NovelToon NovelToon
Simpul Mati Amora Gayana

Simpul Mati Amora Gayana

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Salma.Z

"Kau hanya beban yang menghancurkan reputasiku, Amora!"

Kalimat itu menghujam jantung Amora lebih dalam daripada fitnah sedarah yang sedang mengepung mereka. Hamdan Tarkan—pria yang dulu berjanji melindunginya dengan gelang rumput sederhana—kini berubah menjadi dinding es yang tak tertembus.

Dipaksa tinggal di dalam penjara emas Mansion Tarkan, Amora harus menghadapi skandal yang menyebut dirinya adalah saudara tiri pria yang ia cintai. Di tengah intrik kasta tertinggi dan kemunculan musuh dari masa lalu, Amora menyadari satu hal: Hamdan menyembunyikan kebenaran yang jauh lebih gelap.

Apakah Hamdan benar-benar ingin melindunginya, atau Amora hanyalah kunci untuk menguasai aset terakhir Dinasti Klan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma.Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: Musuh di Balik Gerbang

Kotak mewah dari Farr Burhan masih tergeletak terbuka di atas tempat tidur Amora. Kilauan kalung berlian itu seolah mengejek ketegangan yang menyelimuti Mansion Tarkan pagi ini. Amora baru saja akan menyentuh gaun sutra kiriman Farr saat pintu kamarnya terbanting terbuka.

Hamdan berdiri di sana. Ia tidak lagi mengenakan jubah mandi, melainkan setelan kerja formal, namun raut wajahnya jauh dari kata profesional. Matanya tertuju langsung pada kotak emas di atas ranjang.

"Buang itu," perintah Hamdan, suaranya rendah dan sarat akan ancaman.

"Ini hadiah dari tamu Anda sendiri, Hamdan! Kenapa aku harus membuangnya?" balas Amora, mencoba berdiri tegak meski hatinya menciut melihat kemarahan di mata pria itu.

Hamdan melangkah cepat, menyambar kalung mawar berlian itu dan meremasnya dalam genggaman tangannya yang besar. "Farr Burhan tidak pernah memberi tanpa meminta imbalan. Dan imbalan yang dia inginkan adalah sesuatu yang tidak akan pernah kuberikan."

"Apa? Aku?" Amora tertawa sinis. "Kau selalu bilang dia berbahaya, tapi sejauh ini hanya kau yang bertindak seolah memiliki hak paten atas hidupku!"

Hamdan maju hingga jarak mereka hanya tersisa satu tarikan napas. Ia menunduk, menatap Amora dengan tatapan dewasa yang protektif namun menekan. "Kau tidak mengerti, Amora. Dunia di luar gerbang ini sedang mengincarmu bukan karena kecantikanmu, tapi karena siapa ayahmu sebenarnya."

Amora tertegun. "Ayahku? Kau selalu menyebutnya. Jika kau tahu sesuatu, katakan sekarang!"

Hamdan melepaskan kalung itu ke atas meja rias dengan denting yang kasar. Ia tidak menjawab pertanyaan Amora. Sebaliknya, ia berbalik dan memanggil Farid yang sudah menunggu di koridor.

"Farid, perketat pengawasan. Tidak ada yang boleh masuk atau keluar tanpa izin tertulis dariku. Dan pastikan Farr Burhan tahu bahwa 'Mawar' di rumah ini tidak akan menghadiri perjamuan tehnya sore ini," ujar Hamdan tegas.

"Tapi Tuan, Farr Burhan sudah menyiapkan pertemuan di museum—"

"Batalkan. Dan siapkan mobil. Aku harus menemui Bibi Nadia sendiri. Ada potongan informasi yang belum dia katakan padaku," potong Hamdan, lalu melirik Amora sekilas dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kasih sayang yang tertahan dan tanggung jawab yang berat.

Setelah Hamdan pergi, Amora merasa seperti burung yang benar-benar dikurung dalam sangkar emas. Ia menghampiri balkon dan melihat iring-iringan mobil Hamdan meninggalkan mansion. Namun, perhatiannya teralih pada sebuah mobil sedan hitam yang terparkir jauh di luar gerbang utama, tampak sedang mengamati setiap pergerakan di dalam mansion.

Amora mulai menyadari bahwa ucapan Hamdan mungkin bukan sekadar bualan posesif. Rasa bingung antara benci pada sikap diktator Hamdan dan rasa butuh akan perlindungannya mulai berkecamuk di dalam dadanya. Di saat itulah, Zahra masuk dengan wajah pucat.

"Amora... Abang baru saja memesan pengamanan tingkat tinggi dari Turki. Dia sepertinya tahu Farr Burhan tidak datang sendirian."

Amora menatap kepergian Hamdan dengan perasaan campur aduk. Ia benci diatur, tapi ia juga tidak bisa memungkiri bahwa aura protektif Hamdan membuatnya merasa—untuk pertama kalinya dalam hidupnya—berharga.

Di dalam mobil yang melaju kencang menuju desa Sukawangi, Hamdan duduk dengan wajah yang kaku. Di tangannya, ia memutar-mutar sebuah foto lama yang sudah kusam; foto seorang pria gagah berseragam bangsawan—Baron Alaric Klan.

"Farid," panggil Hamdan tanpa mengalihkan pandangan.

"Ya, Tuan?"

"Cari tahu siapa yang membocorkan lokasi Amora kepada Farr Burhan. Farr tidak mungkin menemukannya secepat itu tanpa bantuan orang dalam. Aku mencium aroma pengkhianatan di dalam mansion ini."

Farid mengangguk cepat. "Saya akan memeriksa semua log komunikasi para pelayan dan penjaga, Tuan."

Hamdan mengepalkan tangannya. Ia tahu, membawa Amora ke sisinya adalah cara terbaik untuk melindunginya, namun juga cara tercepat untuk membuat musuh-musuh ayahnya muncul ke permukaan. Ia sedang menggunakan dirinya sendiri sebagai perisai, dan Amora sebagai umpan yang enggan ia lepaskan.

Di Mansion Tarkan

Amora yang merasa bosan dan terkekeh, mencoba mencari celah untuk keluar. Namun, setiap pintu keluar kini dijaga oleh dua orang pria berseragam hitam yang hanya membungkuk sopan tanpa membiarkannya lewat.

"Maaf, Nona Amora. Perintah Tuan Hamdan sudah jelas. Anda harus berada di dalam rumah demi keamanan," ucap salah satu penjaga.

Amora menghentakkan kakinya kesal. Ia kembali ke kamarnya dan melihat gaun serta kalung dari Farr. Rasa penasaran mulai menggerogoti logikanya. Jika Hamdan adalah "Abang" masa kecilnya, mengapa ia tidak langsung berterus terang? Mengapa harus ada rahasia dan penjara emas seperti ini?

Tiba-tiba, ponsel di atas meja nakas—ponsel baru yang diberikan Zahra—bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

"Mawar kecil, apakah kau suka hadiahnya? Jangan biarkan 'si penjaga es' itu membekukan semangatmu. Jika kau ingin tahu kebenaran tentang siapa dirimu sebenarnya tanpa filter dari Hamdan, datanglah ke museum pukul lima sore. Aku sudah menyiapkan jalan keluar rahasia untukmu di pintu belakang taman."

Amora tertegun. Jantungnya berdegup kencang. Pilihan ada di tangannya: tetap dalam perlindungan Hamdan yang penuh rahasia, atau melompat ke arah Farr Burhan yang menawarkan kebenaran namun penuh dengan bahaya.

Ia melihat jam di dinding. Pukul 16.30. Amora memandang jam dengan pikiran batin yang berkecamuk. Ia mondar-mandir dengan raut wajah yang serius.

Apa yang harus aku lakukan?

To be continued...

1
Wawan
Salam kenal buat Amora 😍
Yu
Semangat!
Yu
Luarbiasa
Rabi Salim
Semangat author nulisnya!!!!
Iki Riat
Lanjut kak. Semangat nulisnya!!
Tisa
Asyiknya... 🤩🤩
Naura
Hamdan 😍
Andy Rajasa
kelanjutannya mana?
Salma.Z: ditunggu aja kak
total 1 replies
Guntur
Cinta yang posesif
Reni
Semangat kak!! lanjutkan ceritanya...
Nayla
Berdebar-debar saat membaca. Cerita yang menggebu-gebu.
Hana Unil
Next...lanjut
Hana Unil
Hmmm...
Hana Unil
Lanjut kak..lanjut🙏
Rara Lani
Ceritanya bagus hanya saja masih sedikit peminatnya. Tetap semangat author. Lanjutkan!
Salma.Z: Terima kasih
total 1 replies
Sari
Semangat!! Lanjutkan!
Ika Yani
Cinta yang dramatis...
Cantika
Alurnya bikin gemes🤭
Andy Rajasa
Amora dan Hamdan punya chemistry yang bisa buat diriku meleleh 😍
udin sini
Cintanya mewah, tapi lukanya lebih mahal. Semoga saja happy ending.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!