NovelToon NovelToon
ALUNA : Transmigrasi Cegil

ALUNA : Transmigrasi Cegil

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Teen / Transmigrasi
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dhanvi Hrieya

𝐀𝐥𝐮𝐧𝐚 𝐂𝐚𝐥𝐢𝐬𝐭𝐚 nyaris mati tenggelam dan saat matanya terbuka, ia mulai menyadari jika dunianya yang sekarang hanyalah dunia novel fiksi. Ia terbangun sebagai karakter figuran dalam sebuah novel 𝚝𝚑𝚛𝚒𝚕𝚕𝚎𝚛-𝚛𝚘𝚖𝚊𝚗𝚌𝚎 yang pernah ia bacanya. Sialnya lagi, Aluna bukan siapa-siapa hanya pemeran kecil yang dikenal sebagai biang kerusuhan. Tapi apa jadinya saat ia mulai menyadari, ulah kecilnya mengacaukan alur cerita?
Dalam usahanya untuk memperbaiki kesalahan dan bertahan hidup di dunia yang bukan miliknya, Aluna justru menarik perhatian empat karakter pria berbahaya. 𝐆𝐚𝐯𝐢𝐧𝐨, si obsesif yang tak bisa membedakan cinta dan obsesi. 𝐊𝐚𝐢, si manipulatif yang pandai bermain peran. 𝐉𝐚𝐲𝐝𝐞𝐧, si red flag yang sulit ditebak-beracun tapi memikat. Dan 𝐒𝐞𝐛𝐚𝐬𝐭𝐢𝐚𝐧, ketua geng motor yang haus kendali. Dunia novel mulai runtuh. Alur cerita berubah liar. Aluna jadi buruan. Kini, hanya ada dua pilihan: kabur atau menghadapi mereka satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhanvi Hrieya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17| Something

Erangan samar mengalun, begitu angin menerpa wajahnya aroma garam langsung tercium—tajam namun menenangkan. Udara lembapnya membawa bau pasir basah, samar-samar suara ombak menggulung ditangkap indera pendengaran. Aluna menggeliat, tangannya mengucek kedua kelopak matanya.

"Uh, di mana ini?" tanyanya serak.

Aluna menoleh ke samping, kursi kemudi yang tampak kosong dengan kaca mobil yang terbuka. Matanya mengedar sedikit menyipit, hanya untuk mencari keberadaan Sebastian. Manik mata Aluna berhenti dan mengunci sosok lelaki yang berdiri tak jauh dari posisi mobil terparkir, sosok itu berdiri menyamping. Semburat matahari muncul di balik garis laut, Aluna terpaku di dalam mobil.

Garis bibirnya meninggi di kala kepalanya menengadah, menghirup udara segar terasa menyenangkan. Merasa diperhatikan Sebastian membalikkannya tubuhnya, melirik ke arah mobil. Aluna tersentak dan melambaikannya tangannya, Sebastian membalas lambaian tangan Aluna tanpa ia sadari. Senyum di bibirnya membeku, saat menyadari reaksi tubuhnya. Tangan yang terangkat diturunkan cepat, Aluna tampak keluar dari mobil melangkah mendekatinya.

"Cantiknya," kata Aluna di saat ia berdiri di samping Sebastian, matanya fokus memperhatikan matahari yang merayap kian naik menyinari bumi.

Kepala Sebastian mengangguk, dari ekor matanya ia melirik gadis di sampingnya. "Ya, sangat cantik," balas Sebastian lirih.

Kedua sisi sudut bibirnya kembali naik, memperhatikan setiap guratan wajah Aluna. Awalnya Sebastian berniat mengantarkan gadis di sampingnya ini untuk kembali pulang tapi niatnya diurungkan ketika mereka sampai di depan gerbang mansion. Hanya karena melihat gadis itu tertidur pulas, ia kembali memacu mobilnya berputar-putar di jalan sebelum memutuskan untuk menuju pantai. Berhenti lama di bibir pantai, tanpa ia sadari matahari mulai terbit.

"Gimana perasaan lo?" tanya Aluna tanpa membawa tatapan matanya ke samping.

Sebastian mengangguk ringan dan berdehem kecil. "Gue udah baik-baik aja, thanks. Lo malah jadi ikut gue sampek pagi," sahut deep voice Sebastian berat.

Aluna menggeleng sekilas, menipiskan bibirnya. "Baguslah kalo lo udah baik-baik aja."

Beberapa detik kemudian dahinya berlipat, dan ia menengadah spontan. Ia baru ingat jika ia diam-diam menyelinap keluar dari mansion, dan sekarang sudah pagi ia harus ke sekolah. Bibirnya terbuka lebar dengan mata terbelalak, Aluna menepuk dahinya.

"Waduh, mampus. Gimana caranya gue ke sekolah? Gimana kalo Nyokap gue tau kalo gue nggak ada di kamar dari tadi malam? Gimana kalo gue di interogasi sama Nyokap dan Bokap gue?" Aluna membabi-buta melontarkan pertanyaan untuk dirinya sendiri.

Reaksi panik Aluna mengundang tawa geli Sebastian untuk mengudara, ia menutup mulut saat sadar dan menghentikan tawanya di saat Aluna melotot sebal ke arahnya.

"Lo kenapa harus panik, di sekolah 'kan ada baju seragam ganti. Atau kalo lo mau. Kita bisa langsung ke toko seragam, beli tas baru. Nggak ada yang perlu bikin lo panik kek gitu," tutur Sebastian setengah biasanya.

"Oh, iya juga ya. Tapi, masa ke sekolah nggak mandi."

"Soal itu lo nggak usah khawatir, ayo ikut gue. Kita mandi dan sarapan dulu." Sebastian meraih tangan Aluna, membawanya kembali mendekati mobil yang terparkir.

Aluna yang ditarik pasrah tanpa perlawanan, ini pertama kalinya seumur hidupnya ia keluar malam dan tidak pulang pagi malah langsung akan ke sekolah. Malah semalaman suntuk dihabiskan hanya dengan Sebastian.

...***...

Pintu kamar mandi terbuka perlahan, kepala Aluna menyembul di balik celah pintu yang terbuka. Matanya mengedar menyapu ruangan penthouse—markas yang digunakan oleh empat sekawan, merasa tak ada orang di sana ia keluar dengan handuk kimono putih yang membalut tubuhnya.

Langkah kakinya berhenti mendadak saat pintu penthouse terbuka, bola mata Jayden seakan hampir keluar dari tempatnya ketika mendapati eksistensi lain di ruangan. Aluna membeku, meringis mendapati kehadiran Jayden yang mendadak membuka pintu.

KLIK!

"Semua yang lo butuhin udah gue sediain. Lo bisa ganti pakaian di kamar itu!" seruan dari salah satu pintu yang terbuka mengalun menyentak keterkejutan kedua orang yang saling tatap. Sebastian keluar dengan seragam sekolah yang telah melekat di tubuhnya.

"WHAT THE HELL!"

Suara Jayden menggelegar, Aluna meringis sudah dapat dipastikan pria itu salah paham dengan mereka berdua. Manusia mana yang akan tetap berpikir positif saat dihadapkan dengan keadaan Aluna—Sebastian, Jayden terburu-buru melangkah memasuki penthouse. Suara pintu tertutup kasar mengalun, Sebastian masih mempertahankan ekspektasi datarnya.

"Gue nggak nyangka, lo berdua?" Jayden menunjuk ke arah Sebastian dan Aluna bergilir.

Aluna lebih dahulu bereaksi kedua tangannya terangkat melambai dan kepalanya menggeleng panik, ia tak seliar apa yang dibayangkan oleh otak Jayden saat ini.

"Gu—gue sama Sebastian nggak ngapa-ngapain ya, lo nggak usah lebay kek gitu Jayden," tukas Aluna tergagap.

"Nggak ngapa-ngapain, lo keluar kek gini? Di sini cuman ada lo dan Sebastian. Woah! Gue harus kasih tau Gavino sama Kai, gimana bisa lo kek gini di belakang gue dan yang lainnya," jawab Jayden tak percaya, bibirnya terus bergumam tak jelas setelahnya.

Aluna menunduk menatap handuk kemono yang membalut tubuhnya, lalu terpejam perlahan. Menenangkan dirinya, kelopak matanya kembali terbuka dan ia mendongak menatap Jayden yang masih penuh prasangka.

"Gue cuma numpang mandi Jayden, gu—"

"Da—darah! Aluna lo keguguran? Kaki lo berdarah." Jayden memotong laju bantahan yang bersiap keluar dari mulut Aluna.

Butuh beberapa detik untuk ketiganya membeku, Aluna menggigit bibir bawahnya. Jari telunjuk Jayden bergerak-gerak panik menunjuk-nunjuk lelehan cairan merah yang turun dari paha Aluna, berbeda dengan Jayden yang ketar-ketir dilanda kepanikan. Wajah Sebastian memerah, ia membuang muka. Aluna memaki dalam hati, bagaimana bisa tamu bulanannya datang tanpa aba-aba.

"Aluna keguguran, lo—uuupzzz!" Jayden bergumam tak jelas ketika mulutnya dibekap oleh Sebastian dan diseret menuju pintu keluar, sementara Jayden masih tampak menunjuk-nunjuk ke arah Aluna serta meronta-ronta.

Sebastian berhenti melangkah dan menoleh ke belakang, "Lo pakek aja seragam lo, gue ke bawah beliin lo pembalut."

Pipi Aluna terasa panas menjalar keseluruhan wajahnya, mendesah kasar saat pintu terbuka dan tertutup.

"Ughh..., sialan. Kenapa gue harus datang bulan di sini sih. Malu-maluin aja," gumam Aluna meringis.

...***...

Mata Jayden bergerak dari kantong kresek ke arah Sebastian yang tampak tenang, kedua matanya memicing curiga. Ada banyak sekali pertanyaan yang kini bergelayut di otak Jayden, mulai dari sejak kapan Sebastian dekat dengan Aluna. Bahkan keadaan ambigu keduanya mengundang tanda tanya, apalagi sampai ia diseret ke mini market untuk membeli pembalut wanita. Jangan lupakan bagaimana tatapan aneh dari karyawan di kasir yang menatap mereka berdua berganti-gantian, keduanya memasuki lift yang terbuka. Jari Sebastian menekan nomor lantai, dan berdiri tenang.

"Lo yakin kalo dia nggak keguguran?" tanya Jayden kembali memastikan.

"Ya," jawab Sebastian tenang.

Alis mata Jayden berkerut, dan bertanya kembali, "Lo sama dia nggak begituan 'kan? Kek si Kai?"

Sebastian membalas tatapan Jayden, menghela napas berat. "Pikiran lo terlalu jauh, gue nggak seliar si Kai. Dan dia nggak semurah itu buat ngelanggar batas," tutur Sebastian pelan.

Desahan lega mengalun, kini giliran Sebastian yang melirik Jayden dengan dahi berlipat. Merasa ditatap Jayden berdehem berat, membuang muka. Tatapan mata Sebastian yang tenang perlahan berubah menjadi rumit, seakan ada yang mengganjal di hatinya. Apalagi reaksi Jayden—sahabatnya yang terasa berlebihan, mulut Sebastian terbuka bersamaan dengan suara denting pintu lift yang terbuka lebar. Jayden lebih dahulu keluar dari lift, disusul oleh Sebastian.

"Bas!" seruan lantang yang datang dari arah pintu penthouse menghentikan langkah kaki maju keduanya.

Gadis berseragam SMA itu berlarian ke arah keduanya, tersenyum lebar saat berhenti di depan Sebastian dan Jayden.

1
Jessica Elvira Aulia
lanjut🙏
Dhanvi Hrieya: 🫶🏻🫶🏻❤️❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!