Xavero Ravindra—pria yang pernah diremehkan oleh keluarga mantan istrinya. Dipandang rendah karena status, diabaikan seolah tak punya nilai.
Namun di balik diamnya, ia menyimpan keteguhan yang tak mudah dipatahkan. ia tidak membalas dengan kata-kata. Ia memilih bangkit... dan membuktikan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak terlihat
“Jadi kamu sudah resmi bercerai dari Xavero?”
Liora mengangguk pelan. “Iya, Pa,” jawabnya dengan nada santai.
Suasana meja makan pagi itu terasa tenang, tetapi bukan hangat.
Hanya ada denting sendok kecil, suara gelas yang sesekali diletakkan, dan tatapan-tatapan yang menyimpan banyak hal.
Yuliana menatap Liora dengan ekspresi masih setengah tidak percaya.
“Jadi, benar-benar sudah selesai?” tanyanya lagi, memastikan.
Liora mengangguk santai sambil menyeruput teh hangatnya.
“Iya, Mah. Sudah resmi.”
Ardian yang duduk di seberang hanya tersenyum tipis, seolah itu bukan hal besar.
“Berani juga anak itu,” ucap Yuliana lagi, kali ini nadanya sedikit meremehkan. “Menceraikan kamu begitu saja.”
Layla tertawa pelan, menyandarkan punggungnya di kursi.
“Biarin saja, Mah. Toh di sini juga gak ada tempatnya.”
Ucapan itu membuat suasana sempat hening satu detik.
Tapi tidak ada yang membantah.
Liora hanya tersenyum kecil, seperti setuju tanpa perlu banyak kata.
“Lagi pula, pernikahan Liora dan Xavero dari awal cuma karena paksaan orang-orang itu. Padahal mereka sendiri tidak punya urusan apa pun.” sambung Layla.
Ardian mengangguk pelan. “Memang seharusnya dia sadar diri. Di rumah ini, tidak ada tempat untuknya."
Yuliana menatap Liora lagi.
“Tapi kamu gak apa-apa, Li?” tanyanya, kali ini lebih lembut.
Liora meletakkan sendoknya pelan, lalu bersandar santai di kursi.
“Apa yang harus aku khawatirkan?” jawabnya ringan. “Dia sudah pergi.”
Kalimat itu terdengar biasa saja, tapi justru di situ dinginnya terasa.
Seolah Xavero memang tidak pernah punya arti apa pun sejak awal.
Layla tersenyum puas.
“Bagus. Hidupmu jadi lebih bersih sekarang.”
Ardian menambahkan, “Dan lebih sesuai dengan posisimu.”
Liora hanya mengangguk pelan.
Tidak ada rasa kehilangan.
Tidak ada penyesalan.
Hanya ketenangan yang terlalu rapi, untuk sesuatu yang baru saja berakhir.
“Masalah Liora ini tidak boleh sampai terdengar ke publik.” ucap Bima dengan nada tegas.
“Harus itu, Pah. Aku tidak mau orang di luar sana tahu bahwa aku pernah menikah,” balas Liora.
“Tenang saja, Dek. Kakak yang akan mengatur semuanya. Pernikahanmu tidak akan pernah tercium media,” ucap Ardian.
Bima mengangguk pelan, wajahnya tetap serius tanpa sedikit pun perubahan emosi.
“Bagus. Itu harus dijaga,” ucapnya tegas. “Nama keluarga Mahendra tidak boleh terseret dalam urusan seperti ini.”
Yuliana menambahkan, “Benar. Apalagi sampai jadi bahan pembicaraan orang luar.”
Layla tersenyum tipis, seolah semuanya memang sudah seharusnya seperti itu.
“Tenang saja, Pah, Mah. Urusan Xavero itu gampang dilupakan. Dia bukan siapa-siapa.”
Ucapan itu membuat meja kembali hening sesaat.
Liora hanya duduk santai, memainkan ujung cangkir tehnya dengan tenang.
Seolah nama “Xavero” memang tidak pernah punya tempat dalam hidupnya.
Ardian kemudian bersandar di kursinya, melipat tangan di dada.
“Semua dokumen sudah aku urus. Tidak ada jejak yang tersisa di sistem keluarga maupun perusahaan.”
Bima mengangguk puas.
“Bagus.”
Yuliana menatap Liora lagi, kali ini lebih lembut.
“Saat ini kamu fokus pada Arga saja. Dia jauh lebih pantas untukmu.”
Liora mengangguk setuju, tersenyum puas. “Iya, Mah.”
“Arga Wijaya memang cocok untuk kamu, Dek. Dia selevel dengan kita,” tambah Layla.
Bima meletakkan sendoknya perlahan, lalu menyeka sudut bibirnya dengan tisu. Gerakannya tenang, tapi suaranya tetap tegas saat berbicara.
“Hubunganmu dengan Arga Wijaya membuat perusahaan Mahendra semakin kuat.”
Ia menatap Liora sekilas.
“Dia punya pengaruh, koneksi, dan posisi yang jelas. Itu jauh lebih menguntungkan dibanding, masa lalu kamu.”
Kalimat terakhir itu tidak perlu disebutkan siapa, tapi semua yang duduk di meja tahu maksudnya.
Yuliana mengangguk pelan, setuju.
“Setidaknya kali ini kamu memilih orang yang tepat.”
Layla tersenyum kecil, puas.
“Daripada membuang waktu dengan orang yang bahkan tidak setara sejak awal.”
Liora hanya diam sejenak.
Lalu mengangguk ringan.
“Iya,” jawabnya datar. “Arga jauh lebih sesuai.”
Tidak ada ragu.
Tidak ada bayangan masa lalu yang tersisa di wajahnya.
Seolah keputusan itu bukan sebuah peralihan hati, tapi hanya perpindahan posisi yang lebih menguntungkan.
Ardian menyandarkan diri lagi, kali ini terlihat lebih santai.
“Bagus. Jangan sampai ada kesalahan lagi seperti sebelumnya.”
Bima mengangguk.
“Dan pastikan nama Mahendra tetap bersih.”
Yuliana tersenyum tipis ke arah Liora.
“Kamu sekarang sudah di jalan yang benar, Li.”
Liora menunduk sedikit, lalu tersenyum kecil.
“Iya, Mah.”
Tanpa mereka sadari, seseorang yang tidak jauh dari meja makan telah mendengar seluruh percakapan itu.
“Liora sudah menikah?” gumamnya pelan.
Ia menatap keluarga Mahendra dengan ekspresi datar, lalu tersenyum miring penuh makna. “Berani juga mereka.”
Tanpa menimbulkan suara berarti, ia berbalik dan meninggalkan tempat itu. Langkahnya tenang, namun jelas menyimpan emosi yang tertahan.
Ia kemudian masuk kembali ke dalam mobilnya.
“Jalan,” pintanya singkat.
“Ada apa, Tuan? Kenapa Anda cepat kembali?” tanya sang asisten sambil menyalakan mesin mobil yang mulai meninggalkan area kediaman Mahendra.
“Nanti saya jelaskan,” jawabnya singkat, matanya tetap menatap lurus ke depan dengan sorot yang sulit ditebak.