NovelToon NovelToon
Cintai Aku Sekali Lagi

Cintai Aku Sekali Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu / Berbaikan
Popularitas:21.5k
Nilai: 5
Nama Author: moon

WARNING! Sebelum mulai membaca, tolong baca tagar dahulu. Karena di sini area bebas JULID, dilarang mengomel hanya karena keinginan Anda tak sejalan dengan pemikiran Author.



Cinta itu menuntun dirinya untuk membuat keputusan paling kejam, memilih satu diantara dua wanita. Di antara tangis dan perih dua wanita yang lain, ia tetap mempertahankan wanita yang ia cinta.


Setelah keinginan diraih, takdir kembali lancang menuliskan jalannya tanpa permisi. Sekali lagi ia kehilangan, tapi kali ini untuk selamanya.


Terombang ambing dalam amarah, serta sempat menjauh dari-Nya. Tapi sepasang tangan kecil tetap meraih dirinya penuh cinta, tulus tanpa berharap imbalan jasa.


Apakah tangan kecil itu mampu menuntun Firza kembali ke jalan-Nya?


Lantas bagaimana dengan dua wanita yang pernah disakiti olehnya?


Mampukah Firza memantapkan hatinya pada cinta yang selama ini terabai oleh keegoisannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#21

#21

“Ya? Please?” 

Resha semakin memohon, sejak awal berpacaran, hingga lama waktu berlalu mereka menjalin hubungan, ia ingin sekali menyerahkan dirinya untuk Firza, tapi pria itu dengan teguh menolak ajakannya. Kini keinginan Resha semakin kuat, selain karena rasa ingin, Resha punya misi menghapus jejak Ersha dari ingatan Firza. 

Di telinga Firza, bisikan Resha begitu menggoda, semakin sempurna dengan suasana rumah yang sepi. Karena orang tua Resha baru saja mengabari jika Tuan dan Nyonya Yu dan akan menginap di rumah kerabat mereka setelah sembahyang bersama. Kesempurnaan yang membuat Resha sangat bahagia karenanya. 

Tapi, ketika nalar nyaris tak berfungsi dan dan hawa nafsu menyelubungi kewarasan. Sesuatu tak terduga terjadi, suara tangis Abizar tiba-tiba menggema di telinga Firza, hingga detik itu juga mampu mengembalikan nalar dan kewarasan Firza. 

“Astaghfirullah.” Firza menjauh, dan tanpa sadar mendorong tubuh Resha hingga tubuh wanita itu bergeser ke ujung sofa. 

Resha terperangah sekaligus geram karenanya, “Gagal lagi,” dengusnya dalam hati. 

“Aku rasa kau sudah paham bagaimana aku, jadi tolong mengertilah, aku tak ingin kita berbuat lebih jauh, sebelum ada ikatan pernikahan,” kata Firza, meski deru nafasnya jelas tak baik-baik saja. Karena cinta tak seharusnya mengalahkan logika dan kewarasan. 

“Maaf, seharusnya aku tak terburu-buru,” kata Resha dengan ekspresi wajah memelas penuh penyesalan. Jauh berlawanan dengan hatinya yang meradang kecewa, karena gagal melancarkan aksinya. 

“Aku pulang dulu,” pamit Firza, dengan langkah pasti, pria itu meninggalkan apartemen Kedua orang tua Resha. 

“Firza— Fir—” 

Percuma Resha memanggil, karena pria itu tak lagi menoleh, hingga tubuhnya menghilang di balik pintu yang tertutup. 

Resha mengepalkan tangannya, frustasi karena niatnya belum terlaksana, padahal ia ingin sekali menjebak Firza agar Bersedia menikahinya dengan segera demi status anak, tanpa perlu dirinya berpindah keyakinan. 

Bugh! 

Kepalan tangan Resha membentur sandaran sofa, “Padahal sedikit lagi berhasil, kenapa, sih, dia harus menolak. Katanya cinta,” gerutunya tanpa alasan jelas. Karena sejak awal sudah mengenal tabiat Firza. 

Resha tak menyadari bahwa saingan terberatnya saat ini bukan Ersha, atau keteguhan niat Firza. Melainkan kepolosan Abizar, ya, bocah itu memang masih polos dan suci pikiran serta hatinya, karena sang maha segalanya sedang menjaganya. Hingga dia mampu menjaga sang Ayah dari salah satu perbuatan yang dibenci Allah. 

Sementara itu, Firza yang sudah berada di mobilnya kembali, ia membuka karpet yang menutupi dashboard, ada foto Abizar bersama Ersha di sana. 

Ada begitu banyak hal ingin diungkapkannya pada istri dan anaknya, tapi Firza bingung hendak mulai darimana. Kini keadaan bertambah runyam, permasalahan semakin pelik, sementara Firza tak mungkin lagi memundurkan niat dan langkahnya. 

Firza menyalakan ponselnya, kemudian menghubungi Miranda. 

“Hmm, ada apa?” Dengan malas Miranda menjawab panggilan Firza. 

“Besok, aku tak akan datang ke persidangan,” jawab Firza, wajahnya menelungkup di bundaran setir mobilnya. 

“Kenapa? Apa karena kamu sudah muak melihat wanita sebaik Ersha?” tuding Miranda. 

“Bukan, tapi aku—”

“Apa? Takut menyakiti hati kekasihmu?” seloroh Miranda, padahal dirinya tidak berada di posisi Ersha, tapi hatinya ikut merasakan sakit. 

Firza menyerah, ia tak lagi bicara, sebaik apapun alasan yang ia kemukakan, semuanya akan terdengar salah di telinga Miranda. 

“Intinya aku ingin semua prosesnya berlangsung cepat. Agar Ersha bisa memulai hidup barunya segera.” 

Miranda tersenyum miring, meski Firza tak melihatnya. “Nggak salah? Bukankah kamu yang ingin buru-buru menikahi pacarmu itu?”

“Hanya itu yang ingin kusampaikan, jangan khawatir, aku tak akan melupakan Abizar, dan kewajiban menafkahi Ersha hingga masa iddahnya berakhir.”

“Semoga saja istrimu kelak tidak keberatan.” 

“Ya, sudah, hanya itu yang ingin kusampaikan. Assalamualaikum.” 

Klik! 

“Waalaikumsalam,” jawab Miranda dari tempatnya. 

•••

Sesuai dengan yang Firza katakan, pria itu benar tak hadir di persidangan pertama yang digelar hari ini, sementara Ersha juga menolak mediasi. 

Wanita itu sudah sangat yakin dengan keinginannya, percuma saja bila menerima keputusan Firza untuk berpoligami. Karena sudah sangat jelas bahwa Firza tak akan bisa membagi cintanya secara adil untuk kedua istrinya kelak. 

Bukan berarti Ersha mementingkan dirinya, karena Abizar tetap ia utamakan. Tak mengapa bila dirinya dilupakan pria itu, tapi Ersha tak rela bila Abizar pun ikut diperlakukan tidak adil apalagi sampai dilupakan ayah kandungnya sendiri. 

Cukuplah Abizar diperhatikan, selebihnya Ersha tak meminta apa-apa lagi. Jadilah persidangan pertama itu berlangsung lebih cepat dibandingkan persidangan pada umumnya. Karena keduanya sepakat memilih satu pengacara yang sama, serta tak ada keributan spesifik yang di perdebatkan. 

“Sebenarnya, Mamak masih ingin bersama Abizar,” gumam Mamak Karmila, wanita itu tengah membantu Ersha membereskan barang-barang Abizar. Mamak Karmila juga membuatkan Ersha beberapa masakan spesial yang bisa disimpan di freezer, jika ingin makan tinggal dihangatkan saja. 

Ersha terdiam sejenak, “Lain kali, semoga Allah masih mengizinkan, Ersha akan bawa Abizar menginap di rumah Mamak dan Ayah, sekalian ziarah ke makam Nenek Halimah.” 

“Alhamdulillah, iya, Nak. Boleh, sangat boleh. Mamak tunggu kedatangan kalian.” Mendung yang memayungi wajah Mamak Karmila sirna seketika, setelah mendengar ucapan Ersha. 

Meski hubungannya dengan Firza tak baik-baik saja, tapi Ersha masih ingat untuk berziarah ke makam Nenek Halimah, ibu kandung Mamak Karmila. 

Sore itu juga, Ersha dan Abizar pulang dengan diantar Biru dan Pink, karena Vio belum puas bermain dengan Abi. 

Tiba di rumah Abah Husain dan Ummi Fitria, mereka dikejutkan dengan keberadaan Ahtar yang sedang ngobrol santai dengan Abah. 

“Assalamualaikum, Bah.” Biru segera menyapa Abah Husain, sekaligus berkenalan dengan Ahtar. 

Tapi Pink hanya menyapa seadanya, kemudian ikut masuk ke dalam rumah bersama Ersha. 

“Maaf, Bah, kalau boleh tahu, Bang Ahtar ini, siapa?”

“Ahtar ini, pernah menjadi pegawai Abah di toko, tapi sekarang Alhamdulillah, suksesnya melebihi Abah.” 

“Wah, jadi saya sedang berhadapan dengan orang sukses, nih, Bah?” 

Ahtar langsung menggeleng, dan mengibaskan tangannya dengan santai. “Ah, Abah terlalu berlebihan, jangan buru-buru percaya. Alhamdulillah, semua karena Allah maha baik. Tapi, tanpa perantara Abah, dan kebesaran hati beliau mempercayai anak jalanan seperti saya bekerja di tokonya, maka sampai kapanpun saya hanya akan menjadi bahan cemoohan orang,” kenang Ahtar. 

Tiga pria itu ngobrol santai beberapa saat, hingga Biru pamit, karena harus pergi ke rumah ayah dan ibu mertuanya. Begitu pula Ahtar yang harus pulang ke rumah ibu dan adik-adiknya. 

“Bagaimana tadi hasil sidangnya?” tanya Ummi Fitria selepas sholat maghrib. 

“Begitulah, Mi. Aku dan Bang Firza tak mau berbelit-belit, karena itulah, kami melewatkan proses mediasi.” 

“Kenapa, Nak? Apa kalian tak memikirkan Abi?” 

Meski mulai hilang rasa simpati pada sang menantu, Ummi Fitria berharap jangan sampai Abizar tak kehilangan kasih sayang Ayahnya. 

“Bukan tak memikirkan Abizar, tapi— biarlah begini, daripada Bang Firza main kucing-kucingan dengan wanita itu. Hanya akan menambah dosa, aku berdosa karena selalu berburuk sangka, dan Bang Firza juga berdosa karena melalaikan aku.” 

1
Dewi
semoga ersha berjodoh sama bang ahtar , biar nyesel dah tu Firza dapet perempuan penipu
Rahmawati
jgn samakan ersha dengan diriku ya, ersha itu tulus dan baik gk kayak km😡
Bunda Idza
perempuan ini.... pikiran nya picik, hatinya penuh prasangka
Bunda Idza
langganan seumur hidup juga boleh Neng...🥰
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Gratis buat calon istri 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
yang di hentikan
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
tak ada maaf bagimu 😏
Nar Sih
resha begitu jht hati mu yg sok baik pdhl kmu kmu gk ada baik,,nya ,dasar firza aja yg bodo ,di kasih berilian pilih batu kali 🤣🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul cari aja yg lain,yg lebih segalanya dari Firza 😒
Dozky 2 Crazy
senyum senyum bacaa nyaa Asyiiik otw pe de ka te 😁😁
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
yang sama dengannya
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Alhamdulillah ☺️
Dozky 2 Crazy
couple ghain yg cowo jin dasim yg cewe dedemit cocok lah
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kamu membumbuinya
Dozky 2 Crazy
ayo er mungkin author
Dozky 2 Crazy
wujud nya kaya dedemit author
Dozky 2 Crazy
eh si demit dateng 🙄🙄
Dozky 2 Crazy
dasim dasim cape ah dari tadi bilang mangap mangap trusss
Dozky 2 Crazy
betttul Miranda
buang ajj temen kaya si dasim 😁
Dozky 2 Crazy
maaf palalu dasim dasim
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!