NovelToon NovelToon
Bullet Train To Yesterday

Bullet Train To Yesterday

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Romansa Fantasi
Popularitas:349
Nilai: 5
Nama Author: AnaRo

Rain dan Ayyara adalah definisi manusia modern yang mandiri. Di usia kepala tiga, keduanya telah mencapai titik nyaman: karier yang stabil, gaya hidup childfree, dan prinsip teguh anti-pernikahan. Bagi mereka, cinta hanyalah distraksi yang mengancam kebebasan yang telah mereka bangun dengan susah payah.
​Namun, semesta memiliki rencana lain.
​Dalam perjalanan bisnis menggunakan kereta cepat, sebuah cahaya putih seterang kilat menghantam dan melemparkan kesadaran mereka ke masa tujuh belas tahun yang lalu.
Di tengah pencarian cara untuk kembali ke masa depan, sebuah pertanyaan mulai menghantui: Jika mereka berhasil memperbaiki masa lalu, apakah "kebebasan" di masa depan masih menjadi hal yang mereka inginkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaRo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Es Kopi "Tanpa Gula"

"Satu slice kue cokelat, ya," ucapku pada kasir, lalu menambahkan, "Sama satu cangkir es kopi  susu. Tanpa gula."

​Tiba-tiba, sebuah suara bariton menyahut tepat di belakang bahuku. "Saya juga satu. Tanpa gula."

​Aku menoleh cepat, menaikkan sebelah alis.

Rain berdiri di sana, menatapku dengan sorot mata yang sulit dibaca di balik kacamatanya. Saat aku menyodorkan uang seratus ribu rupiah, penjaga kasir tampak ragu karena tidak punya kembalian.

​"Nanti saja bayarnya kalau sudah ada receh," kata si kasir.

​Namun, Rain dengan cekatan meletakkan lembaran lima puluh ribu di meja. "Pakai ini saja, pas kan? Saya mau kue yang sama," pintanya tenang.

​Sekarang, aku merasa tidak perlu lagi mencari konfirmasi lebih jauh tentang asalnya. Di tahun 2012, remaja mana yang memesan es kopi  tanpa gula dengan selera sespesifik itu? Dan cara dia menatapku... seolah ia juga sedang mengonfirmasi identitasku melalui pilihan pesananku.

​Kami duduk berhadapan dalam keheningan yang canggung. Tak banyak kata yang terucap sampai pesanan kami tiba. Aku menyesap kopiku yang pahit, membiarkan cairannya membasahi kerongkongan, sementara Rain melakukan hal yang sama.

​"Perjalanan kereta yang jauh bikin mengantuk, ya? Makanya butuh kopi?" tanyaku pelan, sebuah pancingan untuk memastikan dugaanku.

​Rain meletakkan cangkirnya, lalu menatapku lekat. "Rombonganku bawa mobil, perjalanannya melelahkan. Tapi kalau naik kereta mungkin bisa lebih cepat," ia menjeda sejenak, sudut bibirnya terangkat tipis. "Atau mungkin... malah berakhir terbangun di tempat yang berbeda."

​Jawaban itu singkat, namun cukup untuk membuat jantungku berdesir. Kalimatnya bukan sekadar basa-basi; itu adalah sebuah kode.

"Bukannya sudah dua minggu?" tanyaku perlahan, pandanganku terlempar jauh menembus kaca jendela toko roti.

​Rain menyesap kopinya, ekspresinya tetap tenang namun sarat akan makna. "Alur utama hidupku masih sama. Aku kembali ke titik ini... untuk sekali lagi," sahutnya pelan.

​Suara denting sendok yang beradu dengan cangkir menjadi latar obrolan rahasia kami. Kami mulai menelusuri kepingan ingatan terakhir di gerbong kereta itu—tentang kilatan cahaya dan tablet misterius yang kami pegang. Mungkinkah benda itu semacam mesin waktu dari masa depan? Spekulasi itu menggantung di udara, terasa gila namun nyata bagi kami berdua yang terjebak dalam raga remaja.

​Namun, di tengah pembahasan serius itu, bola mataku mendadak membulat sempurna. Di ambang pintu bakery, muncul Ibu dan Cinta yang sedang menenteng tiga dus besar berisi terigu dan mentega.

​"Aduh, gawat!" batinku panik.

​Jiwa tiga puluh empat tahunku tahu persis konsekuensinya: jika aku dipergoki sedang bersantai di kafe "mahal" seperti ini, Ibu akan mengomeliku tiga hari tiga malam karena dianggap menghamburkan uang saku.

Aku segera memalingkan wajah, berpindah tempat menyembunyikan identitasku di balik punggung Rain.

​"Pinjam jaketmu!" bisikku mendesak sambil menunjuk jaket almamaternya yang tersampir di kursi.

​Rain tampak terusik dan sedikit heran, namun ia tetap memberikannya dengan cekatan. Kupakai jaket itu hingga menutupi kepala, berharap Ibu segera pergi. Sialnya, Ibu justru asyik mengobrol dengan kasir; sepertinya si kasir menjanjikan es Thai tea gratis untuk Cinta, jadi mereka harus menunggu.

​Cake cokelatku sudah ludes kulahap, tapi es kopiku masih tersisa separuh. Dengan gerakan cepat, aku mengetik pesan di layar ponsel jadulku dan menyodorkannya ke arah Rain: Bantu aku keluar dari sini secepatnya. Bawa kopiku.

​Meski diliputi rasa canggung yang luar biasa, Rain bangkit berdiri. Ia berjalan di depanku, menciptakan barikade tubuh agar aku bisa menyelinap keluar tanpa berpapasan dengan Ibu. Begitu sampai di luar, kami mengambil jalan memutar menuju sekolah yang lebih sepi.

​"Maaf ya, Rain... aku jadi mengganggu waktumu minum kopi," ucapku penuh sesal setelah kami merasa cukup aman.

​Aku menarik napas panjang, mencoba menjelaskan situasiku yang absurd. "Sebagai remaja tujuh belas tahun, aku tidak punya uang banyak. Ibu pasti akan murka kalau tahu aku jajan di sini. Padahal aku sudah menunggu dua minggu demi secangkir kopi ini," gumamku getir.

​Rain menatapku, satu sudut bibirnya terangkat tipis. "Tapi ini kan traktiranku. Kenapa harus kena marah?"

​"Itu justru jauh lebih bahaya!" sahutku cepat. "Kalau Ibu tahu aku ditraktir mahasiswa, dia akan mengira aku pacaran di saat harusnya belajar untuk ujian. Tapi yang lebih mengerikan, kalau pikiran nya terlalu jauh, dia bisa berpikir mahasiswa mesempatan bagus untuk memperbaiki martabat keluarga dengan cara menikahkanku begitu lulus SMA!"

​Membayangkan skenario "pernikahan dini" demi memperbaiki martabat itu membuat bulu kudukku merinding. "Pokoknya, Ibu bisa mengomel tanpa henti hanya karena urusan jajan ini. Tapi... terima kasih ya sudah meminjamkan jaketnya."

Kulepas jaket almamater itu dan kukembalikan padanya.

Langkahku nyaris mencapai gerbang sekolah ketika pemandangan di depan membuat jantungku serasa berhenti berdetak. Ini jauh lebih buruk dari kejadian di toko roti tadi.

Di sana, Ibu sedang menurunkan berdus-dus air mineral gelas dari motor butut Bapak. Celah di antara jok motor penuh sesak oleh tumpukan kardus, sementara Cinta bersusah payah memegangi sisa muatan agar tidak jatuh. Bahkan Bian pun ikut keluar dari gerbang untuk membantu mengangkut barang-barang itu ke dalam sekolah.

Sepertinya hari ini Bapak kembali mengambil tarikan sebagai kurir di toko Koh Jimi, dan Ibu—dengan semangat hematnya yang luar biasa—memilih ikut turun tangan demi upah tambahan.

Masalahnya adalah aku berdiri hanya beberapa meter dari mereka, memegang cup es kopi sisa satu seruputan terakhir, dan di sampingku berdiri seorang mahasiswa asing yang tampan.

​"Gawat!" bisikku panik.

​Tanpa aba-aba, aku segera berbalik arah secepat kilat.

Rain, yang tampaknya mulai terbiasa dengan kepanikanku, langsung berdiri mematung untuk menghalangi pandangan Ibu ke arahku. Ia memosisikan badannya sebagai barikade sementara aku berlari kecil menuju pagar samping sekolah, menyesap habis sisa kopi itu dengan rakus, lalu melempar cup plastik tersebut ke tong sampah dengan sekali lempar.

​Rain menoleh sedikit, memperhatikan tingkah konyolku dari sudut matanya. Sebuah senyum tipis tersungging di wajahnya. Ia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa sosok Ayyara yang selama ini ia kenal sebagai rekan kerja yang kaku, serius, dan selalu profesional, harus terjebak dalam situasi absurd sebagai remaja yang takut diomeli ibunya.

​Sejujurnya, Rain tidak terlalu berminat mengikuti tur basket antar-pulau ini. Jika bukan karena dorongan kuat untuk mengonfirmasi apakah Ayyara juga terlempar kembali ke tahun 2012, ia mungkin akan memilih diam di kampusnya.

​Begitu Rain menyadari dirinya terbangun di masa lalu, hal pertama yang ia lakukan adalah menelepon Naila, kekasihnya saat itu, untuk memutuskan hubungan. Di lini masa yang asli, Rain ikut ke kota ini demi Naila. Namun kali ini, tujuannya murni untuk melacak keberadaan Ayyara. Ia hanya berpegang pada sekelumit memori saat Ayyara pernah mencari sopir di hotel untuk mengunjungi orang tuanya di sini.

Rain tidak pernah benar-benar mengenal Ayyara secara pribadi, ia bahkan tidak yakin apakah di tahun 2012 Ayyara masih SMA atau sudah kuliah.

​Ternyata, semesta membawanya ke sekolah ini. Sekolah yang tujuh belas tahun lalu memang ia kunjungi, meski saat itu mereka sama sekali tidak saling mengenal.

​Rain menghela napas panjang sembari menatap punggungku yang masih sibuk bersembunyi di balik pagar. Ada rasa lega yang aneh menyelinap di hatinya karena ia tidak sendirian di masa ini. Namun di sisi lain, ia pun tidak tahu apakah terlemparnya mereka ke masa lalu adalah sebuah hadiah yang manis atau justru hukuman yang melelahkan karena harus menjalani kehidupan sekali lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!