NovelToon NovelToon
Di Balik Kilau Mutiara

Di Balik Kilau Mutiara

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kehidupan di Kantor
Popularitas:896
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Di bawah kilau kemewahan, Sherina Mutiara tetap berpijak sederhana, mengubur rasa cinta pada Darren Mahendra yang kandas oleh perbedaan. Ia lalu meniti jalan hidupnya sendiri di Mutiara Group, tempat ia bertemu Arsya Abrisam—pemuda jenius yang melepas jas dokter akibat luka masa lalu, dingin dan tertutup. Di antara tantangan kerja dan konflik perbedaan pendapat, benih rasa tumbuh di antara mereka, menyembuhkan luka dan mengajarkan arti bangkit. Namun, takdir membawa Darren Mahendra kembali dengan penyesalan, sementara Arsya diuji oleh pilihan tentang menegakkan keadilan atau tetap di tempat. Di persimpangan jalan, Sherina juga harus memilih: kembali pada mimpi lama, atau melangkah maju bersama sosok yang mengajarkannya bahwa cinta sejati adalah tentang tumbuh, bersinar, dan berani menjadi diri sendiri. Sebuah kisah tentang hati yang belajar memilih, dan jiwa yang menemukan cahayanya di balik luka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Suasana di ruang kerja proyek yang biasanya penuh keakraban dan percakapan hangat, hari itu terasa sedikit berbeda. Ada sesuatu yang mengganjal di hati Arsya Abrisam, sesuatu yang asing, tidak nyaman, dan membuatnya gelisah tanpa sebab yang jelas. Sejak pagi tadi, ia terus saja merasa terganggu, matanya tak lepas dari satu titik yang sama, dan setiap kali pandangannya jatuh ke sana, dadanya terasa sesak seolah ada sesuatu yang berat menindihnya.

Penyebab segala kegelisahan itu ada di dekat meja kerja Sherina. Seorang pemuda bernama Raka, rekan kerja yang sudah cukup lama dekat dengan Sherina dan sering membantu tugas-tugas administrasi, hari itu tampak sangat akrab berbincang dengan gadis itu.

Raka adalah sosok yang ramah, ceria, dan mudah bergaul, berbeda jauh dengan sifat Arsya yang tertutup dan dingin. Sejak tadi pagi, ia terlihat sering mendekati meja Sherina, membawa berkas-berkas, bertanya hal-hal pekerjaan, hingga berbagi tawa kecil yang terdengar renyah dan hangat.

Bagi orang lain, pemandangan itu sangat wajar. Hanya dua rekan kerja yang akrab, yang sudah saling kenal lama, dan saling mendukung dalam pekerjaan. Namun bagi Arsya, pemandangan itu terasa seperti duri yang menusuk-nusuk hatinya berkali-kali.

Ia duduk di kursinya yang berjarak beberapa meter, pura-pura sibuk meneliti dokumen di tangannya, namun matanya sesekali melirik tajam ke arah mereka berdua. Setiap kali melihat Raka berdiri terlalu dekat dengan Sherina, setiap kali melihat pemuda itu tersenyum lebar sambil berbicara, atau setiap kali melihat Sherina menanggapi dengan tawa cerahnya yang biasa itu... rasa tidak nyaman itu semakin memuncak, berubah menjadi rasa panas yang menjalar di dada, rasa kesal yang tak dapat dijelaskan, dan rasa ingin sekali saja menyuruh pemuda itu pergi dari sana.

"Sudah selesai bagian laporan keuangannya, Rin?" tanya Raka dengan nada bicara yang santai dan akrab, sambil bersandar ringan di tepi meja kerja Sherina. Posisi tubuhnya condong ke depan, cukup dekat hingga bahu mereka nyaris bersentuhan.

Sherina mengangguk sambil tersenyum, wajahnya berbinar cerah. "Sudah, Kak Raka. Terima kasih banyak ya bantuanmu kemarin. Kalau tidak ada kamu, pasti aku masih kesusahan menghitung angka-angka ini sampai malam."

"Ah, sama-sama," jawab Raka sambil tertawa kecil, matanya menatap wajah Sherina dengan pandangan yang terasa terlalu lama dan terlalu lekat bagi Arsya.

"Bagiku, membantu kamu itu bukan beban, malah menyenangkan. Kamu kan teman dekatku, mana mungkin aku biarkan kamu kerepotan sendirian. Nanti kalau ada apa-apa lagi, bilang saja ya. Aku selalu siap bantu."

Kalimat itu, nada bicaranya, dan sorot matanya... semuanya terasa begitu menusuk hati Arsya. Tangannya yang memegang pulpen perlahan mengepal erat, hingga urat-urat di punggung tangannya terlihat menonjol. Jantungnya berdebar tidak beraturan, bukan karena gembira, melainkan karena rasa marah yang tiba-tiba muncul, rasa marah yang ia sendiri tidak pahami dari mana asalnya.

Mengapa pemuda itu berbicara seolah dialah orang terpenting bagi Sherina?

Mengapa ia berani-beraninya berdiri sedekat itu?

Mengapa ia berani menatap mata Sherina dengan cara seperti itu?

Dan yang paling membuat Arsya geram,

Mengapa Sherina membiarkannya?

Mengapa gadis itu tersenyum seindah itu, tertawa secerah itu, dan terlihat begitu bahagia di dekat orang lain?

Dulu, saat ia masih membenci Sherina, ia sama sekali tidak peduli dengan siapa pun yang berhubungan dengan gadis itu. Ia tidak akan pernah memikirkan hal-hal konyol seperti ini. Namun sekarang, segalanya berubah.

Sejak perjalanan itu, sejak malam saat ia merawat Sherina yang sakit, sejak saat ia menyadari betapa berartinya gadis itu baginya... kehadiran orang lain yang terlalu dekat dengannya terasa mengganggu, terasa mengancam, dan terasa sangat tidak menyenangkan.

Arsya berusaha keras menenangkan diri. Ia mencoba kembali membaca tulisan di kertas di depannya, namun huruf-huruf itu terlihat kabur dan tak ada satu pun yang masuk ke akal sehatnya. Pikirannya terus saja melayang ke pemandangan di seberang sana. Ia merasa ada hak yang dirampas darinya. Ia merasa hanya dialah yang berhak mendekat, hanya dialah yang berhak mendengar tawa itu, hanya dialah yang berhak tahu segala hal tentang gadis itu. Namun, saat ia sadar akan pikiran-pikiran itu sendiri, Arsya justru semakin bingung dan kacau.

Apa yang terjadi padaku? tanyanya dalam hati, penuh kebingungan.

Mengapa aku merasa begini? Padahal Sherina bukan milikku. Dia bebas berteman dengan siapa saja. Dia berhak bahagia dengan siapa saja. Lalu mengapa dadaku terasa terbakar setiap kali melihat mereka berdua? Mengapa aku sangat tidak suka melihat orang lain terlalu dekat dengannya? Apakah ini... apakah ini yang disebut rasa cemburu?

Pertanyaan itu melintas begitu saja, membuat Arsya tertegun hebat di tempatnya.

Cemburu? Arsya cemburu? Pria yang selama ini mengaku tidak butuh siapa-siapa, yang hidupnya tertutup dan dingin, yang mengira hatinya sudah mati rasa... kini ternyata sedang merasakan rasa cemburu yang begitu kuat dan membingungkan.

Perasaan itu begitu asing baginya, begitu baru, dan begitu membuatnya tidak nyaman. Ia merasa bingung dengan dirinya sendiri. Di satu sisi, ia ingin sekali bangkit, berjalan ke arah mereka berdua, dan dengan tegas menyuruh Raka kembali ke tempat kerjanya. Ia ingin menjadi satu-satunya orang yang bisa membuat Sherina tersenyum dan tertawa. Ia ingin menjadi orang yang didatangi gadis itu saat butuh bantuan, bukan orang lain.

Namun di sisi lain, ia sadar betul ia tidak punya hak apa pun untuk melakukan itu. Ia hanyalah rekan kerjanya, pemimpinnya, dan teman bicaranya. Tidak lebih dari itu.

Arsya menatap tangan kanannya yang cacat, tergeletak diam di bawah meja. Keraguan dan rasa tidak percaya diri tiba-tiba menyerangnya hebat. Ia teringat masa lalunya, teringat kecelakaan itu, teringat bagaimana ia merasa tidak berharga dan hancur.

Siapa aku ini? batinnya bergumam getir.

Aku hanyalah orang yang penuh luka, yang cacat fisiknya, yang masa lalunya kelam. Sedangkan Raka... dia utuh, dia ceria, dia mudah bergaul, dia tidak memiliki beban seperti aku. Dan Sherina... dia wanita yang cantik, cerdas, dan baik hati. Dia pantas mendapatkan seseorang yang utuh, yang bisa membuatnya bahagia tanpa beban, bukan seseorang sepertiku yang penuh kekurangan ini.

Semakin ia berpikir demikian, semakin rasa cemburu itu bercampur dengan rasa sedih dan kecewa pada diri sendiri. Ia merasa semakin tidak nyaman berada di ruangan itu. Pemandangan akrab di hadapannya itu seolah menjadi cermin yang menunjukkan betapa besarnya jarak di antara mereka, betapa banyaknya kekurangan yang ia miliki dibandingkan orang lain.

"Pak Arsya?"

Suara lembut itu tiba-tiba terdengar tepat di samping telinganya, membuat Arsya tersentak kaget dan mendongak cepat. Sherina berdiri di sana, menatapnya dengan raut wajah sedikit bingung dan khawatir.

Gadis itu sudah tidak ada lagi di mejanya, sudah tidak lagi bersama Raka. Kini, ia berdiri tepat di hadapan Arsya, sendirian.

"Eh... ada apa?" jawab Arsya agak gugup, buru-buru menutupi kekacauan batinnya, berusaha kembali memasang wajah dingin dan tenang yang biasa ia gunakan, meski ia tahu matanya pasti memancarkan kebingungan.

Sherina menunduk sedikit, lalu kembali menatap wajah Arsya lekat-lekat.

"Dari tadi saya perhatikan Bapak diam saja, wajahnya kaku, dan kelihatan sekali kalau Bapak sedang marah atau kesal. Padahal tidak ada masalah besar dalam pekerjaan hari ini. Apa ada yang salah, Pak? Apa saya melakukan kesalahan?"

Pertanyaan polos itu membuat hati Arsya semakin bergetar. Ia ingin sekali menjawab "Ya, ada. Salahmu adalah terlalu dekat dengan orang lain, terlalu ramah pada orang lain, dan membuatku merasa begitu tidak nyaman dan cemburu."

Namun, tentu saja kalimat itu tidak pernah bisa terucap dari bibirnya. Bagaimana mungkin ia mengatakannya? Bagaimana mungkin ia mengakuinya? Itu akan terdengar konyol, tidak masuk akal, dan bahkan memalukan baginya.

Arsya menggeleng pelan, mengalihkan pandangannya ke arah berkas di atas meja, berusaha menenangkan detak jantungnya yang masih kencang.

"Tidak ada apa-apa. Kau tidak melakukan kesalahan apa pun. Aku hanya... hanya sedang memikirkan bagian strategi pemasaran yang sedikit rumit saja. Pusing sedikit, itu saja."

Sherina masih menatapnya dengan ragu, namun ia tidak menuntut penjelasan lebih jauh.

"Oh, begitu. Kalau begitu, santai saja ya, Pak. Jangan terlalu memaksakan diri. Kalau butuh bantuan atau ada yang ingin dibicarakan, panggil saja saya."

Setelah mengucapkan itu, Sherina tersenyum tipis, senyum yang hangat dan tulus, senyum yang hanya khusus ia berikan kepada Arsya, lalu perlahan berbalik kembali ke mejanya.

Melihat punggung gadis itu menjauh, rasa cemburu yang tadi menyiksa Arsya perlahan bercampur dengan rasa lega dan rasa haru. Ia sadar, betapa pun dekatnya orang lain dengan Sherina, betapa pun akrabnya mereka, pada akhirnya gadis itu tetaplah selalu peka padanya, selalu memerhatikannya, dan selalu ada untuknya. Namun, perasaan aneh tadi itu belum hilang sepenuhnya. Ia masih bingung, masih bertanya-tanya dalam kebingungan.

Di dalam hatinya yang paling dalam, Arsya akhirnya menyadari satu hal yang pasti yaitu perasaannya terhadap Sherina sudah jauh melebihi sekedar rasa hormat, sekedar rasa suka, atau sekedar keakraban rekan kerja.

Ia menginginkan lebih. Ia ingin menjadi satu-satunya orang yang berarti bagi gadis itu, sama seperti gadis itu kini menjadi satu-satunya orang yang berarti baginya. Dan rasa cemburu yang membingungkan dan menyakitkan itu adalah bukti nyata bahwa benih-benih cinta itu telah tumbuh begitu besar, begitu kuat, dan begitu dalam, hingga menguasai seluruh isi hatinya tanpa ia sadari sebelumnya.

Namun, di balik kesadaran itu, terselip pula rasa takut yang besar. Takut untuk mengakuinya, takut untuk mengungkapkannya, dan takut bahwa rasa itu hanyalah satu sisi saja, sementara di sisi lain... Sherina mungkin tidak pernah merasakan hal yang sama.

1
Elisabeth Ratna Susanti
like plus iklan 👍
Elisabeth Ratna Susanti
suka yang tegas dan berani seperti ini
Elisabeth Ratna Susanti
teduh banget pastinya kalau kita menatap wajahnya 🥰
Elisabeth Ratna Susanti
top banget👍
Elisabeth Ratna Susanti
aku suka bau tanah yang basah terkena hujan.....rasanya membawa damai 🥰 aku suka hujan🥰
Rocean: baunya enak memang kak. candu dan damai 😍
total 1 replies
Elisabeth Ratna Susanti
semakin seru👍
Siti Sarfiah
semangat bekerja , siapa tau di Divisi pembangun produk ada cowok yg naksir sherina🤭
Siti Sarfiah
bangkitlah dengan usahamu sendiri , tunjukkan pada nilai yg engkau capai semangat terus
Siti Sarfiah
wujudkan tekadmu , suatu saat akan terwujud apa yg engkau cita"kan , semangat💪
Siti Sarfiah
tunggu daren menyelesaikan pendidikannya d luar negri nanti kembali untuk sherina juga
Siti Sarfiah
sukses selalu , terus berjuang dan lanjut lagi ceritanya
Siti Sarfiah
tetap rendah hati dan semangat
Siti Sarfiah
masya Allah anak sultan yg rendah hati👍
namice
aku mampir kak
namice: 👍👍, semangat kak💪💪💪
total 2 replies
Elisabeth Ratna Susanti
keren banget pemilihan diksinya 🥰👍
Elisabeth Ratna Susanti
like plus subscribe plus iklan 👍
Rocean: mantappp🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!