Aini terpaku di ruang tamu kontrakannya yang kecil. Suara itu...suara Dimas yang sedang melakukan transaksi dengan seseorang telah menghancurkan seluruh hidupnya. Diusapnya perut yang sudah besar. Dia sudah hamil delapan bulan dan anak itu...!!! anak yang dia pertaruhkan dengan seluruh jiwa raganya.... kini...!!!! ayahnya sendiri sedang melakukan transaksi penjualan entah dengan siapa. Pandangan perempuan muda itu menggelap......!!!!
Aini meninggalkan rumah, suami...pergi dengan satu tujuan "Menyelamatkan sang Bayi". Menghadang hujan badai dan petir yang sambar menyambar. Ketika hidup mulai berpihak padanya, Aini dihadapkan lagi pada kenyataan...anak yang sudah dia besarkan bertemu Ayah kandungnya. Bisakah Aini meredam semua kebaikan yang sudah dia tanam tetap ada di dalam diri putra semata wayangnya itu??? Bagaimana akhir kisah yang menguras air mata ini? Ikuti saja di "Pembalasan Anak yang Kau Jual"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sikumbang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Pengakuan
Pagi itu.
Seperti biasa, setelah mengantar Syafa sampai ke gerbang sekolah dan memastikan putrinya masuk dengan aman, Aini segera kembali ke rumah dan sibuk menata dagangannya.
Pembeli mulai berdatangan, ibu-ibu yang ingin sarapan, bapak-bapak yang hendak pergi ke sawah, hingga anak-anak yang baru berangkat sekolah.
Aini bergerak cepat melayani mereka, senyum ramah tak pernah lepas dari bibirnya meski tangannya sibuk menyendok nasi dan membungkus pesanan.
Di sampingnya, Satria asyik berlarian. Kadang ikut sibuk membantu, meski sering kali malah membuat berantakan.
"Satria main ini saja ya, itu daun jangan di berantakin." kata Aini disela kesibukan.
Jaja datang tepat waktu.
Laki-laki itu tidak langsung pergi seperti biasanya. Ia berdiri sejenak melihat Satria yang sedang memegang sepotong daun pisang dan berusaha menirukan gerakan ibunya melipat. Jaja tersenyum, lalu berjongkok menyamakan tingginya dengan anak itu.
"Satria... main sama Paman di sebelah, ya? Di rumah Paman ada bola warna-warni, ada mobil-mobilan. Kita ke sana ya, biar Ibu bisa jualan dengan tenang," ajak Jaja lembut, lalu mengulurkan tangannya.
Satria langsung bersorak gembira, melepaskan daun pisangnya dan langsung memeluk leher Jaja. Anak itu memang sudah sangat lengket, bahkan menganggap Jaja seperti bagian dari hidupnya sendiri.
Aini yang sedang melayani pembeli menoleh dan segera menahan mereka.
"Ah, jangan, Pak Jaja. Tidak usah repot-repot. Biar Satria di sini saja sama saya. Nanti Bapak jadi terganggu kalau harus bawa dia. Lagian Bapak mau berangkat kerja kan?"
Jaja hanya tersenyum tenang, menggendong Satria dengan mudah dan nyaman di pinggangnya. Matanya menatap Aini lembut.
"Tenang, Bu Hari ini saya libur. Tidak ada urusan ke mana-mana. Daripada Satria di sini kepanasan atau terinjak pembeli, lebih baik dia main sama saya. Anggap saja saya lagi cari teman, dan kebetulan Satria mau."
Pembeli lain mulai berdatangan, Aini tidak sempat menolak lagi. Ia hanya mengangguk membiarkan keduanya masuk ke pagar rumah Jaja.
Ketika keramaian mulai mereda dan meja dagangan sudah tinggal sedikit sisa bungkusan, Aini baru bisa menghela napas panjang dan duduk sejenak melelahkan pinggangnya yang pegal.
"Alhamdulillah, sudah bisa istirahat sejenak." bisiknya lirih.
Tak lama kemudian, pagar rumah sebelah terbuka. Jaja keluar diikuti Satria yang berjalan di sampingnya, ditangannya ada sepotong biskuit, Wajahnya balita itu berlepotan makanan, tapi terlihat sangat ceria. Jaja mengantar anak itu kembali ke pelukan ibunya, memastikan Satria sudah minum dan kenyang.
Jaja tidak langsung pergi. Ia berdiri diam di dekat meja dagangan, menatap Aini dengan pandangan yang berbeda dari biasanya. Pandangan yang lebih dalam, lebih serius, dan penuh keteguhan. Ada sesuatu yang berat yang ingin ia sampaikan.
Aini merasa ada yang tidak beres. Ia menaruh Satria di kursi kecil, lalu membersihkan tangannya dari sisa nasi.
"Ada apa, Pak Jaja? Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya sopan, sedikit gugup merasakan suasana yang berubah.
Jaja menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ia menatap lurus ke manik mata Aini, sorot matanya yang tajam, kini tampak lembut namun penuh perasaan yang tersembunyi.
"Aini... !!!!
Untuk sesaat gerakan wanita itu terhenti. Panggilan itu ...lain dari biasa. Tak ada lagi embel-embel Ibu didepannya. Ada apa ini?
"Pak Jaja.... Memanggil saya?" tanyanya bingung. Jaja tersenyum dan mendekat. Auranya kelihatan menguasai tempat itu.
"Hanya kita bertiga disini. Siapa yang saya panggil kalau bukan kamu Aini."
Aini semakin kaget, wajahnya sulit dijelaskan. Ditatapnya Jaja yang duduk di kursi kayu....di depannya.
"Saya....saya. Ah! Kenapa Pak Jaja..."
"Memanggilmu tanpa embelan Bu, begitu kan?" Jaja memotong cepat. Tanpa sadar Aini mengangguk pelan. Melihat wajah Aini pria tampan itu terkekeh pelan....geli.
"Dengar ya...Aini! Mulai hari ini diantara kita tak ada lagi embel-embel Ibu atau Bapak. Saya lebih tua tiga tahun dari kamu. Jadi rubah panggilan itu karena saya merasa sangat tua dipanggil Bapak."
Aini.....dari terkejut berubah gugup. Jantungnya berdebar tak menentu. Pandangannya tak lepas dari Jaja. Laki-laki di depannya ini kenapa berubah seratus delapan puluh derajat hari ini.
"Aini...! selama saya di sini, setiap hari melihat perjuanganmu. Keteguhan hatimu memperjuangkan nasib Syifa dan Satria. Saya kagum dan terharu."
Jaja berhenti....melihat reaksi Aini.
"Dari kagum, rasa itu berubah menjadi bentuk lain. Saya ingin kamu berbagi Aini. Segala duka...luka ...aku ingin selalu ada disetiap langkahmu."
Aini terpaku. Dia mulai paham maksud Jaja. Tapi bibirnya tak mampu digerakkan....linglung.
"Saya tidak ingin hanya menjadi tetangga, menjadi pelanggan tetapmu setiap hari. Saya ingin menjadi ayah bagi Syafa dan Satria. Saya ingin melindungi kalian sepenuhnya, menanggung beban ini bersama-sama, dan memberikan kebahagiaan lengkap yang pantas kalian dapatkan.",
Jaja berhenti, menatap Aini yang sudah membelalakkan mata.....kaget, wajahnya pucat tak percaya.
"Saya menyayangimu Aini. Menyayangi kedua anakmu seperti darah daging saya sendiri. Saya ingin kita menjadi satu keluarga. Izinkan saya mendekat, izinkan saya berjuang memenangkan hatimu, dan izinkan saya mengisi kekosongan yang ada di keluarga ini."
Hening.....!!!!
Hanya ocehan Satria yang terdengar, asyik dengan mainannya.
Aini terpaku. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena senang atau terharu, melainkan karena kaget dan bingung. Ia sama sekali tidak menduga hal ini akan terjadi. Ia sama sekali tidak pernah berpikir ke arah sana.
Dengan napas tertahan, Aini perlahan menggelengkan kepalanya. Ia menegakkan tubuhnya, menatap Jaja dengan pandangan yang sopan namun tegas...... tegas sekali.
"Maaf... maafkan saya, Pak Jaja..." ucapnya lirih di awal, lalu suaranya makin jelas dan mantap.
"Tapi saya tidak bisa. Saya benar-benar tidak bisa menerima perasaan Bapak. Dan saya sama sekali tidak pernah, tidak pernah sedikit pun berpikir untuk menerima laki-laki mana pun masuk ke dalam hidup saya."
Aini menundukkan pandangannya, menatap kedua tangannya yang sedikit kasa.
"Sejak saya meninggalkan rumah suami saya dulu, sejak saya memutuskan lari membawa anak-anak saya keluar dari neraka itu... hati saya sudah tertutup rapat, Pak. Saya sudah berjanji pada diri sendiri, pada mendiang ibu saya, dan pada Tuhan... bahwa hidup saya ke depannya hanya milik Syafa dan Satria. Fokus saya cuma satu..... membesarkan mereka, menyekolahkan mereka sampai tinggi, menjaga mereka agar tumbuh jadi orang baik, dan membahagiakan mereka sampai saya tua nanti."
Ia kembali menatap wajah Jaja yang tampak terkejut dan kecewa mendengar penolakan itu.
"Saya sudah cukup, Pak Jaja. Saya sudah merasa lengkap dengan mereka berdua. Saya sudah merasa aman, saya sudah merasa bahagia. Saya tidak butuh laki-laki lain, tidak butuh suami baru, dan tidak butuh ayah baru buat anak-anak saya. Saya sudah menjadi ibu sekaligus ayah buat mereka. Saya tidak mau mengambil risiko apa pun, saya tidak mau membuka hati saya lagi, karena saya takut... takut ada laki-laki lain yang akan menyakiti anak-anak saya atau mengubah hidup kami yang sudah tenang ini. Saya harap Bapak mengerti. Bapak orang baik, terlalu baik sama kami. Tapi jawaban saya tetap tidak, Pak. Maafkan saya."
Kata-kata itu keluar jujur dan lugas. Aini tidak ingin memberi harapan palsu. Ia ingin Jaja mengerti bahwa pintu hatinya sudah tertutup selamanya.
Wajah Jaja berubah drastis. Cahaya di matanya meredup, digantikan oleh kekecewaan yang mendalam dan rasa sakit yang jelas terlihat. Ia mengangguk pelan, berusaha menyembunyikan rasa kecewanya, namun bibirnya terasa kaku dan berat. Ia tidak menyangka penolakan itu akan begitu tegas dan jujur.
"Baiklah... saya mengerti, Aini. Terima kasih sudah jujur sama saya," jawab Jaja dengan suara yang terdengar jauh lebih berat dan datar dari biasanya. Ia tidak berkata apa-apa lagi, tidak membela diri, tidak memohon.
Jaja menatap sekilas ke arah Satria yang masih asyik bermain, lalu menatap Aini sekali lagi dengan pandangan yang sulit dilukiskan.
Tanpa kata perpisahan, tanpa senyum biasa, Jaja berbalik badan. Ia berjalan cepat menuju pintu pagar, keluar, lalu menutupnya kembali. Langkah kakinya terdengar berat menjauh menuju rumahnya sendiri.
Aini berdiri diam di tempatnya, lututnya terasa lemas. Napasnya terasa sesak. Ia menatap punggung Jaja yang menghilang di balik pintu rumahnya. Rasa bersalah menguasai hatinya. Dia telah menyakiti hati laki-laki yang sudah begitu baik menolongnya, tulus tapi apa ini memang rencananya? Aini menggeleng. Dia tak boleh berpraduga yang buruk.
"Maafkan saya, Pak Jaja... Maafkan saya..." bisik Aini dalam hati, dan mata indahnya kembali mengalirkan bening.
"Bukan saya tidak menghargai kebaikan Bapak. Tapi saya sudah takut, saya sudah trauma. Saya tidak berani lagi mempercayai laki-laki mana pun, sekalipun Bapak sebaik dan setulus itu. Saya tidak mau hidup saya dan hidup anak-anak saya berubah lagi. Biarkan bertiga. Biarlah begini saja."
Siang itu, dua rumah yang biasanya seperti satu, penuh kehangatan. Kini berganti jarak yang terbentang lebar.
Aini tahu, mulai hari ini, kebiasaan-kebiasaan indah itu mungkin akan berubah. Jaja mungkin tidak akan datang lagi setiap pagi. Jaja mungkin tidak akan menggendong Satria lagi. Dan Aini... meski hatinya berat dan merasa sangat berhutang budi, ia tahu keputusannya sudah benar. Demi ketenangan anak-anaknya, demi keteguhan hatinya.
*******