Menceritakan seorang gadis bernama Zura. Dan Kebingungan Zura kenapa dirinya bisa nyasar ke raga Ziva sang Antagonis di dalam buku novel yang pernah dia baca sebelum nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wilaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 024
Sementara suasana di pojok perpustakaan terasa begitu tenang dan terisolasi, dunia luar SMA Pelita Bangsa sedang mendidih. Berita tentang hancurnya reputasi Reygan dan "deklarasi" tak langsung dari Aksa Erlangga menyebar lebih cepat daripada sinyal Wi-Fi sekolah.
Manda dan Tika menyeret Liana ke meja paling pojok di kantin bawah, berusaha menghindari tatapan penasaran siswi-siswi lain yang sedari tadi berbisik sambil menunjuk-nunjuk ke arah mereka. Di depan mereka, tiga mangkuk bakso dan es teh manis sudah tersedia, namun selera makan Liana tampak menguap.
"Li, makan dong. Jangan ditekuk gitu mukanya. Lo itu pahlawan hari ini, tau nggak?" Manda menusuk baksonya dengan semangat, lalu melirik ke sekeliling dengan tatapan menantang pada siapa pun yang berani mendekat.
Liana mengaduk-aduk minumannya. "Aku cuma ngerasa... aneh aja, Kak. Selama ini aku diem, dan sekarang semuanya meledak. Aku takut Reygan beneran nekat."
"Nekat apa lagi? Cicilan rumahnya aja nunggak, dia mau beli bensin buat nyamperin lo aja mungkin mikir dua kali," celetuk Tika sambil menatap layar ponselnya. "Liat nih, grup angkatan isinya cuma rekaman suara tadi. Brand Reygan sebagai 'Pangeran Sempurna' resmi bangkrut hari ini."
"Tapi jujur ya," Manda mencondongkan badannya ke depan, suaranya merendah. "Yang bikin gue merinding itu bukan soal Reygan, tapi soal Aksa. Lo liat nggak tadi cara dia berdiri di depan Ziva? Itu bukan lagi kayak temen biasa. Itu udah kayak... bodyguard pribadi versi VIP."
Tika mengangguk setuju. "Dan Ziva-nya juga! Sejak kapan dia bisa setenang itu? Kalau Ziva yang dulu, mungkin dia udah nangis atau malah marah-marah nggak jelas. Ziva yang sekarang... dia kayak punya vibe yang beda. Lebih berkelas."
Liana tersenyum tipis. "Mungkin karena dia udah nemu orang yang tepat buat sandaran. Kak Aksa itu... dia nggak banyak omong, tapi tindakannya nyata."
Di sisi lain, masih di sekolah yang sama anggota Black Eagle yang tersisa—Kenan, Vino, Bram, dan Daren—berkumpul di balkon lantai dua, tempat favorit mereka untuk memantau situasi.
Vino menyandarkan punggungnya ke pagar besi, tangannya sibuk memainkan kunci motor. "Gue masih nggak habis pikir. Aksa sampe buka data internal bank? Itu anak beneran udah all-in buat Ziva."
"Aksa itu kalau udah tertarik sama satu hal, dia bakal teliti sampe ke akar-akarnya," sahut Kenan sambil menatap ke arah gedung perpustakaan di seberang lapangan. "Dulu dia tertarik sama arsitektur, dia hafal semua jenis struktur bangunan. Sekarang dia tertarik sama Ziva, dia hafal gimana cara ngelindungin cewek itu dari segala sisi."
Bram tertawa kecil. "Tapi kasihan juga si Abian. Dia pasti lagi overthinking di kampus. Bayangin, adek kesayangan lo dijagain sama singa dingin kayak Aksa. Mau marah tapi segan, mau diem tapi deg-degan."
"Daren, lo sepupunya Reygan, kan? Bokap lo nggak marah?" tanya Vino tiba-tiba pada Daren yang sedari tadi hanya diam.
Daren mengangkat bahu dengan santai. "Keluarga gue udah lama jaga jarak sama keluarga Reygan. Bisnis bokap dia emang udah bermasalah dari setahun lalu, cuma mereka pinter nutupin pake gaya hidup mewah. Apa yang Aksa buka tadi itu cuma puncak gunung es. Gue justru senang ada yang berani ngebuka boroknya sebelum makin banyak orang yang ketipu."
Kenan melirik jam tangannya. "Bentar lagi bel. Siapin mental lo semua. Mulai hari ini, siapa pun yang cari masalah sama Ziva, artinya cari masalah sama Aksa. Dan kalau cari masalah sama Aksa, artinya urusan sama kita juga."
"Siap, Kapten!" sahut Bram dan Vino serempak, meski nada mereka bercanda, ada keseriusan yang tersirat di mata mereka. Bagi Black Eagle, solidaritas adalah segalanya.
Kembali ke sisi Perpustakaan
Ziva sudah menghabiskan buah potongnya. Perutnya kenyang, dan suasana perpustakaan yang sejuk membuatnya benar-benar mengantuk. Ia melirik ke arah Aksa yang kini sedang fokus menggoreskan pensil di atas kertas sketsanya.
"Aksa..." panggil Ziva pelan.
"Hm?" Aksa menyahut tanpa mengalihkan pandangan.
"Kenapa lo lakuin ini semua? Maksud gue... lo bisa aja diem. Lo nggak perlu ngerusak reputasi lo dengan ikut campur drama remaja kayak gini."
Aksa menghentikan gerakan tangannya. Ia meletakkan pensilnya, lalu menatap Ziva tepat di mata. Tatapannya tidak lagi dingin, melainkan tenang dan dalam.
"Reputasi itu cuma persepsi orang. Gue nggak butuh itu," jawab Aksa. "Tapi gue butuh ketenangan. Dan ketenangan gue terganggu kalau liat lo terus-terusan diganggu sama orang yang bahkan nggak paham nilai lo sendiri."
Ziva terdiam. Kalimat itu terasa lebih manis daripada susu cokelat yang ia minum tadi.
"Nilai gue? Menurut lo, gue berharga?"
Aksa tidak langsung menjawab. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu yang kokoh, membiarkan keheningan perpustakaan membungkus mereka selama beberapa detik. Matanya yang tajam tidak berkedip, menatap Ziva seolah sedang membaca sebuah literatur yang jauh lebih menarik daripada ensiklopedia di belakang mereka.
"Banyak orang yang cuma liat sampul, Ziv," ucap Aksa rendah, suaranya parau namun stabil. "Reygan liat lo sebagai trofi. Abian liat lo sebagai adek yang perlu dikurung dalam lemari biar aman. Dan orang-orang di luar sana... mereka cuma liat lo sebagai pemeran pendukung di hidup Reygan."
Aksa menjeda kalimatnya, tangannya bergerak merapikan pensil-pensil di atas meja dengan presisi seorang arsitek.
"Tapi gue liat orang yang berani buang semua topeng itu cuma dalam semalam. Gue liat cewek yang lebih milih tidur di kelas daripada dengerin omong kosong orang lain, tapi bakal berdiri paling depan pas temennya dihina. Menurut lo, itu nggak berharga?"
Ziva terpaku. Ia merasa tenggorokannya mendadak kering. Kata-kata Aksa bukan rayuan gombal yang biasa ia baca di novel-novel roman picisan; itu adalah pengakuan objektif dari seseorang yang selama ini hanya berdiri di tepian, mengamati dengan teliti.
"Gue cuma... capek akting, Aks," bisik Ziva, mengalihkan pandangannya ke arah jendela besar yang menampilkan langit biru Jakarta. "Gue cuma pengen jadi Ziva yang nggak perlu ngejar siapa-siapa lagi."
"Dan itu versi terbaik lo," sahut Aksa cepat. "Versi yang bikin gue nggak keberatan buat nunggu di depan kelas lo cuma buat mastiin lo makan siang."
Ziva merasakan desir aneh di dadanya. Ia segera menelungkupkan kepalanya di atas meja, menyembunyikan wajahnya yang kini pasti sudah sewarna dengan sampul buku Biologi-nya. "Dah lah. Gue mau tidur. Jangan berisik."
Aksa hanya mendengus kecil, sebuah suara yang hampir menyerupai tawa tertahan. Ia kembali mengambil pensilnya, mulai memberikan bayangan pada sketsa wajah Ziva yang sedang terlelap di hadapannya.
Sementara itu, di koridor kelas XII, Kenan dan Vino sedang berjalan menuju loker mereka. Suasana masih terasa canggung setiap kali mereka berpapasan dengan murid lain.
"Lo liat nggak tadi si Daren?" tanya Vino sambil memasukkan buku paketnya ke loker. "Dia beneran nggak ada niat bantu sepupunya ya? Si Reygan kayak bener-bener dibuang dari sirkel keluarganya sendiri."
Kenan menyandarkan bahunya di pintu loker yang terbuka. "Keluarga mereka itu keras, Vin. Sekali lo bikin malu nama besar, lo dianggap cacat produksi. Reygan salah langkah karena dia pikir dia nggak tersentuh. Dia lupa kalau di atas langit masih ada Aksa."
"Tapi jujur ya, gue lebih ngeri liat Aksa yang mode 'peduli' kayak gini daripada Aksa yang mode 'dingin'," Vino merinding pelan. "Tadi pas dia ngelus pipi Ziva... anjir, gue rasa itu rekor dunia buat Aksa. Dia bahkan nggak pernah biarin Mami-nya nyubit pipinya sendiri kalau lagi gemes."
"Itu namanya insting protektif, bego," sahut Kenan sambil menjitak pelan kepala Vino.
"Aksa itu kayak blueprint. Dia nggak bakal naruh satu garis pun kalau itu nggak penting bagi struktur bangunannya. Dan sekarang, Ziva itu pondasinya."
Di kantin, Liana baru saja menyelesaikan baksonya. Ia merasa bebannya terangkat satu per satu, meski rasa waswas itu masih ada.
"Kak Manda," panggil Liana pelan.
"Apa?" Manda menyahut sambil sibuk memotret es teh manisnya untuk diunggah ke media sosial.
"Kira-kira... apa yang bakal terjadi sama Kak Ziva setelah ini? Maksudku, gosipnya pasti nggak bakal berhenti cuma hari ini."
Manda meletakkan ponselnya, menatap Liana dengan wajah serius—sebuah ekspresi langka bagi Manda yang biasanya ceria. "Li, dengerin gue. Di sekolah ini, lo punya dua pilihan: jadi mangsa, atau jadi yang ditakuti.
Ziva udah milih buat jadi yang nggak peduli, dan itu bikin dia nggak tersentuh. Apalagi sekarang ada Aksa. Gosip bakal tetep ada, tapi nggak bakal ada yang berani ngomong langsung di depan mukanya Ziva."
Tika mengangguk setuju. "Bener. Lo liat aja besok. Anak-anak yang tadinya mandang remeh lo sama Ziva pasti bakal mulai cari muka. Dunia emang se-palsu itu, Li. Tapi untungnya, kita punya sirkel yang nyata sekarang."
Liana tersenyum lebar, merasa benar-benar diterima. Ia menyadari bahwa keberaniannya membongkar rekaman Reygan bukan hanya menyelamatkan Ziva, tapi juga memerdekakan dirinya sendiri dari bayang-bayang ketakutan selama ini.
Di perpustakaan, Ziva benar-benar terlelap. Napasnya teratur, sedikit demi sedikit mengikis rasa lelah yang menghimpitnya sejak pagi. Aksa berhenti menggambar. Ia menatap Ziva cukup lama, lalu melepaskan jam tangan peraknya dan meletakkannya di atas meja agar suara detiknya tidak mengganggu tidur gadis itu.
Aksa berdiri sebentar, berjalan menuju rak buku di dekat mereka untuk mengambil sebuah selimut tipis—fasilitas perpustakaan yang biasanya hanya dipinjamkan pada murid yang sakit atau sedang piket malam di sekolah (perpustakaan ini memang punya jam operasional yang panjang).
Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Aksa menyampirkan selimut itu ke bahu Ziva.
"Tidur yang nyenyak, Ratu Mager," bisiknya sangat pelan.
Ia kembali duduk, menjaga jarak yang pas agar Ziva tidak merasa terganggu namun tetap dalam jangkauannya. Di luar sana, dunia mungkin masih berisik dan mendidih, tapi di pojok lantai dua perpustakaan ini, waktu seolah berhenti berputar hanya untuk memberikan ketenangan bagi mereka berdua.
lanjut ya thor... 🤧