NovelToon NovelToon
Nyaris Jadi Kita

Nyaris Jadi Kita

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

​"Nyaris Jadi Kita" mengisahkan transformasi emosional dan profesional Arelia dari seorang wanita yang hanya dianggap sebagai "tempat pulang" bagi masa lalunya, menjadi "Arsitek Takdir" yang menyelamatkan dinasti korporat Adhitama Group di tengah kiamat finansial global. Melalui perjalanan penuh intrik dari Jakarta hingga London, Arelia berhasil menepis bayang-bayang pengkhianatan dan manipulasi pasar untuk membangun kedaulatan energinya sendiri, hingga akhirnya ia menyadari bahwa tujuan hidup yang paling agung bukanlah untuk bersandar pada pria mana pun, melainkan untuk menjadi muara bagi kebahagiaan dan harga dirinya yang mandiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Senyap

Hujan di Jakarta tidak pernah benar-benar pergi; ia hanya bersembunyi di balik awan kelabu, menunggu saat yang tepat untuk membasahi aspal yang haus. Pagi ini, rintik gerimis yang tipis mulai turun di atas gedung-gedung pencakar langit Sudirman, menciptakan kabut halus yang membuat pemandangan kota tampak seperti lukisan cat air yang luntur. Di dalam kamar apartemenku, keheningan terasa sangat berbeda. Bukan lagi kesunyian yang mencekam seperti saat aku masih menunggu kabar dari Kaivan, melainkan kesunyian yang penuh dengan antisipasi.

​Dua koper perak berukuran besar berdiri tegak di samping pintu masuk. Di dalamnya bukan hanya berisi pakaian dan perlengkapan kantorku, tetapi juga seluruh harapan yang baru saja kutemukan kembali. Aku berdiri di depan cermin besar di lorong, menatap pantulanku sendiri. Aku mengenakan setelan celana kain berwarna krem dengan trench coat ringan berwarna cokelat kayu. Rambutku yang dulu sering kubiarkan berantakan saat lembur, kini tertata rapi dalam gelombang lembut yang membingkai wajah.

​Aku menyentuh kalung perak kecil yang melingkar di leherku—sebuah hadiah perpisahan kecil dari Maya kemarin. Di ujung jariku, aku merasakan tekstur logam yang dingin, sebuah pengingat bahwa di luar sana, sebuah dunia yang luas sedang menungguku.

​Ponselku bergetar. Satu pesan dari Bastian.

​Bastian: "Sopir sudah di lobi. Saya akan menunggumu di terminal jet pribadi. Jangan terburu-buru, Jakarta tidak akan lari ke mana-mana."

​Aku tersenyum tipis. Bastian selalu tahu cara menenangkan badai di dalam pikiranku. Aku mengambil tas tangan hitamku, melirik ke arah ruangan yang sudah kosong dari jejak Kaivan, lalu melangkah keluar. Saat pintu apartemen kukunci dengan bunyi klik yang mantap, aku tahu bahwa aku tidak hanya mengunci sebuah ruangan, tetapi juga mengunci sebuah bab dalam hidupku yang penuh dengan air mata.

​Perjalanan menuju Bandara Halim Perdanakusuma terasa sangat lambat karena kemacetan Jakarta yang legendaris. Namun, anehnya, aku tidak merasa kesal. Aku menikmati setiap inci kemacetan itu, menatap motor-motor yang menyelip di antara mobil, penjual asongan di lampu merah, dan gedung-gedung yang setengah tertutup kabut. Ini adalah Jakarta yang selama tujuh tahun menjadi saksi bisu penghambaanku pada pria yang salah. Kini, aku menatapnya sebagai orang asing yang sedang berpamitan.

​Di terminal jet pribadi, suasana sangat tenang dan eksklusif. Aroma kopi mahal dan bunga lili segar memenuhi udara. Begitu aku masuk, Maya sudah berdiri di sana dengan mata yang sembab.

​"Gila ya, Rel. Lu beneran pergi," isak Maya sambil langsung memelukku erat.

​"Cuma ke Paris, May. Bukan ke bulan," kataku sambil mengusap punggungnya. "Lu juga harus hebat di sini. Pimpin tim riset dengan tangan besi, jangan mau diinjak-injak lagi."

​Maya melepaskan pelukannya, menyeka air mata dengan punggung tangannya. "Gue bakal kangen banget debat sama lu soal data logistik. Tapi gue lebih seneng liat lu sekarang. Lu punya sayap sendiri, Rel. Jangan pernah biarin siapa pun motong sayap itu lagi, apalagi cuma demi laki-laki medioker."

​Kami tertawa bersama di tengah keharuan itu. Di sudut ruangan, Bastian sedang bicara dengan beberapa staf maskapai. Begitu melihatku, ia memberikan isyarat agar aku mendekat.

​"Semuanya sudah siap," ucap Bastian. Suaranya berat dan menenangkan. Ia menatap Maya sejenak, memberikan anggukan hormat, lalu kembali menatapku. "Mari, Arelia. Pesawat sudah siap lepas landas."

​Perpisahan dengan Maya terasa begitu berat, namun kaki ini terus melangkah. Saat aku menaiki tangga pesawat, angin bandara yang kencang menerpa wajahku, membawa aroma avtur yang khas. Begitu masuk ke dalam kabin jet pribadi yang mewah, aku merasa seolah-olah masuk ke dalam dimensi yang berbeda. Kursi kulit yang empuk, pencahayaan yang lembut, dan meja kayu yang mengkilap.

​Aku duduk di samping jendela, menatap ke arah terminal. Maya masih berdiri di sana, melambaikan tangan kecilnya. Aku membalas lambaiannya sampai pintu pesawat tertutup rapat, memutuskan koneksi fisikku dengan Jakarta.

​Pesawat mulai bergerak menuju landasan pacu. Bastian duduk di seberangku, ia tidak langsung membuka laptopnya. Ia justru menatapku dengan binar mata yang sulit kujelaskan.

​"Bagaimana perasaanmu?" tanyanya.

​"Rasanya... seperti baru pertama kali bernapas," jawabku jujur.

​"Itu adalah perasaan kebebasan, Arelia. Kamu baru saja memenangkan perang yang paling sulit: perang melawan masa lalumu sendiri."

​Pesawat menderu kencang, lalu dengan satu entakan halus, kami melesat ke langit. Aku melihat Jakarta dari ketinggian. Gedung-gedung itu perlahan mengecil, jalanan yang macet tampak seperti garis-garis cahaya yang diam, dan awan putih mulai menelan pemandangan kota. Di bawah sana, di suatu tempat di Jakarta, Kaivan mungkin sedang duduk di selnya atau sedang meratapi hidupnya yang hancur. Di suatu tempat di Singapura, Elena mungkin sedang menyusun rencana baru.

​Tapi di sini, di ketinggian ribuan kaki, mereka tidak lagi memiliki kekuatan atas diriku.

​Penerbangan menuju Paris akan memakan waktu sekitar empat belas jam dengan satu kali transit. Selama beberapa jam pertama, Bastian mulai membicarakan tentang detail operasional di Eropa.

​"Aristhoteles Group memiliki basis yang kuat di Lyon dan Marseille," Bastian menjelaskan sambil menunjukkan peta digital di tabletnya. "Elena menggunakan koneksi keluarganya untuk memblokir akses kita ke beberapa vendor utama. Namun, ada satu celah yang dia lewatkan: sektor riset berkelanjutan yang baru saja disahkan oleh Uni Eropa. Itulah panggungmu, Arelia."

​Aku mengangguk, jari-jariku mulai menari di atas layar tablet. Fokusku seketika beralih ke mode profesional. "Jika kita bisa membuktikan bahwa model riset kita lebih ramah lingkungan dan memiliki dampak sosiologis yang lebih tinggi, kita bisa mendapatkan insentif pajak yang akan menutupi biaya logistik yang mereka blokir."

​"Tepat sekali," Bastian tersenyum, sebuah senyuman penuh kebanggaan. "Kamu selalu selangkah lebih maju. Itulah alasan kenapa aku tidak bisa melakukan ini tanpa kamu."

​Malam mulai turun di atas awan. Kabin pesawat diselimuti cahaya oranye yang hangat. Bastian meminta pramugari untuk menyajikan makan malam ringan dan segelas anggur merah.

​"Bastian," panggilku saat kami sedang menikmati hidangan.

​"Ya?"

​"Kenapa kamu begitu yakin padaku? Bahkan saat Elena mencoba menghancurkan reputasiku di depan para investor?"

​Bastian meletakkan gelasnya, ia menatapku lekat. "Karena aku melihat sesuatu di matamu yang tidak dimiliki oleh Elena atau Kaivan. Aku melihat integritas yang tidak bisa dibeli. Kamu rela menghancurkan dirimu sendiri demi kebenaran data. Orang seperti itu jarang ditemukan di industri ini. Dan..." ia berhenti sejenak, suaranya merendah, "dan karena aku merasa kita adalah dua jiwa yang sedang berusaha menemukan rumah yang sebenarnya."

​Kata "rumah" kembali terdengar. Dulu, Kaivan menjadikanku rumah sebagai tempat persinggahan. Kini, bersama Bastian, aku merasa kami sedang membangun rumah itu bersama, bata demi bata, di atas tanah yang jujur.

​Pukul tiga pagi waktu setempat, kami transit sebentar di Dubai untuk pengisian bahan bakar. Udara gurun yang panas menyergap saat kami turun sebentar menuju lounge VIP. Namun, pikiranku tetap tertuju pada Paris. Aku tidak sabar untuk melihat Menara Eiffel, bukan untuk berfoto romantis, melainkan sebagai simbol bahwa aku telah berhasil melampaui batas-batas kemampuanku.

​Kembali di dalam pesawat untuk leg terakhir perjalanan, aku mencoba untuk tidur. Bastian menyelimutiku dengan cashmere blanket yang sangat lembut. Saat aku memejamkan mata, aku membayangkan diriku di masa depan. Seorang wanita yang sukses, yang suaranya didengar di forum internasional, dan yang hatinya sudah tidak lagi memiliki ruang untuk kepahitan.

​"Tidurlah, Arelia," bisik Bastian di sampingku. "Saat kamu bangun nanti, matahari Paris akan menyambutmu."

​Aku tertidur dengan perasaan damai yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

​Cahaya matahari yang pucat namun jernih mulai masuk menembus jendela pesawat saat aku terbangun. Aku melirik jam tanganku—tiga puluh menit lagi kami akan mendarat di Bandara Charles de Gaulle. Aku segera merapikan diri di toilet pesawat, memoles gincu merah tipis untuk memberikan kesegaran pada wajahku yang lelah setelah penerbangan panjang.

​Begitu pesawat mendarat dengan mulus, aku merasakan jantungku berdegup kencang. Ini dia. Paris. Kota cahaya yang akan menjadi saksi bisu kebangkitanku.

​Kami keluar dari bandara menuju mobil jemputan yang sudah menunggu. Udara Paris di awal musim gugur terasa dingin dan segar, beraroma roti croissant yang baru dipanggang dan parfum bunga-bungaan yang elegan. Di sepanjang perjalanan menuju kantor pusat Adhitama di Arrondissement ke-8, aku terpesona oleh arsitektur bangunan tua yang megah.

​"Selamat datang di kantor barumu, Direktur Riset," ucap Bastian saat mobil berhenti di depan sebuah gedung klasik dengan pintu kayu jati yang besar dan ornamen emas.

​Gedung itu tampak seperti istana kecil. Di lobi, beberapa staf lokal sudah berbaris menyambut kami. Mereka bicara dalam bahasa Prancis yang cepat dan merdu. Bastian memperkenalkanku dengan bangga.

​"Nona Arelia, pimpinan riset global kita. Tolong pastikan segala kebutuhannya terpenuhi."

​Aku dibawa menuju ruang kerjaku di lantai tiga. Ruangan itu memiliki jendela floor-to-ceiling yang menghadap langsung ke arah jalanan Paris yang cantik. Meja kerjanya terbuat dari marmer putih dengan peralatan komputer tercanggih. Di pojok ruangan, ada sebuah area kecil dengan sofa beludru berwarna hijau botol yang sangat mewah.

​"Bagaimana?" tanya Bastian yang berdiri di ambang pintu.

​"Ini... terlalu indah untuk menjadi nyata," aku berjalan menuju jendela, menatap ke arah kejauhan di mana puncak Menara Eiffel terlihat mengintip di antara gedung-gedung.

​"Ini nyata, Arelia. Dan ini baru permulaan," Bastian melangkah mendekat, ia berdiri di sampingku. "Sore ini, kita akan mengadakan pertemuan pertama dengan tim lokal. Elena kabarnya sudah berada di Paris sejak tadi malam. Dia sudah mulai menggerakkan bidak-bidaknya."

​Nama Elena kembali muncul seperti awan hitam di tengah hari yang cerah. Tapi kali ini, aku tidak merasa takut. Aku justru merasa tertantang.

​"Biarkan dia bergerak, Bastian," kataku sambil menatap bayanganku di jendela. "Dia mungkin punya sejarah di kota ini, tapi aku punya masa depan. Dan masa depan itu tidak akan pernah menjadi miliknya."

​Bastian tertawa kecil, ia merangkul bahuku. "Itulah Arelia yang aku kenal. Siap berperang dengan keanggunan."

​Sore harinya, rapat pertama diadakan. Tim riset Prancis terdiri dari orang-orang yang sangat skeptis. Mereka adalah para pakar yang sudah puluhan tahun di industri ini. Saat aku masuk, aku bisa merasakan aura meremehkan dari beberapa analis senior pria. Bagi mereka, aku hanyalah wanita muda dari Asia yang dibawa oleh CEO karena alasan yang mereka duga bersifat personal.

​"Nona Arelia," salah satu analis senior bernama Jean-Pierre memulai dalam bahasa Inggris dengan aksen Prancis yang kental. "Kami telah meninjau proposal Anda tentang riset berkelanjutan. Secara teori menarik, namun secara praktis di pasar Eropa, ini sangat berisiko. Biayanya terlalu tinggi."

​Aku tersenyum tenang. Aku sudah menyiapkan data ini selama penerbangan tadi.

​"Risiko hanya ada bagi mereka yang tidak melihat peluang dalam regulasi karbon Uni Eropa yang baru akan disahkan bulan depan, Monsieur Jean-Pierre," jawabku sambil menampilkan data proyeksi pajak karbon ke layar. "Jika kita tidak menggunakan model riset ini, Adhitama Group akan merugi dua puluh persen karena denda lingkungan. Dengan model saya, kita justru mendapatkan kredit karbon yang bisa kita jual kembali. Jadi, pertanyaan saya bukan soal risiko, tapi soal apakah Anda siap untuk mendapatkan keuntungan ekstra?"

​Ruangan itu mendadak sunyi. Jean-Pierre terdiam, ia memeriksa kembali data yang kutampilkan dengan kacamata bacanya. Perlahan, ia mengangguk.

​"Analisis yang sangat tajam. Saya tidak tahu Anda memperhatikan regulasi itu hingga sedetail ini."

​"Data adalah bahasa universal, Monsieur. Dan saya bicara dalam bahasa kebenaran," kataku mantap.

​Setelah rapat selesai, para analis itu menjabat tanganku dengan hormat yang tulus. Aku telah memenangkan hati mereka dalam waktu kurang dari satu jam. Bastian, yang duduk di pojok ruangan sebagai pengamat, menepuk tangannya pelan.

​"Sempurna," bisiknya saat ruangan kosong.

​Malam harinya, Bastian mengajakku makan malam di sebuah restoran kecil di Montmartre. Kami duduk di meja luar, menikmati pemandangan kota Paris yang mulai menyalakan lampu-lampunya. Suasana sangat romantis, namun pembicaraan kami tetap berfokus pada strategi.

​"Elena akan mencoba menyerangmu melalui media massa lokal besok," Bastian memperingatkan. "Dia punya hubungan baik dengan beberapa editor jurnal bisnis di sini. Dia akan mencoba mempertanyakan latar belakangmu dan masa lalumu dengan Kaivan."

​"Biarkan dia melakukannya," kataku sambil menyesap wine merahku. "Semakin dia mencoba menggali masa laluku, semakin dia menunjukkan betapa dia merasa terancam oleh masa depanku. Dan soal Kaivan... aku sudah menyiapkan pernyataan resmi melalui tim PR kita jika mereka berani mengangkatnya. Semuanya transparan. Aku adalah saksi kunci mahkota dalam kasus penangkapan Kaivan. Tidak ada yang bisa dia gunakan untuk menjatuhkanku."

​Bastian menatapku dengan binar mata yang penuh kasih sayang. "Kamu benar-benar sudah siap, ya?"

​"Aku punya guru yang baik," jawabku sambil menatapnya.

​Tiba-tiba, sebuah mobil sedan mewah berhenti di depan restoran. Seorang wanita turun dengan keanggunan yang sangat intimidatif. Elena. Ia mengenakan gaun hitam couture dan mantel bulu yang sangat mahal. Ia berjalan lurus menuju meja kami.

​"Bastian. Arelia," sapa Elena. Suaranya terdengar seperti denting es di dalam gelas. "Selamat datang di Paris. Kota yang tidak pernah memaafkan kesalahan sekecil apa pun."

​Bastian berdiri, memberikan perlindungan fisik di depanku. "Elena. Apa yang kamu lakukan di sini?"

​"Hanya ingin menyambut mitra strategismu," Elena menatapku dengan tatapan yang sangat tajam. "Arelia, kamu terlihat sangat percaya diri hari ini. Tapi ingat, memenangkan hati beberapa analis tua di kantor tidak berarti kamu sudah memenangkan Paris. Aristhoteles Group memiliki sejarah di sini yang tidak akan bisa kamu hapus dalam semalam."

​Aku ikut berdiri, menyeimbangkan posisiku dengannya. "Sejarah adalah milik masa lalu, Nona Elena. Saya di sini untuk menciptakan masa depan. Dan di masa depan yang saya rancang, tidak ada ruang untuk intimidasi murahan."

​Elena tersenyum sinis. "Kita lihat saja besok pagi di halaman depan Le Monde Business. Semoga tidurmu nyenyak malam ini, Analis."

​Ia berbalik dan pergi dengan langkah yang angkuh.

​Aku menarik napas panjang, merasakan adrenalin memacu jantungku. Bastian menggenggam tanganku.

​"Kamu tidak apa-apa?"

​"Aku justru merasa sangat hidup, Bastian. Perang ini baru saja dimulai, dan aku tidak sabar untuk menyelesaikannya," kataku mantap.

​Di bawah langit Paris yang dipenuhi bintang, aku menyadari bahwa sayap yang kumiliki sekarang jauh lebih kuat dari yang pernah kubayangkan. Aku bukan lagi Arelia yang nyaris hancur. Aku adalah Arelia yang siap membakar panggung apa pun demi membuktikan nilaiku.

​Nyaris jadi kita?

​Tidak. Kalimat itu benar-benar sudah mati. Sekarang adalah tentang "Aku" dan "Kita" yang baru, yang akan menaklukkan dunia bersama-sama.

​Malam itu, aku tidur dengan sangat nyenyak di apartemen baruku, ditemani aroma lavender dan keyakinan bahwa esok hari, seluruh Paris akan mengenal namaku bukan sebagai asisten, melainkan sebagai sang pemenang. Sayapku telah terbuka sepenuhnya, dan tidak akan ada badai mana pun yang bisa menjatuhkanku lagi.

1
sukensri hardiati
ini kaivan sama nadine kok ngrusuh terus sih...
Misterios_Man: lah gatau... kok tanya saya😄
total 1 replies
Kinanda Husnancandra
hufhhhhjhhhh...
tarik nafas dulu Thor,terkadang kita harus lebih gila untuk menghadapi kegilaan org lain
Misterios_Man: sampai kapan kak nafasnya ditarik?? saya udah ga kuat!!/Puke/
total 1 replies
Lili Inggrid
bagus
Indah
Tarus bangkit menjadi wanita kuat
Indah
Masih memantau
Quinza Azalea
bener benar puas baca ceritamu thor
Quinza Azalea
lanjut thor💪💪💪
Quinza Azalea
sangat bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!