Badai datang pelan namun mematikan, menggoyahkan komitmen lima tahun yang Risa yakini abadi. Di bawah langit malam yang sunyi, dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri suaminya, Raga, sedang bermesraan dengan wanita lain di dalam mobil mereka.
Setelah bertahun-tahun membangun rumah tangga dengan penuh pengorbanan, meninggalkan karir impian untuk mendukung karir suaminya, Risa harus menghadapi kenyataan pahit bahwa cinta yang dia anggap tulus telah dipermainkan.
Pengkhianatan itu menjadi pukulan terberat bagi hatinya.
"Selama ini aku menutupi kekuranganmu demi menjaga harga dirimu, tapi balasanmu adalah pengkhianatan. Mulai hari ini, aku tidak mau lagi menjadi orang yang selalu mengalah." ~ Risa Anindita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3
Risa melangkah maju selangkah, menatap suaminya itu lekat-lekat, menatap wajah yang selama ini ia puja, menatap bibir yang baru saja berciuman mesra dengan wanita lain, menatap tangan yang tadi saling memeluk tubuh orang asing dengan penuh nafsu. Rasa mual kembali muncul di tenggorokannya, namun ia berhasil menahannya dengan kuat.
"Aku menunggumu, Mas," jawab Risa dengan nada suara yang lembut dan tenang. Ia menatap lurus ke manik mata Raga yang kini mulai menghindari tatapannya.
"Kenapa pulang sampai sepagi ini? Memangnya pekerjaan apa yang sedang Mas tangani sampai harus meninggalkan istri di rumah, dan menghabiskan waktu sampai jam tiga pagi?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja, ringan dan wajar, namun bagi Raga, pertanyaan itu terdengar seperti jeratan tali yang perlahan mengencang di lehernya. Ia menelan ludah dengan susah payah, keringat dingin mulai bermunculan di pelipisnya.
"I-itu… tadi kan sudah aku bilang, Sayang. Ada kesalahan data yang fatal di laporan proyek besar itu. Aku harus memperbaikinya satu persatu, harus mengecek semuanya sampai benar-benar tepat. Makanya selesainya lama, sampai tidak terasa sudah jam tiga pagi," jawab Raga dengan nada yang dibuat-buat terdengar lelah dan terbebani, sambil mengusap lehernya seolah benar-benar kelelahan bekerja.
Ia berharap alasan itu cukup untuk menenangkan Risa, berharap istrinya yang polos itu akan segera percaya dan kembali bersikap manis seperti biasa.
Namun, Risa hanya diam sejenak, matanya masih terus menatap Raga, menatap setiap perubahan ekspresi wajah suaminya itu. Di dalam hatinya, ia tertawa getir. Pekerjaan? Kesalahan data? Padahal bajunya masih berbau parfum mahal yang tidak pernah Risa miliki, di lehernya juga terlihat bekas merah samar akibat ciuman wanita itu.
Rasa sakit itu kembali menghantam dadanya, tapi Risa tetap mempertahankan senyum tipisnya.
"Begitu rupanya," ucap Risa pelan, nadanya tetap lembut, namun ada getaran dingin yang tersembunyi di dalamnya. "Kalau begitu, terimakasih sudah bekerja keras demi kita, Mas. Sekarang cepatlah mandi dan istirahat. Malam sudah sangat larut,"
"Baiklah, Sayang. Aku langsung mandi dan istirahat, kamu juga langsung tidur ya, tidak perlu menungguku sampai selesai mandi," jawab Raga lega, merasa istrinya benar-benar percaya dengan alasan bohongnya itu. Ia menghela napas panjang, lalu berjalan cepat menuju kamarnya.
Risa hanya mengangguk pelan, menatap punggung suaminya yang menghilang di balik dinding yang memisahkan ruang tamu dan ruang tengah. Senyum tipis di wajahnya perlahan lenyap, digantikan oleh tatapan dingin. Dia tidak percaya sedikitpun, ia hanya ingin melihat seberapa jauh kebohongan ini akan berlanjut, ia ingin mengumpulkan semua bukti, sebelum ia benar-benar mengakhiri segalanya.
Risa kembali duduk di sofa, menggulir layar ponselnya dan membuka kembali pesan misterius yang dia dapatkan sebelumnya. Dia mencoba menghubungi nomor si pengirim untuk mengetahui siapa sebenarnya yang mengirimkan pesan itu padanya, namun nomor yang dia hubungi itu sudah tidak aktif.
-
-
-
Sinar matahari pagi masuk menerangi ruang makan. Aroma nasi goreng hangat, telur dadar, dan kopi yang baru diseduh memenuhi seluruh ruangan. Risa sudah menyiapkan semuanya dengan rapi, seperti yang biasa ia lakukan setiap pagi.
Raga keluar dari kamar dengan wajah segar, tidak ada lagi rasa gugup atau ketakutan semalam. Ia kembali bersikap lembut, bersikap sebagai suami yang sempurna, seolah tidak pernah terjadi apa-apa di malam sebelumnya. Ia duduk di sebelah Risa, lalu tersenyum manis sambil mengambil sendok.
"Wah, enak sekali masakanmu, Sayang. Kamu memang yang paling pandai mengurus rumah dan mengurusku," puji Raga, lalu segera menyantap sarapannya dengan lahap.
Risa tersenyum lembut, tetap bersikap seperti biasanya.
"Makanlah sampai kenyang, Mas. Biar kuat kerjanya," ucap Risa santai, sambil sesekali memandangi wajah suaminya.
Beberapa saat kemudian, Raga meletakkan sendoknya, lalu menatap Risa.
"Ngomong-ngomong Sayang, besok aku harus pergi keluar kota selama satu minggu. Ada rapat besar sekaligus peninjauan proyek cabang di kota sebelah. Jadi nanti tolong siapkan koper dan semua pakaianku ya,"
Hati Risa sedikit berdenyut kencang, namun raut wajahnya tetap tenang tanpa ada perubahan sedikitpun. Ia tahu benar, perjalanan keluar kota itu pasti bukan urusan pekerjaan semata. Pasti ada hubungannya dengan wanita semalam.
"Baiklah Mas, nanti aku siapkan semuanya," jawab Risa lembut, tanpa menampakkan rasa curiga sedikitpun.
"Terimakasih, Sayang. Kamu memang istri terbaik," ucap Raga puas, lalu kembali melanjutkan sarapannya.
Setelah selesai makan, Raga berdiri, merapikan sedikit jasnya, lalu menoleh ke arah Risa yang sedang membereskan piring.
"Aku berangkat kerja dulu ya, Sayang. Hati-hati di rumah, nanti malam aku pulang seperti biasa," pamit Raga, lalu membungkuk sedikit mencium kening Risa.
Risa tidak menolak, ia hanya diam membiarkan ciuman itu mendarat di keningnya dengan dingin.
"Hati-hati di jalan ya, Mas," jawab Risa dengan nada yang tetap sama.
Raga tersenyum, lalu segera berjalan keluar rumah dengan diantar oleh Risa sampai ke teras. Raga masuk kedalam mobil dan melajukannya pergi meninggalkan halaman rumah.
Begitu mobil itu menghilang dari pandangan, senyum di wajah Risa seketika lenyap. Ia harus tahu kebenaran, memastikan apakah wanita semalam itu benar-benar bekerja di kantor suaminya, atau hanya sekedar wanita penggoda yang datang diam-diam. Dan siang ini, ia akan mencari tahu semuanya sendiri.
-
-
-
Jam menunjukkan pukul dua belas siang, waktu istirahat makan siang.
Risa sudah berpakaian rapi, mengenakan dress pendek selutut, rambutnya dibiarkan tergerai. Di tangannya ia membawa kotak makan siang yang besar, berisi masakan rumahan yang dia masak sendiri. Ia berjalan masuk menuju gedung perkantoran tempat Raga bekerja, tempat yang sudah sering ia kunjungi sebelumnya.
Begitu sampai di lantai teratas, para karyawan yang mengenalnya segera menyapa dengan ramah.
"Selamat siang, Bu Risa! Wah, cantik sekali hari ini," sapa sekretaris Raga dengan ramah.
"Selamat siang, Andin. Terimakasih," jawab Risa sambil tersenyum ramah. "Saya membawa bekal makan siang untuk Mas Raga. Dia ada di ruangannya kan?"
"Ada Bu, baru saja selesai rapat. Silakan masuk saja," jawab Andin.
Risa mengangguk, lalu berjalan perlahan menuju ruang kerja suaminya. Sepanjang jalan matanya mengamati setiap wajah karyawan yang ada di sana, mencari-cari wajah yang sangat ia ingat semalam.
Ia melihat wajah satu persatu, namun tidak ada yang sama.
Risa mengetuk pintu ruangan Raga pelan, sebelum membukanya dan masuk kedalam.
"Sayang? Kamu kok datang kesini? Ada apa?" tanya Raga cepat, segera berdiri menyambutnya.
"Aku membawa makan siang untukmu, Mas. Kasihan kalau kamu makan makanan luar terus, kurang sehat," jawab Risa lembut, meletakkan kotak makan itu di atas meja yang ada disudut ruangan. "Aku juga sekedar ingin melihat suasana kantormu, sudah lama tidak kesini."
"Ah, terimakasih banyak Sayang. Kamu benar-benar perhatian sekali," ucap Raga, segera duduk di sofa dan membuka kotak makan itu dengan senyum bahagia.
Sementara Raga sibuk dengan makanannya, Risa menatap sekeliling ruangan sebentar sebelum menatap suaminya kembali.
"Makanlah pelan-pelan, Mas," ucap Risa lembut. "Aku mau berkeliling sebentar, mau lihat-lihat sekalian menyapa karyawan kamu. Nanti aku langsung pulang, tidak lama kok."
Raga mengangguk cepat, "Baiklah Sayang, silakan saja. Kalau sudah selesai langsung pulang ya,"
"Iya, Mas," jawab Risa sambil tersenyum tipis, lalu berdiri dan melangkah keluar dari ruangan kerja Raga, menutup pintunya pelan.
Di lorong kantor yang luas itu, Risa berjalan perlahan, matanya mengamati setiap sudut, setiap wajah orang yang lewat, sambil sesekali menyapa dan mengobrol sebentar dengan staf yang ia kenal. Ia sengaja berlama-lama, berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain, menyusuri setiap lorong, seolah benar-benar hanya ingin melihat-lihat suasana kantor. Padahal hatinya berdebar kencang, setiap langkahnya penuh perhatian, berharap sekaligus takut akan bertemu orang yang ada di dalam ingatannya semalam.
Ia terus berjalan, sampai akhirnya tiba di lorong dekat kamar mandi umum kantor. Saat itu juga, pintu kamar mandi wanita terbuka perlahan.
Jantung Risa seketika berhenti berdetak, darahnya mendidih hebat, seluruh tubuhnya terasa kaku dan dingin.
"Selamat siang, Bu Risa,"
-
-
-
Bersambung...
secara g langsung km udah siap ni ditinggalin raga.. km kan nyuruh cek, terus tau kenyataan pahit asam manisnya kyk apa.... ya jelas nanti raga bakalan ngejar balik lg risa.. ya nerima apa adanya kan cm dia.... siap² deh mimpi terindah menikah dengan raga hanya tinggal khayalan belaka... 🤣🤣🤭