NovelToon NovelToon
Dendam Flora

Dendam Flora

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sayong

Flora, putri sulung keluarga Amor, kehilangan ibunya saat usianya baru 17 tahun—sebuah luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Kepergiannya ke luar negeri untuk kuliah menjadi pelarian, hingga tanpa ia sadari, hidupnya berubah.
Di sana, ia bertemu seorang pria yang membuatnya bisa melupakan kesedihan nya.

Namun kedua nya hanyalah hubungan Tampa status.lebih tepat nya keduanya hanya teman tidur saja.mereka tidak tahu identitas masing masing.
hubungan mereka berakhir dengan damai.
Flora kembali ke tanah air, bersiap mengambil alih perusahaan peninggalan ibunya. Tapi hidup tak pernah sesederhana rencana. Ayahnya telah menikah lagi, dan dunia yang ia tinggalkan kini terasa asing.
Di sisi lain, pria yang pernah mengisi malam-malamnya—Evan—terpaksa menerima perjodohan demi kepentingan politik keluarga.
Keduanya melangkah ke masa depan masing-masing… tanpa tahu bahwa takdir belum selesai mempermainkan mereka.
Karena ketika rahasia mulai terungkap, dan masa lalu kembali .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali Memimpin

Di ruang kerja yang luas dan sunyi, Evan duduk di balik mejanya.Wajahnya dingin seperti biasa.

Di depannya, Joy berdiri tegap sambil memegang tablet.“Saya sudah menyelidiki Nona Flora, Tuan,” ucapnya profesional.

Evan tidak langsung menanggapi.

“Lanjutkan.”

Joy mengangguk.“Nona Flora meninggalkan Indonesia setelah ibunya meninggal dunia,” jelasnya.

“Setelah itu, beliau tinggal di luar negeri hingga menyelesaikan pendidikannya.”

Evan tetap diam.Namun jemarinya yang semula tenang… kini sedikit berhenti.

“Setelah lulus,” lanjut Joy, “Nona Flora kembali ke Indonesia dan langsung mengambil alih perusahaan peninggalan ibunya.”

Joy menatap layar tablet sebentar.“Dan hanya dalam waktu dua tahun… Nona Flora berhasil membawa perusahaan tersebut berkembang pesat.”

Evan mengangkat sedikit alisnya.Namun tidak berkata apa-apa.

“Setelah itu, Nona Flora kembali ke luar negeri dengan alasan bisnis,” lanjut Joy.“Dan… di sanalah Tuan bertemu dengannya.”

Hening sejenak.

"Kemudian nona Flora mengetahui ayah nya menikah lagi dan sangat kecewa.dia memtuskan untuk tinggal di luar negri."

Tatapan Evan perlahan berubah."Apakah Kamu ingat pertemuan ku dengan nya?"

Joy mengangguk.“Pertemuan pertama Anda terjadi di laut.”

Evan sedikit menyipitkan mata.Ia mengingat dengan dengan sangat jelas.

“Saat itu,” lanjut Joy, “Anda mengira Nona Flora akan bunuh diri.”

“Karena beliau terus berjalan semakin dalam ke laut… hingga akhirnya menenggelamkan dirinya.”

Ruangan menjadi sunyi.Evan bersandar pelan.Bayangan itu kembali muncul.

Air laut.Tubuh Flora yang perlahan tenggelam.Dan dirinya yang tanpa berpikir panjang langsung berenang menyelamatkannya.

“Setelah itu… hubungan Tuan Dengan nya menjadi dekat.”

Evan tertawa kecil.Namun tawa itu dingin.

“Dekat?” ulangnya sinis.

Joy terdiam sejenak, lalu melanjutkan.

“Nona Flora saat itu mengatakan bahwa ia hanya sedang berlibur… dan tidak ingin kembali ke tempat asalnya.itulah alasan mengapa beliau akhirnya tinggal bersama Anda di apartemen.”

Evan menatap meja di depannya.

Diam tak berekspresi.Namun pikirannya… mulai menyusun semuanya.

Joy melanjutkan dengan hati-hati.“Tuan tidak pernah mencari tahu keberadaan Nona Flora saat beliau tidak berada di apartemen.” “Karena Anda mengira… Nona hanya pergi menghabiskan waktu.”

Menghabiskan uang.Yang ia berikan.

“Namun berdasarkan hasil penyelidikan…” suara Joy sedikit lebih pelan,“Nona Flora sebenarnya pergi untuk urusan bisnis.”

Ada keheningan Beberapa detik.Lalu—Evan tertawa.Sinis.“Jadi selama ini…” gumamnya, “aku yang terlihat seperti orang bodoh.”

Joy langsung menunduk.“Maaf, Tuan.”

Namun Evan mengangkat tangannya sedikit.

Menghentikan.“Tidak perlu.”Ia bersandar ke kursinya.Tatapannya kosong ke depan.

Namun pikirannya bergejolak.

“Tapi…” lanjutnya pelan, “aku juga tidak bisa menyalahkannya.”

Joy sedikit terkejut.Evan tersenyum tipis.

Namun senyum itu… dingin.“Kami memang tidak pernah bertanya apa-apa.”

“Tidak pernah peduli.”

“Tidak pernah ingin tahu.”

Tatapannya sedikit menggelap.“Hanya dua orang… yang saling memanfaatkan.”

Evan terdiam sejenak.Lalu menutup matanya.

“ Menurut mu apakah semua itu hanya kebetulan atau memang sudah direncanakan?"

Joy merasa bingung.memang agak mencurigakan.tapi bisa juga kebetulan.tapi jika memang itu rencana Nona Flora.betapa liciknya itu.

Joy merasa merinding memikirkannya.

"Awasi terus.juga cari tahu juga tentang kedekatannya dengan Garvin."

Garvin demi Flora hidup menyendiri bertahun bertahun.apakah Flora juga menunggunya.

Di ruang keluarga, suasana terasa berat.

Agnes duduk di sofa dengan wajah pucat. Matanya sedikit merah, jelas ia baru saja menangis.

Di sampingnya, Nadira mengusap punggungnya dengan lembut.

“Sudah, Agnes…” ucapnya pelan. “Ini hanya ditunda, bukan dibatalkan.”

Namun Agnes menggeleng pelan.

“Ditunda atau tidak… semua orang sudah melihatnya,.” suaranya bergetar. “Aku dipermalukan di depan semua tamu.”

Tangannya mengepal di atas pangkuannya.

“Aku pasti jadi bahan tertawaan mereka sekarang…”

Nadira menatapnya penuh iba.

“Tidak ada yang akan berani menertawakan mu,” ucapnya tegas. “Kamu tetap putri keluarga Amor.”

Lemos yang berdiri tak jauh dari mereka ikut berbicara.

“Benar,” katanya serius. “Pertunangan ini menyangkut dua perusahaan besar.”

Tatapannya tajam.

“Tidak mungkin dibatalkan.”

Agnes menatap ayahnya.

“Benarkah… Evan akan tetap menikah denganku?” tanyanya pelan.

Lemos mengangguk mantap.

“Pasti.”

Namun sebelum suasana sempat mereda—

suara langkah kaki terdengar.

Semua menoleh.

Flora masuk dengan langkah tenang.

Wajahnya datar seperti biasa.

Seolah kejadian besar malam itu… tidak ada hubungannya dengannya.

Tatapan Lemos langsung berubah.

Kesal.

“Dari mana saja kamu baru muncul?” tanyanya tajam.

Suasana langsung menegang.

Flora berhenti.

Menatap ayahnya dengan tenang.

“Keluar sebentar.”

Jawabannya singkat.

Lemos menghela napas kasar.

“Pertunangan adikmu gagal,” lanjutnya dengan nada menekan.

Flora mengangkat alis sedikit.

“Gagal?” ulangnya ringan.

Ia melirik ke arah Agnes yang masih duduk dengan wajah muram.

Lalu kembali menatap Lemos.

“Oh" ada sedikit keterkejutan Dimata nya.dia tidak tahu ada kejadian tak terduga itu.tapi kenapa? Bukankah Pertunangan ini sangat penting baginya?

Kalimat itu terdengar santai.

Namun justru membuat suasana semakin panas.

Agnes langsung menatap Flora.

Ada kilatan emosi di matanya.

Sementara Nadira memperhatikan Flora dengan diam, mencoba membaca sikapnya.

Lemos menatap Flora tajam.

“Ini bukan hal yang bisa kamu anggap enteng,” ucapnya tegas.

Flora tersenyum tipis.

Namun senyum itu… tidak mencapai matanya.

“Aku tidak menganggapnya enteng,” balasnya tenang.

Ia melangkah sedikit mendekat.

Tatapannya lurus.

“Lagipula… ini bukan urusanku, bukan?”

Kalimat itu membuat Agnes langsung menegang.

“Kak Apa maksudmu? Pertunangan ini juga demi perusahaan” tanya Agnes, nada suaranya mulai berubah.

Flora menoleh padanya.

Tatapannya dingin.

“Sejak kapan perusahan Amor di bangun dengan menjual seseorang.”

Ia berhenti sejenak.

Lalu menambahkan dengan santai—

“Lagipula itu Pertunangan mu."

Hening.

Namun kalimat itu terasa seperti tamparan.

Lemos langsung mengeraskan suara.

“Flora!”

Namun Flora tidak terlihat terganggu.

Ia hanya menatap mereka sebentar.

Lalu berbalik.

“Kalau tidak ada yang penting,” ucapnya datar, “aku akan beristirahat.”

Langkahnya tenang saat meninggalkan ruangan.

Meninggalkan suasana yang semakin tegang.

Agnes menggigit bibirnya.

Matanya memerah lagi.

“Pah…” suaranya pelan, namun penuh emosi.

Nadira menatap ke arah tangga.

Matanya menyipit sedikit.

Sementara Lemos hanya berdiri diam.

Namun ekspresinya jelas tidak senang.

Pagi hari.

Flora sudah bersiap untuk berangkat ke kantor.

Hari ini… adalah hari pertamanya kembali bekerja setelah sekian lama.

Udara pagi terasa segar saat ia keluar dari rumah.

Namun yang menarik ia tidak memilih mobil mewah.

Melainkan sebuah motor elit.

Gaya yang sederhana.

Namun tetap berkelas.

Berbeda jauh dengan Agnes yang selalu tampil glamor, lengkap dengan mobil mewah pemberian Lemos.

Flora melaju dengan tenang.

Beberapa saat kemudian, ia tiba di gedung perusahaannya.

Suasana kantor terlihat seperti biasa—tenang, profesional. Karyawan berlalu-lalang dengan rapi, sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Begitu Flora masuk semua perhatian langsung tertuju padanya.

1
Himna Mohamad
lanjut kk,,ceritanya bagus👍👍👍👍👍
Laar Ani
cerita hebat
Fulayah Haddad
Good , keren & menarik alur ceritanya bagus
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!