Selama dua tahun, Elara Vasiliev bekerja sebagai ART di rumah keluarga Moretti. Diam, patuh, dan selalu menerima hinaan, ia dianggap hanya wanita miskin yang tak punya harga diri. Tidak seorang pun tahu bahwa Elara menyimpan rahasia besar tentang jati dirinya.
Saat Madam Seraphina Moretti menuduhnya mencuri kalung berlian dan mengusirnya di depan semua orang, deretan mobil mewah tiba di depan gerbang mansion keluarga itu. Seorang pria tua turun, membungkuk hormat, lalu berkata,
“Nona Elara, Tuan Octavian menjemput Anda. Seluruh Vasiliev Group menunggu pewaris sahnya.”
Keluarga Moretti seketika pucat. Wanita yang selama ini mereka hina ternyata cucu tunggal pemilik kerajaan bisnis terbesar di Eropa.
Kini Elara kembali… bukan sebagai pelayan, melainkan wanita berkuasa yang siap membuat semua orang yang meremehkannya menyesal. Namun di tengah balas dendamnya, Damian Moretti—pria dingin yang dulu tak pernah membelanya—mulai mengejar cinta yang telah ia sia-siakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ThiaSulaiman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 – Tuduhan di Depan Semua Orang
Ketukan di pintu kamar Selene terdengar semakin keras.
Tok. Tok. Tok.
“Selene. Buka pintunya.”
Suara Damian dingin, datar, tetapi justru itulah yang paling menakutkan.
Di dalam kamar, Selene berdiri membeku di depan lemari terbuka. Tangannya masih menggenggam kotak beludru merah berisi kalung berlian asli milik ibunya. Napasnya mulai tak teratur.
“Selene!”
“Aku… aku sedang ganti baju!” teriaknya cepat.
Ia buru-buru menutup kotak itu, mendorongnya ke balik tumpukan syal mahal, lalu menutup laci rahasia. Setelah merapikan rambut dan menarik napas panjang, ia membuka pintu dengan senyum tipis.
Damian berdiri di sana dengan jas yang belum sempat dilepas. Mata gelapnya menatap lurus ke dalam kamar.
“Kenapa mengunci pintu?”
Selene mengangkat bahu. “Aku pusing. Ribut sekali di bawah.”
Damian melangkah masuk tanpa izin.
“Apa yang kau lakukan?”
“Bukankah aku bilang sedang ganti baju?”
Tatapan Damian menyapu ruangan. Meja rias. Tempat tidur. Lemari yang sedikit terbuka.
Selene berusaha tetap tenang.
“Apa sekarang kau akan menggeledah kamarku?”
Damian berhenti di depan lemari.
“Kalau perlu.”
“Kau serius mencurigaiku karena ucapan pelayan itu?”
Damian menoleh.
“Aku mencurigai siapa pun yang punya alasan.”
Wajah Selene menegang.
“Dan menurutmu aku punya alasan?”
“Kau selalu minta tambahan uang bulan ini.”
“Itu fitnah!”
“Tagihan kartumu diblokir minggu lalu.”
Selene mengepalkan tangan.
Ia membenci satu hal dari kakaknya—pria itu tahu terlalu banyak dan terlalu jarang bicara.
Damian menutup pintu lemari tanpa membukanya.
“Aku akan tanya sekali. Kalung itu padamu?”
“Tidak.”
“Baik.”
Ia berbalik dan pergi.
Selene hampir roboh karena lega setelah pintu tertutup.
Namun ia tahu ini belum selesai.
---
Di lantai bawah, ruang utama mansion dipenuhi ketegangan.
Seraphina duduk di sofa sambil memegang kening. Para pelayan berdiri berjajar di dekat dinding seperti terdakwa. Kepala pelayan berkeringat dingin. Marta terus melirik Elara dengan cemas.
Sementara itu Elara berdiri paling ujung, tenang seperti patung.
Seragamnya rapi.
Wajahnya tenang.
Tatapannya lurus.
Seolah bukan dirinya yang baru saja dituduh mencuri.
Seraphina menatap semua orang dengan amarah mendidih.
“Kalung itu harus ditemukan malam ini!”
“Madam—” kepala pelayan mencoba bicara.
“Diam! Jika tidak ketemu, semua gaji bulan ini kupotong!”
Para pelayan saling pandang panik.
Saat itu Damian turun tangga.
Semua langsung menoleh.
“Selene?” tanya Seraphina.
“Di kamar.”
“Kau periksa?”
Damian tak menjawab pertanyaan itu.
Sebaliknya, ia menatap para pelayan.
“Siapa yang terakhir masuk kamar Ibu selain Elara?”
Kepala pelayan buru-buru menjawab, “Nona Selene masuk sekitar satu jam sebelum kejadian. Saya sendiri masuk membawa gaun cadangan. Marta membawa teh. Setelah itu… hanya Elara.”
Seraphina langsung menunjuk Elara.
“Lihat? Tetap dia yang paling mungkin!”
Elara akhirnya bicara.
“Madam ingin kejujuran, atau kambing hitam?”
Seraphina berdiri.
“Berani sekali kau bicara begitu di rumahku!”
“Karena saya tidak mencuri.”
“Barang bukti ditemukan di keranjangmu!”
“Barang bukti palsu.”
Kalimat itu membuat ruangan hening.
Damian memperhatikan Elara tanpa berkedip.
Seraphina menggertakkan gigi.
“Kau pikir karena tahu sedikit tentang perhiasan, kau bisa bermain pintar?”
Elara menatapnya tenang.
“Saya hanya mengatakan fakta.”
Selene turun tangga tepat saat itu.
Ia mengenakan gaun baru dan riasan segar, seolah tak terjadi apa-apa.
“Masih belum selesai?” tanyanya dengan nada malas.
Seraphina langsung meraih tangannya.
“Sayang, katakan pada mereka kau tidak mengambil kalung Ibu.”
Selene menatap semua orang, lalu pura-pura tersinggung.
“Tentu saja tidak! Untuk apa aku mengambil barangku sendiri?”
Elara menoleh sedikit.
“Barangmu?”
Selene sadar keceplosan.
“Maksudku… barang keluarga.”
Elara tersenyum tipis.
Kecil sekali.
Tapi cukup membuat Selene ingin menamparnya.
---
Tak lama kemudian, Seraphina memutuskan sesuatu.
“Panggil semua staf ke ruang utama.”
Kepala pelayan tercengang. “Semua, Madam?”
“Ya! Supir, tukang kebun, chef, semuanya!”
Dalam lima belas menit, hampir seluruh pekerja rumah tangga berdiri di ruang utama. Belasan pasang mata bingung menatap suasana tegang.
Seraphina sengaja berdiri di tengah ruangan seperti ratu yang sedang menjatuhkan hukuman.
“Aku akan buat ini jelas.”
Ia menunjuk Elara.
“Perempuan ini mencuri kalungku.”
Bisik-bisik langsung terdengar.
Marta melangkah maju. “Madam, belum tentu—”
“Diam!”
Elara berdiri tanpa bergerak.
Seraphina melanjutkan dengan suara keras.
“Karena belas kasihan, aku mempekerjakan gadis miskin ini. Kuberi tempat tinggal, makan, gaji. Tapi balasannya? Ia mencuri!”
Sebagian staf menunduk.
Sebagian lain memandang Elara iba.
Selene menyeringai tipis.
Inilah yang ia mau.
Mempermalukan Elara di depan semua orang.
Damian berdiri di sisi ruangan, diam seperti biasa.
Namun rahangnya mengeras.
Seraphina mendekat ke Elara.
“Sekarang akui. Berlutut, minta maaf, lalu pergi dari rumah ini.”
Semua mata tertuju pada Elara.
Jika ia berlutut, harga dirinya hancur.
Jika ia menolak, ia akan diusir.
Elara perlahan mengangkat wajah.
Matanya tenang.
“Saya tidak mencuri.”
Suara itu lembut, tetapi terdengar jelas sampai sudut ruangan.
Seraphina menampar meja kaca.
“Masih menyangkal?!”
“Karena saya tidak bersalah.”
“Lalu siapa?”
Elara menatap Selene.
Hanya satu detik.
Namun cukup membuat gadis itu gelisah.
“Seseorang yang mengira semua orang bodoh.”
Selene maju selangkah.
“Berani sekali!”
Damian akhirnya bicara.
“Cukup.”
Semua diam.
Ia berjalan mendekat ke tengah ruangan.
Tatapannya menyapu semua orang.
“Tidak ada yang akan menuduh siapa pun tanpa bukti.”
Seraphina menatap putranya tak percaya.
“Damian, kau membela pelayan?”
“Aku membela logika.”
“Barang palsu ditemukan di keranjangnya!”
“Justru itu.” Damian menoleh ke ibunya. “Kenapa pencuri menyimpan replika di tempat yang mudah ditemukan?”
Seraphina terdiam.
Selene ikut membeku.
Damian melanjutkan, “Kalau aku ingin menjebak seseorang, aku akan melakukan hal seperti itu.”
Kalimat itu menghantam ruangan seperti petir.
Elara menatap Damian sejenak.
Untuk pertama kalinya, pria itu menggunakan otaknya di hadapan keluarganya.
Namun apakah itu cukup terlambat?
---
Selene tertawa kecil, mencoba memecah suasana.
“Kak, kau terlalu serius. Ini hanya kesalahpahaman.”
“Benarkah?” tanya Damian.
“Tentu.”
“Kalau begitu buka tasmu.”
Wajah Selene langsung pucat.
“Apa?”
“Buka tasmu.”
“Kenapa aku harus—”
“Karena kau juga ada di kamar Ibu.”
Seraphina buru-buru membela putrinya.
“Ini keterlaluan!”
Damian tak memalingkan pandangan dari Selene.
“Buka. Atau aku panggil keamanan dan memeriksa semuanya secara resmi.”
Selene menggigit bibir.
Dengan tangan gemetar ia menyerahkan tas bermerek mahalnya.
Damian membukanya.
Dompet. Makeup. Kunci mobil. Parfum mini.
Tidak ada kalung.
Selene menghela napas lega dan langsung menangis.
“Sekarang puas? Kalian memperlakukanku seperti pencuri!”
Seraphina memeluk putrinya.
“Tenang sayang, tenang.”
Ia menatap Damian marah.
“Kau sudah gila!”
Damian menutup tas tanpa bicara.
Namun matanya menyipit.
Ia tahu Selene terlalu gugup untuk orang tak bersalah.
---
Elara tiba-tiba maju satu langkah.
“Boleh saya bicara?”
Seraphina mendengus. “Tidak.”
“Saya hanya ingin bertanya.”
Ia menatap Selene.
“Nona, kalau Anda tidak mengambil kalung asli… kenapa tadi tangan Anda gemetar saat membuka tas?”
Selene tersentak.
“Aku marah!”
“Benarkah?”
“Ya!”
“Lalu kenapa ada debu kain beludru merah di ujung lengan gaun Anda?”
Semua mata langsung menatap lengan Selene.
Benar.
Ada serbuk halus merah menempel di kain putih gaunnya.
Wajah Selene berubah total.
Itu berasal dari kotak kalung.
Seraphina ikut melihat dan mundur selangkah.
“Selene…”
“Itu… itu dari lipstik!”
“Elara,” kata Damian pelan, “bagaimana kau bisa melihat itu?”
Elara menatapnya datar.
“Saya terbiasa melihat hal-hal yang orang kaya abaikan.”
Damian tak menjawab.
Namun untuk pertama kalinya, rasa penasaran muncul jelas di matanya.
Siapa sebenarnya perempuan ini?
---
Suasana pecah.
Seraphina menatap putrinya dengan syok.
“Selene… katakan bukan kau.”
Selene panik.
“Ibu, aku hanya meminjamnya! Aku butuh uang sebentar!”
“Apa?!”
“Aku berniat mengembalikannya!”
Seraphina hampir pingsan.
“Kau menjual kalung ibumu?!”
“Belum! Masih di kamar!”
Damian menutup mata sejenak, menahan marah.
Marta dan para pelayan saling pandang.
Jadi benar… Elara dijebak.
Seraphina berbalik ke Elara, wajahnya campuran malu dan benci.
Namun alih-alih meminta maaf, ia justru berkata dingin,
“Semua kembali bekerja.”
Tak seorang pun bergerak.
Elara tersenyum tipis.
“Tuduhan selesai, Madam?”
Seraphina menegang.
“Keluar dari hadapanku.”
Elara menunduk sopan.
“Baik.”
Ia berbalik dan berjalan meninggalkan ruang utama.
Punggungnya tegak.
Langkahnya tenang.
Namun seluruh staf kini memandangnya berbeda.
Bukan lagi sebagai gadis yang bisa diinjak.
Melainkan seseorang yang baru saja menjatuhkan keluarga Moretti… hanya dengan kata-kata.
---
Saat Elara hampir mencapai dapur, suara Damian terdengar di belakangnya.
“Elara.”
Ia berhenti.
Pria itu berdiri beberapa langkah darinya.
“Ya, Tuan?”
Damian menatap lurus ke matanya.
“Siapa kau sebenarnya?”
Elara tersenyum tipis.
“Bukankah saya hanya pelayan di rumah ini?”
Lalu ia pergi, meninggalkan Damian dengan pertanyaan yang mulai mengganggu pikirannya.
tu nnek lmpir blm kapok jg rupanya,stlh dlu ftnah elara skrng pun mlkukn hal yg sma....tp syangnya dia bkln apes kali ni....tnggu aja blasannya....
biarlh wktu yg mmbuktikn sglanya,kl dia bnr2 mmpu jd pmimpin.....smngtttt....
jd pnsran....sbnrnya elara ada prsaan ga y sm damian????mskpn dia psti kcewa sih sm skpnya dlu yg sllu diam,tp htinya spa yg tau.....
kl udh tau spa dia sbnrnya,bru mrsa brslah dn mnyesal....dlu kmna aja wooyyyyy.... 🙄🙄🙄