NovelToon NovelToon
Because Of Music We Met

Because Of Music We Met

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Crazy Rich/Konglomerat / Anak Genius
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Sandra Yandra

Banyak yang beranggapan bahwa musik hanyalah suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan. Terutama suara yang dihasilkan dari alat-alat yang mampu menciptakan nada indah.

Namun, tidak... Musik tidak sesederhana itu.

Musik jauh lebih kompleks dan dalam daripada apa pun di dunia ini. Musik mengandung kekuatan magis yang mampu membuat seseorang menjadi lebih kreatif, lebih inovatif, lebih peka terhadap rasa, dan bahkan menjadi sosok yang penuh dramatis.

Musik memiliki kekuatan untuk membentuk kehidupan seseorang, namun di saat yang sama, ia juga bisa menjadi alat yang menghancurkan segalanya.

Ketika musik menjadi alasan bagi seseorang untuk memutuskan ikatan emosionalnya dengan orang lain, lalu menutup diri dari dunia...

Maka pertanyaannya kini adalah...

Bisakah musik itu juga menjadi alasan untuk mempersatukan mereka kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandra Yandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ayah, Aku Merindukanmu!

[RUMAH PRATAMA]

Seluruh anggota keluarga, baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibunya, beserta para sahabatnya sudah berkumpul di rumah Judika. Hingga saat ini, mereka semua masih belum sepenuhnya percaya dengan apa yang baru saja mereka alami, dan perasaan itu dirasakan paling dalam oleh Judika.

Bagi Judika, beberapa waktu terakhir ini terasa seperti mimpi yang berubah drastis. Dia baru saja merasakan kebahagiaan yang selama ini mustahil dia bayangkan. Sosok ayahnya yang dulunya seperti monster dan menakutkan. Perlahan berubah menjadi sosok malaikat di matanya. Ayahnya memberikan segalanya yang dibutuhkan olehnya, mulai dari kasih sayang, perhatian, dukungan hingga kepedulian yang tulus.

Namun kebahagiaan itu kini harus berakhir dengan kepergian sang ayah. Sejak pulang dari pemakaman, Judika sama sekali tidak mau beranjak.

Saat ini Judika berada di ruang kerja ayahnya, duduk memeluk erat bingkai foto wajah ayahnya seolah menolak untuk melepaskannya.

^^^

"Judika mana? Kenapa dia tidak kelihatan?" tanya Calvin Wiguna dengan nada cemas.

"Mungkin Judika di kamarnya. Coba aku cek di sana!" seru Arjuna, lalu segera beranjak menuju kamar Judika.

Sementara itu, suasana di ruang tengah mulai bergerak. Carla Wiguna mengajak semua wanita untuk beraktivitas. Berusaha menjaga kondisi fisik keluarga di tengah duka yang mendalam.

"Lebih baik kita masak sesuatu. Kalian semua sudah lapar kan? Bagaimana pun kita harus makan agar tidak sakit. Kita boleh saja berduka atas kehilangan salah satu anggota keluarga kita, tapi kita jangan sampai mengabaikan kesehatan kita!" tutur Carla tegas namun lembut.

"Apa yang dikatakan oleh Carla benar. Jangan ada diantara kita yang jatuh sakit hanya karena kita merasa kehilangan. Sedih boleh tapi jangan sampai menyiksa diri," ujar Misca menyetujui.

"Mari kita memasak," ajak Viana Naayif, istri Jordy Pratama.

Para bibi pun bergerak menuju dapur untuk mulai menyiapkan makanan. Kebetulan sekali, semua bahan sudah tersedia lengkap di dalam kulkas.

Selama Juandra hidup, dia selalu memastikan persediaan makanan terisi penuh, baik itu makanan siap saji maupun bahan mentah. Bahkan makanan, minuman lainnya, termasuk kebutuhan khusus Judika, selalu tersedia di sana.

Sambil para bibi sibuk di dapur, para paman duduk berkumpul di ruang tengah. Di ruang tengah yang lain, para sahabat dan para kakaknya Judika juga duduk bersama, suasana hening namun saling menjaga satu sama lain.

"Ibu. Lebih baik ibu istirahat ya. Aku tidak mau ibu sakit," kata Chandra yang melihat ibunya yang masih setia duduk diam dengan tatapan kosong.

"Bagaimana ibu bisa istirahat, Chan? Ibu memikirkan adikmu. Dimana adikmu?" jawab Jovina dengan suara bergetar, penuh kekhawatiran.

Belum sempat Chandt menjawab, Arjuna kembali datang dengan napas terengah-engah.

"Maaf Paman, Bibi. Judika nya tidak ada di kamarnya!" seru Arjuna.

"Apa?" ucap mereka bersamaan dengan wajah terkejut.

"Judika. Kamu dimana, Nak?' batin Jovina merasa semakin cemas.

Di saat seluruh isi rumah mulai panik memikirkan keberadaan Judika, tiba-tiba terdengar suara benda jatuh yang cukup keras dari salah satu ruangan.

Praanngg..

Bruukkk..

"Itu suara apa?" tanya Tamma kaget.

"Sepertinya suaranya berasal dari sana," sahut Nathan sambil menunjuk ke arah ruangan yang berada tidak jauh dari ruang tengah tempat para paman berkumpul.

"Oh ya! Itu kan ruang kerjanya Paman Juandra. Pasti Judika ada disana!" seru Hendy menyadari lokasi tersebut.

Tanpa membuang waktu, mereka semua pun bergegas menuju ruang kerja Juandra untuk memastikan keadaan yang sebenarnya.

^^^

Cklek..

Saat pintu ruangan itu terbuka lebar, pemandangan di depan mata membuat mereka terbelalak shock. Judika terlihat sudah tak sadarkan diri, tergeletak lemas di atas lantai yang dingin.

"Judika!" teriak mereka hampir bersamaan.

Jovina adalah orang yang pertama berlari menghampiri tubuh putra bungsunya itu.

"Sayang. Hei, bangunlah Nak! Kenapa tidur disini? Apa tidak dingin tidur di lantai, hum?" ucap dan tanya Jovina dengan suara bergetar, lalu mencium kening putranya yang sangat amat dirindukannya itu.

"Naikkan dia ke punggungku," pinta Chandra sigap.

Lalu Bima dibantu oleh Nathan dengan hati-hati mengangkat tubuh Judika dan memindahkannya ke atas punggung Chandra.

Setelah posisinya aman, Chandra pun berjalan membawa adiknya itu menuju kamar yang berada di lantai dua.

^^^

[Kamar Judika]

Kini Judika sudah terbaring di tempat tidurnya yang empuk dan hangat. Mereka semua berdiri mengelilingi kasur, memandangi wajah damai Judika yang masih pucat.

"Apa tidak sebaiknya kita bawa Judika ke rumah sakit? Wajahnya sedikit pucat," ucap dan tanya Tamma dengan ragu.

"Kita panggil dokter saja. Bisa runyam masalah kalau sampai kita membawanya ke rumah sakit," ujar Misca memberikan saran yang bijak.

Mereka yang mengerti arah ucapan Misca pun mengangguk setuju. Memang membawa Judika ke rumah sakit umum saat kondisi emosinya sedang tidak stabil bukanlah pilihan yang tepat.

"Aku akan menghubungi dokter Xohan Areksa. Dokter ini dekat dengan Judika!" seru Devano segera mengeluarkan ponselnya.

Dua puluh menit kemudian, dokter yang ditunggu pun datang. Namun yang melangkah masuk bukanlah Dokter Xohan, melainkan seorang pemuda tampan yang tak asing bagi mereka.

"Loh. Dokter siapa? Bukannya saya barusan menghubungi Dokter Xohan?" tanya Devano sedikit bingung.

"Saya putranya. Dan saya juga seorang dokter. Nama saya Yohan Areksa. Ayah saya ada jadwal operasi mendadak di rumah sakit. Jadi saya yang menggantikan ayah saya. Saat ayah mengatakan yang sakit itu adalah Judika, saya langsung buru-buru datang kesini," ujar Yohan menjelaskan dengan sopan namun wajahnya tampak sangat khawatir.

"Ooh begitu. Ya, sudah! Langsung periksa saja keponakan saya," kata Devano mengerti, lalu mempersilakan Yohan mendekat.

Yohan kemudian melangkahkan kakinya menuju tempat tidur Judika lalu duduk di sisi ranjang. Matanya menatap lekat wajah pemuda yang dulu sering dia temui.

"Kenapa kau seperti ini, Judika?' batin Yohan merasa perih melihat kondisi sahabatnya itu.

Yohan pun mulai memeriksa denyut nadi dan kondisi fisik Judika dengan teliti. Lima menit berlalu, pemeriksaan pun selesai.

"Bagaimana keadaan putraku, Dokter?" tanya Jovina dengan nada memohon kepastian.

Yohan menoleh dan melihat ke arah wanita paruh baya di depannya. "Jadi Bibi ini ibunya Judika. Selama ini dia kemana?' batin Yohan teringat cerita Judika yang dulu sering mengeluh soal ibunya yang pergi.

"Dok," panggil Chandra menyadari dokter itu melamun.

"Oh ya," Yohan tersadar dari lamunannya saat Chandra memanggilnya sambil menepuk pelan bahunya. "Keadaan Judika secara fisik baik-baik saja. Tapi secara batin, Judika sedikit syok atas musibah yang menimpanya. Saran saya, jangan pernah tinggalkan dia sendirian. Tetaplah terus pantau keadaannya."

Saat Yohan hendak beranjak dari samping tempat tidur, tiba-tiba tangannya ditahan dan digenggam kuat oleh tangan mungil Judika.

Perlahan, mata itu terbuka. Judika menatap sayu tepat ke manik mata Yohan.

"Kak Yohan. Jangan pergi. Tetaplah disini," lirih Judika dengan suara yang masih berat.

Mendengar permintaan kecil itu, seketika air mata Yohan menetes tanpa bisa dia tahan. Dia kembali duduk di tempatnya dan membalas menggenggam tangan Judika dengan lembut namun erat.

"Baiklah kalau itu yang kau inginkan. Kakak akan disini menemanimu. Cepatlah sembuh dan kembali ke sekolah," ucap Yohan dengan suara serak tertahan tangis.

Semua orang yang menyaksikan adegan haru itu tersenyum lega dan bahagia. Namun perasaan itu tidak dirasakan oleh Chandra. Di sudut ruangan, hatinya terasa panas. Dia merasa cemburu saat orang lain bisa dengan mudah membuat adiknya merasa tenang dan aman.

Sedangkan dirinya sebagai kakak tertua, merasa belum bisa berbuat apa-apa untuk adiknya. Bahkan untuk sekadar dilihat atau diajak bicara pun, Judika seolah enggan meliriknya.

Devano yang menyadari perubahan raut wajah keponakannya itu pun segera mendekat. Dia menepuk pelan bahu Chandra untuk memberi semangat.

"Paman tahu perasaanmu saat ini. Kau pasti cemburu kan melihat Dokter itu? Kau hanya butuh sabar. Paman yakin tidak akan lama lagi adikmu pasti akan kembali padamu. Percayalah!"

"Aku percaya, Paman. Aku akan menunggu saat itu tiba!" seru Chandra mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

"Nah, begitu dong. Itu baru keponakan paman yang tampan," goda Devano mencoba mencairkan suasana.

***

Keesokkan paginya, di dalam sebuah kamar, terlihat seorang pemuda berwajah tampan masih terlelap dalam tidurnya. Siapa lagi kalau bukan si manis Judika Pratama.

Namun kedamaian itu tidak berlangsung lama. Saat pemuda manis itu sedang asyik dengan alam mimpinya, terdengar bunyi nyaring dari jam wekernya yang memaksanya terbangun.

Judika pun langsung bangun dan mendudukkan tubuhnya di atas kasur. Tatapannya kosong menatap ruangan.

"Biasanya Ayah yang selalu membangunkanku," monolog batin Judika.

"Ayah. Aku merindukanmu," lirih Judika dengan suara parau.

Dengan langkah gontai, Judika bangkit dari tempat tidurnya dan melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

1
whiteblack✴️
apa Dika mulai buka hatinya untuk damai...akan lebih baik...terus mengejar cinta ya dika
sri wahyu
judika masih perang dengan batinnya sendiri pelan pelan saja
whiteblack✴️
hati Dika masih tertutup rapat... apa masih proses menerimaan..
sri wahyu
pelan2 saja judika jangan terburu buru
sri wahyu
pecah sudah tangisku di bab ini kak,,,, mendengar cerita judika
sri wahyu
baru baca 4 bab aq dah mau nangis kak💪💪💪👍👍👍
sri wahyu
cerita baru ya kak
whiteblack✴️
Dika masih perang ego nya😤
Himme
Ada yang mau bantu nonjok si Chandra... sungguh bikin emosi banget. Nggak sadar diri💢/Speechless/
whiteblack✴️
sahil loe ya...enggak ngerti suasana serius...tadi ngomong serius..biar chandra itu sadar mala..di ajak bercanda..😒
whiteblack✴️
sepertinya butuh waktu lama..Dika berdamai ..apa lagi punya kakak emosian suka maen tangan pula😒
Himme
Taukan kenapa Judika sulit memberikan maaf pada ibu dan kakaknya tapi mereka berdua aja yg egois/Wilt//Grievance/
Sandra Yandra: benar sekali.
Egois nya adalah mereka tidak mau memaafkan dan memberikan kesempatan kepada suaminya/ayahnya. Sementara mereka terus mendesak Judika untuk memaafkan mereka.
total 1 replies
Himme
Benci banget sumpah.. yang satu egois dan satunya emosian💢
whiteblack✴️
aku benci banget kakaknya gampang emosian maen tangan pula apa lagi ibunya egois sekali/Panic/
whiteblack✴️
lebih baik judika belajar untuk ikhlas aja..siapa tau hari" nya bisa menyenangkan kembali...
Himme
Kasihan Judika.. lagian itu si Chandra dan ibunya egois nya kebangetan💢
Himme
Part yang paling aku hindari/Sob/
whiteblack✴️
chan loe egois dan gampang emosi/Panic/ .. enggak sadar kesalahan loe huh/Angry/
whiteblack✴️
pertempuran ego+ hati= suara mulut pedas akan segera di mulai/Scare/
whiteblack✴️
hemmm...tuw kan Judika marah besar...ama ibunya..../Grievance/....sepertinya butuh waktu untuk berdamai semuanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!