Naura hanya seorang gadis yang jatuh cinta terlalu dalam… dan harus membayar semuanya dengan kehilangan.
Ditinggalkan oleh lelaki yang ia cintai 'tanpa pernah tahu bahwa itu semua hanyalah kebohongan kejam'. Naura memilih pergi, membawa luka dan kehidupan baru yang tumbuh dalam rahimnya sendirian.
Selama delapan belas tahun, ia bertahan di tengah kemiskinan, mengorbankan segalanya demi satu alasan: anaknya, Genesis.
Namun saat dunia Genesis hanya tersisa ibunya… takdir kembali merenggut satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Kini, di antara sepi, kehilangan, dan batas tipis antara kewarasan dan kegilaan…
Satu minggu kemudian, Alexa datang menyelamatkan Genesis yang sedang terpuruk setelah Naura meninggal.
Namun ternyata, Alexa adalah Naura...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Udara dingin Puncak menyambut langkah Genesis yang semakin berat namun tidak melambat sedikit pun. Napasnya memburu, jaket tipis yang ia kenakan tidak cukup menahan hawa dingin yang menusuk, tapi ia bahkan tidak peduli. Tangannya menggenggam erat secarik kertas yang sudah lecek, alamat yang ia cari dengan susah payah sejak tadi malam. Matanya menatap lurus ke depan, tajam, penuh tekad yang tidak bisa ditarik mundur lagi.
“Villa Wijaya…” gumamnya pelan, rahangnya mengeras saat melihat gerbang besar menjulang di hadapannya.
Besi hitam tinggi dengan ornamen mewah berdiri kokoh, dijaga oleh dua pria berbadan besar dengan pakaian rapi. Di baliknya terlihat jalan panjang menuju bangunan megah yang bahkan dari luar saja sudah terasa mahal dan jauh dari dunia yang ia kenal.
Genesis berhenti beberapa langkah dari gerbang itu. Dadanya naik turun, bukan karena lelah, tapi karena emosi yang mulai menekan dari dalam. Ia menatap ke dalam, mencoba menangkap bayangan sosok yang ia cari, tapi yang ia lihat hanya taman luas dan jalan bersih yang terlalu asing baginya.
“Lex… lo di dalam sana ya…” bisiknya lirih, tangannya mengepal.
Tanpa ragu lagi, ia melangkah maju.
“Berhenti.” Salah satu penjaga langsung mengangkat tangan, menghadang. “Ada keperluan apa?”
Genesis tidak berhenti. Tatapannya tetap lurus menembus mereka. “Gue mau ketemu Alexa.”
Kedua pria itu saling pandang sebentar, lalu kembali menatap Genesis dengan ekspresi datar. “Tidak ada jadwal tamu hari ini. Silakan pergi.”
“Ada,” jawab Genesis cepat, nadanya mulai meninggi. “Gue bukan tamu. Gue orang yang dia kenal. Panggil dia keluar.”
“Tidak bisa,” jawab penjaga satunya lebih tegas. “Silakan tinggalkan area ini.”
Genesis tertawa pendek, sinis. “Kalian pikir gue datang sejauh ini cuma buat disuruh balik?” Ia melangkah lebih dekat, jaraknya kini hanya beberapa meter dari gerbang. “Gue bilang panggil Alexa. Sekarang.”
“Saudara tidak diizinkan masuk,” suara penjaga mulai dingin. “Jangan memaksa.”
Kalimat itu seperti menyulut sesuatu di dalam dada Genesis. Rahangnya mengeras, matanya berubah tajam. “Gue nggak minta izin,” katanya pelan tapi penuh tekanan. “Gue cuma mau ketemu dia.”
Ia mendorong gerbang itu dengan tangannya, mencoba membuka celah, tapi salah satu penjaga langsung menahannya dengan kuat. “Jangan macam-macam!”
“LEPAS!” Genesis mendorong balik dengan tenaga penuh.
Tubuhnya menabrak besi gerbang, suara dentingan keras terdengar. Dalam satu detik, situasi langsung berubah.
Salah satu penjaga menarik bahu Genesis dengan kasar. “Kami sudah peringatkan—”
BUGH!
Genesis refleks menghantamkan tangannya, mengenai lengan penjaga itu hingga terlepas.
“Jangan sentuh gue!” bentaknya, napasnya memburu, emosinya benar-benar meledak sekarang. “Gue cuma mau ketemu dia! Kenapa sih susah banget?!”
Penjaga lain langsung maju, menangkap lengan Genesis dari belakang. “Cukup! Keluar dari sini!”
“GUE NGGAK AKAN PERGI SEBELUM KETEMU DIA!” Genesis meronta, mencoba melepaskan diri. Ia mendorong, menarik, bahkan nyaris meninju lagi, tapi jumlah mereka lebih banyak dan lebih siap.
Di dalam villa, di kamar lantai dua yang terkunci rapi, Alexa yang sedang duduk diam tiba-tiba mengangkat kepala. Suara samar terdengar dari kejauhan. Ribut. Tidak jelas, tapi cukup membuat jantungnya berdegup lebih cepat.
“Itu…?” bisiknya pelan.
Ia berdiri, melangkah mendekati jendela. Hatinya mulai tidak tenang. Suara itu… entah kenapa terasa familiar. Terlalu familiar.
“Gen…?” namanya keluar begitu saja tanpa sadar.
Tanpa berpikir panjang, Alexa berlari keluar kamar. Pintu langsung dibuka oleh penjaga yang berdiri di depan, tapi ia tidak peduli.
“Ada apa di luar?” tanyanya cepat.
“Nona, silakan kembali ke kamar—”
“Ada suara! Siapa itu?!” potong Alexa, napasnya mulai tidak teratur.
Salah satu penjaga terlihat ragu, tapi suara keributan dari luar semakin jelas sekarang. Alexa tidak menunggu lagi. Ia berlari menuju balkon yang menghadap ke gerbang utama.
Dan saat itulah… dunia seperti berhenti. Di kejauhan, di depan gerbang besar itu, ia melihatnya.
Genesis.
Tubuhnya ditahan dua orang, bajunya sedikit kusut, napasnya memburu, tapi matanya… matanya tetap sama. Tajam dan fokus mencari.
“GENESIS!” teriak Alexa tanpa sadar, suaranya pecah.
Di bawah sana, Genesis yang masih meronta langsung membeku sesaat. Kepalanya terangkat cepat. Matanya mencari sumber suara itu, dan begitu ia melihat sosok di balkon, seluruh tubuhnya langsung menegang.
“LEX!” balasnya keras, suaranya serak tapi penuh emosi.
Mata mereka bertemu.
Jaraknya jauh, terhalang pagar, terhalang dunia yang berbeda, tapi tatapan itu… begitu dekat. Terlalu dekat sampai dada mereka sama-sama terasa sakit.
“Gen…!” suara Alexa bergetar, tangannya mencengkeram pagar balkon. “Kamu… kamu ke sini…?”
Genesis mencoba melepaskan diri lagi, tenaganya kembali meledak. “Gue jemput lo! Gue bilang kan gue bakal dateng!” teriaknya, napasnya tidak beraturan.
“Lepasin gue!” bentaknya pada penjaga yang menahannya. “Gue mau ke dia!”
“Tidak bisa!” salah satu penjaga menekan tubuhnya lebih keras. “Anda harus pergi!”
“GUE NGGAK AKAN PERGI!” Genesis berusaha mendorong lagi, tapi kali ini ia benar-benar kalah tenaga. Tubuhnya ditarik mundur, hampir terjatuh.
“JANGAN KASAR SAMA DIA!” Alexa ikut berteriak dari atas, air matanya mulai jatuh. “LEPASIN DIA! DIA NGGAK SALAH!”
“Nona, silakan masuk!” salah satu penjaga di belakang Alexa mencoba menarik lengannya.
“LEPAS! AKU MAU KE DIA!” Alexa meronta, mencoba turun, tapi tubuhnya ditahan kuat.
Di bawah, Genesis melihat itu semua dengan mata membara.
“JANGAN SENTUH DIA!” teriaknya, suaranya hampir pecah. “LEX! TUNGGU GUE! GUE PASTI MASUK KE SANA!”
Alexa menggeleng kuat, air matanya jatuh tanpa henti. “Gen… jangan… mereka bakal nyakitin kamu…!”
“GUE NGGAK TAKUT!” balas Genesis, matanya tidak lepas darinya. “Gue lebih takut kehilangan lo lagi!”
Kalimat itu menghantam Alexa tepat di dada. Napasnya tercekat.
“Gue janji, Lex!” lanjut Genesis, berusaha tetap berdiri meski ditarik mundur. “Gue bakal bawa lo keluar dari sini! Denger gue! Gue nggak bakal ninggalin lo!”
“GENESIS!” Alexa menjerit saat tubuhnya ditarik paksa menjauh dari balkon. Tangannya mencoba meraih udara kosong, seolah masih bisa menyentuhnya.
“LEXAAA!” suara Genesis ikut menggema, tapi tubuhnya sudah didorong keluar dari area gerbang.
Gerbang itu kembali tertutup keras di antara mereka. Dentang besi itu seperti garis pemisah yang kejam.
Di dalam, Alexa terjatuh berlutut di lantai balkon, tubuhnya gemetar hebat. Napasnya tersengal, tangisnya pecah tanpa bisa ditahan lagi.
“Gen… Gen… kenapa harus kayak gini…” isaknya, tangannya mencengkeram lantai dingin.
Di luar, Genesis berdiri beberapa meter dari gerbang, tubuhnya sedikit terhuyung. Ia menatap gerbang itu dengan napas berat, matanya masih menyala penuh amarah dan rasa sakit.
Tangannya mengepal kuat sampai bergetar.
“Mereka pikir… mereka bisa pisahin gue dari lo…” gumamnya pelan, rahangnya mengeras. “Mereka pikir gue bakal berhenti di sini…”
Ia mengangkat kepalanya, menatap bangunan besar itu sekali lagi. Matanya tidak lagi hanya penuh emosi, tapi juga sesuatu yang lebih gelap.
“Gue salah tadi,” lanjutnya lirih, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri. “Gue datang sebagai orang kecil… makanya gue diinjek.”
Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan gejolak di dalam dadanya.
“Tapi lain kali…” matanya menyipit tajam, “gue nggak bakal datang buat minta.”
Sementara itu di dalam, Alexa masih terisak, tapi perlahan tangisnya berubah. Bukan hanya sedih. Ada sesuatu yang mulai tumbuh di dalamnya.
Keinginan untuk melawan.
Ia mengangkat wajahnya, matanya merah tapi tidak kosong lagi. “Aku nggak bisa terus kayak gini…” bisiknya pelan. “Aku nggak bisa nunggu doang…”
Tangannya mengepal di atas lantai.
“Gen… tunggu aku…” suaranya masih bergetar, tapi kali ini ada keyakinan di dalamnya. “Aku juga bakal cari cara… aku bakal keluar dari sini…”
Di luar gerbang, Genesis sudah berbalik pergi, langkahnya berat tapi pasti.
Di dalam villa, Alexa berdiri perlahan, air matanya masih mengalir tapi sorot matanya berubah. Mereka gagal bertemu hari ini. Tapi bukan berarti mereka berhenti. Karena sekarang, bukan cuma cinta yang tersisa. Tapi juga perlawanan.