“Demi ibu, apa pun akan kulakukan!”
Dianggap sampah oleh ayahnya sendiri karena tak memiliki bakat kultivasi, Shan Luo hidup dalam hinaan. Demi melindungi ibunya, ia memilih pergi meninggalkan segalanya.
Takdirnya berubah saat ia menemukan sebuah gua misterius yang menyimpan warisan terlarang: Sabit Jiwa Kegelapan.
Dengan kekuatan itu, Shan Luo bersumpah
“Aku akan membalas semua yang menghina aku dan ibuku!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Kedatangan tamu penting
Sore itu, halaman penginapan yang biasanya tenang mendadak diselimuti hawa membara. Shan Luo sedang membimbing ibunya melakukan gerakan dasar Teknik Pedang Embun Beku.
Senyum lembut menghiasi wajah Xue Ling, sebuah pemandangan yang menjadi satu-satunya alasan Shan Luo tetap menjaga kewarasannya.
BOOM!
Gerbang kayu penginapan hancur berkeping-keping. Ledakan energi api yang panas menyambar, menghanguskan tanaman di sekitar.
Dari balik debu yang mengepul, muncul sepuluh pria berpakaian zirah hitam dengan lambang harimau api di dada mereka, pasukan elit pembunuh bayaran Klan Shan.
Di depan mereka, berdiri seorang pemuda dengan jubah merah mewah, menggenggam sebuah tombak emas yang memancarkan aura Kelas Bumi.
Dia adalah Shan Bo, putra kedua Shan Feng, saudara tiri yang selalu menyiksa Shan Luo dengan cambuk api saat mereka masih di kediaman klan.
"Akhirnya aku menemukanmu, tikus kecil," Shan Bo meludah ke tanah, matanya menatap sinis pada rambut putih Shan Luo. "Ayah sangat murka karena kau membawa lari 'barang' milik klan. Serahkan wanita itu, dan mungkin aku akan membiarkanmu mati dengan cepat."
Shan Luo menarik ibunya ke belakang punggungnya. Matanya menggelap. "Barang? Kau memanggil ibuku 'barang'?"
"Dia hanya tungku es untuk ayahku, dan kau hanyalah noda yang seharusnya dihapus!" Shan Bo mengangkat tombaknya. "Serang! Habisi bocah itu, jangan lukai wanitanya!"
Sepuluh pembunuh bayaran, semuanya berada di Tahap Pembentukan Fondasi tingkat awal, melesat maju. Mereka melepaskan artefak-artefak bumi berupa cakram pemotong dan rantai api yang mengunci ruang gerak Shan Luo.
Shan Luo merasakan dadanya sesak. Tekanan dari sepuluh artefak bumi secara bersamaan bukanlah hal yang mudah bagi seorang Pendekar yang baru saja naik tingkat.
“Kau terlalu lemah ... biarkan aku yang memegang kendali ...” suara parau Sabit Jiwa bergema, lebih keras dan lebih nyata dari sebelumnya.
"Tidak sekarang!" geram Shan Luo.
Namun, saat sebuah rantai api menyambar hampir mengenai wajah ibunya, sesuatu di dalam diri Shan Luo pecah. Saraf-sarafnya mendingin, dan sebuah tawa dingin yang asing keluar dari mulutnya.
"Khikhi ... khikhikhikhi!"
Tawa itu membuat para pembunuh bayaran terhenti sejenak. Itu bukan tawa manusia. Itu adalah tawa sesuatu yang keluar dari liang kubur.
Tato di lengan Shan Luo meledak dalam cahaya ungu pekat. Sabit Jiwa Kegelapan muncul, namun kali ini ukurannya dua kali lebih besar.
Uap hitam pekat menyelimuti tubuh Shan Luo, membentuk jubah bayangan yang berkibar meski tak ada angin.
"Kalian ingin nyawa?" Shan Luo mendongak. Pupil matanya hilang, digantikan oleh kobaran api ungu yang mengerikan. "Maka aku akan memberikan kalian keabadian ... di dalam perutku!"
SLASH!
Shan Luo melesat. Kecepatannya melampaui logika Tahap Pembentukan Fondasi. Dalam satu kedipan mata, ia sudah berada di tengah-tengah para pembunuh bayaran.
Ia mengayunkan sabitnya melingkar. Rantai di gagang sabit memanjang, mencabik-cabik zirah hitam mereka seolah itu hanya terbuat dari kertas. Salah satu pembunuh mencoba menangkis dengan perisai Kelas Bumi miliknya.
KRAK!
Artefak bumi itu hancur berkeping-keping saat bersentuhan dengan bilah sabit kelas langit. Jiwa pria itu langsung terserap, membuat tubuhnya layu sebelum jatuh ke tanah.
"APA?!" Shan Bo berteriak ngeri. "Formasi Api Neraka! Sekarang!"
Sembilan pembunuh yang tersisa mengepung Shan Luo. Mereka mengeluarkan gulungan mantra serentak, menciptakan sangkar api yang mengurung Shan Luo dan Xue Ling. Suhu udara melonjak drastis, mencoba membakar paru-paru mereka.
Shan Luo tertawa semakin gila. Ia menusukkan tangan kirinya ke dalam kobaran api tanpa rasa sakit.
"Terlalu ... panas ..." desis Shan Luo, suaranya tumpang tindih dengan suara roh sabit.
Ia menghentakkan kakinya ke bumi. Qi Cair di Dantiannya bergejolak hebat.
"Domain Kematian: Embun Beku Neraka!"
Es hitam yang pekat merambat dari kaki Shan Luo, melawan kobaran api merah. Dua elemen tingkat tinggi beradu, menciptakan ledakan uap yang membutakan mata. Di dalam kabut uap itu, Shan Luo bergerak seperti mesin pembantai.
Setiap kali sabitnya terayun, terdengar suara robekan daging dan teriakan jiwa yang dicabut paksa.
Shan Luo tidak lagi peduli pada teknik pedang ibunya yang elegan. Ia bertarung dengan insting binatang buas, menggigit, mencabik, dan menelan.
Wajahnya kini tercoreng darah hitam. Ia menjilat darah di bibirnya dengan tatapan haus darah yang membuat Shan Bo gemetar hebat.
"KAU MONSTER!" Shan Bo menerjang dengan tombak emasnya. Ia menyalurkan seluruh kekuatannya, menciptakan naga api raksasa dari ujung tombaknya.
Shan Luo menyambut serangan itu dengan tangan kosong. Ia menangkap ujung tombak emas tersebut.
Telapak tangannya terbakar hingga mengeluarkan asap, namun ia justru tertawa lebar, menunjukkan gigi-giginya yang putih di tengah wajahnya yang gosong oleh jelaga kegelapan.
"Monster? Aku adalah apa yang kalian ciptakan!"
Shan Luo menarik tombak itu, menyeret Shan Bo mendekat, lalu menghantamkan dahi mereka dengan keras.
DUAGH!
Shan Bo terhuyung. Sebelum ia bisa pulih, sabit Shan Luo sudah berada di lehernya. Namun, para pembunuh bayaran yang tersisa melemparkan artefak bumi terakhir mereka—sebuah lonceng penekan jiwa.
DONG!
Gelombang suara suci menghantam kesadaran Shan Luo, memaksanya melepaskan Shan Bo.
Pertempuran menjadi semakin sengit. Meskipun Shan Luo memiliki artefak langit, jumlah musuh dan artefak bumi mereka yang banyak mulai menguras energinya.
Tubuh Shan Luo mulai mengeluarkan darah dari pori-porinya akibat tekanan energi sabit yang terlalu besar untuk wadahnya.
"Lagi! Berikan aku lebih banyak nyawa!" Shan Luo berteriak ke arah langit, kegilaannya semakin memuncak.
Xue Ling menatap putranya dengan air mata mengalir. Ia melihat anaknya perlahan kehilangan jati dirinya, tenggelam dalam kebencian dan kekuatan terkutuk itu.
"Shan'er ... berhenti ... hiks ... hentikan ini!" tangis Xue Ling.
Namun Shan Luo tidak mendengar. Di matanya, hanya ada warna merah darah dan bayangan sabit yang terus menari.
Ia kembali menerjang masuk ke dalam kerumunan pembunuh bayaran, mengabaikan luka-luka di tubuhnya sendiri. Setiap sayatan di kulitnya justru membuatnya semakin haus akan darah musuhnya.
Pertarungan masih berkecamuk hebat. Halaman penginapan itu kini tak lebih dari kawah kehancuran, saksi bisu dari pertemuan antara dendam seorang putra dan ambisi sebuah klan yang kejam.
Shan Luo semakin tenggelam dalam kegelapan, dan belum ada tanda-tanda siapa yang akan keluar sebagai pemenang dalam tragedi berdarah ini.