NovelToon NovelToon
KAF FA RO

KAF FA RO

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Kutukan / Balas Dendam
Popularitas:542
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Rafiq Al-Farizi adalah pria agamis yang kehilangan segalanya dalam waktu singkat. Ujian itu membuat imannya runtuh.

Ia bertemu dengan Mbah Jaya, seorang dukun yang menawarkan "keadilan" melalui ilmu hitam. Langkah demi langkah, hingga akhirnya Ia mengucapkan sumpah setia kepada makhluk gaib.

Sebagai tanda perjanjian, muncul tulisan KAF FA RO di jidatnya—stempel bahwa jiwanya telah menjadi milik kegelapan. Dengan kekuatan barunya, ia memburu balas dendam kepada semua yang menghancurkannya.

Namun semakin dalam ia melangkah, semakin ia sadar: bukan ia yang mengendalikan kegelapan, tapi kegelapan yang mengendalikannya. Dan harga dari perjanjian ini lebih mahal dari nyawanya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Kehancuran

Hendri meletakkan ponselnya di atas meja dengan tangan gemetar. Ruang kerjanya yang sempit di sebuah ruko pinggiran kota terasa lebih dingin dari biasanya.

Di depannya, laptop menyala dengan daftar nama yang baru saja ia kumpulkan—nama-nama pasien hamil empat bulan di tiga klinik kandungan dan satu rumah sakit bersalin di kota itu.

Alamat, nomor telepon, bahkan jadwal kontrol. Semua ia dapatkan dengan susah payah, dengan alasan riset akademis yang ia karang sendiri.

Ia tidak tahu untuk apa data-data ini. Tapi ia tidak berani bertanya.

Sudah sebulan sejak Rafiq tidak lagi menjadi bosnya. Sebulan sejak perusahaan itu berpindah tangan. Sebulan sejak Hendri mendengar kabar bahwa Rafiq tinggal di kampung orang tuanya, bahwa anaknya meninggal, bahwa istrinya—mantan istrinya—kini bersama Tono.

Dan sebulan itu pula Hendri terus menerima telepon dari Rafiq. Bukan tentang pekerjaan. Bukan tentang perusahaan yang dulu mereka bangun bersama. Tapi tentang hal-hal yang aneh. Hal-hal yang membuat bulu kuduknya berdiri.

Cari tahu nama-nama pasien hamil empat bulan.

Cari tahu jadwal kontrol mereka.

Cari tahu alamat rumah mereka.

Hendri menghela napas panjang. Ia menatap layar laptop, menatap nama-nama yang tertera di sana. Tujuh nama. Tujuh perempuan. Tujuh calon ibu yang sedang mengandung anak usia empat bulan.

Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Rafiq dengan informasi ini. Tapi di dalam hatinya yang paling dalam, ia takut untuk mengetahuinya.

Namun ia tetap menjalankan instruksi itu. Bukan karena ia dibayar—ia bahkan sudah tidak digaji sejak perusahaan diambil alih Tono.

Tapi karena rasa balas budi. Rafiq telah memberinya pekerjaan ketika ia lulus kuliah dengan tangan hampa. Rafiq telah membimbingnya, mempercayakannya dengan tanggung jawab besar ketika orang lain meragukannya. Rafiq telah menjadi lebih dari sekadar bos. Ia adalah mentor. Ia adalah teman.

Dan sekarang, temannya itu meminta bantuan. Hendri tidak bisa menolak. Meskipun setiap kali telepon berdering dengan nama Rafiq di layar, jantungnya berdegup lebih cepat.

Meskipun setiap kali ia mendengar suara Rafiq di ujung sana, ada sesuatu yang terasa berbeda. Suara yang sama, tapi kosong. Kosong seperti orang yang sudah mati tapi masih bisa berbicara.

Hendri menyimpan file itu ke dalam USB, memasukkannya ke dalam amplop coklat. Ia akan mengirimkannya besok. Via kurir, ke alamat kampung yang diberikan Rafiq.

Ia tidak akan mengantarnya sendiri. Ia takut. Takut melihat Rafiq secara langsung. Takut melihat apa yang telah terjadi pada pria yang dulu ia kagumi.

Ia menutup laptop, merapikan meja, dan bersiap pulang. Di luar, hujan mulai turun. Langit gelap, seperti langit yang tidak ingin melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.

---

Rumah Tono di pinggiran kota itu pernah menjadi kebanggaan. Dua lantai dengan arsitektur modern, taman kecil di depan dengan rumput hijau yang selalu terawat, pagar besi hitam yang kokoh.

Tono membeli rumah ini dua tahun lalu, setelah perusahaan mulai menunjukkan keuntungan besar. Ia sering mengundang Rafiq ke sini untuk sekadar ngopi atau bermain catur. Rumah ini adalah saksi bisu persahabatan yang dulu mereka bangun.

Kini, rumah itu terasa seperti kuburan.

Tono duduk di ruang tamu, dikelilingi oleh kardus-kardus obat yang berserakan di lantai.

Tubuhnya masih kurus setelah seminggu dirawat di rumah sakit. Wajahnya pucat, matanya cekung dengan lingkaran hitam di bawahnya.

Kemeja batik lengan panjang yang ia kenakan terlihat kebesaran di tubuhnya yang menyusut. Ia tidak lagi merapikan rambutnya seperti dulu. Rambutnya yang sebentar lagi panjang, tidak disisir, terlihat kusut dan berminyak.

Ia mencoba bekerja. Laptop terbuka di depannya, layar menampilkan laporan keuangan perusahaan yang terakhir ia terima.

Angka-angka merah di mana-mana. Proyek di IKN yang menjadi alasan pengalihan aset dulu kini terancam gagal karena masalah perizinan yang tidak pernah ia selesaikan.

Dua proyek lain mangkrak karena kekurangan dana. Klien-klien lama mulai menarik diri, tidak ada yang mau bekerja sama dengannya lagi.

Tono menutup laptop dengan kasar. Ia tidak bisa fokus. Bukan karena angka-angka itu. Tapi karena baunya.

Bau itu. Bau yang sudah seminggu ini tidak pernah hilang.

Bau bangkai.

Ia sudah memeriksa seluruh rumah. Kulkas, bersih. Saluran air, tidak ada masalah. Atap, tidak ada bangkai hewan. Tapi bau itu tetap ada. Bau anyir, bau manis yang membuat mual, bau daging yang membusuk. Bau yang datang dari mana-mana, dari dinding, dari lantai, dari udara itu sendiri.

"Ton, kamu sudah makan?"

Aisyah muncul dari dapur. Ia mengenakan daster rumah berwarna krem, rambutnya diikat asal, wajahnya juga pucat seperti Tono.

Perutnya masih rata, tapi ada lingkaran hitam di bawah matanya yang menunjukkan bahwa ia juga tidak bisa tidur nyenyak dalam beberapa hari terakhir.

"Tidak," jawab Tono singkat.

"Harus makan. Kamu baru keluar rumah sakit. Badanmu belum—"

"Aku tidak lapar," potong Tono. Suaranya kasar. Ia menyesal sedetik kemudian. Ia menatap Aisyah, melihat wajah pucat wanita itu, dan menarik napas panjang.

"Maaf. Aku hanya... aku tidak bisa fokus dengan bau ini."

Aisyah duduk di sampingnya. Ia juga mencium bau itu. Setiap hari. Setiap malam. Bau yang tidak pernah hilang, tidak peduli berapa kali mereka membersihkan rumah, tidak peduli berapa banyak pengharum ruangan yang mereka pasang.

"Aku sudah telepon Mama," kata Aisyah pelan.

"Dia bilang akan mampir sore ini. Mungkin dia bisa... mungkin dia bisa membantu."

Tono tidak menjawab. Ia hanya menatap kosong ke arah jendela. Di luar, langit mendung. Sebentar lagi hujan. Lagi. Akhir-akhir ini hujan selalu turun di sore hari. Seperti langit pun ikut menangisi sesuatu.

Di sudut ruangan, di tempat paling gelap di antara lemari TV dan dinding, Aisyah melihat sesuatu. Bayangan. Bayangan hitam yang bergerak. Ia mengucek matanya. Bayangan itu hilang.

Tapi bau bangkai itu semakin kuat.

---

Sore itu, Bu Sumarni datang. Ibu Aisyah itu

masih berjalan tertatih dengan kruk di tangannya, kakinya yang patah akibat kecelakaan belum sepenuhnya pulih. Wajahnya yang tua tampak lebih tua dari sebelumnya, keriput di wajahnya semakin dalam, matanya yang dulu tajam kini terlihat redup.

Ia masuk ke rumah Tono dengan hati-hati, mencium aroma yang langsung membuat hidungnya mengernyit. "Apa itu, Nak? Bau apa ini?"

Aisyah menyambut ibunya di pintu, membantunya duduk di sofa ruang tamu.

"Tidak tahu, Ma. Sudah seminggu ini. Tidak hilang-hilang."

Bu Sumarni menatap sekeliling ruangan. Matanya yang sudah tidak begitu tajam itu berusaha menangkap sesuatu. Ia merasakan rumah ini panas.

Bukan panas seperti suhu udara yang tinggi. Tapi panas yang aneh. Panas yang berasal dari dalam. Panas yang membuat bulu-bulu di tangannya berdiri meskipun suhu ruangan normal.

"Aneh," gumamnya. "Rumah ini panas sekali, Nak. Seperti ada yang terbakar di dalam dinding."

Tono yang duduk di kursi sebelah menoleh.

"Kami tidak merasakan panas, Bu. Yang ada hanya bau itu."

Bu Sumarni menggeleng. Ia merasakan panas itu dengan jelas. Panas yang menyengat kulitnya, panas yang membuat tenggorokannya terasa kering. Ia bangkit dari sofa dengan susah payah, berjalan pelan mengelilingi ruangan. Kruknya berdecit di lantai keramik setiap kali ia melangkah.

Ia berhenti di depan dinding belakang ruang tamu. Ia menempelkan telapak tangannya ke dinding. Dingin. Tapi di dalam dadanya, ia merasakan sesuatu. Getaran. Getaran halus yang tidak bisa dijelaskan.

Ia menoleh ke sudut ruangan, ke tempat di mana lemari TV berdiri. Di balik lemari itu, di celah antara furnitur dan dinding, ia melihat sesuatu. Bayangan hitam. Bayangan yang bergerak. Bayangan yang tidak seharusnya ada di rumah seluas ini.

"Nak," panggilnya dengan suara berbisik. "Apa yang terjadi di rumah ini? Apa yang terjadi dengan kalian?"

Aisyah dan Tono bertukar pandang. Tidak ada yang bisa menjawab.

Bu Sumarni kembali ke sofa, duduk dengan wajah yang lebih pucat dari sebelumnya. Ia tidak mengatakan apa yang ia lihat. Tidak mau membuat anaknya semakin takut. Tapi di dalam hatinya, ia tahu. Ada sesuatu di rumah ini. Sesuatu yang gelap. Sesuatu yang datang bukan karena kebetulan. Sesuatu yang dipanggil.

Rafiq.

Nama itu muncul di pikirannya. Ia ingat menantunya itu. Pria saleh yang selalu tersenyum lembut. Pria yang setiap pagi mengaji sebelum berangkat kerja. Pria yang membangun rumah tangganya dengan penuh cinta dan ketulusan. Dan ia juga ingat apa yang dilakukan anaknya pada pria itu. Apa yang dilakukan Tono pada sahabatnya sendiri.

Bu Sumarni menunduk. Air mata mengalir di pipinya yang keriput. "Anakku... apa yang sudah kalian lakukan?"

Aisyah tidak menjawab. Ia hanya duduk di samping ibunya, memegang tangan tua yang keriput itu, dan menangis dalam diam.

1
La Rue
Sensasi horornya benar² terasa. Tapi aku suka,karena gaya penulisan yang khas dari Sang Penulis. Semoga banyak yang mampir karena ceritanya bagus dan jarang typo 👍
La Rue: sama-sama
total 2 replies
La Rue
Waduh makin seram tapi semakin penasaran 😱🤭
La Rue
seram tapi penasaran 😱🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!