NovelToon NovelToon
Antara Ketulusan Dan Godaan Bos

Antara Ketulusan Dan Godaan Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:747
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

Demi melunasi utang almarhum ayahnya dan membiayai sekolah adiknya, Andra (23 tahun), seorang pemuda desa yang tampan dan bersahaja, nekat merantau ke Jakarta. Berbekal kejujuran dan ijazah SMK, ia diterima sebagai asisten administrasi di Apex Media, sebuah agensi periklanan papan atas yang gemerlap di kawasan Sudirman.
​Di sana, Andra berhadapan langsung dengan sang bos besar, Nadia (32 tahun), seorang wanita karier sukses yang perfeksionis. Di balik kemewahan hidupnya, Nadia menyimpan kesepian mendalam karena pernikahannya dengan seorang pengusaha kaya telah lama mendingin dan hambar.
​Di tengah belantara Jakarta yang penuh kepalsuan, ketulusan dan kepolosan Andra perlahan mencuri perhatian Nadia. Intensitas kerja hingga larut malam membuat batas profesional di antara atasan dan bawahan ini perlahan mengabur. Andra kini dihadapkan pada dilema moral terbesar dalam hidupnya: bertahan pada ketulusan prinsipnya demi keluarga di desa, atau menyerah pada godaan sang bos yang menawarkan keh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Undangan di Luar Jam Kantor

Hari-hari berikutnya di Apex Media berjalan dengan ritme yang terasa lebih lambat namun sarat akan ketegangan emosional yang tak kasat mata. Sejak insiden penghancuran kartu nama Diana di depan matanya, Andra menjadi jauh lebih berhati-hati dalam bertindak. Ia bisa merasakan bahwa perhatian Nadia kepadanya bukan lagi sekadar bentuk apresiasi seorang atasan kepada bawahan yang cekatan. Ada rasa memiliki yang mulai tumbuh di dalam sikap Nadia, sesuatu yang membuat Andra merasa tersanjung sekaligus dihantui oleh rasa bersalah yang teramat besar kepada Mas Joko dan doa ibunya di desa.

Sore itu, jarum jam sudah menunjukkan pukul lima lewat empat puluh lima menit. Langit di luar jendela besar lantai 17 sudah berganti warna menjadi jingga kemerahan, bersiap menyambut malam. Sebagian besar staf administrasi dan tim kreatif sudah meninggalkan kubikel kerja mereka.

Andra sedang mematikan layar komputer kerjanya ketika interkom di mejanya kembali berbunyi.

Andra, tolong masuk ke ruangan saya sebentar, suara Nadia terdengar tenang melalui pelantang suara.

Baik, Bu, jawab Andra sigap. Ia merapikan letak pulpen dan buku catatannya sebelum melangkah menuju pintu kaca yang langsung bergeser terbuka.

Nadia tidak sedang duduk di balik meja kerja jatinya. Wanita itu berdiri di dekat meja marmer putih, tempat mereka biasa menikmati bekal bersama beberapa waktu lalu. Di atas meja tersebut, tampak sebuah kotak beludru hitam berukuran sedang yang terbuka, menampilkan sepasang ronce kancing manset perak yang sangat mewah.

Nadia menoleh saat Andra masuk, memberikan senyuman manis yang membuat guratan lelah di wajah cantiknya seolah hilang seketika.

Ada yang bisa saya bantu, Bu Nadia? tanya Andra, tetap menjaga jarak aman dua langkah dari posisi Nadia berdiri.

Andra, besok malam adalah acara ulang tahun perkumpulan pengusaha periklanan seluruh Jakarta di Hotel Mulia. Ini acara tahunan yang sangat formal dan krusial untuk menjaga relasi Apex Media dengan para investor besar, Nadia menjeda kalimatnya, tatapannya beralih menatap lurus ke dalam sepasang mata hitam Andra. Biasanya, saya datang bersama Mas Gunawan. Tapi tadi siang sekretarisnya menelepon, mengatakan bahwa Mas Gunawan tidak bisa pulang dari Bali karena urusan pembebasan lahan resort miliknya belum selesai.

Andra terdiam, mendengarkan dengan saksama. Ia bisa menangkap ada nada kekecewaan yang mendalam yang coba disembunyikan oleh Nadia di balik suara tenangnya.

Saya tidak mungkin datang sendirian ke acara sebesar itu sebagai Managing Director Apex Media, Andra. Itu akan menimbulkan rumor yang tidak baik di kalangan kolega bisnis saya tentang kondisi rumah tangga kami, lanjut Nadia, melangkah satu langkah lebih dekat ke arah Andra. Jadi, saya ingin kamu menemani saya besok malam. Bukan sebagai staf administrasi, tapi sebagai pendamping resmi saya untuk acara tersebut.

Andra seketika tercekat. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Menemani seorang wanita paling berkuasa di perusahaan ini ke sebuah acara elite di hotel bintang lima adalah sesuatu yang tidak pernah terlintas di dalam kepalanya yang sederhana.

Tapi Bu... saya tidak memiliki pakaian yang layak untuk acara seperti itu. Saya juga tidak tahu bagaimana tata cara bersikap di hadapan para pengusaha besar. Saya takut tindakan saya justru akan mempermalukan Ibu di sana, jawab Andra jujur, menyuarakan kecemasan terbesar yang lahir dari latar belakangnya sebagai anak desa.

Nadia tersenyum lembut, sebuah senyuman yang memancarkan ketenangan yang protektif. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, Andra. Masalah pakaian sudah saya siapkan semuanya. Kotak di atas meja ini adalah kancing manset untuk kemejamu besok. Dan malam ini, setelah jam kantor selesai, saya sendiri yang akan menemanimu ke butik langganan saya di daerah Menteng untuk melakukan pengukuran setelan jas yang pas untuk tubuhmu.

Mendengar rencana yang begitu matang dari Nadia, Andra merasakan dinding pertahanannya kembali goyah. Perhatian Nadia yang begitu spesifik dan usahanya untuk membawa Andra masuk ke dalam lingkungan personalnya terasa sangat kuat mengguncang prinsip moral yang ia pegang. Di dalam saku celananya, telepon genggam jadulnya terasa berat, seolah mengingatkannya akan batas kasta yang nyata di antara mereka. Namun, tatapan mata Nadia yang penuh permohonan dan kerapuhan seorang istri yang ditinggalkan suaminya membuat Andra tidak tega untuk melontarkan kata penolakan.

Baik, Bu Nadia. Jika Ibu menganggap kehadiran saya bisa membantu, saya akan menjalankan tugas ini dengan sebaik-baiknya, jawab Andra akhirnya, menyerah pada tarikan tak kasat mata yang kian hari kian mengikat hatinya.

Nadia mengangguk puas, binar kebahagiaan terpancar jelas dari sepasang matanya. Terima kasih, Andra. Sekarang, ambil tasmu. Mobil saya sudah menunggu di lobi bawah. Kita berangkat ke Menteng sekarang.

Malam itu, di dalam mobil sedan mewah milik Nadia yang membelah kemacetan jalanan Jakarta menuju Menteng, Andra duduk di kursi penumpang samping kemudi. Jarak yang tercipta di antara mereka di dalam ruang kabin yang sempit itu terasa sangat intim. Aroma melati yang menguar dari tubuh Nadia memenuhi rongga dada Andra, mengaburkan sisa-sisa nalar sehatnya dan membawanya selangkah lebih dekat menuju ambang batas hubungan yang terlarang.

1
Master Haki
terbaik dan bikin penasaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!