NovelToon NovelToon
Legenda Naga Pemakan Langit 2

Legenda Naga Pemakan Langit 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

(SEASON 2) Di benua baru ini, Alam Inti Emas hanyalah debu di bawah sepatu para bangsawan. Raja Fana menjadi prajurit biasa, dan monster-monster Alam Penyatuan Langit berjalan membelah gunung dan membelokkan bintang. Tidak ada sekte lemah di sini; yang ada hanyalah Kekaisaran Kuno dan Klan Dewa yang dihormati layaknya pencipta.

Membawa garis keturunan Dewa Naga Primordial yang diburu oleh surga, Chu Chen menolak untuk merunduk. Di tanah di mana naga hanya dianggap sebagai mitos yang telah punah, ia akan membangkitkan kembali era dominasi mutlak. Jika surga menghalanginya, ia akan menelan surga itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melahap Langit

Angin di atas sisa-sisa pelataran Markas Perang Kota Perbatasan menderu membawa hawa panas yang menyesakkan. Kawah raksasa yang tercipta dari benturan dua kekuatan beda alam itu masih mengepulkan asap.

Jenderal Huang Jin melayang dengan napas yang memburu. Setetes darah emas yang mengalir dari sudut bibirnya adalah penghinaan terbesar yang pernah ia terima selama seratus tahun terakhir. Seorang ahli Penyatuan Langit dilukai oleh seorang Istana Jiwa Tahap Awal? Jika berita ini tersebar ke Ibukota Pusat, ia akan menjadi bahan tertawaan Sembilan Klan Dewa.

"Dagingku kenyal?" Jenderal Huang Jin mengusap darah di bibirnya. Wajahnya yang tadinya agung kini berkerut hebat oleh kemurkaan yang buas. "Tampaknya aku terlalu meremehkan warisan iblis yang kau bawa dari benua bawah. Kau bisa menolak Penguasaan Alamku... tapi mari kita lihat apakah kau bisa menahan kemarahan langit itu sendiri!"

Sang Jenderal mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.

Seketika, seluruh cahaya matahari di Kota Perbatasan seolah tersedot ke arah telapak tangannya. Langit siang mendadak menjadi senja yang kelam. Energi Qi Langit dan Bumi dalam jangkauan tiga ratus mil bergejolak liar, mengalir membentuk sebuah pedang emas raksasa yang menyilaukan di atas kepala sang Jenderal.

Itu bukanlah pusaka fisik, melainkan Senjata Hukum—perwujudan murni dari pemahaman sang Jenderal terhadap unsur cahaya dan ruang.

Hukum Mutlak Penyatuan Langit: Pedang Penghakiman Matahari Surgawi!

"Mati dan jadilah abu di bawah keagungan Kekaisaran!" raung Jenderal Huang Jin, menebaskan tangannya ke bawah.

Pedang cahaya emas raksasa itu menukik turun. Kecepatannya membelah ruang, menciptakan celah-celah hitam kehampaan di sepanjang jalurnya. Suhu yang dihasilkan oleh pedang itu cukup untuk menguapkan lautan. Ribuan prajurit yang masih hidup di sekitar markas berlarian menjauh dengan histeris, menyadari Jenderal mereka berniat menghancurkan seluruh kawasan perang ini hanya untuk membunuh satu orang.

Di bawah sana, Chu Chen mendongak menatap pedang raksasa yang menutupi langitnya.

Ia tidak mundur. Ia tidak mencari tempat berlindung.

"Keagungan Kekaisaran?" Chu Chen mencibir pelan. Mata hitamnya menyala menjadi celah naga emas yang memancarkan penindasan mutlak. "Langit yang kau banggakan itu... hanyalah langit fana yang sempit."

Di belakang Chu Chen, bayangan Istana Jiwa Naga membesar secara gila-gilaan. Pilar-pilar tulang naga ilusi itu menyerap Api Teratai Merah dari Dantian Chu Chen, membara dengan warna darah yang pekat.

Chu Chen tidak mengangkat tangannya untuk menangkis. Ia merentangkan kedua lengannya, membuka dadanya lebar-lebar menyongsong Pedang Penghakiman itu, dan membuka mulutnya.

Seni Kaisar Naga: Pelahapan Langit!

BUMMMMMM!

Bukan pusaran seukuran telapak tangan. Di atas Istana Jiwa Naga Chu Chen, sebuah lubang hitam raksasa—yang benar-benar terlihat seperti robekan di alam semesta—terbuka menganga. Lubang hitam itu memancarkan daya hisap yang luar biasa buas, menentang segala hukum alam dan spiritual yang ada di Benua Tengah.

Saat Pedang Penghakiman Matahari Surgawi itu berjarak sepuluh tombak dari Chu Chen, ujung pedang emas itu mendadak melengkung.

Jenderal Huang Jin membelalakkan matanya. Ia mencoba menekan pedang itu ke bawah, namun daya hisap dari lubang hitam Chu Chen terlalu rakus.

"TIDAK! A-Apa yang kau lakukan pada Hukumku?!" jerit sang Jenderal, merasakan ikatannya dengan Qi alam mulai terputus.

Bagaikan aliran air terjun yang disedot oleh pusaran badai, pedang cahaya emas raksasa itu perlahan-lahan terseret, terurai menjadi benang-benang energi murni, dan dihisap masuk ke dalam lubang hitam di atas Istana Jiwa Naga Chu Chen.

Energi yang setara dengan bintang jatuh itu ditelan bulat-bulat!

"Gah!" Chu Chen mendengus keras. Tubuhnya bergetar hebat, kulit perunggunya retak-retak memancarkan cahaya emas yang membutakan. Menelan serangan mutlak ahli Penyatuan Langit memberikan beban yang meremukkan pada meridiannya.

Namun, Zirah Tulang Naga Hitamnya menahan ledakan itu dari dalam, sementara Api Teratai Merah langsung menggiling energi musuh menjadi cairan Qi murni yang membanjiri Dantiannya.

Dalam waktu kurang dari lima tarikan napas, pedang raksasa kebanggaan sang Jenderal lenyap tanpa sisa. Langit kembali cerah, namun suasananya terasa membeku oleh kengerian.

"K-Kau... kau memakan Penguasaan Alamku?" Jenderal Huang Jin terhuyung mundur di udara. Wajahnya kehabisan darah. Sebagai ahli Penyatuan Langit, kekuatannya berasal dari kemampuannya meminjam tenaga alam. Namun pemuda ini baru saja memakan 'alam' itu sendiri di wilayahnya!

"Rasa yang lumayan, tapi terlalu banyak kotoran fana," suara Chu Chen terdengar serak, dipenuhi oleh sisa-sisa uap emas yang mengepul dari mulutnya.

Luka-luka retak di kulitnya mulai menutup dengan kecepatan mata telanjang, didorong oleh pemulihan liar dari Darah Dewa Naga dan asupan Qi yang baru saja ia telan.

Chu Chen menatap Jenderal Huang Jin. Niat Membunuh murni mengunci pergerakan sang Jenderal.

"Sekarang giliranku."

WUSH!

Chu Chen melesat membelah udara. Bukan hanya mengandalkan kecepatan sayap tulangnya, kali ini ia meminjam ledakan energi dari serangan Jenderal yang baru ia telan. Ia muncul tepat di depan wajah Jenderal Huang Jin sebelum pria itu sempat berkedip.

"Perisai Sembilan—"

Jenderal Huang Jin mencoba memanggil pusaka bertahannya, namun telapak tangan Chu Chen telah menembus pertahanannya.

Sabit Matahari Berdarah!

Bilah Niat Pedang Purba yang dilapisi Api Teratai Merah memotong pergelangan tangan sang Jenderal. Tangan yang memegang pusaka itu terputus dan jatuh ke bawah.

"AAAAAARRGH!" Jenderal Huang Jin melolong kesakitan, matanya dipenuhi kengerian yang belum pernah ia rasakan sejak ia masih menjadi murid rendahan.

Chu Chen tidak berhenti. Tangan kirinya melesat mencengkeram wajah sang Jenderal, kelima jarinya menancap ke dalam baju zirah emas yang melindungi kepala pria itu hingga berderak hancur.

"Dewa fana yang menyedihkan," bisik Chu Chen sedingin es. "Kau pikir menyatu dengan langit membuatmu abadi? Kau hanya mengikat dirimu pada rantai yang lebih besar."

Pusaran Ketiadaan.

Daya hisap yang paling mematikan di alam semesta diaktifkan dalam jarak kurang dari satu cun.

Jenderal Huang Jin, sang penguasa Kota Perbatasan Kekaisaran Matahari Suci, menggelepar di udara. Kekuatan Penyatuan Langitnya ditarik keluar dengan kebrutalan yang mencabik-cabik jiwanya. Cahaya emas dari tubuhnya mengalir deras ke dalam lengan Chu Chen.

"T-Tolong... Kekaisaran... akan memusnahkan—"

Gumamannya terputus. Tubuh Jenderal Huang Jin mengering dengan kecepatan ngeri. Dagingnya menyusut, tulangnya melapuk, dan akhirnya, ahli Penyatuan Langit itu hancur menjadi debu kelabu yang tertiup angin dari sisa-sisa ledakan kawah.

Mati. Seorang Jenderal Kekaisaran tewas dihirup menjadi debu di tengah kotanya sendiri.

Chu Chen berdiri melayang di udara, menutup matanya rapat-rapat.

BUMMM! BUMMM!

Dantiannya bergemuruh layaknya lautan yang dilanda gempa bumi dahsyat. Energi dari seorang ahli Penyatuan Langit terlalu besar. Jika ia membiarkannya meledak, ia akan langsung menerobos ke Istana Jiwa Tahap Puncak, namun fondasinya akan hancur dan ia akan menarik Kesengsaraan Surgawi yang akan meratakan seluruh kota ini.

"Tekan!" raung Chu Chen dalam batinnya.

Menggunakan wibawa Darah Naga Primordial, Chu Chen secara paksa menekan lautan energi itu. Ia mengkristalkannya dan menyimpannya ke dalam sumsum Zirah Tulang Naga Hitamnya sebagai cadangan kekuatan. Meski begitu, kultivasinya tetap melompat tak tertahankan.

Alam Istana Jiwa Tahap Menengah.

Sebuah aura yang jauh lebih padat dan lebih mengerikan dari sebelumnya meledak dari tubuhnya, menekan sisa-sisa prajurit kekaisaran yang masih hidup hingga mereka menyemburkan darah dan pingsan.

Chu Chen membuka matanya. Ia menangkap Cincin Penyimpanan berwarna emas dengan lambang sembilan matahari milik sang Jenderal yang jatuh dari debu mayat tadi.

Ia perlahan melayang turun, kembali ke atap paviliun tempat Bai dan Meng Fan berada.

Keduanya menatap Chu Chen seolah ia bukan lagi makhluk dari alam ini. Membunuh Raja Fana adalah satu hal, tapi menyedot mati seorang ahli Penyatuan Langit—keberadaan tingkat tinggi yang dianggap dewa—adalah pelanggaran terhadap kewarasan.

"K-Kau... kau benar-benar memakannya..." Meng Fan tergagap, lututnya bergetar tak terkendali.

Bai menelan ludah. Wajahnya sepucat kertas. Ia menatap Chu Chen dengan kepatuhan yang kini diukir oleh ketakutan mutlak, bukan sekadar ancaman di jantungnya.

Chu Chen tidak merayakan kemenangannya. Ia menatap Cincin Kekaisaran di tangannya, matanya memancarkan perhitungan dingin.

"Kota ini sudah mati. Kematian Jenderal Agung akan memicu tanda bahaya di Ibukota Pusat Kekaisaran Matahari Suci. Mereka akan mengirimkan ahli Penyatuan Langit tingkat lanjut, atau bahkan monster yang lebih tua dari itu," ucap Chu Chen datar.

Ia menoleh ke arah Bai. "Di mana Gerbang Pemindah Ruang militer terdekat yang terhubung langsung ke wilayah yang lebih dalam?"

Bai segera menunduk, tidak berani menatap matanya. "D-Di bawah Markas Utama ini, Tuan. Ada gerbang rahasia yang hanya bisa dibuka oleh Cincin Jenderal. Gerbang itu mengarah ke pinggiran Ibukota Suci."

"Sempurna." Chu Chen menyeringai tipis, melempar cincin Jenderal itu ke udara dan menangkapnya kembali. "Kekaisaran fana ini mengira mereka bisa memburuku. Mari kita pindahkan arena perburuannya langsung ke halaman depan istana mereka."

Chu Chen melangkah mendahului mereka, turun ke reruntuhan markas perang. Di belakangnya, dewa-dewa Benua Tengah yang dulunya angkuh kini hanya menyisakan abu, menjadi batu loncatan pertama bagi Sang Naga untuk merobek langit yang lebih tinggi.

1
black swan
...
Nur Aini
Thor, yg kaisar abadi penentang surga 2 kok blm update juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!