Berawal dari niatan membantu sang kekasih mencari uang tambahan melamar, Alina justru harus kehilangan kehormatannya.
Ya, gadis itu terlalu mencintai kekasihnya. Sampai-sampai ia rela ikut menanggung beban yang harusnya bukan menjadi tanggung jawabnya. Sebuah pengorbanan untuk pria yang salah, yang atas kuasa Tuhan justru membawanya menemukan cinta yang benar.
Apa yang terjadi padanya?
Baca selengkapnya hingga selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aldiantt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Jalan-jalan Pagi
Pagi menjelang. Alarm di ponsel Vincent berdering.
04:30.
Vincent mendudukkan tubuhnya. Menguap sembari merentangkan kedua tangannya guna meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku. Laki-laki itu diam sejenak, mengucek matanya, bengong, menunggu serpihan-serpihan kesadarannya berkumpul kembali ke raganya. Tak lama ia kemudian bangkit dari ranjang itu, membasuh muka, dan keluar dari kamarnya.
Pria itu tiba di dapur. Dilihatnya Alina di sana dengan kaos dan celana pendek selutut nampak berdiri membelakanginya. Ia menghadap meja dapur seraya merapikan rambutnya. Mengumpulkan helai demi helai rambut itu menggunakan kedua tangannya, lalu memeluknya ke atas dan menjepitnya menggunakan jedai yang semula ia gigit.
Vincent terdiam untuk beberapa saat. Laki-laki itu mengangkat dagunya. Kulit leher putih mulus berhias anak rambut yang halus seolah terlihat sangat menggoda di matanya. Saliva tertelan dengan kasar tanpa ia sadari. Objek itu nampak begitu memikat untuknya yang tak lain adalah seorang laki-laki normal. Sudah lama ia tak melihat pemandangan seperti ini semenjak hubungannya dengan Alicia retak.
"Kamu baru bangun?"
Suara lembut itu berhasil memudarkan lamunan sang Vincent Louis Oliver. Pria itu berdehem guna menetralkan ekspresinya.
"Mau dibuatkan kopi?" tanya wanita hamil itu. Selayaknya tamu yang numpang hidup di rumah orang, sebisa mungkin ia menghormati si empunya rumah.
"Ya," jawab laki-laki itu.
Alina tersenyum simpul. Ia kemudian berbalik badan dan mulai membuatkan kopi untuk Vincent. Ia masih sangat ingat takaran kopi yang pas sesuai kesukaan pria itu. Namun ketika ia hendak menuangkan gula, tiba-tiba...
Seeett...
Seonggok tubuh tinggi besar tiba-tiba menempel ke tubuh Alina dari belakang. Alina terjingkat. Nafas kasarnya tersentak. Sesuatu yang dapat dirasakan langsung oleh sang pemilik tubuh tinggi besar, Vincent. Bahkan suara degup jantung Alina pun seolah mampu ia baca.
Laki-laki itu merapatkan tubuhnya. Membuat Alina terhimpit diantara Vincent dan meja dapur. Vincent tak bersuara. Diam-diam ia memperhatikan wajah tegang itu. Cukup dekat. Sangat jelas. Bahkan keduanya mampu menghirup aroma tubuh satu sama lain.
Laki-laki itu mengangkat satu sudut bibirnya. Satu tangannya bertumpu di meja dapur, lengannya bersentuhan langsung dengan lengan Alina yang masih dingin bekas air mandi. Sedangkan satu tangan lainnya terulur, membuka lemari dapur dan mengambil roti tawar dari dalam sana.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Vincent pelan, seperti berbisik. Jarak yang dekat membuat Alina mampu merasakan aroma nafas pria itu.
Alina tak menjawab. Ia hanya mengangguk. Vincent kembali mengangkat satu sudut bibirnya.
"Tenangkan dirimu. Aku hanya ingin mengambil roti. Aku takut jantungmu copot saking tegangnya berdekatan denganku," ucap pria itu yang kemudian berlalu menjauh dari Alina.
Alina membuang nafasnya lega. Sedangkan Vincent nampak menahan senyum sembari melangkah menuju meja makan. Alina menggelengkan kepalanya samar. Mencoba menepis pikiran pikiran tak jelas yang selalu muncul tiap kali berdekatan dengan laki-laki itu.
Kopi selesai dibuat. Alina mengantarnya ke meja makan. "Silahkan," ucapnya.
Vincent menyodorkan satu roti tawar dengan selai coklat. "Makanlah! Setelah ini kita turun!"
"Turun?"
"Aku ingin mengajakmu keluar untuk jalan jalan pagi. Kau juga butuh olah raga," ucapnya.
Alina mengangguk. Ia menarik sebuah kursi lalu duduk disana dan mulai menyantap roti tawar itu. Ya, semenjak hamil ia jarang makan nasi. Lebih sering roti atau makan lauk saja tanpa nasi.
Sarapan pagi pun selesai. Vincent lantas mengajak ibu hamil itu untuk turun, keluar dari apartemen itu menuju taman kota yang berada tak jauh dari tempat tinggal mereka dengan berjalan santai. Melemaskan kaki, berolah raga untuk menambah kebugaran Alina yang tengah hamil muda.
Alina tersenyum. Sebuah senyuman yang terlihat kalem. Akhirnya, setelah satu bulan ia terkurung di dalam apartemen itu, kini ia bisa menghirup udara segar. Udara pagi saat matahari masih malu-malu menampakkan diri. Sudah lama ia tak menikmati udara pagi di luar rumah. Meskipun tak se-sejuk udara di kampungnya, tapi itu lebih baik dibandingkan terus-terusan berada di ruangan mewah milik Vincent.
"Kau suka?" tanya Vincent.
Alina menoleh.
"Tiga minggu di kurung di apartemen rasanya sangat bosan. Biasanya saya cuma bisa lihat pemandangan luar dari balkon. Saya udah lama nggak jalan-jalan keluar begini! Terimakasih," ucap Alina.
Vincent mengangkat satu sudut bibirnya.
"Kau boleh sering-sering jalan pagi begini. Udara pagi baik untuk ibu hamil," ucapnya. "Kapan-kapan kau bisa ajak Bi Siti jika kau ingin keluar jalan-jalan."
Alina hanya tersenyum. "Bi Siti hanya datang seminggu sekali."
Vincent tak menjawab. Keduanya pun lantas melanjutkan perjalanan mereka menuju beberapa stand makanan yang berada di sana. Setelah membeli beberapa makanan, keduanya lantas duduk di rerumputan. Alina meluruskan kakinya, membuka botol air mineral itu lalu menenggaknya.
Vincent yang berada di sampingnya menatap ke arah mall besar yang berada di seberang jalan.
"Kalau butuh sesuatu, bilang padaku. Aku akan mengajakmu kesana nanti," ucapnya seraya menunjuk ke arah mall itu menggunakan dagunya.
"Semua keperluanku sudah kamu belikan waktu itu, kan?" jawab wanita itu.
Keduanya diam untuk beberapa saat.
"Capek?" tanya Vincent kemudian.
Alina menggelengkan kepalanya seraya menutup botol itu.
Suasana hening lagi.
"Bagaimana kabar orang tuamu?" tanya Vincent yang sukses membuat Alina diam. Ia menoleh ke arah laki-laki itu.
"Kenapa?" tanyanya.
"Enggak. Cuma tanya aja. Bukankah setahuku kau anak tunggal. Perempuan pula. Apa kau tidak rindu dengan mereka?" tanya Vincent. iya memang sedikit banyak tahu tentang Alina lantaran ia sempat bertanya pada Murni, pembantunya di rumah.
Alinatersenyum tipis, lalu kembali menatap ke depan.
"Nggak tahu," ucapnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Kau belum pernah menghubunginya?" tanya Vincent lagi. Alina menggelengkan kepalanya lagi tanpa mengucap jawaban.
Vincent menghela nafas panjang. "Jadi, enaknya gimana?"
Alina menoleh. "Apanya?"
"Aku sudah berjanji akan membantumu memberikan penjelasan pada kedua orang tuamu dan pacarmu."
Alina tersenyum getir. "Aku bahkan nggak yakin apa mereka masih mau melihat wajah saya atau tidak," ucapnya.
"Bapak bahkan bilang bahwa aku bukan putrinya lagi."
Alina menarik nafas panjang. "Nggak usah lah! Nggak usah dijelaskan. Mereka semua sudah membuangku. Kalau memang kamu mau bertanggungjawab atas apa yang kamu perbuat, setelah anak ini lahir, kasih aku pekerjaan dan tempat tinggal. Tetap di kota ini. Dan jangan jauh-jauh dari kamu. Soal anak ini nantinya hidup dengan siapa, itu urusan nanti. Setidaknya, kamu masih memberi akses untuk akj bertemu dengan dia."
Vincent tak menjawab. Raut sedih terlihat dari wajah Alina. Ya, wanita ini sudah putus asa. Ia hidup hanya untuk melanjutkan apa yang seharusnya dilanjutkan. Ia memilih tidak bunuh diri Karena tak mau menambah dosa. Ditambah lagi ada satu nyawa dalam perutnya yang masih berhak untuk hidup dan berbahagia.
Sedangkan untuk dirinya, sudahlah. Ia tak mengejar apapun lagi. Ia tak mengharapkan apapun. Kalaupun kelak ia mati saat melahirkan bayinya pun ia ikhlas. Ia sudah tak punya semangat hidup. Ia sudah jenuh. Ia menyerah. Ia memilih untuk kalah.
"Aku pastikan aku akan menepati janjiku, Alina," ucap Vincent sembari menatap langit yang cerah.
"Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku. Asal kau patuh dengan perjanjian yang sudah kita buat. Rawat janin itu, dan menurut lah padaku. Maka aku akan menjamin kehidupanmu hingga anak itu lahir."
Alina tak menjawab. Ia sudah hafal perjanjian itu. Ia hanya diam. Toh ia juga tak punya pilihan lain selain menurut.