"Layani aku, Pria tampan... aku terpengaruh obat." Shanum berjalan mendekat dengan langkah limbung, memojokkan seorang pria yang bahkan tidak berani menatap matanya.
"Siapa kamu, Nona?! Keluar dari sini, aku bukan pelayanmu!" Rasyid mundur hingga punggungnya membentur tembok. Ia adalah seorang Kyai muda yang baru saja kembali dari Mesir, namun malam ini, kesuciannya terancam oleh wanita asing yang aroma alkoholnya menusuk indra penciuman.
Satu malam yang salah membawa Shanum ke dalam pelukan lelaki yang paling tidak mungkin ia sentuh. Niat hati melarikan diri dari kejaran pria hidung belang di penginapan itu, Shanum justru terjebak di kamar Rasyid—permata keluarga pesantren yang kehormatannya tak bercela.
Pintu yang tak terkunci menjadi saksi bisu saat keluarga besar dan guru spiritual Rasyid memergoki mereka dalam posisi yang mematikan reputasi. Tak ada pilihan lain selain pernikahan siri. Rasyid terpaksa memeluk 'noda' dan Shanum terpaksa menelan hinaan di pesantren.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marlyn_2309 Lyna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sajadah di Antara Kita
Langit di atas desa meredup, menyisakan warna ungu pekat yang seolah sedang menghimpit atap rumah joglo baru milik Rasyid.
Di teras, lampu-lampu gantung bergaya klasik berpijar kuning, memantul di atas gelas-gelas kristal yang tertata rapi. Para tamu VIP—ustadz terkemuka, tokoh masyarakat, hingga kerabat jauh—duduk melingkar, menciptakan dengung percakapan yang terdengar sangat beradab.
Shanum bergerak di antara mereka dengan langkah yang dipaksa anggun. Ia mengenakan gamis hitam dengan aksen brokat di ujung lengan, serta kerudung instan yang sebenarnya terasa mencekik lehernya.
Tangannya yang memegang nampan gemetar halus, bukan hanya karena lelah, tapi karena ia bisa merasakan ratusan mata sedang menguliti setiap gerakannya, mencari celah untuk menghakimi.
Bibi Halimah, dengan senyum yang tidak pernah mencapai matanya, berdiri di dekat meja prasmanan.
Ia menatap Shanum seperti pemangsa menatap mangsa yang sudah masuk perangkap. Di tangannya, sebuah botol kecil berisi cairan ‘khusus’ telah ia siapkan.
“Shanum, sayang... kemari sebentar,” panggil Bibi Halimah, suaranya terdengar sangat lembut, seolah ia adalah bibi yang paling penyayang di dunia.
Shanum mendekat, sedikit terengah. “Iya, Bibi?”
“Kamu pucat sekali, Nak. Ini, minumlah jamu penyegar ini. Bibi sengaja menyiapkannya agar staminamu terjaga. Kamu tidak mau kan pingsan di depan ustadz-ustadz terhormat ini dan memalukan Rasyid?”
Shanum menatap gelas di tangan Bibi Halimah. Ada rasa haus yang luar biasa mencekat tenggorokannya.
Ditambah lagi, ini adalah pertama kalinya seseorang dari keluarga Rasyid bersikap seolah-olah peduli padanya. Tanpa kecurigaan, Shanum mengambil gelas itu dan meminumnya hingga tetes terakhir.
“Terima kasih, Bibi.”
“Sama-sama, Sayang. Habiskan ya,” bisik Halimah, bibirnya menyeringai saat Shanum berbalik membelakanginya.
Sepuluh menit kemudian, racun itu mulai bekerja.
Dunia di mata Shanum mendadak bergeser. Lampu-lampu gantung itu seolah menari, menciptakan ekor cahaya yang menyilaukan.
Rasa panas yang tak tertahankan merambat dari perut ke kepalanya, memicu denyut jantung yang liar. Kesadaran Shanum mulai menipis, digantikan oleh dorongan impulsif yang tak terkendali.
“Shanum? Kamu tidak apa-apa?” tanya seorang tamu ustadzah yang duduk di dekatnya.
Shanum menoleh, matanya merah dan sayu. Ia tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat tidak pantas di tengah majelis itu.
“Aku? Aku hebat! Aku... aku merasa seperti sedang berada di bawah lampu strobe lagi,” gumam Shanum, suaranya mulai meninggi.
Bibi Halimah melihat umpan itu mulai dimakan. Ia segera mendekat, namun bukannya menolong, ia justru menyenggol nampan yang dipegang Shanum hingga gelas-gelas di atasnya berdenting keras, menarik perhatian seluruh ruangan.
“Astagfirullah, Shanum! Kamu kenapa? Kok bicaranya ngawur begitu?” Bibi Halimah berteriak, suaranya sengaja dibuat cukup keras agar Rasyid yang berada di area pria menoleh.
Shanum mendengus, ia merasa terpojok dan panas. “Berhenti berteriak di telingaku, wanita tua!” bentak Shanum.
Ruangan itu seketika hening. Para ustadz dan ustadzah terperangah.
“Shanum! Jaga bicaramu!” Bibi Halimah memancing lagi, ia mendekatkan wajahnya ke telinga Shanum dan berbisik sangat rendah, hanya untuk didengar wanita itu, “Dasar pelacur murah. Kamu pikir pakai jilbab bisa menghapus bau busuk tubuhmu?”
Darah Shanum mendidih. Dalam pengaruh obat yang mengaburkan logikanya, ia tidak lagi peduli di mana ia berada. Ia mendorong bahu Bibi Halimah hingga wanita itu terhuyung.
“Tahu apa kamu soal busuk?!” raung Shanum, suaranya parau dan kasar. “Kalian semua ini munafik! Bajingan bersorban! Kalian menatapku seolah aku sampah, padahal otak kalian lebih kotor dari lantai klub malam tempatku bekerja! Pergi kalian semua! Bitch! Jangan sok suci di depanku!”
Umpatan itu keluar begitu saja. Kasar, kotor, dan menghujam tepat ke jantung harga diri pesantren.
Nyai Salamah, yang sejak tadi menahan malu, melangkah maju dengan wajah pucat pasi. Air matanya menetes, bukan karena sedih, tapi karena hinaan yang luar biasa. Tanpa sepatah kata pun, ia mengayunkan tangannya.
PLAK!
Suara tamparan itu bergema di seluruh joglo. Tubuh Shanum yang lemas tersungkur ke lantai kayu, kepalanya membentur kaki kursi.
“Cukup!” Nyai Salamah berteriak dengan suara bergetar. “Kamu benar-benar kotoran, Shanum! Kamu istri yang tidak pernah diinginkan! Kamu hanya benalu yang merusak nama baik anakku! Keluar kamu dari sini!”
Rasyid muncul di ambang pintu pemisah. Wajahnya yang biasanya teduh kini seputih kertas. Ia melihat istrinya tergeletak di lantai dengan rambut berantakan dan napas yang memburu, sementara para tamu menatapnya dengan tatapan jijik dan menghakimi.
“Kyai Rasyid... mohon maaf,” seorang ustadz senior berdiri, wajahnya penuh kekecewaan. “Sepertinya kami salah menilai. Martabat rumah ini sudah ternoda.”
Rasyid tidak membalas. Rahangnya mengunci rapat hingga otot lehernya menegang.
Ia melihat Bibi Halimah yang sedang berakting menangis, dan ia melihat Shanum yang menatapnya dengan tatapan kosong, menuntut pembelaan yang tak kunjung datang.
Rasyid menarik napas panjang, lalu membungkuk sedikit ke arah para tamu. “Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini,” ucapnya dengan nada dingin yang menusuk tulang. “Acara selesai. Saya mohon... tinggalkan rumah saya sekarang juga. Semuanya.”
Tanpa basa-basi, Rasyid mengusir mereka. Secara halus, namun aura kemarahannya membuat tak ada satu pun orang yang berani mendebat.
Setelah rumah sepi, Rasyid tidak mendekati Shanum. Ia hanya menatap wanita itu yang masih terisak di lantai, lalu berbalik pergi tanpa mengucapkan satu kata pun.
Shanum bangkit dengan sisa tenaganya, merangkak masuk ke kamar, dan mengunci pintu. Ia merasa dikhianati. Diamnya Rasyid tadi adalah konfirmasi paling menyakitkan; pria itu pun menganggapnya sampah.
Malam turun dengan kemarahan alam. Hujan lebat mengguyur, disertai angin kencang yang membuat pohon-pohon besar di sekitar rumah joglo itu merintih. Petir menyambar-nyambar dengan kilatan perak yang menakutkan.
Di dalam kamar yang gelap, Shanum meringkuk di bawah selimut. Tubuhnya menggigil, bukan hanya karena dingin, tapi karena trauma yang terpicu.
Setiap bunyi guntur mengingatkannya pada malam di hotel, pada tangan-tangan kasar yang hendak merenggut nyawanya.
Tok. Tok. Tok.
“Shanum... buka pintunya. Makanlah sedikit,” suara Rasyid terdengar dari balik pintu.
Shanum tidak menjawab. Ia justru menyembunyikan wajahnya di antara lutut. Ia benci suara itu. Suara yang tadi diam saat ia ditampar.
“Shanum, aku minta maaf atas kejadian tadi. Aku—“
“Pergi!” teriak Shanum dari dalam, suaranya serak karena terlalu banyak menangis. “Pergi kamu, Kyai suci! Jangan sentuh pintuku dengan tanganmu yang murni itu! Biarkan aku membusuk di sini!”
Hening kembali. Rasyid tidak lagi mengetuk, namun ia tidak pergi. Ia memanggil Zaki lewat ponsel, memintanya membawakan kunci cadangan. Ia tahu Shanum memiliki ketakutan luar biasa pada kegelapan dan suara keras.
Tiba-tiba, sebuah petir yang sangat dahsyat menyambar trafo listrik di dekat sana.
BLARRR!
Suaranya seperti ledakan bom. Seketika itu juga, seluruh rumah menjadi gelap gulita. Kegelapan murni yang menelan segalanya.
Shanum menjerit histeris. Ia melompat dari ranjang, kakinya tersandung karpet, namun ia tidak peduli. Ia membutuhkan sesuatu untuk dipegang.
Di saat yang sama, pintu kamar terbuka. Sesosok bayangan masuk dengan bantuan cahaya kilat yang sesaat.
Refleks, Shanum menerjang bayangan itu. Ia memeluk punggung pria itu dengan kekuatan yang luar biasa, menyembunyikan wajahnya di antara pundak Rasyid yang tegap.
“Tolong... jangan biarkan mereka mengambilku... jangan biarkan gelap ini memakanku,” raung Shanum, tubuhnya bergetar hebat. Isakannya pecah, menghujam punggung Rasyid yang masih kaku.
Rasyid terdiam. Ia bisa merasakan air mata Shanum yang panas menembus baju kokonya. Ia perlahan berlutut di atas sajadah yang sudah ia gelar di lantai depan kamar tadi, membiarkan Shanum tetap menempel di punggungnya seperti anak kecil yang ketakutan.
“Diamlah, Shanum,” bisik Rasyid. Suaranya rendah, bergetar oleh emosi yang ia tekan sendiri. Ia mulai melantunkan Ayat Kursi dengan nada yang sangat pelan, namun berwibawa.
Getaran suaranya merambat melalui punggungnya ke dada Shanum, seolah-olah doa itu sedang mencoba menenangkan detak jantung wanita itu yang liar.
Rasyid meraih tangan Shanum yang melingkar di dadanya, menggenggam jemari yang dingin itu dengan telapak tangannya yang hangat.
“Selama kamu berada di atas sajadahku, tidak akan ada satu orang pun yang boleh menghinamu lagi. Termasuk keluargaku,” bisik Rasyid di sela-sela zikirnya.
Di balik punggung Rasyid, Shanum terdiam sebentar. Ia menghirup aroma kayu gaharu yang menenangkan dari tubuh pria itu. Namun, di tengah kenyamanan yang tiba-tiba ini, sebuah pikiran pahit menyelinap di kepalanya.
Apakah dia sungguh-sungguh? Pikir Shanum dengan sisa kewaspadaannya. Atau ini hanya ucapan sesaat karena dia merasa kasihan? Besok, saat matahari terbit dan ibunya kembali datang dengan kata-kata tajam, apakah dia akan tetap berdiri di depanku? Ataukah punggung ini akan kembali dingin dan menjauh?
Rasyid terus merapal doa, namun Shanum merasa ada jarak yang tak terlihat di antara mereka. Sebuah tembok tinggi yang dibangun dari rasa malu, perbedaan kasta, dan rahasia-rahasia gelap yang belum terungkap.
Shanum memejamkan mata, mempererat pelukannya meski hatinya dipenuhi keraguan yang ambigu. Ia ingin percaya, namun dunia sudah terlalu sering menjatuhkannya tepat saat ia mulai berharap.
Di atas sajadah itu, di tengah badai yang mengamuk di luar, mereka berdua hanyalah dua jiwa yang sedang tersesat—yang satu berusaha menjadi pelindung, dan yang satu lagi terlalu takut untuk dilindungi.