Biru Hermawan, pewaris takhta perusahaan raksasa, menyimpan "bom waktu" di dadanya: kondisi jantung lemah yang mengancam nyawa dan ambisinya. Demi mengamankan posisi sebagai CEO, ia harus memenuhi syarat kakeknya untuk menikah. Di sisi lain, Selena, seorang penulis novel populer yang muak dengan tekanan pernikahan, terjepit dalam realitas yang membosankan.
Keduanya sepakat dalam pernikahan kontrak dengan satu aturan mutlak: "Dilarang Jatuh Cinta."
Tinggal satu atap, Selena berjuang menyembunyikan identitas penulisnya, sementara Biru mati-matian menutupi rasa sakit yang menyerang setiap malam. Namun, saat tembok pembatas mulai terkikis oleh kepedulian, mereka terjebak dalam dilema mematikan. Akankah gairah yang mulai tumbuh menjadi obat bagi kesepian mereka, atau justru menjadi pemicu detak jantung terakhir yang mengakhiri kisah mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Bab Paling Intim
Bibir Biru bertemu dengan bibir Selena dalam sebuah pagutan yang awalnya ragu, namun segera berubah menjadi tuntutan yang mendalam.
Tidak ada rasa sakit yang menghujam, tidak ada sesak yang mencekik. Keajaiban ramuan Wayan seolah memberikan izin khusus bagi jantung Biru untuk berdetak demi gairah, bukan lagi demi sekadar bertahan hidup.
Selena terkesiap, tangannya yang semula berniat mendorong kini justru meremas kemeja basah Biru, mencari pegangan.
Ciuman Biru terasa seperti badai yang lebih hebat dari ombak Uluwatu tadi—hangat, menuntut, dan penuh dengan pengakuan yang tak terucapkan. Aroma rimpang yang masih tertinggal di napas Biru bercampur dengan asin air laut, menciptakan sensasi yang memabukkan bagi Selena.
Biru mengulum bibir bawah Selena dengan lembut, seolah sedang mencicipi obat yang selama ini ia cari. Tangannya yang besar menangkup wajah Selena, memastikan wanita itu tidak menjauh sedikit pun.
Di dalam kepalanya, semua aturan kontrak telah menguap. Tidak ada lagi CEO dingin yang kaku; yang ada hanyalah seorang pria yang baru saja menyadari bahwa ia telah jatuh ke dalam jurang yang paling indah.
"Mas..." desah Selena pelan saat Biru memberikan jarak hanya beberapa milimeter untuk mengambil napas.
"Jangan bicara," bisik Biru parau, matanya yang tajam mengunci netra Selena. "Biarkan jantungku merasakan ini sedikit lebih lama. Aku tidak pernah merasa sehidup ini sebelumnya."
Biru kembali menciumnya, kali ini lebih intens, seiring dengan tangannya yang mulai menanggalkan sisa pakaian basah yang menghalangi kulit mereka.
Detak jantungnya memang berpacu liar, namun kali ini iramanya terasa merdu—sebuah harmoni antara nyawa yang diberikan kembali dan cinta yang mulai tumbuh di tempat yang paling tidak terduga.
Di balik pintu, Cakra berdiri mematung. Tangannya sudah memegang gagang pintu untuk masuk dan memberikan dosis obat tambahan, namun ia berhenti. Ia tidak mendengar suara erangan kesakitan atau bunyi tubuh jatuh. Yang ia dengar hanyalah napas yang bersahutan dan keheningan yang penuh dengan ketegangan manis.
Cakra menarik tangannya kembali, lalu menghela napas panjang sembari tersenyum tipis untuk pertama kalinya. "Sepertinya ramuan Wayan memang benar-benar bekerja... atau mungkin, obat yang Tuan Biru butuhkan selama ini memang bukan kimia, melainkan wanita itu."
Malam di Uluwatu itu menjadi saksi bisu, bagaimana sebuah bom waktu di dada seorang pria, untuk pertama kalinya, memilih untuk tidak meledak, melainkan melebur dalam dekapan hangat seorang penulis yang telah mengubah fiksi menjadi kenyataan yang paling nyata.
Sentuhan Biru berpindah dari bibir menuju leher Selena, memberikan kecupan-kecupan kecil yang hangat dan penuh perasaan.
Setiap sentuhannya terasa begitu hati-hati, seolah Selena adalah naskah paling berharga yang pernah ia baca. Ia menyesap aroma tubuh Selena yang kini bercampur dengan wangi sabun dan sisa-sisa air garam, menciptakan sensasi yang membuat pertahanannya benar-benar runtuh.
Selena mendongak, membiarkan Biru menjelajahi setiap inci kulitnya. Ia bisa merasakan jemari Biru yang gemetar—bukan karena lemah, melainkan karena menahan gejolak yang begitu besar di dalam dadanya. Pria yang biasanya memerintah dengan kata-kata dingin itu kini berbicara melalui sentuhan yang sangat posesif namun lembut.
"Selena..." gumam Biru di antara cumbuannya, suaranya terdengar seperti sebuah pengakuan dosa yang paling jujur.
Tangannya mengusap punggung Selena dengan gerakan melingkar, memberikan ketenangan sekaligus gairah yang membakar.
Biru merasa setiap detak jantungnya yang kini berpacu kencang adalah sebuah perayaan. Ia tidak lagi peduli pada diagnosis dokter atau hitungan medis; di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, ia hanya ingin memastikan bahwa Selena merasakan betapa besarnya pengaruh wanita itu terhadap hidupnya.
Selena membalas dengan melingkarkan lengannya di leher Biru, menarik pria itu lebih dekat. Kelembutan yang diberikan Biru membuatnya lupa akan cemburu dan kemarahannya tadi siang.
Di dalam kamar yang kini hanya menyisakan suara napas yang memburu, mereka seolah sedang menulis bab baru yang paling intim, di mana tinta yang digunakan adalah rasa rindu yang selama ini mereka sangkal di balik tembok kontrak yang kaku.
***
jin ouch jin sentuh itu selena...