Dulu aku adalah pria biasa di Bumi, tapi suatu hari aku tewas tersambar petir dan terbangun di dunia lain. Namun, aku tidak memiliki sistem atau kemampuan curang; aku hanyalah manusia biasa. Lalu, aku memutuskan untuk menulis novel yang terinspirasi dari game Honkai Star Rail, dimulai dari High Cloud Quintet
dan saya juga setelah selesai dari dunia anime danmachi saya memutuskan untuk menambahkan alur nya ke berbagai dunia mulai dari anime hingga game
(Pernyataan penolakan: Saya bukan pemilik anime Danmachi; pencipta Danmachi adalah Fujino Omori, dan saya juga bukan pemilik Honkai Star Rail) Ini hanyalah cerita fanfiction yang saya buat
dan saya membuat fanfiction ini dengan bantuan AI, jadi jika Anda tidak ingin membaca cerita ini, itu tidak masalah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon the anonym, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Layar Realitas yang Retak dan Intervensi Sang Pemburu
Ruang bawah tanahku yang tadinya terasa sesak oleh aura ketakutan Hermes, mendadak berubah menjadi ruang hampa. Udara terasa dingin, setajam pisau cukur, namun tidak ada angin yang berhembus.
Dari balik bayangan tangga yang temaram, sesosok wanita melangkah masuk. Hak tinggi sepatunya mengetuk lantai batu dengan ritme yang mematikan. Ia mengenakan kemeja putih rapi, jas ungu gelap yang disampirkan elegan di pundaknya, dan kacamata hitam bundar yang bertengger di atas kepalanya. Rambut merah keunguannya tergerai bebas. Senyumnya lembut, namun memancarkan bahaya yang membuat insting primitif manusia menjerit.
Kafka. Sang Penenun Takdir.
Di belakangnya, mengambang beberapa inci dari lantai, seorang gadis bertubuh mungil dengan jaket abu-abu dan celana pendek mengikuti dengan santai. Ia meniup permen karet hingga meletus dengan bunyi pop pelan. Jari-jarinya menari cepat di udara kosong, mengetik pada sebuah keyboard cahaya yang memproyeksikan rentetan simbol aneh—bukan huruf fana, bukan pula Runic milik para Elf.
Silver Wolf. Sang Peretas Realitas.
Mereka berdua tidak seharusnya ada di sini. Mereka hanyalah kumpulan kata-kata yang baru sepuluh menit lalu kutulis di atas perkamen murah. Namun, bayangan mereka di dinding batu adalah bukti tak terbantahkan bahwa hukum dunia Orario telah runtuh malam ini.
Cengkeraman Hermes di kerah bajuku semakin mengerat. Dewa Olympus itu gemetar. Sebagai entitas ilahi, Hermes bisa membaca jiwa siapa pun. Namun saat matanya menatap Kafka dan Silver Wolf, yang terpantul di wajah sang Dewa hanyalah kebingungan dan teror.
"K-kalian..." suara Hermes berderak, mencoba memanggil sisa-sisa otoritas ilahinya. "Makhluk apa kalian ini?! Kalian tidak memiliki Falna... kalian bahkan tidak memiliki esensi jiwa dari dunia ini!"
Silver Wolf menghentikan ketikannya dan melirik Hermes dengan tatapan bosan.
"Ugh, resolusi grafis di ruang bawah tanah ini benar-benar menyedihkan," gumam Silver Wolf. Ia meniup permen karetnya lagi. Matanya yang abu-abu menatap dingin ke arah tangan Hermes yang masih mencekikku. "Dan kenapa NPC berlevel rendah ini berani memegang bug utama kita? Singkirkan tanganmu."
Gadis peretas itu menjentikkan jarinya.
BZZZT!
Suara distorsi aneh merobek udara. Aku melihat pemandangan yang membuat akal sehatku menolak percaya. Tangan Hermes—tangan seorang Dewa—tiba-tiba berkedip, terpecah menjadi ribuan kotak kecil bercahaya seperti kaca yang retak (glitch), sebelum akhirnya kehilangan seluruh substansi fisiknya selama satu detik.
"A-ARGH!"
Hermes menjerit, bukan karena rasa sakit fisik, melainkan karena kengerian melihat eksistensinya dimanipulasi dengan begitu mudah. Cengkeramannya terlepas.
Aku jatuh menghantam lantai batu, terbatuk-batuk hebat meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Pisau perak yang tadi kupegang terlempar jauh.
Hermes terhuyung mundur, memegangi pergelangan tangannya yang kini kembali normal namun masih meninggalkan sensasi kesemutan yang asing baginya. Di sudut ruangan, Asfi yang terluka parah hanya bisa menatap dengan mata terbelalak ngeri. Sihir apa pun di Orario membutuhkan rapalan atau Mind. Apa yang baru saja dilakukan gadis kecil itu adalah memodifikasi realitas secara langsung tanpa syarat.
Kafka melangkah perlahan melewatiku. Ia berdiri tepat berhadapan dengan Hermes. Sang Dewa Pengembara itu mencoba menahan tekanan auranya, bersiap memanggil Arcanum jika terdesak, bahkan jika itu berarti Ouranos akan menghukumnya nanti.
"Dewa, hm?" Kafka memiringkan kepalanya, senyum misteriusnya tak luntur sedikit pun. "Di alam semesta kami, eksistensi sepertimu biasanya mengurung diri di kedalaman sistem tata surya, atau sekadar makhluk berumur panjang yang pada akhirnya bisa mati. Kau terlalu rapuh untuk bertingkah sombong."
"J-jangan meremehkanku, Iblis!" geram Hermes. Mata jingganya menyala.
Namun sebelum Hermes bisa memancarkan cahaya ilahinya, Kafka mengangkat satu jari telunjuknya ke depan bibir. Suara hak sepatunya berhenti. Mata ungunya menatap langsung ke dalam pupil sang Dewa.
"Dengarkan aku."
Hanya dua kata. Suaranya tidak keras, ia mengucapkannya dengan kelembutan seorang ibu yang membujuk anaknya tidur. Namun, saat kata-kata itu diucapkan, warna dunia di ruang bawah tanahku memudar. Benang-benang spiritual berwarna magenta meledak dari ujung jari Kafka, menembus langsung ke dalam pikiran Hermes dengan kecepatan cahaya.
Pupil mata Hermes mengecil seukuran jarum. Mulutnya terbungkam rapat. Seluruh otot di tubuh Dewa itu mengeras, membatu seketika. Ia masih sadar, napasnya masih memburu dalam kepanikan ekstrem, namun tubuhnya menolak menerima perintah dari otaknya sendiri. Ia telah didominasi secara mutlak.
"Duduklah diam, Dewa Kecil. Kau mengganggu percakapan kami," bisik Kafka lembut.
Dengan kaku dan seperti boneka rusak, Hermes melipat kakinya dan jatuh terduduk di lantai batu, tak mampu menggerakkan satu jari pun. Asfi merintih melihat tuannya ditundukkan hanya dengan satu kalimat.
Ruangan kembali hening, diselingi suara ketikan pelan dari Silver Wolf yang kini duduk melayang di atas meja kerjaku, memandangi naskah perkamenku dengan raut wajah tertarik.
"Ini dia penyebabnya, Kafka," kata Silver Wolf, mengetuk kertas basah itu dengan telunjuknya. "Orang ini adalah server lokalnya. Tulisan-tulisannya berfungsi sebagai kode compiler yang menarik parameter kita dari lautan data kuantum untuk masuk ke dimensi primitif ini."
Kafka membalikkan badannya, menunduk menatapku yang masih tersungkur di lantai. Ia berjongkok, mengabaikan ujung jasnya yang menyapu debu, lalu mengulurkan sebelah tangannya yang bersarung tangan hitam ke arahku.
"Elio, pemimpin kami, dapat melihat jutaan jalur takdir di masa depan," Kafka berbicara kepadaku, suaranya kini tidak lagi mengandung perintah mutlak, melainkan sapaan akrab. "Dalam naskahnya, kami seharusnya hanya mencari wadah Stellaron di dimensi ini. Tapi Elio menyadari ada satu variabel liar yang mendistorsi semua kemungkinan. Seseorang yang membelokkan narasi alam semesta hanya bermodalkan tinta dan keputusasaan."
Aku menelan ludah yang terasa setajam krikil. Aku menatap tangannya, lalu menatap wajahnya. "K-kalian tidak akan membunuhku?" tanyaku parau.
Kafka tertawa pelan, tawa yang indah sekaligus mengintimidasi.
"Membunuhmu? Oh, tentu saja tidak. Kau baru saja menuliskan jalan masuk kami ke dunia ini, menenun eksistensi kami menjadi kenyataan di kota labirin ini. Kau adalah aset, Anonym."
Silver Wolf melompat turun dari meja, memasukkan tangannya ke saku jaketnya. "Lagipula, melihat dewa-dewa sombong di luar sana panik karena cheat code yang kau buat sangatlah menyenangkan. Kami butuh kau untuk terus 'mengetik' agar sistem dunia ini semakin kacau."
Kafka menatap lurus ke mataku. "Mulai malam ini, kau tidak lagi terikat pada rasa takut terhadap Guild, Familia, atau Dewa-Dewi di kota ini. Dewa-Dewi itu..." ia melirik Hermes yang mematung dengan tatapan meremehkan, "...tidak akan bisa menyentuh sehelai pun rambutmu."
Kafka kembali mengulurkan tangannya lebih dekat.
"Ayo berdiri. Lepaskan dirimu dari sangkar sempit Orario ini. Kau bukan lagi penulis buronan yang bersembunyi di ruang bawah tanah." Senyum Kafka melebar, matanya memancarkan kehangatan yang berbahaya. "Selamat bergabung dengan Pemburu Stellaron."
Aku menatap tangan itu. Jika aku tidak menerimanya, Hermes atau Freya pasti akan mengulitiku hidup-hidup besok pagi. Dewa-Dewi Orario telah kehilanganku.
Dengan napas gemetar, aku mengangkat tanganku dan menyambut genggaman Sang Penenun Takdir. Saat jariku menyentuh sarung tangannya, aku tahu... bahwa narasi yang kutulis kini tidak bisa dihentikan lagi. Aku telah menukar pelindungku dari seorang Dewa Penipu menjadi sekelompok penjahat kosmis. Dan Orario tidak akan pernah siap menghadapi apa yang akan kami bawa.