Empat tahun lalu, Aelira S. Valenzia gadis unik, misterius terjerat oleh Ravian Kael Davino veyron, pewaris tunggal keluarga veyron , yang mengidap penyakit haphephobia. Suatu hari, Davino pergi ke sekolah karena suatu hal penting, dimana Aelira tidak sengaja terjatuh, dan menangkap tangan Davino, atau yang orang sebut Ravian. Ia tidak menyangka hal tersebut menjadi awal mula hidup tidak sebebas dulu lagi. Penasaran? yuk baca!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diamnya Ravian
Kamar itu kini sunyi.
Hanya suara napas berat dan tidak beraturan dari tubuh Ravian yang tertidur pulas. Aroma alkohol masih samar tercium dari tubuhnya. Tangannya terjatuh lemas ke sisi kasur. Wajahnya berkeringat. Dadanya naik turun pelan.
Aelira menatapnya dari sisi tempat tidur. Kelopak matanya sembab. Wajahnya masih dibasahi air mata semalam—setelah Ravian pulang dalam keadaan mabuk dan nyaris tidak bisa berdiri.
Perlahan, dengan hati-hati, dia meraih tangan pemuda itu dan meletakkannya ke atas perut. Lalu dengan lembut, Aelira membenarkan posisi kepala Ravian yang miring tidak nyaman ke arah tembok.
"Tidur yang nyenyak, ya!" kata Aelira lembut.
Ia menghela napas panjang. Jemarinya menyentuh rambut cowok itu dan mulai mengusap perlahan seperti menenangkan anak kecil yang sedang bermimpi buruk.
Tangannya terus membelai rambut cowok itu dengan penuh kasih.
Namun ketika pagi berganti siang—semuanya berubah.
---
Ravian bangun dengan wajah dingin. Tidak ada senyum. Tidak ada sapa. Bahkan tatapan pun ia hindari.
Aelira yang sudah menyiapkan sarapan di meja hanya bisa terdiam saat Ravian melewatinya tanpa bicara.
"Van, kamu belum makan—"
"Nggak lapar."
Suaranya datar. Dingin. Seperti dulu—sebelum Aelira mengenalnya. Seperti orang asing yang kebetulan tinggal di rumah yang sama.
Aelira menggigit bibir. "Kamu mau kopi?"
"Gue bilang nggak lapar."
Pintu kamar ditutup tidak keras—tapi cukup tegas untuk membuat Aelira tersentak.
Hari itu, Ravian tidak bicara padanya. Bukan hanya satu jam—tapi seharian penuh.
Aelira mencoba mendekati beberapa kali. Di ruang tengah. Di dapur. Di lorong. Tapi Ravian selalu pergi sebelum dia sempat membuka mulut.
Dia kembali jadi Ravian yang dulu.
Angkuh. Dingin. Mudah marah.
Dan Aelira—yang sudah terbiasa dengan kehangatannya—kini hanya bisa diam menatap punggung cowok itu dari kejauhan.
---
Sore harinya.
Ponsel Ravian berdering. Aelira mendengar suara nada dering dari dalam kamar, lalu suara Ravian yang mengangkatnya.
"Halo, Kek... Iya. Nanti malam... Aelira? Saya ajak. Baik, Kek."
Pintu kamar terbuka. Ravian keluar dengan kemeja hitam rapi, rambut ditata, dan wajah tanpa ekspresi.
"Lo ikut." Suaranya perintah—bukan ajakan.
"Ke mana?"
"Makan malam sama Kakek."
Aelira mengangguk pelan. Tidak bertanya lebih lanjut.
---
Rumah Kakek — Malam itu
Rumah besar bergaya kolonial itu berdiri megah di atas bukit. Lampu kristal tergantung di ruang makan, meja panjang dengan taplak putih bersih, dan piring-piring porselen berkilau di bawah cahaya lilin.
Kakek Ravian—pria tua dengan rambut putih dan kumis tebal—tersenyum hangat melihat kedatangan mereka.
"Nak Aelira, mari sini. Cantik sekali kamu malam ini."
"Terima kasih, Kek," jawab Aelira sopan.
Ravian hanya mengangguk singkat. "Kek."
Kakek menatap cucunya dengan mata tajam. "Kamu kurusan. Tidak makan?"
"Sibuk."
"Sibuk atau sengaja?"
Ravian tidak menjawab.
Suasana sedikit canggung sebelum Mommy dan Daddy Ravian masuk. Mommy dengan gaun merah marun, Daddy dengan jas hitam rapi. Mereka tersenyum ramah pada Aelira.
"Nak Aelira, sudah lama tidak bertemu," sapa Mommy hangat. "Kamu baik-baik saja?"
"Baik, Tante. Maaf jarang berkunjung."
"Ah, tidak apa-apa. Yang penting kamu sehat. Ravian merepotkanmu, tidak?"
Aelira tersenyum tipis. "Tidak, Tante. Dia baik."
Daddy ikut bergabung. "Kami dengar kamu masih juara umum di sekolah. Hebat sekali."
"Terima kasih, Om."
Mommy menoleh ke Ravian. "Kamu, Nak? Bagaimana kabarmu? Kamu jarang sekali telepon."
Ravian mengangkat bahu. "Sibuk."
Mommy dan Daddy saling pandang. Ada luka di mata Mommy—tapi ia memilih diam.
---
Saat hidangan utama disajikan...
Kakek meletakkan sendoknya dengan pelan—tapi suaranya cukup membuat semua orang berhenti mengunyah.
"Ravian."
"Iya, Kek."
"Kakek sudah tua."
Ravian mengangkat wajah. "Kek masih sehat."
Kakek tersenyum tipis—tapi matanya serius. "Tidak selamanya. Kakek sudah mulai sering lupa. Pernah lupa jalan pulang. Pernah lupa letak kacamata di atas kepala sendiri."
Suasana ruangan mendadak hening.
"Apa kau ingat," lanjut Kakek pelan, "saat kau masih kecil, kau melihat Kakek dan Nenekmu hampir mati tegang karena kecelakaan mobil di tol? Nenekmu patah tulang punggung. Kakek koma tiga bulan."
Ravian terdiam.
"Kakek tidak takut mati," kata Kakek tegas. "Tapi Kakek takut mati sebelum melihat cucu Kakek menjadi pewaris yang sesungguhnya. Bukan hanya nama—tapi tindakan."
Ravian mengepal tangan di bawah meja.
"Kakek tidak memaksa," lanjut Kakek. "Tapi Kakek hanya minta satu: jangan buang waktu dengan hal-hal yang tidak penting. Hidup ini singkat, Ravian. Kakek tidak ingin menyesal."
---
Daddy angkat bicara.
Suaranya dingin—tegas seperti biasa.
"Sampai kapan kau akan bermain-main, Son? Mulai lah belajar menjadi pewaris yang benar. Perusahaan tidak akan menunggu sampai kau siap."
Ravian menatap Daddy. Matanya gelap. Tidak ada emosi.
"Tanpa disuruh pun," jawabnya pelan. "Sesuatu yang menjadi milikku, tidak akan pernah kulepas."
Daddy mengernyit. "Maksudmu?"
Ravian tidak menjawab. Matanya beralih ke Aelira—hanya sekilas—lalu kembali ke piringnya.
Mommy mencairkan suasana dengan bertanya pada Aelira. "Nak, bagaimana Ravian di rumah? Apakah dia baik-baik saja? Dia jarang cerita."
Aelira tersenyum canggung. "Dia baik, Tante. Hanya... sibuk."
"Kamu pasti repot mengurusnya."
"Tidak repot, Tante. Saya senang."
Mommy menatap Aelira dengan penuh arti. "Kamu perempuan yang baik, Nak. Ravian beruntung."
Ravian mendengus pelan—tidak ada yang tahu apakah itu karena setuju atau tidak.
---
Sepulang dari makan malam...
Di dalam mobil, Aelira menatap Ravian yang menyetir dengan wajah datar.
"Van."
"Hm."
"Kamu marah sama aku?"
Ravian tidak menjawab. Matanya tetap lurus ke depan.
"Kalau aku salah, bilang. Jangan diem kayak gini."
Masih tidak ada jawaban.
Aelira menunduk. "Kamu dengar percakapan aku sama Rian, kan? Waktu itu di telepon."
Ravian mengerem mendadak—tepat di pinggir jalan sepi.
Dia menoleh. Matanya merah.
"Lo mau gue bilang apa? Bahwa gue cemburu? Bahwa gue sakit hati? Bahwa gue nggak bisa tidur seminggu karena kepikiran suara lo bilang 'aku dulu suka sama dia'?"
Aelira terdiam.
"Gue dengar semuanya, Li." Suara Ravian bergetar. "Gue dengar lo nangis. Gue dengar dia nanya 'apa lo masih punya rasa'. Dan lo—lo diem."
"Van, aku—"
"Lo diem!" Ravian membanting setir. "Dan gue nggak tahu arti diammu itu apa. Lo masih sayang dia? Lo masih bingung? Lo mau balik sama dia?"
"TIDAK!" Aelira membentak balik—matanya berkaca-kaca. "Aku nggak mau balik sama dia. Aku cuma... aku cuma nggak tega bilang nggak di depannya. Karena dia habis nolong aku. Karena dia berdarah-darah karena aku."
Ravian diam.
"Tapi aku milik kamu, Van." Aelira menangis. "Dari dulu. Dari SMP. Sampai sekarang. Cuma kamu. Nggak ada yang lain."
Ravian menatapnya lama.
Lalu ia melepas setir, meraih tangan Aelira, dan menggenggamnya erat.
"Gue benci jadi cemburuan," bisiknya. "Tapi gue lebih benci kalau lo pergi."
"aku nggak pergi."
"Buktikan."
Aelira tidak menjawab dengan kata. Dia hanya membalikkan tangan—menjalin jarinya dengan jari Ravian.
Dan di dalam mobil yang berhenti di pinggir jalan sepi itu, mereka berdua diam.
Tidak saling bicara.
Tidak saling menatap.
Tapi tangan mereka—tidak pernah terlepas.
---
Ravian menarik napas—lalu menghela perlahan. Matanya masih berkaca, tapi rahangnya mulai mengendur.
Aelira masih menggandeng tangannya. Tidak melepas. Tidak bergerak.
"Van," bisiknya kemudian.
"Hm?"
"Aku ikut kamu kemanapun. Tapi jangan diam kayak gini lagi. Aku takut."
Ravian menoleh. Matanya menatap wajah Aelira yang basah. Ia mengangkat tangan bebasnya—menyeka air mata di pipi Aelira dengan ibu jarinya. Gerakannya lambat. Hati-hati. Seperti menyentuh barang paling berharga di dunia.
"Maaf," katanya akhirnya. Suaranya parau. "Gue nggak bisa janji berhenti cemburu. Tapi gue janji... gue bakal bilang. Bukan diem."
Aelira mengangguk pelan.