Rumi sudah tiga tahun menikah dengan Fathur. Sebenarnya rumah tangga mereka baik-baik saja. Hanya saja menjadi tidak baik-baik karena selalu di recoki oleh ibu dan keluarga Fathur lainnya.
Hingga akhirnya saat Rumi kembali hamil, namun untuk kedua kalinya juga dia harus kegu guran karena ulah sang ibu mertua. Bu Sri tak pernah ingin jika Fathur memiliki anak dari Rumi.
Rumi jelas marah dan pun cak amarahnya saat Bu Sri membawa mantan dari Fathur ke dalam kehidupan ruang tangga mereka. Fathur bahkan tak mampu untuk membela istrinya.
Apakah dengan kenyataan seperti ini Rumi siap menjadi janda? Ataukah dia malah lebih memilih bertahan dengan kenyataan seperti itu?
"Jangan banyak membantah jika kamu tak ingin di Jan da kan oleh Fathur!" ancam Bu Sri.
"Jadi Jan da? Siapa takut Bu!" jawab Rumi membuat suami dan ibu mertuanya melongo tak percaya.
Ikuti terus kisah Arumi selengkapnya. Jangan lupa baca sampai akhir, karena ada banyak keseruan dari Rumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadi Janda? Siapa Takut? 19
Malam itu berlalu dengan kesunyian yang mencekam. Meski Bu Sri sudah pergi, kata-kata "anak durhaka" dan "pembawa kemiskinan" masih terngiang jelas di telinga Rumi. Fathur lebih banyak diam, matanya sembab, sementara tangannya tak lepas mengelus perut Rumi yang masih rata—seolah sedang melindungi janin mereka dari kutukan neneknya sendiri.
Pagi harinya, drama belum berakhir. Saat dia baru saja tiba di toko roti, sebuah pesan masuk ke ponsel Rumi dari nomor yang tidak dikenal, namun Rumi tahu betul siapa pengirimnya.
“Puas kamu membuat Fathur berlutut seperti pengemis di depanku? Gara-gara kamu, Fathur kehilangan akal sehatnya. Ingat Rumi, kalau sampai terjadi apa-apa dengan kesehatan saya karena memikirkan tingkah kalian, kamu pelakunya. Kamu yang sudah mencuci otak anak saya sampai dia berani membantah ibunya sendiri. Anak yang kamu kandung itu hanya akan membawa sial jika caranya saja sudah membuat bapaknya berdosa!”
Rumi meremas ponselnya. Air matanya luruh tanpa suara. Setiap gerakan, setiap helaan napasnya, seolah selalu menjadi celah bagi Bu Sri untuk menyalahkannya. Ia merasa seperti monster yang memisahkan ibu dan anak, padahal ia hanya ingin mempertahankan martabat dan nyawa anaknya.
Sementara itu, di sebuah gedung perkantoran di pusat kota, Fathur dipanggil ke ruangan Direktur Utama. Langkahnya gontai, ia berpikir mungkin ia akan ditegur karena performanya yang sedikit menurun belakangan ini akibat beban pikiran rumah tangga. Apalagi untuk pertama kalinya dia pergi beberapa jam setelah jam istirahat, walau sudah izin dan mengganti jam tetap saja dia merasa bersalah.
"Fathur, duduk," ujar Pak Hendra, sang Direktur.
"Iya, Pak. Maaf kalau belakangan ini saya sedikit..."
"Saya sudah memantau grafik kerjamu setahun terakhir," potong Pak Hendra.
"Kamu jujur, ulet, dan tidak pernah mengeluh meski posisi kamu berat. Saya butuh orang seperti kamu untuk mendampingi Manager operasional yang baru. Mulai besok, saya angkat kamu menjadi Wakil Manager."
Jantung Fathur seolah berhenti berdetak sesaat. Ini adalah berita baik kedua di antara kabar dan suasana buruk yang selama ini terasa mence-kik dirinya. Kebencian ibunya yang tak pernah berhenti kepada sang istri membuat ya merasa sangat bersalah.
"Wakil... Manager, Pak?" beo Fathur seolah tak percaya dengan yang dia dengar.
"Ya. Gaji, tunjangan kesehatan keluarga, dan fasilitas lainnya akan segera disesuaikan. Selamat, Fathur. Semoga ini bisa memotivasi kamu lebih baik lagi." Pak Hendra menjabat tangan Fathur.
Fathur keluar dari ruangan dengan perasaan campur aduk. Bahagia, lega, tapi juga perih. Hal pertama yang ingin ia lakukan adalah memeluk Rumi. Ia ingin membuktikan pada ibunya bahwa Rumi bukanlah pembawa sial atau kemiskinan.
Fathur memutuskan untuk pulang lebih awal sore itu dengan membawa kabar gembira. Hari ini dia tak mengambil lembur, karena ingin segera bertemu dan mengabarkan kabar gembira ini kepada istrinya.
“Ya Allah... kenapa nasibku begini? Aku yang melahirkan, aku yang menyusui, tapi setelah punya istri, anakku sendiri tega mengusirku!”
Bu Sri menangis pilu.
Dia terduduk di lantai teras yang berdebu. Rambutnya sengaja dibuat sedikit acak-acakan, kerudungnya miring, dan ia memegang dadanya seolah sesak napas. Di depannya, Rumi berdiri mematung dengan wajah pucat pasi, memegang gagang pintu dengan tangan gemetar.
Bahkan di sana sudah ada beberapa orang tetangganya yang datang karena mendengar jerit tangis Bu Sri. Bukan hanya itu mereka juga berbisik-bisik membicarakan perlakuan Rumi kepada Bu Sri.
“Ibu... Rumi tidak mengusir Ibu. Rumi cuma bilang Mas Fathur belum pulang, jadi lebih baik Ibu tunggu di dalam atau kembali nanti—”
“Halah! Jangan bohong kamu!” potong Bu Sri dengan suara melengking yang disengaja agar terdengar sampai ujung gang.
“Kamu bilang aku mertua tak tahu diri, kan? Kamu bilang aku cuma mau morotin gaji suamimu? Tega kamu, Rumi! Kamu ingin aku ma-ti supaya kamu bisa menguasai Fathur sendirian!”
Tetangga semakin berbisik-bisik. Ada yang menatap Rumi dengan pandangan menghakimi. Rumi hampir terjatuh, dunianya berputar. Fit-nah yang dilemparkan Bu Sri terasa lebih tajam daripada sembilu.
“Bu... demi Allah, Rumi nggak pernah bilang begitu,” isak Rumi.
Perutnya mulai terasa nyeri karena tekanan stres yang luar biasa.
“Lihat! Lihat semuanya! Dia berani bersumpah palsu di depan orang tua yang sedang sekarat!” Bu Sri semakin menjadi-jadi.
Dia merebahkan tubuhnya di lantai, berakting seolah pingsan namun matanya sesekali mengintip mencari simpati. Sedangkan Rumi terlihat kebingungan. Beberapa tetangga juga mulai datang mendekat.
Fathur memacu motornya dengan perasaan buncah. Di dalam tas kerjanya, terselip surat keputusan resmi yang menyatakan dirinya kini menjabat sebagai Wakil Manager. Ia sudah membayangkan wajah lelah Rumi akan berubah cerah saat mendengar berita ini. Ia ingin meyakinkan istrinya bahwa janin yang mereka kandung adalah pembawa berkah, bukan kesialan seperti yang diumpat ibunya.
Namun, begitu memasuki gang rumah kontrakannya, langkah Fathur tertahan. Kerumunan tetangga terlihat berkumpul di depan rumahnya yang mungil. Terdengar Isak tangis istrinya yang sedang mendapatkan tatapan tajam dari para tetangga.
"Ibu-ibu ada apa ini?" tanya Fathur menerobos kerumunan dan memeluk istrinya yang sudah gemetar ketakutan.
Rumi bukan tak bisa membela dirinya sendiri, namun untuk saat ini rasanya percuma menjelaskan kepada semua orang. Apalagi itu adalah masalah rumah tangga dan a-ib mereka semua. Rasanya tak pantas semua orang tahu jika keluarga mereka sedang tak baik-baik saja. Apalagi selama ini Rumi selalu berusaha menjaga harga diri suami dan keluarganya.
"Mas ..." panggil Rumi lirih.
"Nak Fathur, ini lihat ibunya pingsan! Katanya Bu Sri dia di usir dari rumah oleh Rumi. Padahal dia hanya ingin bertemu dengan kamu!"
"Jangan jadi anak durhaka Fathur! Kasihan ibumu sudah tua dan sangat ra-puh. Apalagi aku juga sering mendengar cerita Bu Sri kalau Arumi selalu memperlakukan dia dengan bu-ruk. Padahal Bu Sri sangat menyayangi dia!"
"Benar! Wajar kalau seorang anak memberikan uang kepada ibunya! Jangan kalah sama perempuan yang serakah seperti itu, Fathur!"
"ibumu sudah tua! Masa masih harus di suruh beres-beres di rumah kamu! Setiap pagi dia harus datang dan beres-beres! Menantu macam apa si Rumi ini! Kelihatannya saja wanita baik dan sopan! Eh nggak tahunya!.
Bu Sri bersorak dalam hati karena rencananya kali ini berhasil. Sedangkan Rumi menggelengkan kepalanya. Fathur mengusap kepala Rumi dan mengecup kepalanya lama. Dia tak mengira kalau ibunya juga menyebarkan fit-nah kelasa ibu-ibu di sekitar rumah kontrakannya. Fathur berjalan mendekat ke arah ibunya yang masih pura-pura pingsan di lantai.
berpisah dengan Fathur.
lihat selanjutnya ....
rencana pura2 sakit akhir ny sakit beneran ,, fathur yg kecewa krn di bohongi dg alasan sakit ,, jd gx percaya ( semoga ) dsaat ibu ny sakit beneran ,, gmna tuuuh rasa ny bu sriii Dan kawan2 ,, 😒😒😒😒
punya rencana koq dangkal ,,
semoga rencana mereka gagal total ,, biarin tu si Dona Dan menantu bu Sri yg lain jd babu dadakan ,,
Dan Elisa yg tau rencana ini bisa kasih tau fathur ,,
biar fathur gx ke jebak ,,