Aura membuka mata melihat dirinya sudah ada di ruangan putih dengan peralatan medis. Awalnya Aura hanya binggung, hingga dia merasa kalau dia bermimpi panjang." Sebenarnya apa yang sudah terjadi denganku,:guman Aura melihat sekitarnya. Tampak orang tua yang dia rindukan sudah ada didepan matanya. Apa yang terjadi dengan Aura sebenarnya, ingin tahu kisahnya silakan datang membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Bangkitnya Penjaga Batu
Aura menekan telapak tangannya ke dada, detak jantungnya berpacu seiring dengan suara dentuman logam dan teriakan samar yang berasal dari lorong di depan. Hawa dingin yang menusuk tulang di dalam kompleks bawah tanah ini tiba-tiba terasa makin dingin, diselimuti oleh perasaan genting yang merayap di kulitnya. Ini bukan hanya suara perkelahian biasa; ini adalah alarm bahaya yang berdering keras di naluri survivalnya.
"Cepat!" serunya, suaranya sedikit parau karena adrenalin. Ia segera berlari ke arah sumber suara, diikuti oleh lima tentara yang ditugaskan bersamanya: Surya, Josef, Darmo, dan dua tentara pendiam lainnya.
Lorong batu yang mereka lalui terasa bergetar samar, bukan getaran gempa, melainkan sesuatu yang lebih halus, seperti gelombang energi yang tak terlihat. Itu adalah anomali yang terasa asing dan mengancam. Aura menghentikan langkahnya sejenak, matanya menyipit tajam.
"Tahan!" bisiknya, menarik napas dalam-dalam. "Ada gelombang aneh di udara. Kekuatan yang tidak natural. Hati-hati, ada bahaya besar di depan."
Kelima tentara itu, terlatih untuk merespons ancaman seketika, mengangguk serempak dengan ekspresi waspada yang serius. Tanpa banyak bicara, mereka segera mengeluarkan pistol otomatis dan senjata serbu yang mereka bawa. Denting kecil terdengar saat mereka mengunci pengaman dan memegang senjata dengan cengkeraman erat.
Mereka bergerak cepat, mengintai di sisi pintu masuk sebuah ruangan besar. Suasana di ambang ruangan itu terasa berat, dipenuhi bau debu kuno yang diaduk oleh pergerakan cepat dan gesekan logam.
Tepat ketika mereka hampir melangkah masuk, sebuah suara mendesis terdengar dari balik bayangan suara milik seorang tentara yang sudah berada di dalam, penuh dengan kepanikan yang nyaris histeris.
"JANGAN MASUK! MUNDUR!"
Namun, peringatan itu datang terlambat. Insting bertarung Aura sudah mengambil alih. Aura dan kelima tentara yang mengikutinya sudah menerobos masuk, langsung berhadapan dengan kekacauan yang mengerikan.
Tepat pada waktu yang sama saat Aura melangkahkan kaki ke dalam ruangan yang luas, sebuah patung prajurit bersenjata dari batu basalt, yang tadinya terlihat seperti hiasan kuno, berputar cepat dan mengayunkan pedang batunya ke arahnya. Patung itu memiliki detail baju zirah Romawi kuno yang menakutkan, dan matanya yang tadinya kosong kini tampak memancarkan kilau merah yang redup.
Refleks Aura secepat kilat. Ia menunduk tajam, merasakan angin pedang batu itu menyayat di atas kepalanya. Ia tidak membuang waktu untuk menembak. Dengan gerakan gesit, ia menarik ritsleting tas ranselnya, mengeluarkan tongkat bisbol logam kesayangannya senjata andalannya yang tidak pernah disangka orang.
BAM!
Tongkat logam itu menghantam sisi helm batu patung prajurit dengan kekuatan luar biasa. Suara benturan logam dan batu bergema nyaring, dan patung itu tersentak, mundur beberapa langkah ke belakang, beberapa serpihan batu terlepas dari bahunya. Kemarahan dan keterkejutan terlihat jelas di wajah Aura.
Di sisi lain, para tentara yang bersamanya juga segera merespons. Rentetan tembakan otomatis memecah keheningan, mengarah ke beberapa patung lain yang mulai bergerak. Peluru menghantam patung-patung batu itu, mengeluarkan percikan api dan serpihan batu, tetapi patung-patung itu tampaknya tidak mudah dihancurkan. Mereka bergerak lambat tapi pasti, mengayunkan senjata batu mereka dengan kekuatan mematikan.
Di tengah ruangan, dekat dengan sebuah meja batu bundar besar yang tampaknya merupakan altar kuno, mereka akhirnya berhasil berkumpul dengan tim pertama yang sudah ada di sana termasuk Falix, Kieran, dan Jack, yang sedang berjuang menangkis serangan.
Melihat kengerian ini, di mana benda mati telah menjadi ancaman hidup, Aura melontarkan pertanyaan yang paling mendasar, dengan intonasi yang begitu polos dan bingung sehingga terasa sedikit tidak pada tempatnya di tengah medan pertempuran.
Aura mengayunkan tongkat bisbolnya lagi, memukul lutut patung yang menyerang Josef hingga patung itu kehilangan keseimbangan. Nafasnya terengah-engah, matanya mencari jawaban di tengah kekacauan.
"Apa yang sebenarnya terjadi?! Kenapa patung-patung itu bisa bergerak?!" tanya Aura, suaranya mengandung campuran antara rasa ingin tahu yang dalam dan kepanikan yang terkendali.
Seorang tentara dari tim pertama, yang tampak pucat karena ketakutan, menjawab cepat sambil mengisi ulang senjatanya.
"Kami....kami juga tidak tahu, Aura! Tiba-tiba saja! Kami sedang memeriksa ruangan ini, dan tiba-tiba saja patung-patung yang tadi diam... mulai bergerak dan menyerang kami!"
Aura mendengarkan jawaban itu, pandangannya langsung beralih ke arah Falix dan Kieran. Dalam lingkungan yang tidak terduga dan penuh bahaya ini, ia tahu bahwa dua orang ini adalah kunci. Wajahnya menunjukkan ekspresi ingin tahu yang mendesak, seolah menuntut penjelasan ilmiah atau mistis atas fenomena gila ini.
Falix, biasanya angkuh dan percaya diri, kini tampak gelisah. Dia sedang menahan serangan patung dengan tameng logamnya, rahangnya terkatup rapat. Kieran, yang selalu tenang dan sinis, menghindari tatapan Aura. Keduanya melihat wajah Aura yang memandang mereka penuh harap, dan mereka hanya bisa berpaling wajah tindakan itu sendiri adalah sebuah jawaban yang tidak terucapkan,”mereka tidak tahu, atau mereka tahu lebih dari yang mereka katakan dan memilih untuk diam.”
Kecewa dan marah karena tidak adanya jawaban, Aura kembali fokus pada patung di depannya.
Jack, yang terus menembakkan pistolnya ke arah celah di baju zirah patung, melihat interaksi singkat itu. Kekesalan terpancar di matanya, tetapi dia harus fokus pada kelangsungan hidup.
"Jadi bagaimana kita mengalahkan mereka semua?!" tanya Jack, berteriak di atas suara tembakan, masih mengarahkan pistolnya ke arah patung prajurit. Frustrasi jelas terasa dalam suaranya. "Peluru tidak banyak mempan, ini semua terbuat dari batu solid!"
Surya, tentara yang tadi datang bersama Aura, segera melontarkan ide strategis yang masuk akal.
"Apa kita mundur saja ke sisi lorong lain dari sini?" usul Surya, menunjuk ke lorong gelap di belakang mereka. "Lorong itu tampaknya kosong. Kita bisa mengatur strategi ulang!"
Falix, yang berhasil mendorong mundur patung yang menyerangnya, menoleh, wajahnya tegang dan berkeringat.
"Tunggu! Lorong itu..." tanya Falix, suaranya sedikit ragu. "Apa kalian menemukan sesuatu di lorong sebelah kiri?"
Aura menoleh ke arah Josef, yang mengangguk.
"Tidak, kami hanya menemukan sebuah dua patung dengan posisi berbeda saja," kata Josef, senjatanya siap.
Mendengar kata 'patung', Kieran yang baru saja menjatuhkan patung dengan pukulan brutal ke titik lemahnya, segera menimpali. Kecurigaan tersirat dalam nada suaranya.
"Apa itu... bisa bergerak juga?" ucap Kieran, matanya menyipit.
Darmo, yang bertugas di belakang, memeriksa lantai. "Kami tidak tahu, tapi... ada jejak gesekan yang jelas di bawah salah satu patung," jawab Darmo, nada bicaranya menunjukkan ketakutan yang tersembunyi. Jejak itu tidak ada ketika mereka pertama kali masuk.
Kebenaran yang menyakitkan itu menusuk mereka, tidak ada tempat aman. Patung-patung penjaga ini mungkin tersebar di seluruh kompleks dan mereka semuanya bisa bergerak. Ruangan ini adalah sebuah perangkap.
Mereka berkumpul dalam formasi melingkar, punggung mereka saling bersentuhan, menghadapi enam patung prajurit batu yang tersisa di ruangan itu. Peluru mereka menipis, dan kekuatan fisik untuk menghancurkan patung batu murni jauh melampaui kemampuan manusia biasa.
Keputusasaan mulai menyeruak di antara para tentara, yang biasanya tak tergoyahkan.
"Sial!" gerutu Jack, menembak kepala patung berulang kali, hanya menghasilkan serpihan kecil.
"Kita tidak bisa bertarung melawan mereka semua di sini, kita akan kehabisan amunisi dan stamina!" seru Aura, mengayunkan tongkatnya untuk menangkis sabetan pedang batu. Tekadnya masih kuat, tetapi ia sadar akan kenyataan fisik.
"Segera mereka mencari cara untuk bisa keluar dari kerumunan prajurit bersenjata di depannya. Mereka harus melarikan diri, bukan bertarung sampai mati. Mereka harus menemukan asal mula energi yang menghidupkan patung-patung ini.
"Tapi bagaimana kita bisa keluar?!" kata Jack, suaranya bergetar antara kemarahan dan ketidakberdayaan. "Mereka ada di mana-mana!"
Aura melihat ke arah meja batu bundar di tengah ruangan, tempat yang seolah menjadi pusat gravitasi pertempuran. Tepat di atas meja itu, ada ceruk kecil yang tampak kosong, dan seberkas cahaya remang-remang memantul dari permukaannya.
"Meja itu! Pusatnya ada di sana!" teriak Aura, matanya bersinar. "Kita harus menciptakan celah! Surya, Darmo! Tembak patung di dekat pintu keluar sekarang! Fokus pada kakinya!"
Mereka tahu ini adalah kesempatan terakhir. Dengan teriakan perang yang campur aduk antara ketakutan dan keberanian, mereka melancarkan serangan serentak, berharap celah kecil yang tercipta bisa menjadi jalan keluar mereka dari mimpi buruk batu yang baru saja dimulai. Mereka harus bergerak sebelum lorong-lorong lain dipenuhi oleh patung-patung yang bangkit. Survival adalah satu-satunya tujuan mereka sekarang.