NovelToon NovelToon
Cincin Di Balik Almamater

Cincin Di Balik Almamater

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Nikahmuda
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: iinayah

Di SMA Garuda, Arkananta Dewa adalah personifikasi dari aturan itu sendiri. Sebagai Ketua OSIS yang perfeksionis, ia adalah matahari yang ditakuti sekaligus dikagumi. Di sisi lain, Ziva Clarissa adalah anomali; siswi jurnalisme yang vokal, ceroboh, dan pembenci birokrasi. Mereka adalah dua kutub yang seharusnya tidak pernah bertemu dalam satu garis takdir.
​Namun, sebuah perjodohan bisnis yang dipaksakan oleh kedua orang tua mereka mengubah segalanya dalam semalam. Tanpa cinta, tanpa persiapan, mereka diikat dalam pernikahan siri yang sah di mata agama dan keluarga, namun terlarang di mata sekolah.
​Keduanya sepakat pada satu hal: Rahasia ini harus mati bersama mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retakan di Dasar Fondasi

​​Kemenangan di ruang dekanat semalam terasa hambar. Meski beasiswa Ziva dipulihkan, ada sesuatu yang pecah di antara mereka—sesuatu yang lebih dalam dari sekadar masalah hukum. New York yang biasanya gemerlap kini terasa menyesakkan bagi Arkan, sementara bagi Ziva, kehadiran Arkan justru menjadi pengingat bahwa ia belum sepenuhnya dipercaya sebagai wanita dewasa yang mandiri.

​Pagi itu, apartemen studio Ziva terasa dingin meski matahari musim panas mulai mengintip dari celah gorden. Arkan duduk di meja belajar, menatap tiket kepulangannya ke London yang dijadwalkan malam ini.

​Perang Dingin di Meja Makan

​Ziva sibuk menyiapkan kopi, namun gerakannya kasar.

Denting sendok yang beradu dengan gelas kaca terdengar seperti genderang perang yang tertahan.

​"Ar, gue mau kita bener-bener bahas soal Revan," ucap Ziva tiba-tiba, memecah keheningan yang menyakitkan.

​Arkan mendongak, matanya kuyu karena kurang tidur.

"Bahas apa lagi? Dia bantu kita. Selesai."

​"Nggak selesai, Ar! Dia bantu kita pake cara yang jujur. Dia nggak pake pengacara bokap lo. Kenapa lo lebih percaya sama taktik intimidasi daripada kekuatan fakta yang gue punya?" Ziva meletakkan gelas kopi di depan Arkan dengan hentakan kecil.

​Arkan berdiri, wajahnya mengeras. "Karena fakta sering kali kalah sama uang, Ziva! Aku hidup di dunia finansial London, aku liat tiap hari gimana orang jujur dihancurin cuma dalam satu malam. Aku cuma nggak mau itu kejadian sama kamu!"

​"Tapi lo hampir hancurin harga diri gue!" balas Ziva, suaranya meninggi. "Lo bikin profesor gue mikir kalau gue cuma 'boneka' keluarga Wijaya yang bisa beli nilai. Lo nggak ngerti ya? Gue ke sini buat lepas dari label itu!"

​Ego yang Mengeras

​Arkan meraih tasnya, mulai memasukkan barang-barangnya dengan terburu-buru. "Mungkin emang salah aku ke sini. Aku pikir kamu butuh suamimu, tapi ternyata kamu cuma butuh kebebasanmu."

​"Gue butuh suami yang percaya sama gue, Ar! Bukan pelindung yang bertindak kayak majikan!"

​Kalimat itu seperti tamparan bagi Arkan. Ia berhenti bergerak, menatap Ziva dengan tatapan yang sangat asing—dingin, kecewa, dan terluka.

​"Oke. Kalau itu yang kamu mau," ucap Arkan pelan, suaranya mendadak sangat datar. "Aku balik ke London malam ini. Dan mungkin... kita butuh waktu buat nggak saling hubungin dulu. Aku mau fokus sama ujian akhirku, dan kamu bisa nikmatin kebebasanmu tanpa 'gangguan' dari keluarga Wijaya."

​Ziva terpaku. Ia tidak bermaksud meminta perpisahan komunikasi, tapi egonya melarangnya untuk menarik kata-katanya. "Mungkin itu ide yang bagus."

​Keberangkatan yang Sunyi

​Malamnya, Arkan berangkat ke JFK sendirian. Tidak ada pelukan di pintu apartemen, tidak ada janji untuk melakukan video call saat mendarat. Hanya sebuah anggukan kaku di lobi gedung.

​Saat taksi membawa Arkan menjauh, Ziva berdiri di jendela apartemennya, menatap lampu merah taksi yang perlahan hilang di keramaian Brooklyn. Ia merasa menang karena telah mempertahankan prinsipnya, namun dadanya terasa kosong dan perih.

​Di bandara, Arkan duduk di gerbang keberangkatan dengan ponsel yang ia matikan total. Ia merasa gagal. Gagal menjadi mandiri dari ayahnya, dan gagal menjadi tempat bersandar bagi istrinya.

Sinyal yang Terputus

​Di Sydney, Revan mencoba mengirim pesan ke grup mereka untuk menanyakan kabar setelah masalah dekanat selesai. Namun, tidak ada jawaban dari Arkan maupun Ziva selama 24 jam.

​"Ada yang nggak beres," gumam Revan.

​Ia mencoba menelepon Ziva, namun dialihkan ke pesan suara. Ia mencoba menghubungi Arkan, namun nomornya tidak aktif. Revan menyadari bahwa bantuan yang ia berikan ternyata justru menjadi pemicu ledakan ego di antara pasangan itu.

​"Sial. Gue niatnya bantu, malah bikin mereka makin jauh," sesal Revan sambil melempar ponselnya ke kasur.

​Musim Gugur yang Terasing

​Dua Minggu Kemudian.

​Arkan sudah berada di London, tenggelam dalam tumpukan buku dan simulasi pasar modal yang ekstrem. Ia sengaja mengambil jam lembur di firma magangnya agar tidak punya waktu untuk berpikir. Elena mencoba mendekatinya lagi, namun Arkan menolaknya dengan cara yang jauh lebih kasar dari biasanya. Ia menjadi sosok yang sangat tertutup dan dingin, bahkan teman-teman kuliahnya mulai menjauhinya.

​Di New York, Ziva berhasil mendapatkan magang di sebuah kantor berita lokal tanpa bantuan siapa pun. Ia bekerja dari pagi hingga larut malam, menulis artikel demi artikel untuk membuktikan kemampuannya. Namun, setiap kali ia melihat kalung pena pemberian Arkan di cermin, ia merasa seperti ada lubang besar di hidupnya.

​Mereka masih terikat pernikahan secara hukum, namun secara emosional, samudra yang memisahkan mereka kini terasa lebih luas dan lebih dalam dari sebelumnya. Tidak ada pesan "selamat pagi", tidak ada perdebatan kecil di telepon. Hanya kesunyian yang membunuh perlahan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!