"Sekarang nenek sama kakek di mana? "
"Di kamar, kata kakek akan ada anak buah kakek yang menjaga kami. ' jawab Naila.
Leon yang sangat hafal dengan semua anak buah papah nya segera melihat di sekitar tempat tersebut, ada berapa orang yang menjaga kedua anak nya.
Anak buah tuan Aditama yang matanya bertemu dengan anak bosnya hanya mengangguk saja pertanda mereka mengerti agar pertemuan tersebut jangan sampai kedua orang tuanya tahu kalau saat ini mereka bertemu.
Pertemuan mereka di manfaatkan sebaik mungkin karena meteka tidak tahu kapan lagi akan bertemu. Leon seperti melihat gambaran dirinya di dalam tubuh Zidan. Hanya saja kulit Zidan lebih putih mengikuti kulit Rania yang sangat putih bersih.
Hampir dua jam mereka bersama, seandainya saja anak buah papahnya tidak datang, mungkin saja sampai pagi mereka ada di sana.
" Maaf tuan, tadi tuan Aditama meminta saya untuk mengajak nona Naila dan juga tuan muda Zidan untuk segera kembali ke kamar karena hari sudah larut malam. " ucapnya dengan sopan.
"Baiklah, biar mereka pulang dengan saya, karena kamar kami berdampingan." ucao Leon.
"Baik tuan, saya akan mengikuti tuan sampai depan pintu kamar, karena mereka berdua tanggung jawab saya."
Leon berjalan berdua bersama Zidan karena Naila ingin di gendong Leon. Alasannya karena merasa lelah dan kakinya sudah tidak kuat lagi untuk berjalan.
"Ya sudah ayo papah gendong, kasihan princess papah kakinya sudah lelah untuk berjalan. " Leon sambil tertawa kecil.
"Alah manja sekali, biasanya juga naik turun tangga di rumah tidak pernah sakit kakinya. " Gerutu Zidan karena harus berjalan.
"Idan juga mau di gendong papah sampai depan kamar? " tanya Leon
"Nggak, Idan mau jalan, Idan kan laki laki, jadi harus kuat. " jawabnya karena tidak ingin di sebut lembek.
"Ga apa apa yuk, papah gendong, Idan memang laki laki tapi papah tidak akan menyebut Idan lembek. "
Akhirnya Zidan mau juga di gendong Leon, sebenarnya juga Zidan sudah lelah kakinya hanya karena malu, jadi berusaha berjalan. Keluar dari lift,, berjalan tidak jauh dari kamarnya, Leon menurunkan keduanya, menyerahkan Naila dan Zidan pada anak buah papahnya.
Sementara Leon segera masuk ke dalam kamarnya, namun pintunya tidak sepenuhnya di tutup agar dapat memastikan kalau kedua anaknya sudah masuk.
Di dalam kamar, neneknya sedang duduk di sofa bersama suaminya. Kembar menghampiri keduanya.
"sudah mainnya? " tanya nenek nya.
"Sudah"
"Sekarang cuci kaki, gosok gigi terus ganti banunya, tadi mamah telpon."
Keduanya melakukan apa yang di perintahkan neneknya, tidak ada satupun yang terlewati. Setelah semua nya selesai, lembar menghampiri nenek dan kakeknya, kemudian video call dengan mamahnya.
"Halo sayang, dari mana kok mamah telpon tadi ga ada? "
"Tadi kita main dulu mamah, ada bazar di belakang hotel. " Jawab Zidan.
"Senang ga main pasir tadi siang? "
"Seru banget mamah, ila buat istana pasir. "
Kembar menceritakan keseruannya bermain pasir di pantai, Zidan pun tidak kalah dengan Naila yang bercerita tentang kegiatan nya di pantai tadi siang. Hari mulai larut malam, setelah menelpon mamahnya, kemudian kembar tidur.
...****************...