NovelToon NovelToon
Toko Lorong Waktu

Toko Lorong Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Mata Batin
Popularitas:981
Nilai: 5
Nama Author: ANGWARUL MUJAHADAH

Di sebuah kota modern, ada sebuah toko antik yang hanya muncul saat hujan deras. Pemiliknya bukan manusia, dan barang yang ia jual bukan benda mati, melainkan "waktu" yang hilang dari masa lalu pembelinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misi Kyai Sepuh

Aris melangkah masuk ke dalam ruang kayu Kyai sepuh dengan jantung yang berdegup tidak seperti biasanya. Ia merasa jam tangan perak di pergelangan tangannya terasa lebih dingin dari biasanya, seolah benda itu tahu bahwa rahasia yang ia simpan sedang berada di ujung tanduk.

Begitu pintu berderit tertutup, Kyai sepuh yang sedang duduk bersila di atas sajadah tidak langsung membalikkan badan. Beliau hanya menunjuk ke arah bantal duduk di hadapannya.

"Duduklah, Aris," ucap Kyai sepuh dengan nada yang tenang, namun tidak bisa disembunyikan ada wibawa yang membuat Aris merasa kecil.

Aris duduk dengan takzim. Keheningan berlangsung cukup lama, hanya suara jangkrik di luar jendela yang mengisi ruang. Kyai sepuh kemudian berbalik. Beliau tidak menatap mata Aris, melainkan menatap tepat ke arah pergelangan tangan Aris yang tersembunyi di balik lengan bajunya.

"Api itu dingin, bukan?" tanya Kyai sepuh tiba-tiba. Pertanyaannya singkat, namun seolah menghantam ulu hati Aris. "Dan penyesalan di sana lebih berat daripada gunung manapun di dunia ini."

Aris tercekat. Napasnya tercekat di tenggorokan. Ia tidak perlu bertanya bagaimana Kyai bisa tahu; mata batin sang Kyai sepuh telah menembus apa yang bahkan tidak bisa dilihat oleh mata telanjang.

"Maafkan saya, Kyai," suara Aris bergetar, ia tidak bisa lagi menyembunyikan kenyataan. "Saya tidak bermaksud melampaui batas. Saya hanya..."

Kyai sepuh mengangkat tangan, menghentikan kalimat Aris. Beliau tersenyum tipis—senyum yang penuh dengan kasih sayang, bukan murka. "Aku tidak memanggilmu untuk menghukum. Aku memanggil karena aku tahu beban itu kini menjadi milikmu. Kau mencoba memikul neraka dengan jam tangan itu, tanpa menyadari bahwa neraka sebenarnya bukan tempat untuk ditonton, melainkan untuk dihindari dengan amal, bukan dengan penglihatan."

Kyai sepuh kemudian beranjak mengambil sebuah kotak kecil di sampingnya. Beliau membukanya, memperlihatkan sebuah buku catatan tua yang sudah menguning.

"Aris, kau punya kemampuan yang menyiksa, tapi kau juga punya kesempatan untuk menebusnya. Aku tahu Putri juga melihatnya. Dia kini sedang dalam pergulatan batin yang hebat," Kyai sepuh menatap Aris dalam-dalam. "Aku memberikanmu tugas ini bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai penawar. Di desa sebelah, ada sebuah keluarga yang dirundung fitnah dan perselisihan yang hampir menghancurkan hidup mereka. Mereka sudah tidak lagi percaya pada jalan kebaikan."

Kyai itu menyodorkan catatan itu kepada Aris.

"Pergilah ke sana. Selesaikan masalah mereka dengan cara manusia, dengan kelembutan, dan dengan hikmah. Selesaikan dengan tanganmu sendiri, dengan hatimu sendiri. Jika kau berhasil memadamkan api kebencian di sana, barulah kau bisa menyebut dirimu telah benar-benar 'kembali'."

Aris menerima buku itu dengan tangan gemetar. Ia sadar, Kyai sepuh sedang mengujinya. Jika ia menggunakan jam itu untuk melihat masa depan keluarga tersebut atau mencari tahu rahasia mereka, ia akan gagal dalam ujian kedewasaannya.

"Tapi Kyai," Aris bertanya dengan suara lirih, "bagaimana dengan Putri? Apa Dldia masih terbayang-bayang..."

"Biarkan dia menempuh jalannya sendiri," potong Kyai sepuh. "Rahasia itu kini menjadi jangkar bagimu, Aris. Jangan biarkan ia menyeret mu ke dasar, gunakanlah untuk menstabilkan perahu hidupmu."

Aris keluar dari ruangan itu dengan beban yang berbeda. Jam tangan di tangannya masih ada, rahasia itu masih ia simpan, namun sekarang ia memiliki misi yang nyata.

*

Perjalanan ke desa sebelah dimulai. Aris melangkah ke dalam masalah nyata yang penuh dengan emosi manusia yang kompleks.

Aris tiba di desa sebelah saat matahari hampir terbenam, menyisakan warna jingga yang getir di balik bukit. Keluarga yang dimaksud Kyai adalah keluarga Pak Salim, seorang mantan tokoh agama setempat yang kini dikucilkan seluruh desa karena fitnah keji: ia dituduh mencuri dana pembangunan masjid.

Kenyataan di lapangan jauh lebih kelam dari yang Aris bayangkan. Rumah Pak Salim hancur berantakan karena dilempari batu oleh warga yang murka. Di dalam rumah yang nyaris tanpa dinding itu, Aris menemukan Pak Salim tergeletak lemah, sementara istrinya menangis sesenggukan di sudut ruangan, mencoba menenangkan anak mereka yang masih kecil dalam ketakutan.

Aris mendekat, mencoba menyapa dengan lembut. Namun, Pak Salim tidak melihat Aris sebagai penolong. Ia menatap Aris dengan mata yang penuh kebencian dan keputusasaan—tatapan yang sama dengan orang-orang yang pernah Aris lihat di dimensi neraka.

"Pergi!" teriak Pak Salim serak. "Kalian semua sama saja! Mau menghina saya? Mau menertawakan kehancuran saya?"

Aris terdiam. Di saku lengannya, jam perak itu bergetar hebat. Ia tahu, hanya dengan satu sentuhan, ia bisa melihat masa depan keluarga ini. Ia bisa tahu siapa sebenarnya yang mencuri dana itu. Ia bisa melihat dalang di balik fitnah ini dalam hitungan detik. Itu akan menyelesaikan masalah, menyelamatkan Pak Salim, dan mengembalikan nama baiknya.

Godaan itu menyiksa. Jemarinya gemetar hebat di balik kain lengan bajunya. Cukup tekan tombol itu, Aris. Selesaikan semuanya sekarang.

"Saya hanya ingin membantu, Pak," ujar Aris pelan, mengabaikan getaran jam di pergelangan tangannya.

"Tidak ada yang bisa membantu!" sahut istri Pak Salim dengan tangis yang pecah. "Besok, anak kami akan dikeluarkan dari sekolah. Kami tidak punya apa-apa lagi. Kami lebih baik mati daripada hidup menanggung aib ini!"

Malam itu, Aris tidak tidur. Ia duduk di teras rumah yang reyot, ditemani suara jangkrik dan kesunyian yang memekakkan telinga. Ia berjuang melawan dirinya sendiri. Ia tahu siapa pencurinya—itu adalah kepala desa yang selama ini terlihat paling "suci". Jika ia mengungkapnya sekarang, ia akan menjadi pahlawan. Tapi itu berarti ia menggunakan kekuatan yang sudah ia janjikan untuk tidak disentuh.

Tiba-tiba, ia mendengar suara gaduh dari arah dapur. Aris berlari masuk dan mendapati istri Pak Salim sedang memegang sebilah pisau, menatap suaminya yang terbaring pasrah. "Pak, kita tidak kuat lagi. Lebih baik kita pergi sekarang... sebelum besok pagi orang-orang datang untuk menghabisi kita."

Aris terbelalak. Ia harus bertindak. Tanpa pikir panjang, ia melompat masuk ke tengah ruangan. Pisau itu terlepas, namun tangan Aris ter iris tajam saat mencoba menahannya. Darah segar menetes ke lantai kayu.

Melihat darah itu, Pak Salim yang tadinya kehilangan akal sehat, tiba-tiba mematung. Ia menatap Aris—pemuda asing yang rela terluka demi orang yang tidak ia kenal.

"Kenapa..." suara Pak Salim parau, "Kenapa kamu melakukan ini untuk orang asing yang sudah dianggap sampah?"

Aris menahan rasa perih di tangannya. Ia menatap Pak Salim, lalu dengan tenang, ia membuka lengan bajunya. Ia memperlihatkan jam perak itu, namun ia tidak menggunakannya. Ia meletakkan benda terkutuk itu di lantai kayu di hadapan Pak Salim.

"Ini adalah beban yang hampir menghancurkan hidup saya, Pak," bisik Aris. "Saya punya kekuatan untuk melihat siapa yang menjebak Bapak dalam satu detik saja. Tapi saya tidak akan menggunakannya. Karena keadilan yang sejati tidak datang dari mata yang melihat masa depan, tapi dari kesabaran kita menjalani hari ini."

Pak Salim menatap jam itu, lalu menatap Aris dengan mata yang mulai basah. "Kamu... kamu tahu siapa pelakunya?"

"Ya," jawab Aris jujur. "Tapi saya akan membuktikan kebenarannya dengan cara saya sendiri—cara manusia. Bukan dengan sihir atau alat ini."

Saat itulah, suara teriakan warga terdengar dari luar. Mereka datang dengan obor, ingin membakar rumah itu karena merasa Pak Salim tidak pantas tinggal di desa itu lagi. Aris berdiri, menatap kerumunan yang marah di luar. Ia tahu ini saatnya. Ia harus menghadapi kerumunan itu tanpa melihat masa depan, tanpa jaminan menang, dan tanpa bantuan alat apa pun.

Aris melangkah keluar, menghadapi api dan kebencian massa sendirian, sementara di dalam rumah, Pak Salim dan istrinya hanya bisa berdoa, menunggu keajaiban dari seorang pemuda yang baru saja menyerahkan satu-satunya senjata terkuatnya demi martabat manusia.

1
Adi Rbg
berguna banyak pelajaran tentang hidup!
SANTRI MBELING: makasih kak
total 2 replies
Ariasa Sinta
bahasan nya udah berat ya, meskipun q kurang ngerti sama istilah²nya v lanjutkan saja, penasaran
Ariasa Sinta
hmmm...
sesuatu yg berlebihan itu tidak baik, meskipun dengan niat untuk menolong ..
SANTRI MBELING: ia kak. makasih
total 1 replies
SANTRI MBELING
makasih kak 👍👍👍👍🙏🙏😍😍
Ariasa Sinta
aku kasih kopi thor biar semangat update nya 💪
SANTRI MBELING: jangan lupa baca yang novel saya yg cinta zaenab
total 2 replies
Ariasa Sinta
banyak bgt kata2 d kepala ku thor buat komen tapi q bingung ngerangkai nya,
andai waktu bisa di putar ....
ah sudahlah
Ariasa Sinta
aduhhh banyak wow nya ini
Ariasa Sinta
aku merinding loh ...
Ariasa Sinta
aku mampir thor,
baru bab 1 z udah menarik ini bikin penasaran, lanjut thor
SANTRI MBELING: makasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!