NovelToon NovelToon
Malam Jadi Istri Siang Jadi Pacar

Malam Jadi Istri Siang Jadi Pacar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikahmuda / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Duluan Aja

Audrea Dena Prasella, siswi yang terkenal sebagai ratu bully sekolah sekaligus pacar ketua geng motor ternama, suatu hari melakukan kesalahan fatal setelah merundung seorang siswi pindahan yang ternyata adalah adik dari pemilik sekolah yang baru.

Grerant Alvaro Yubel, CEO muda tampan yang baru sebulan membeli sekolah itu, ternyata mengetahui rahasia besar Dena yang selama ini terus ditutupinya, dan karena kasus Dena yang telah merundung adiknya. Alvaro memberinya pilihan mengejutkan: menikah diam-diam dengannya, atau identitas rahasianya terbongkar?

Dena tak menyangka satu kesalahan bisa membuat hidupnya jadi semakin rumit. Di saat ia harus menjalani peran sebagai istri sah Alvaro demi menjaga rahasianya. Sementara Dyo Artha—pacarnya, selama ini hanya memanfaatkanya.

Dan di antara dua rahasia besar itu, manakah yang akan lebih dulu terbongkar... status Dena sebagai istri rahasia sang CEO, atau sifat Dyo sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duluan Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mau Jenguk

Tok! Tok!

Ketika ketukan di pintu yang semula pelan kian terdengar tegas dan keras. Dena sontak membeku dengan napas nyaris tercekat.

Lalu dengan langkah pelan serta jari-jemarinya yang gemetaran, tangan Dena terulur gugup memutar gagang pintu itu perlahan-lahan.

Ceklek!

Pintu akhirnya terbuka lebar.

Dan Alvaro berdiri tegap di sebaliknya, dengan setelan kemeja hitam yang bagian lengan atasnya tergulung rapi.

Di detik itu juga nyali Dena langsung ciut.

Terlebih lagi ketika laki-laki itu menatapnya dengan sorot mata yang tampak begitu tajam, namun menyimpan kilau jahil samar yang sukar ditebak.

Tak lama, pandangannya mulai turun perlahan. Menelusuri sosok Dena di hadapannya, dengan tubuhnya telah terbalut jubah sutra putih seperti yang ia inginkan.

Seketika itu juga alisnya terangkat tipis, seolah-olah terkejut melihat penampilan istrinya malam itu.

"Pakaian ini..." ujarnya pelan, bersandar pada kusen pintu.

"Sengaja lo pakai untuk malam pertama kita?" tanya Alvaro lalu tersenyum tipis.

"Lo inisiatif juga ya?" tambahnya, sok-sokan tidak tahu.

Dalam sekejap, wajah Dena langsung memerah padam seperti berat menahan malu.

Lalu, gadis itu cepat-cepat menarik ujung rumbai jubah tipisnya, seperti berusaha menutup tubuhnya lebih rapat.

"Inisiatif apa sih, Om!" dengus Dena kemudian.

"I—Ini kan Om sendiri yang mau, bukan saya!" protesnya setengah gugup sembari berpaling, seolah enggan bertatap langsung dengan wajah Alvaro yang menjengkelkan.

Alvaro kontan menyeringai, rasanya seperti ingin tiba-tiba tertawa. Namun, laki-laki itu masih mampu menahan rasa itu.

"Gue?" Alvaro menatap Dena lekat-lekat, kemudian melenggang pelan masuk ke kamar.

Hingga langkahnya terhenti di sisi tembok kamar yang terdapat jendela kaca berukuran besar.

Alvaro lalu memandang ke luar.

"Kata siapa itu kemauan gue?" tanyanya kemudian.

Dena spontan menoleh, maniknya menatap kesal ke arah Alvaro sekarang.

"Kata Mbak pelayan," jawabnya.

"Berarti bukan gue kan?"

Sialan!

Saat itu juga Dena langsung terlonjak dongkol, lalu mendekat cepat ke arah Alvaro dengan wajah membesengut.

"Saya serius, Om!"

Lalu Dena mencengkram kasar jubah itu.

"Jadi, ini bukan atas kemauan Om?" tanyanya merasa malu sendiri, bahkan rasanya seperti menyesal telah mengenakan pakaian itu di depan Alvaro.

Alvaro tertawa pelan, sambil tangannya terulur pada seutas tali kepang berwarna putih samping jendela.

"Kalau pun iya... memangnya kenapa?" ujarnya santai sambil perlahan-lahan menutup tirai. "Lo keberatan?" tandas Alvaro menoleh sinis.

Dena mengangguk langsung. "Pakai nanya! Memangnya Om pikir saya mau memakai pakaian seperti ini!"

"Jadi lo keberatan?"

"Ya iyalah!"

Alvaro membalik badan seketika, lalu mendekat ke arah Dena dengan langkah teramat pelan, namun mampu membuat Dena perlahan-lahan mundur tanpa sadar.

"Om mau apa?" tanyanya gusar, menelan ludahnya cukup kasar.

Alvaro tidak menjawab, laki-laki itu tetap mendekat.

Dena jadi tercekat, seraya mempercepat langkah mundurnya agar tetap berjarak dengan Alvaro.

Dug!

Namun, punggung Dena malah tertahan oleh pintu yang ia pikir masih jauh di belakang, sementara Alvaro semakin dekat.

Dengan kesadaran penuh, Dena sontak menarik gagang pintu.

Glek!

Glek!

Namun, pintunya justru sudah terkunci entah sejak kapan.

"Pintunya terkunci ya?" Alvaro tersenyum menyeringai sembari mengangkat kuncinya di genggaman tangan.

Sial! Setelah gagal membuka pintu, Dena jadi semakin tercekat. Terlebih lagi saat Alvaro telah berdiri tepat di hadapannya, laki-laki itu seperti ingin menerkamnya saja.

Tapi Dena tidak menyerah begitu saja, lalu perlahan ia sedikit bergeser ke samping. Agaknya ingin mencoba cara kabur lain.

Sayangnya lengan Alvaro sudah lebih dulu menahan bahunya. Bahkan tidak hanya satu, tapi dua-duanya sekaligus.

"Om! Plis, jangan macem-macem!" dengus Dena ketakutan setengah mati.

Alvaro menatapnya tajam. "Sekali lagi gue tanya!"

"Lo merasa keberatan memakai jubah sutra ini?" tanyanya sembari tetap mencengkeram kuat bahu Dena, menjadikan gadis itu tidak bisa bergerak ke mana-mana.

"I—Iya," jawabnya gugup. "Selain keberatan, saya juga malu memakai jubah ini di depan, Om!"

Alvaro menatapnya kian sinis. "Malu yang berarti tidak mau memakainya?"

Dena refleks mengangguk, tanpa sadar ia justru sudah terjebak dalam permainan kata Alvaro.

Alvaro mendekatkan wajahnya, sedekat satu jengkal dari wajah Dena. Menatapnya kian tajam, seperti persis hendak menerkam.

"Kalau begitu ... lepas jubah sutra ini dari tubuh lo!" pintanya mendadak bengis, menatap Dena pun semakin sinis.

Dena spontan mendelik, hatinya seperti tiba-tiba menggelinjang. "Lepas?"

"Itu yang lo mau kan?" tekan Alvaro.

Ucapan itu membuat Dena membisu, ketika gadis itu mulai sadar ia sengaja dijebak atas perkataannya sendiri.

Namun, melepas jubah sutra itu tepat di depan wajah Alvaro, mustahil untuk ia lakukan, meski Alvaro adalah suaminya.

Tapi? Ia yang terjepit di antara kedua lengan kekar Alvaro, menjadikannya bingung harus berbuat apa selain diam dan pasrah. Sementara Alvaro jelas menikmati reaksi Dena yang menurutnya sangat menggemaskan.

"Atau ... gue aja yang melepasnya?" godanya sambil pelan, dua jemarinya menjepit ikatan seutas tali yang melingkar di perut Dena.

Gadis itu mendadak tegang.

"Om! Plis, saya jangan diapa-apain!"

"Saya mohon..." Sial, tanpa sadar Dena malah memohon dengan nada mencicit, pasrah di depan suaminya yang kelewat jahil.

Hal itu membuat Alvaro semakin tersenyum gemas—jemarinya bergerak pelan.

"Gue tarik ya?"

Di detik itu juga Dena spontan menjerit, sambil memejamkan kedua bola mata gelisah kian pasrah. "Jangan—"

Sret!

Terdengar suara gesekan lembut kain, tapi Dena tidak merasakan adanya sesuatu yang berubah di tubuhnya. Talinya pun tidak terasa terlepas. Aneh.

Dena spontan melek, lalu menatap bingung ke arah suaminya.

"Eh?"

"Nggak jadi dilepas, Om?" tanyanya.

"Nggak usah ge-er!" cibir Alvaro yang justru malah mengencangkan tali itu, bukannya melepas.

"Siapa juga yang pengen ngelepasin. Lagian gue juga nggak minat lihat bocah kayak lo telanjang!" imbuhnya dengan nada meledek.

Mendengar itu pipi Dena langsung merona, lalu memandang ke arah perutnya yang ternyata seutas tali itu masih terikat kencang.

Dena lantas melotot menatap Alvaro, lalu memukul-mukul lengan suaminya yang kelakuannya ada-ada saja.

"Hih! Dasar Om-Om tua!" dengus Dena.

"Udah deg-degan, taunya malah dikencangkan!" gerundelnya sambil manyun-manyun, tapi lega juga tidak jadi ditelanjangi suaminya.

"Oh."

"Jadi mau dilepas aja," goda Alvaro

"Jangan!" dengus Dena sambil membekap tali itu dengan kedua tangannya.

Alvaro langsung tertawa gemas.

...***...

Tak terasa sudah hampir setengah jam lamanya Dena berada di dalam kamar itu dengan Alvaro. Dari yang awalnya saling beradu mulut, kini berakhir dengan saling ngotot-ngototan berebut kasur.

Ya, selayaknya malam pertama pasangan pengantin baru yang tidak benar-benar ingin menikmati malam itu, terutama untuk urusan tidur sekasur.

"Om tega nyuruh saya tidur di sofa?" Dena berkacak pinggang di sebelah ranjang, dengan wajah teramat membesengut menatap suaminya.

Ketika laki-laki itu justru sudah lebih dulu merebahkan diri, di atas ranjang empuk bertabur bunga-bunga mawar.

Dena jadi kesal, saat seharusnya itu lebih cocok untuk dijadikan tempat tidurnya sebab perempuan.

"Enggak," jawab Alvaro santai, sambil tubuhnya terlentang di tengah-tengah ranjang itu.

Dena memutar kedua bola matanya jengah. "Kalau enggak, kenapa Om nyuruh saya tidur di sofa?!"

"Memangnya gue nyuruh?"

"Eh?" Dena tertegun.

Sial! Alvaro tidak salah, memang laki-laki itu tidak pernah menyuruhnya untuk tidur di sofa. Bahkan, Dena justru sadar, keinginan untuk tidur di sofa muncul dari dalam benaknya sendiri, gara-gara Alvaro sudah lebih dulu menguasai ranjang.

"Ya enggak sih." Dena menghela napas berat.

"Yaudah, jangan bawel!" balas Alvaro.

"Tapi, dengan Om yang sudah tiduran di situ. Itu sama halnya Om menyuruh saya tidur di sana!" sergah Dena sembari melirik ke arah sofa itu.

"Terus?"

"Ya saya nggak mau lah! Saya kan perempuan. Sebagai laki-laki Om seharusnya ngalah dong!" sungut Dena.

Alvaro cuek, dan malah laki-laki itu berpura-pura tidur sambil membelakangi Dena.

Dena jadi keki.

"Hih! Om!"

"Hm?"

"Cepet bangun!"

"Gue belum tidur, nggak usah dibangunin!" dengus Alvaro.

"Ck! Maksudnya bangun untuk berdiri, terus pindah ke sofa!" decak Dena.

Alvaro menghela napas panjang, dan dengan terpaksa ia pun beranjak bangun.

Lalu duduk di tepian ranjang, tepat di hadapan Dena yang masih cemberut.

"Lo tinggal tidur doang apa susahnya sih?" gemasnya pada Dena.

"Kenapa perkara tidur doang harus dipermasalahin!" ujarnya geram.

"Ya iyalah! Kalau Om nggak mau perkara tidur saja saya permasalahkan. Makanya Om pindah dari kasur, terus tidur di sofa sana!" sergah Dena.

Alvaro mendelik. "Ini kasur gue, udah bertahun-tahun juga gue tidur di sini! Gue nggak mau pindah! Enak aja!" tolaknya mentah-mentah.

"Terus saya tidur dimana, Om? Saya kan capek, ngantuk, butuh tempat yang nyaman buat istirahat!" gerundel Dena manyun.

"Terserah, lo mau tidur dimana aja juga bebas. Tapi, kalau lo pingin tidur di tempat yang nyaman, ya sini di sebelah gue!" kata Alvaro.

"Di sebelah Om? Dih!" Dena langsung mencebik. "Kalau saya nggak mau?"

"Nggak mau ya udah, lo tidur aja di sofa," balas Alvaro.

Dena menghela napas lebih panjang sekarang. "Ya udah! Kalau Om memang tega, saya tidur di sofa aja!"

Alvaro tidak peduli, ia hanya diam menatap istrinya yang sedang melangkah ke arah sofa sambil cemberut. Membuat Alvaro refleks tersenyum.

"Kenapa senyum-senyum! Seneng liat istri sendiri tertindas?" dengus Dena.

"Puas liat istri sendiri ngalah ke suami?" imbuhnya geram sambil perlahan merebahkan diri di atas sofa.

"Berisik lo!" sergah Alvaro.

"Iya lah! Namanya juga sedang ditindas! Mana mungkin saya diam!" balas Dena.

Drrt! Drrt!

Ketika Dena masih ngomel-ngomel, ponsel butut yang tergeletak di atas meja nakas bergetar-getar mendapat panggilan—itu ponsel Dena.

Lantas Alvaro sontak meliriknya, begitu pun dengan Dena yang baru sadar, ponselnya ternyata tertinggal.

"HP lo ada telpon tuh!" kata Alvaro. "Ambil!"

"Ambilin, Om..." cicit Dena saat rasanya sudah teramat malas untuk kembali melangkah.

"Ambil sendiri!" tolak Alvaro.

"Hih, mager Om! Jauh... tangan saya nggak sampai," keluhnya.

"Yaudah, nggak usah dijawab!"

"Hih! Dari siapa sih, Om?" tanya Dena takutnya itu panggilan penting.

Alvaro mengambil ponsel Dena untuk ia lihat nama siapa yang tersemat di layar.

"Pacar lo kayaknya," jawab Alvaro, asal. Padahal di layarnya tersemat nama 'Andriana Rola' jelas saja itu adalah nama seorang perempuan.

Dena menyerngit, "Pacar saya? Dyo?"

Alvaro justru tersenyum jahil.

"Iya. Gue jawab aja ya," godanya.

Dena spontan mendelik. "Jangan!" pekiknya langsung, lalu buru-buru beranjak bangun untuk merebut ponsel itu dari tangan Alvaro.

"Sini HP saya!" pintanya.

Dan begitu ponselnya sudah didapat, ternyata itu panggilan dari Rola

"Ini Rola Om! Bukan pacar saya!" Dena mendadak geram karena gara-gara Alvaro berbohong, ia terpaksa berdiri padahal lagi malas-malasnya.

"Oh, gue kira dia pacar lo."

Dena mendengus. "Memangnya Andriana Rola, itu nama cowok?"

Alvaro cekikikan.

...***...

"Iya Rol, kenapa?" Dena menjawab telepon agak menjauh dari Alvaro, cemas suara tawa suaminya itu terdengar.

Dari seberang udara Rola mendengus. "Lo lagi apa sih Den? Lama banget ketimbang ngangkat telepon doang?"

Dena nyengir kikuk. "Maaf, barusan gue lagi berak," sahutnya.

"Ada apa nelpon?"

Terdengar helaan napas panjang dari sana. "Ya apalagi kalau bukan mau nanyain kabar lo!"

"Kata Eca lo sakit," ujarnya.

Dena refleks menoleh, menatap suaminya yang memperhatikan dengan seksama, lalu Dena membelakangi laki-laki itu.

"Iya, tapi udah agak mendingan kok," jawabnya pelan.

"Bener?"

"Iyaa, paling besok gue berangkat," kata Dena nyaris seperti bisikan.

"Oh gitu. Em, ya udah, tunggu ya. Sebentar lagi gue, Mimi, Eca sampai kok," sahut Rola tak lama.

Dena mengerinyit bingung. "Sampai?"

"Memangnya lo bertiga mau kemana?" tanyanya. Jujur, di detik yang sama pun Dena mulai curiga. Jangan-jangan?

"Ck! Kok kemana?" decak Rola dari seberang sana.

"Ya ke kos lo, lah. Kita kan mau jenguk," ujar Rola tegas.

Deg!

Dalam sekejap, jantung Dena serasa jatuh ke dasar jurang.

"Hah?!" pekiknya spontan, lalu buru-buru menutup mulutnya sendiri saat ia baru sadar telah berteriak cukup kencang.

Alvaro mengerinyit dari atas ranjang. "Kenapa?" bisiknya curiga.

Dena mengibaskan tangan, memberi isyarat agar suaminya itu diam dulu.

"Jenguk?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!