NovelToon NovelToon
Suami Untuk Istri Ayahku

Suami Untuk Istri Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Andra Secret love

Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: GASLIGHTING

Dua hari setelah Maya menerima undangan ke Raja Ampat, langit Jakarta masih gelap ketika dia terbangun.

Di sampingnya, Ardi masih tidur meringkuk, wajah setengah tertutup bantal. Maya menatapnya sebentar, lalu bangun perlahan. Kakinya menyentuh lantai dingin. Untuk sesaat dia hanya duduk di tepi ranjang, mendengar detak jantungnya sendiri.

Ponselnya sudah bergetar sejak subuh.

Tiga pesan dari Sari.

Kak, aku sudah booking villa. Yang dekat pantai. Viewnya bagus banget!

Ardi belum tahu. Kamu nggak bilang kan?

Aku mau kasih kejutan hari ini. Doain ya.

Maya membaca, lalu mematikan layar. Tidak membalas.

Di kamar mandi, air dingin membasahi wajahnya. Di cermin, wanita yang sama seperti tiga tahun lalu. Tapi matanya kosong.

Ketika keluar, Ardi sudah duduk di ranjang, rambut berantakan, mata setengah terpejam.

“Kamu bangun sepagi ini?” suaranya serak.

“Tidak bisa tidur lagi.”

Ardi mengucek mata. “Ada yang mengganggumu?”

Maya duduk di meja rias, mulai menyisir rambut. Di cermin, Ardi berdiri di belakangnya.

“Maya. Kamu berbeda sejak ketemu Sari.”

Maya berhenti menyisir. Tangannya menggantung. “Aku hanya lelah.”

“Kau berbohong.” Ardi mencium pundaknya pelan. “Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu.”

Maya menatapnya lewat cermin. Untuk sesaat dia hampir jujur. Tapi kemudian dia ingat Sari yang tersenyum, yang bilang aku tahu aku bisa percaya sama Kakak.

“Sari masih berharap,” kata Maya akhirnya.

Ardi berhenti. Tangannya turun. “Apa maksudmu?”

“Dia pikir kalian hanya salah paham. Kalau diberi waktu, kau akan kembali.”

Ardi mundur selangkah. Wajahnya berubah, waspada. “Apa yang dia rencanakan?”

Maya menatapnya. Bilang. Tentang tiket. Tentang Raja Ampat.

Tapi yang keluar hanya, “Dia hanya ingin bicara denganmu.”

Ardi berjalan ke jendela, membuka tirai. Di taman, Yuni mulai menyiram tanaman.

“Aku tidak akan kembali. Aku sudah memilih.”

Maya tidak menjawab.

Ardi menoleh. Matanya gelisah. “Kau percaya aku, kan?”

Maya tersenyum. Senyum yang sudah dilatih. “Aku percaya.”

---

Pukul sembilan, Ardi sudah berpakaian rapi. Kemeja biru tua, celana abu-abu. Di meja makan, dia membaca ponsel, sesekali menyeruput kopi.

Maya duduk di seberang, hanya minum air putih.

“Kamu tidak makan?” tanya Ardi.

“Tidak lapar.”

Ardi menunjukkan layar. “Sari minta ketemu. Hari ini. Di kafe dekat kantor.”

“Kau akan pergi?”

“Harus. Aku harus selesaikan ini.”

Maya mengangguk. Di bawah meja, jarinya menggenggam ujung rok.

“Aku pergi sendiri. Kamu di rumah saja.”

Maya lega. Juga takut. “Kau yakin?”

“Yakin.” Ardi berdiri, meraih jaket. “Kalau aku bawa kamu, dia akan marah.”

Dia mencium kening Maya, lalu berjalan ke pintu.

“Ardi.” Maya memanggil.

Dia berhenti, menoleh.

“Apa yang akan kau katakan?”

Ardi diam sebentar. “Yang sebenarnya. Bahwa aku butuh waktu.”

Pintu tertutup.

---

Ardi tiba di kafe setengah jam kemudian.

Sari sudah duduk di meja dekat jendela. Blus putih, rambut tergerai, wajah segar. Senyumnya mengembang melihat Ardi masuk sendirian.

“Kamu datang.”

Ardi duduk di seberang. “Kamu minta ketemu.”

“Aku mau kasih kejutan.” Sari mengeluarkan ponsel, menunjukkan foto villa di Raja Ampat. “Aku sudah booking. Kita bisa pergi akhir bulan ini. Aku tahu kamu sibuk, tapi—”

“Sari.” Ardi memotong.

Sari berhenti.

“Kita tidak bisa pergi bersama.”

Sari menurunkan ponsel. “Kenapa? Kamu sibuk? Kita bisa cari waktu lain—”

“Bukan karena sibuk.” Ardi menatapnya. “Aku tidak bisa.”

Sari terdiam. Senyum perlahan memudar. “Kita belum pernah resmi putus. Kamu bingung? Ada masalah?”

Ardi menarik napas. “Aku bingung, Sari. Akhir-akhir ini aku merasa—aku tidak tahu. Ada yang salah dengan diriku.”

Sari mengerutkan dahi. “Maksudnya?”

“Tekanan kerja. Banyak pikiran. Aku jadi—jauh. Aku tahu aku berubah. Tapi aku tidak tahu kenapa.”

Sari menunduk, jari memainkan ujung taplak meja. “Aku nggak ngerti. Kamu selalu bilang semuanya baik-baik saja. Tapi kamu dingin. Menghindar. Aku pikir aku yang salah.”

“Bukan salahmu.” Suara Ardi pelan. “Aku yang—mungkin aku butuh waktu sendiri.”

“Waktu sendiri?” Sari mengangkat wajah. Matanya basah. “Maksudnya kita putus?”

“Aku tidak bilang putus. Aku hanya—aku butuh jeda. Supaya tidak semakin sakit.”

Sari menekan bibir. “Kamu yakin ini yang kamu mau?”

Ardi tidak menjawab. Tidak bisa.

Sari berdiri, kursi terdorong ke belakang. Beberapa pengunjung menoleh, tapi dia tidak peduli.

“Jangan ikuti aku.”

Dia berjalan cepat ke pintu. Bahunya bergetar. Pintu terbuka, lalu tertutup. Sari hilang di balik kaca.

Ardi duduk sendirian, menatap dua kopi yang belum tersentuh.

---

Satu jam kemudian, ponselnya bergetar.

Pesan dari Sari.

Maaf aku marah tadi. Aku cuma kaget. Aku nggak percaya kamu—maksudku, aku pikir kita baik-baik saja. Tapi mungkin kamu memang butuh waktu.

Ardi membaca, jari di atas kolom balasan.

Pesan lain masuk.

Maaf juga kalau aku terlalu memaksa. Kamu selalu sibuk, selalu ada alasan. Mungkin aku yang kurang perhatian. Mungkin aku yang terlalu banyak tuntutan.

Ardi mengetik: Bukan salahmu. Aku yang berubah. Mungkin karena tekanan kerja. Aku juga bingung.

Kamu bingung? Maksudnya kamu masih nggak yakin?

Entahlah. Aku butuh waktu.

Aku mau nunggu. Aku rela nunggu. Asal kamu janji nggak pergi jauh.

Ardi menatap layar, merasa jijik pada dirinya sendiri. Tapi tangannya tetap mengetik: Janji. Tapi jangan berharap banyak. Aku nggak mau nyakitin kamu.

Iya. Aku mengerti. Makasih kamu jujur. Aku sayang kamu, Di.

Ardi tidak membalas. Dia memasukkan ponsel ke saku, membayar kopi yang tidak diminum, lalu keluar.

---

Di dalam mobil, Ardi duduk lama tanpa menyalakan mesin.

Ponsel bergetar. Maya.

Gimana?

Selesai. Dia marah. Tapi akhirnya minta maaf.

Kenapa dia minta maaf?

Aku buat dia pikir ini kesalahannya. Biar dia berhenti curiga.

Maya tidak membalas. Titik tiga muncul sebentar, lalu hilang.

Ardi menyalakan mesin, melaju pulang. Di setiap lampu merah, dia memikirkan Sari yang menunduk, yang bilang aku rela nunggu. Dan Maya yang diam.

Di rumah, Ardi masuk lewat pintu samping. Maya tidak di ruang keluarga. Di lantai dua, pintu kamarnya tertutup.

Ardi berjalan ke ruang kerja, duduk di kursi, membuka laci. Jurnal. Buku catatan yang tidak pernah dia tunjukkan ke siapa pun.

Dia membuka halaman kosong, mengambil pulpen.

Hari ini aku membuat Sari minta maaf untuk kesalahan yang tidak dia lakukan. Aku membuat dia berpikir bahwa dia yang gagal, bahwa dia tidak cukup baik, bahwa jarak di antara kami karena dia terlalu memaksa.

Sari bilang dia sayang aku. Dia rela menunggu.

Dan aku membiarkannya.

Mungkin inilah aku sebenarnya. Bukan CEO muda yang percaya diri. Bukan anak yang mencari cinta ayah. Tapi monster yang menghancurkan semua orang yang mencintainya.

Dia menutup jurnal, memasukkannya kembali ke laci.

Di luar, hujan mulai turun. Gerimis tipis membasahi jendela.

Ardi menatap tangannya yang kosong. Untuk pertama kalinya, dia bertanya: apa bedanya dia dengan ayahnya? Sama-sama egois. Sama-sama lebih memilih kenyamanan sendiri. Sama-sama menghancurkan orang yang percaya padanya.

Ponsel bergetar. Maya.

Kamu di mana?

Ruang kerja.

Turun. Aku buat teh.

Ardi berdiri, berjalan ke pintu. Di lorong, dia berhenti di depan cermin. Wajah pucat, mata sembab.

Monster, bisiknya dalam hati.

Dia menarik napas panjang, lalu menuruni tangga.

---

Di ruang keluarga, Maya sudah duduk di sofa. Dua cangkir teh hangat di atas meja. Dia tersenyum ketika melihat Ardi turun. Senyum yang sama seperti dulu.

“Kamu kelihatan lelah.”

“Aku lelah.”

Maya menepuk sofa. Ardi duduk di sampingnya, mengambil cangkir teh. Hangat, tapi tidak cukup menghangatkan.

“Sari bagaimana?” tanya Maya.

“Dia minta maaf.”

“Karena?”

“Karena dia pikir ini salahnya.”

Maya menatap Ardi. “Apa ini salahnya?”

Ardi tidak menjawab.

Maya meraih tangannya, menggenggam pelan. “Kau tidak perlu menjawab. Aku hanya ingin tahu, apa ini akan terus terjadi? Kita berbohong ke Sari, ke Bram, ke semua orang. Kapan berhenti?”

“Aku tidak tahu.”

“Kita tidak bisa terus begini.”

“Aku tahu.”

Maya melepaskan tangannya, meraih cangkirnya sendiri. Di luar, hujan semakin deras.

“Aku takut,” katanya pelan.

“Takut apa?”

“Takut suatu hari kita sadar ini semua kesalahan. Tapi sudah terlambat untuk kembali.”

Ardi tidak menjawab. Karena dia sudah merasakannya. Setiap kali melihat Sari, setiap kali melihat Bram, setiap kali menatap Maya, dia bertanya: apakah ini cinta, atau hanya ketakutan akan kesepian?

Tapi dia terlalu takut untuk menemukan jawabannya.

Petir menyambar. Maya bergerak mendekat, membiarkan bahunya bersandar di lengan Ardi. Mereka duduk seperti itu, dalam keheningan yang tidak lagi nyaman.

Ponsel Ardi bergetar di saku. Dia tidak membacanya. Di dalam hatinya, dia sudah tahu isinya. Sari, yang minta maaf untuk kesalahan yang tidak dia lakukan.

Dan Ardi membiarkannya.

1
Ida nyoman Subagia
🙏
Ida nyoman Subagia
👍👍
Ida nyoman Subagia
😍😍
andra screet love
oke ,apa ada yang berani seperrti ardi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!