Larasati, gadis desa sederhana, percaya bahwa pernikahannya dengan Reza Adiguna akan membawa kebahagiaan. Namun semua harapan itu hancur di hari ia melahirkan—anaknya direbut, dirinya diceraikan, dan ia dicampakkan tanpa sempat memeluk buah hatinya.
Sendiri dan hancur, Larasati berjuang bertahan hidup di tengah kota yang asing. Hingga takdir mempertemukannya dengan Hajoon Albra Brajamusti, pria yang dulu pernah dikenalnya tanpa sengaja.
Dengan keberanian yang tumbuh dari luka, Larasati menyamar sebagai ibu susu demi bisa dekat dengan anaknya kembali.
Di tengah perjuangannya, hadir perasaan yang tak pernah ia duga.
Apakah Larasati sanggup merebut kembali anaknya sekaligus menemukan arti cinta sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pingsan 09
Bruuuum
Ckiiiit
"Itu mobilnya Joon kan, Bang? Bukannya tadi dia keluar pagi-pagi dan bilang ada urusan penting ya? Kok malah balik lagi ke rumah?"
Brigita mengerutkan alisnya melihat mobil putra bungsunya yang kembali lagi ke rumah. Ia ingat sekali tadi pagi Hajoon begitu buru-buru untuk pergi.
"Aku juga nggak tahu. Dari kemarin itu anak sedikit aneh. Ya walaupun memang sebelum-sebelumnya dia memang aneh sih. Entahlah, aku suka bingung dengan anak it~"
Hwan menghentikan ucapannya. Saat ini matanya membulat sempurna ketika melihat Hajoon turun dari mobil dan masuk ke rumah dengan seseorang di gendongannya.
Bukan hanya Hwan, Brigita pun demikian. Keduanya yang tengah duduk menikmati kopi pagi dengan santai dan tenang itu seketika berdiri dan menatap tajam ke arah sang putra.
"Apa yang kamu lakukan Hajoon Albra Brajamusti? Perbuatan apa ini? Kenapa membawa wanita ke rumah dalam kondisi begitu. Kamu apakan dia hah?"
Brigita benar-benar menatap nyalang ke arah Hajoon. Dan tentu saja Hajoon bergidik ngeri dengan tatapan sang ibu tersebut.
Tapi saat ini dia tidak bisa menjelaskan dan memilih untuk membaringkan Laras lebih dulu.
"Bibik, tolong buka pintu kamar tamu."
"I-iya Den."
Salah seorang asisten rumah tangga yang baru saja melintas langsung bergegas untuk melaksanakan apa yang diperintahkan Hajoon.
Dengan hati-hati, Hajoon membaringkan Laras. Tak lupa dia menyetel AC dan menyelimuti tubuh wanita itu.
Dengan cepat Hajoon segera keluar kamar. Dan dia sedikit terpaku ketika sang ibu berkacak pinggang, lalu sang ayah melipat kedua tangannya di depan dada.
"Apa yang sudah kamu perbuat Joon. Kamu apakan anak orang sampai pingsan begitu? Eomma dan Appa nggak pernah ya ngajari kamu berbuat buruk pada wanita. Atau jangan-jangan kamu memberinya obat ya? Kamu menculik dia? Joon jangan membuat masalah."
Hajoon mengusap wajahnya kasar ketika ibunya memiliki pemikiran yang out of the box. Bisa-bisanya sang ibu berpikiran buruk sekali tentang anak lelakinya.
"Eomma, duduk dulu. Joon akan jelasin. Jadi please jangan mikir yang aneh-aneh."
Brigita dan Hwan pun akhirnya duduk. Jujur, belum pernah Hajoon membawa wanita ke rumah. Entah teman atau kekasih, tak pernah sekalipun.
Dan ini pertama kalinya bungsu di keluarga ini pulang dengan seorang wanita. Namun wanita itu bahkan dalam kondisi tidak sadar.
Bagaimana bisa Brigita dan Hwan bisa berpikir positif dan rasional.
"Begini, dia namanya Laras. Joon kenal dia pas dulu KKN di Semarang itu lho. Nah kemarin kami ketemu lagi. Aku nggak nyangka kalau Laras ternyata di kota ini. Dia yang aku ceritakan ke Appa sedang cari kerjaan kemarin. Tadi aku pagi-pagi ke rumahnya untuk minta surat lamaran, karena siapa tahu aku bisa bantu. Soalnya aku pun nggak punya nomor handphone nya. Tapi, malah secara nggak sengaja aku dengar banyak hal dari mulutnya. Dia berjalan kayak orang yang nggak punya arah. Matanya kosong. Aku takut dia kenapa-napa dan jadi sasaran orang jahat. Jadi aku mau bawa Laras pulang ke sini. Mungkin karena psikisnya lelah jadi fisiknya pun lelah."
Penjelasan Hajoon panjang, tapi Brigita masih merasa belum puas dengan apa yang dikatakan Hajoon.
"Memangnya apa ucapan yang kamu dengan itu, Joon. Dan kenapa kamu bisa bilang dia lelah secara psikis?" tanya Brigita.
"Iya, bagaimana kamu bisa ambil kesimpulan begitu?" timpal Hwan. Mereka berdua tidak serta merta menerima penjelasan Joon.
Bukanya apa-apa, saat ini Hajoon membawa wanita yang tidak dikenal ke rumah. Baik Hwan maupun Brigita tidak ingin anaknya berperilaku yang menyimpang norma sosial atau agama.
"Ehm, entah aku boleh bilang ini atau enggak. Tapi jika Appa dan Eomma masih curiga sama aku, ya mau tidak mau aku harus bilang. Tadi yang aku dengar, Laras bilang kalau Reza adalah penipu. Pria itu udah punya istri dan dia hanya dijadikan mesin pencetak anak. Aku nggak sepenuhnya tahu maksud dari ucapannya itu, apa mungkin Laras udah nikah? Atau dia udah cerai, atau gimana aku nggak paham juga."
Brigita dan Hwan saling pandang. Mereka berdua mengerutkan alis, mencoba mencerna ucapan dari sang putra.
Rasanya sedikit membingungkan, tapi Brigita seolah paham dan bisa mengurainya.
Tapi dia tidak ingin mengambil kesimpulan dari permasalahan orang lain. Terlebih orang tersebut juga belum bicara apapun.
"Baiklah kalau gitu, kita tunggu Laras sampai bangun. Kamu harus antarkan dia pulang setelah dia bangun. Kalau dengar cerita sepotong mu, Joon, dia mungkin dalam situasi yang buruk. Tapi kita nggak boleh ikut campur,"ucap Brigita.
"Iya benar kata Eomma mu. Kita nggak boleh ikut campur. Untuk sekedar menolong mungkin tak apa,"imbuh Hwan. Dia setuju dengan apa yang diucapkan sang istri.
"Iya Joon paham, Appa, Eomma."
Hajoon tetap duduk di sana, dia tidak ingin ke kantor hari ini. Entahlah tiba-tiba dia merasa tidak enak dan tidak bisa meniggalkan Laras begitu saja.
Menit berubah menjadi jam, dan saat ini jam sudah menunjukkan pukul 13.00. Awalnya Brigita tidak ingin terlalu memedulikan wanita yang dibawa pulang ke rumah oleh Hajoon, namun ini sudah terlalu lama bagi wanita itu tertidur. Ia pun menjadi khawatir.
"Joon, Laras kenapa belum bangun juga? Udah berjam-jam lho ini dia tidur,"ucap Brigita. Wajahnya menunjukkan keresahan.
"Eomma, sebenarnya aku juga khawatir. Tapi kan aku laki-laki, nggak pantes masuk ke kamar yang hanya ada wanita saja di dalamnya. Tolong Eomma saja yang memeriksa," jawab Joon. Rupanya Hajoon sedari tadi juga sudah khawatir. Dia berkali-kali berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar tamu yang ada Laras di dalam. Tapi dia sama sekali tidak berani masuk.
"Ya udah, Eomma yang masuk,"ucap Brigita.
Ceklek
Krieeet
Secara perlahan Brigita masuk ke dalam kamar. Seketika dia merasa ada yang sakit pada dadanya melihat wajah Laras.
Wajah Laras nampak biasa saja, tapi dia bisa melihat kepedihan di sana meski Laras menutup matanya.
"Nak, bangun. Ini sudah siang, kamu harus makan. Laras, astgafirullah."
Brigita terperanjat ketika merasakan suhu tubuh Laras yang sangat panas.
"Ada apa Eomma!" Hajoon yang tadi menunggu di depan pintu pun langsung berlari masuk mendengar Brigita yang memekik.
"Joon siapkan mobil. Kita bawa Laras ke rumah sakit. Dia bukannya tidur Joon, tapi pingsan. Oh Ya Allah, apa yang sebenarnya terjadi pada anak ini. Joon CEPAT!!"
"Ah i-iya."
Hajoon sempat terpaku sejenak mendengar ucapan ibunya. Tapi dia s segera berlari ketika Brigita menyuruhnya cepat bergerak. Ia menyalakan mobil. Awalnya ia ingin turun dan menggendong Laras, tapi ternyata ayah dan ibunya sudah membawa Laras ke mobil.
"Langsung ke rumah sakit. Appa udah ngubungi kakak iparmu, dia akan menunggu di depan ruang gawat darurat."
"Baik Appa."
Hajoon nampak cemas. Dia sungguh menjadi semakin penasaran dengan apa yang terjadi pada Laras.
"Awalnya aku nggak ingin tahu terlalu dalam. Tapi sekarang nggak lagi, aku harus tahu apa yang terjadi pada dia. Laras, dia wanita yang periang dulunya. Tapi sekarang, wajahnya hanya diliputi kesedihan dan kesakitan,"ucap Joon dalam hati sambil menggenggam erat setir kemudinya.
TBC