Di malam hujan yang seharusnya biasa saja, hidup Nayra berubah total setelah ia menerima undangan misterius dari aplikasi bernama “The Game Master.” Awalnya hanya permainan tantangan sederhana berhadiah uang. Namun, setiap level yang berhasil diselesaikan justru menyeretnya semakin dalam ke permainan berbahaya yang tak bisa dihentikan.
Aturannya hanya satu: jangan pernah melanggar perintah permainan.Di tengah usahanya mencari jalan keluar, Nayra bertemu dengan Zavian, pria dingin dan penuh teka-teki yang seolah mengetahui lebih banyak tentang permainan itu. Tapi semakin dekat mereka, semakin Nayra curiga bahwa Zavian mungkin bukan korban… melainkan bagian dari permainan itu sendiri.
Ketika cinta, pengkhianatan, dan kematian mulai bercampur dalam satu arena mematikan, Nayra harus memilih: mempercayai hatinya atau bertahan hidup.
Karena di permainan ini, tidak semua orang bisa keluar hidup-hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 — Dunia yang Berubah
Pagi datang terlalu cepat.
Cahaya matahari masuk lewat jendela rumah sakit, menyinari lantai putih dan wajah Zavian yang tertidur setengah duduk di kursi dekat ranjang.
Nayra membuka mata perlahan.
Lalu langsung berhenti bergerak.
Karena pemandangan itu terasa… anehnya damai.
Cowok itu masih memakai pakaian yang sama sejak semalam.
Kaos hitam kusut.
Jaket yang dilempar sembarangan di bahu kursi.
Dan posisi tidurnya benar-benar tidak nyaman.
Kepala sedikit miring.
Tangan terlipat.
Alis masih berkerut bahkan saat tidur.
Seolah otaknya tetap waspada meski tubuhnya kelelahan.
Nayra menatapnya cukup lama.
Lalu tanpa sadar tersenyum kecil.
“Kasihan banget hidupmu.”
Tak ada jawaban.
Tentu saja.
Karena Zavian tidur seperti orang pingsan.
Nayra perlahan duduk lebih tegak.
Tubuhnya masih pegal.
Kepalanya kadang masih nyeri.
Tapi jauh lebih baik dibanding kemarin.
Dan yang paling aneh—
ia merasa… utuh.
Sulit dijelaskan.
Seperti ada bagian dirinya yang akhirnya kembali ke tempat semestinya.
Kadang ada kilasan memori yang bukan sepenuhnya miliknya.
Suara hujan.
Tawa kecil.
Rasa penasaran terhadap dunia.
Dan setiap kali itu muncul…
dadanya selalu hangat.
“Kamu ngeliatin aku serem banget.”
Suara serak Zavian mendadak muncul.
Nayra langsung kaget.
“ASTAGA.”
Zavian membuka satu mata.
“Kamu gampang kaget.”
“Kamu tidur atau kerasukan tadi?!”
Cowok itu malah duduk lebih tegak sambil mengusap wajah.
“Dua-duanya mungkin.”
Nayra tertawa kecil.
Dan ia baru sadar—
akhir-akhir ini ia lebih sering tertawa.
Meskipun semua yang terjadi sangat gila.
Pintu kamar terbuka pelan.
Seorang perawat masuk sambil membawa beberapa map.
Begitu melihat Nayra sudah bangun, wajah wanita itu langsung lega.
“Syukurlah.”
Nayra mengedip bingung.
“Hah?”
“Kami kira kamu bakal tidur lebih lama lagi.”
Perawat itu mulai memeriksa infus Nayra.
“Tiga hari tanpa sadar bukan hal ringan.”
Nayra meringis kecil.
“Maaf bikin repot.”
“Bukan cuma repot.”
Tatapan perawat itu berubah aneh.
Campuran kagum dan takut.
“Kamu sekarang terkenal.”
Deg.
Nayra langsung tidak nyaman.
“Terkenal gimana?”
Perawat itu terlihat ragu sesaat.
Lalu menyerahkan tablet kecil dari meja.
“Lihat sendiri.”
Headline berita langsung memenuhi layar.
“KORBAN EKSPERIMEN LAZARUS SELAMAT.”
“RAHASIA ORGANISASI GAME KEMATIAN TERBONGKAR.”
“ANAK PEREMPUAN YANG SELAMAT DARI PROJECT LAZARUS.”
Foto Nayra bahkan muncul di beberapa berita.
Walau sebagian blur.
Tangan Nayra langsung dingin.
“Oh…”
Zavian langsung mengambil tablet itu dari tangannya.
“Jangan dibaca terus.”
“Tapi—”
“Mereka cuma haus berita.”
Tatapan Zavian dingin.
“Besok juga pindah topik.”
Nayra ingin percaya itu.
Tapi rasa takutnya tetap muncul.
Karena sekarang dunia tahu dirinya berbeda.
“Pihak pemerintah masih merahasiakan banyak hal,” kata perawat pelan.
“Tapi berita tentang eksperimen manusia udah nyebar ke mana-mana.”
Nayra menunduk.
Dan perawat itu buru-buru menambahkan—
“Tapi banyak orang juga dukung kalian.”
“Hah?”
“Mereka bilang kalian korban.”
Tatapan wanita itu melembut.
“Dan mereka marah sama organisasi itu.”
Deg.
Nayra sedikit terdiam.
Ia tidak menyangka dunia akan bereaksi seperti itu.
Setelah perawat pergi, suasana kamar kembali sunyi.
Nayra masih memikirkan berita tadi.
Sementara Zavian sibuk membuka tirai jendela sedikit lebih lebar.
Cahaya pagi langsung masuk lebih terang.
Kota terlihat normal dari sini.
Mobil lewat.
Orang berjalan.
Langit biru.
Dunia tetap berjalan seperti biasa.
Padahal hidup mereka baru saja jungkir balik total.
Aneh.
“Kamu nyesel?”
Pertanyaan Nayra tiba-tiba membuat Zavian menoleh.
“Nyesel apa?”
“Ketemu aku.”
Sunyi.
Zavian menatapnya beberapa detik.
Lalu mendekat pelan.
Dan tanpa banyak bicara—
ia menjentik kening Nayra.
“AUW!”
“Itu buat pertanyaan bodoh.”
Nayra langsung mendelik.
“Jawabannya kasar banget.”
“Tapi efektif.”
“Enggak efektif!”
Zavian duduk lagi di sisi ranjang.
Tatapannya kali ini jauh lebih lembut.
“Aku nggak pernah nyesel ketemu kamu.”
Deg.
Oke.
Jantung Nayra masih belum aman di dekat cowok ini.
Tiba-tiba pintu terbuka keras.
BRAKK.
Arsen masuk lagi.
Kali ini membawa sekantong besar makanan ringan dan minuman.
“Aku bawa sarapan.”
Nayra langsung mengernyit.
“Kenapa isinya snack semua?”
“Karena aku peduli kesehatan mental kalian.”
“Itu gula semua.”
“Dan gula membahagiakan.”
“Argumen bagus,” sahut Nayra.
Zavian cuma memijat pelipis.
“Aku capek.”
Arsen duduk santai di sofa.
Lalu melempar remote TV ke Nayra.
“Nyalain berita.”
“Aku baru aja trauma berita.”
“Percaya deh. Yang ini lucu.”
Nayra curiga.
Tapi tetap menyalakan TV.
Dan lima detik kemudian—
“APA?!”
Arsen langsung tertawa keras.
Di layar muncul teori konspirasi liar tentang Project Lazarus.
Ada yang bilang eksperimen itu menciptakan manusia abadi.
Ada yang bilang alien.
Bahkan ada yang yakin organisasi itu punya markas di bulan.
“INTERNET ITU MENAKUTKAN,” kata Nayra syok.
“Aku bilang juga apa.”
Zavian terlihat hampir tersenyum melihat kepanikan Nayra.
Hampir.
“Yang paling parah ini.”
Arsen menunjuk layar lain.
Dan Nayra langsung ingin pingsan.
Karena ada forum online yang membahas dirinya.
Dengan judul:
“GADIS LAZARUS MUNGKIN PUNYA KEKUATAN SUPERNATURAL.”
“Aku pengen pindah planet.”
“Itu pilihan valid,” kata Arsen.
Nayra memegang wajahnya sendiri.
“Aku bahkan nggak bisa buka toples sambal.”
“Tapi mereka pikir kamu mutant.”
“HIDUP INI NGGAK ADIL.”
Zavian akhirnya benar-benar tersenyum kecil kali ini.
Dan Arsen langsung menunjuk.
“OH ASTAGA DIA SENYUM.”
“Diam sebelum aku lempar kamu.”
“Wih serem.”
Tiba-tiba suasana berubah saat layar TV menampilkan wajah seseorang yang sangat mereka kenal.
Hyren.
Nayra langsung diam.
Zavian juga.
Berita itu menampilkan pengawalan ketat pemerintah terhadap mantan anggota organisasi Lazarus.
Dan Hyren terlihat berjalan tenang di tengah kamera.
Tatapannya dingin seperti biasa.
Tapi kali ini…
lebih kosong.
“Dia keliatan capek,” gumam Nayra pelan.
Arsen mengangguk kecil.
“Dia kasih semua data yang dia punya.”
“Hah?”
“Nama anggota. Lokasi fasilitas. Semua.”
Tatapan Arsen turun.
“Tanpa dia, organisasi itu nggak bakal runtuh secepat ini.”
Sunyi.
Nayra menoleh ke Zavian.
Cowok itu diam cukup lama.
Lalu berkata pelan—
“Dia berusaha memperbaiki semuanya.”
Deg.
Ada rasa sedih di suara itu.
Tipis.
Tapi nyata.
“Aku boleh ketemu dia?” tanya Nayra hati-hati.
Zavian langsung menatapnya.
“Kamu yakin?”
“Aku nggak tahu.”
Nayra menarik napas pelan.
“Tapi aku rasa… dia nggak seburuk yang dia pikir.”
Hening.
Dan Zavian tidak membantah.
Malam harinya—
hujan turun.
Rintik kecil membasahi jendela rumah sakit.
Lampu kota terlihat buram dari balik kaca.
Arsen sudah pulang.
Perawat juga tidak banyak masuk lagi.
Kamar jadi tenang.
Terlalu tenang malah.
Nayra duduk sambil memandangi hujan.
Dan lagi-lagi—
ia mendengar suara kecil samar di kepalanya.
“Hujan bagus.”
Deg.
Nayra langsung tersenyum kecil.
“Kamu suka hujan ya?”
Zavian yang sedang membaca sesuatu langsung menoleh bingung.
“Kamu ngomong sama siapa?”
Nayra menatap dadanya sendiri pelan.
Lalu tertawa kecil.
“Teman lama.”
Zavian mengernyit.
“Itu creepy.”
“Sedikit.”
Tapi anehnya…
Nayra tidak takut.
Karena kehadiran kecil itu terasa hangat.
Seperti seseorang yang benar-benar masih ada bersamanya.
“Kamu bahagia?”
Pertanyaan kecil itu muncul lagi samar di pikirannya.
Nayra diam sebentar.
Lalu menatap Zavian yang sekarang sedang mengupas jeruk dengan ekspresi terlalu serius.
Seolah sedang menyelesaikan bom.
Cowok aneh.
Menyebalkan.
Dingin.
Tapi selalu ada.
Dan entah kenapa—
itu cukup membuat dunia terasa lebih aman.
Nayra tersenyum kecil.
“Iya.”
Lalu suara kecil itu terdengar lagi.
“Nah, bagus.”
Dan untuk pertama kalinya sejak semua mimpi buruk itu dimulai—
Nayra merasa ia benar-benar bisa punya masa depan.