Yasmin adalah definisi dari kepolosan yang berbahaya. Kecantikannya yang luar biasa justru menjadi magnet bagi perundungan di sekolah. Dia tidak butuh pahlawan berkuda putih; dia hanya butuh cara untuk bertahan hidup.
Lalu hadirlah Vyan. Ketua OSIS sempurna dengan senyum ramah yang mematikan.
Bagi Vyan, membalas dendam tidak perlu menggunakan otot. Dia tidak memukul, dia tidak berteriak. Dia hanya berbisik, menyusun skenario, dan menghancurkan reputasi musuhnya hingga mereka memohon ampun di bawah kakinya. Dia genius, dia bermuka dua, dan dia... sadis.
Vyan telah memagari Yasmin dengan otoritasnya. Siapa pun yang berani menyentuh Yasmin, harus siap menghadapi "pelajaran" dari sang Ketua OSIS yang tidak mengenal kata maaf.
Namun, di tengah perlindungan gelap itu, muncul Ray—sang atlet populer yang menawarkan kehangatan tulus, dan Dean—masa lalu yang kembali dengan sejuta rahasia.
Apakah Vyan benar-benar mencintainya, atau Yasmin hanyalah pion dalam skenarionya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Filanina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Permintaan Maaf yang Heboh
Reka mengeratkan rahang dan mengepalkan tangan. Ga bisa begini. Gue yang harus dekat sama Yasmin.
Reka segera menghampiri mereka.
"Minggir, Dhin," Reka mendorong Dhini. "Gue yang bakal duduk sama Yasmin hari ini. Gue mau nemenin dia."
Dhini tersentak, ia teringat ancaman Vyan kemarin. Kalau Yasmin diambil alih oleh Reka dan terjadi sesuatu, dia yang akan kena getahnya.
"Nggak. Nggak bisa, Re! Gue... gue udah janji sama diri sendiri mau lebih akrab sama Yasmin. Gue mau pindah duduk sini."
"Dhin, lo aneh banget sih!" Cecil, teman sebangku Dhini, menggerutu dari mejanya. "Kemarin-kemarin lo yang paling males kalau disuruh sekelompok sama Yasmin. Sekarang kesambet apa? Terus lo mau ninggalin gue gitu?"
Atikah yang baru datang ikut menimpali sambil mencibir. "Iya, ngapain sih urusin anak lemot kayak gitu? Mending kita—"
"Atikah, diem!" potong Reka cepat. Ia tidak mau Dean mendengar ada teman-temannya yang menghina Yasmin. "Gue rasa... gue capek kalau kita terus-terusan urusin Yasmin dengan cara negatif. Mending energi kita dipake buat yang lain."
Suasana mendadak hening. Perubahan sikap para pemegang kekuasaan di kelas itu membuat murid-murid lain saling lirik.
"Bener tuh kata Reka," Dhini menimpali dengan cepat, mencoba mencairkan suasana agar tidak dicurigai Vyan yang mungkin memantau lewat CCTV. "Mending kita bahas persiapan acara Kartini. Kita kan mau ikut lomba tari daerah. Gimana kalau kita latihan bareng?"
"Ide bagus!" Reka menyetujui, meski matanya tetap melirik Yasmin dengan protektif. "Yasmin juga harus ikut, kan? Kita cari peran yang pas buat dia."
"Aku tidak bisa menari, Dhin. Nanti malah merusak barisan," tolak Yasmin halus saat mereka mulai membagi peran untuk tari daerah.
Atikah mencibir, matanya berputar malas. "Ya iyalah dia nggak bisa. Jalan aja lambat, gimana mau nari? Palingan cuma jadi patung di pojokan."
"Atikah! Jaga mulut lo!" Dhini membentak dengan nada yang sangat tinggi, membuat seisi kelas tersentak. "Punya attitude sedikit kenapa sih? Jangan asal jeplak kalau ngomong! Kalau nggak bisa bantu, mending diem."
Atikah melotot. Ia tidak menyangka Dhini akan membelas Yasmin sekeras itu.
"Dhin, lo kenapa sih? Kok nyalahin gue segitunya?" Atikah berdiri, menantang tatapan Dhini. "Bukannya kemarin lo juga yang bilang Yasmin itu bikin repot kalau ada tugas kelompok? Kenapa sekarang lo jadi sok suci begini?"
Cecil ikut menyahut dari bangkunya, merasa harga diri kelompok mereka terusik. "Iya, Dhin. Gar, lo juga. Biasanya lo cuek mau kita apain si lemot ini, yang penting kelas nggak berisik. Kenapa sekarang kalian berdua malah kayak pengawal pribadinya?"
Vio yang biasanya diam, ikut memberanikan diri karena melihat Atikah melawan. "Jangan-jangan kalian dapet sogokan ya? Atau Yasmin ngadu ke siapa?"
Ruangan itu mulai riuh. Bisik-bisik yang tadinya pelan kini berubah menjadi gumaman protes. Mereka merasa "kesepakatan tidak tertulis" di kelas X-2 untuk menjadikan Yasmin sebagai bulan-bulanan telah dikhianati oleh pemimpin mereka sendiri.
Tegar mengepalkan tangan. Dia bisa merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya. Bayangan wajah Vyan yang dingin di ruang OSIS kemarin kembali muncul. Jika dia tidak bisa mengendalikan kelas ini sekarang, dia yang akan hancur.
BRAK!
Tegar menggebrak meja guru dengan sangat keras hingga vas bunga plastik di atasnya bergetar. Seisi kelas seketika bungkam.
"Cukup!" teriak Tegar. Suaranya berat dan penuh emosi. "Gue ketua kelas di sini. Dan gue baru sadar kalau gue udah gagal jadi ketua karena ngebiarin kelas ini jadi kandang binatang yang nggak punya aturan!"
Tegar berjalan mendekati meja Atikah, mencondongkan tubuhnya hingga wajah mereka sejajar. Atikah gemetar, baru kali ini melihat Tegar seberingas itu.
"Gue nggak dapet sogokan apa pun. Tapi gue baru diingetin kalau jabatan gue sebagai Ketua Kelas dan anggota OSIS itu taruhannya kalau kelas ini terus-terusan bikin masalah. Lo semua mau kita dicap kelas paling bermasalah sesekolah karena kasus pembullyan? Mau nama lo semua dicatat di buku item kesiswaan?!"
Dhini menimpali, suaranya kini lebih tajam dan penuh ancaman. "Bener kata Tegar. Lo semua pikir kita diem kemarin karena kita setuju? Nggak. Kita cuma males urusan sama mulut-mulut sampah kayak kalian. Tapi sekarang situasinya beda. Gue nggak bakal segan-segan bawa kasus buku Yasmin yang sobek minggu lalu ke rapat pleno OSIS biar pelakunya langsung di-skors!"
Atikah, Cecil, dan Vio langsung pucat pasi. Ancaman skors dan "buku hitam kesiswaan" bukan main-main bagi siswa di sekolah elit ini.
Reka melihat situasi sudah terlalu panas. Dia tahu jika terus ditekan dengan kekerasan, anak-anak ini bisa saja malah mengadu hal yang tidak-tidak. Dia segera maju, memasang wajah yang seolah-olah menengahi.
"Udah, udah... Tegar, Dhini, sabar dulu," Reka memegang lengan Dhini, lalu menoleh ke arah teman-temannya dengan senyum manis yang dimanipulasi. "Atikah, Vio... maksud mereka itu baik. Kita semua kan mau lulus dengan nilai bagus tanpa catatan buruk di rapot kelakuan, kan? Mending energi kalian dipake buat bikin kostum Kartini yang paling keren. Gue yakin kalian lebih jago soal fashion daripada soal debat begini."
Reka menoleh pada Yasmin yang hanya diam melihat keributan itu. "Yasmin, maaf ya kalau mereka agak berisik. Tenang. Kamu nggak perlu nari kok kalau ga mau. Mending ikutan lomba pakaian daerah aja. Karena semuanya harus ikutan."
Suasana perlahan mendingin karena dialihkan Reka, namun ketakutan itu sudah tertanam. Atikah duduk perlahan dengan wajah masygul, sementara Cecil dan Vio pura-pura sibuk dengan buku mereka.
Tegar kembali ke bangkunya dengan napas memburu. Dia melirik ke arah pintu kelas, berharap Vyan tidak sedang berdiri di sana mengawasi cara dia menangani kelas. Namun yang dilihatnya, tiga siswi yang mengenakan masker.
"Kami mau bertemu Yasmin...," ucap Sandra di ambang pintu. Suaranya gemetar, seolah-olah kata-kata itu adalah beban berat yang sulit dikeluarkan.
Tegar tertegun sejenak. Ia teringat instruksi Vyan lewat BBM semalam: “Pastikan proses permintaan maaf itu terekam dengan jelas. Tanpa kecuali.” Segera, Tegar meraih ponselnya. Ia pura-pura sedang sibuk mengecek sinyal atau membenarkan posisi berdiri, tapi matanya tajam mencari sudut terbaik agar wajah Sandra dkk tertangkap kamera.
"Yas, itu ada yang mau ketemu," ucap Tegar sambil melangkah keluar duluan, memposisikan dirinya di samping pintu dengan ponsel yang sudah dalam mode merekam.
Sandra, Mia, dan Resi melotot ke arah Tegar. Mereka tahu apa yang sedang dilakukan laki-laki itu—ponsel di tangannya adalah saksi bisu yang akan membawa wajah memalukan mereka langsung ke hadapan Vyan. Namun, di bawah bayang-bayang ancaman Sang Ketua OSIS, mereka tidak punya pilihan selain tunduk.
Yasmin keluar dengan wajah bingung tapi tenang. "Ada apa, Kak Sandra?"
Sandra menelan ludah, tangannya meremas ujung seragamnya hingga kusut. "Yas... kami mau minta maaf. Soal kejadian di lab kimia kemarin."
Yasmin mengerjapkan mata, mencoba mengingat. "Minta maaf? Oh... yang waktu Kak Sandra mau ngajarin aku tentang bahayanya larutan asam, ya?"
Sandra tersedak. Ngajarin? Dia hampir saja menghancurkan masa depan gadis ini, dan Yasmin menganggapnya sebagai praktik pelajaran?
Tak sengaja Sandra melirik ke sampingnya. Di pintu dan jendela kelas, teman-teman sekelas Yasmin menonton dengan tatapan penasaran, siap menonton pertunjukan. Bahkan, siswa-siswa yang sedang lewat di koridor berhenti, membentuk kerumunan yang semakin rapat. Resi dan Mia sudah gemetar hebat, air mata mulai menggenang di balik masker mereka.
"Yakin mereka ngajarin?" bisik seseorang dari kerumunan.
"Pasti mereka mau siram Yasmin pakai larutan asam gara-gara iri," sahut yang lain, suaranya cukup keras untuk menusuk telinga Sandra.
Sandra tersentak dan menoleh ke belakang. Ia terkejut melihat betapa banyaknya orang yang kini menonton kejatuhannya. Ia tidak tahu siapa yang bicara, tapi setiap pasang mata di sana seolah sedang meludahi wajahnya.
"Tidak. Itu nggak benar, Yasmin," ucap Sandra cepat, mencoba membela diri di depan publik.
"Iya, iya. Aku tahu kok. Kak Sandra cuma siram ke rok aku aja waktu itu," sahut Yasmin tulus.
Kalimat itu justru menjadi bumerang. Kerumunan itu ber-"Ooooh" secara serempak, mengonfirmasi kejahatan Sandra yang baru saja dibongkar secara tidak sengaja oleh korbannya sendiri. Sandra cs semakin gemetaran.
"Jadi, kamu maafin kami, Yasmin?" Resi menyela, suaranya tersedak tangisan yang pecah di balik masker.
"Iya. Kakak-kakak nggak salah. Tapi maaf aku nggak bisa kalau harus jauhin Kak Vyan, karena Kak Vyan tutor aku..."
"Nggak! Nggak! Aku nggak larang! Nggak pernah larang kok! Iya kan, Res? Mi?" Sandra berteriak histeris, mencoba meyakinkan orang-orang yang mulai mencibir dan membicarakan mereka.
Yasmin mengangguk, lalu menatap mereka satu per satu dengan iba. "Ya sudah kalau begitu. Tapi kenapa Kakak-kakak pakai masker? Wajahnya juga pucat gitu. Kak Mia kok nangis? Apa sakit?" Yasmin terlihat benar-benar khawatir. "Apa kalian kena... wabah?"
"HA HA HA HA!"
Ledakan tawa seketika pecah dari koridor dan dalam kelas. Yasmin, yang tidak memiliki ponsel, jelas tidak tahu tentang berita heboh "Liptint Biru" yang sudah menyebar lewat BM kemarin. Baginya, kata "wabah" adalah kekhawatiran medis. Bagi yang lain, itu adalah olok-olok paling cerdas abad ini.
Karena sudah tidak tahan lagi menanggung malu yang membakar kulitnya, Sandra akhirnya berbalik dan menerobos kerumunan dengan kasar, diikuti Mia dan Resi yang sudah menangis sesenggukan.
"Eh...?" Yasmin melongo melihat mereka pergi begitu saja.
Orang-orang bersorak dan bertepuk tangan, seolah baru saja menyaksikan kekalahan antagonis di sebuah film. Di sudut pintu, Tegar tersenyum puas sambil menekan tombol berhenti pada videonya. Tugas selesai.
Sementara Yasmin memandang orang-orang yang berkumpul dengan pandangan nggak enak, merasakan ada sesuatu yang tidak diketahuinya.