Kaito Nakamura, pemuda keturunan penjaga warisan energi kuno dari pegunungan Jepang, datang ke Malang, Indonesia untuk memulai hidup baru sebagai orang biasa. Ia menyembunyikan kekuatan luar biasa yang terakumulasi selama lebih dari seribu tahun, memilih bekerja sebagai satpam di Gedung Surya Pratama agar tetap tenang dan jauh dari sorotan.
Namun kedamaiannya terganggu saat ia bertemu Anindya Prameswari, pewaris perusahaan tempat ia bekerja, serta kedatangan Rafael Wijaya—tunangan Anindya yang angkuh dan berkuasa. Saat terlibat dalam perselisihan, rahasia kekuatan Kaito perlahan mulai tercium, menjadikannya sasaran kebencian dan rencana jahat Rafael.
Di tengah tugas menjaga keamanan, menyembunyikan jati diri, dan tumbuhnya perasaan pada Anindya, Kaito harus memilih: tetap hidup dalam bayang-bayang, atau mengeluarkan kekuatan seribu tahun itu untuk melindungi orang-orang yang ia sayangi—meski berarti membongkar semua rahasianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aldiaza Ahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Kedatangan Sang Tunangan
Hari-hari berjalan terasa semakin teratur bagiku. Rutinitas sebagai satpam di Gedung Surya Pratama sudah mulai aku kuasai. Bangun pagi, beres-beres rumah, sarapan di warung Bu Siti, lalu datang ke pos jaga sepuluh menit sebelum jam kerja dimulai. Budi selalu menggangguku dengan candaannya yang tak ada habisnya, Pak Suryo memberikan nasihat yang bijak, dan sesekali mataku tak sengaja menangkap sosok Anindya yang lewat dengan senyumnya yang selalu membuat hatiku terasa lebih hangat.
Aku bersyukur bisa hidup seperti ini. Di sini, tidak ada yang tahu siapa diriku sebenarnya, tidak ada yang tahu beban apa yang aku bawa dari negeri asal. Bagi mereka, aku hanyalah Kaito, orang asing yang pendiam, rajin, dan sedikit kaku dalam berbicara. Itu sudah cukup bagiku.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan selamanya. Seperti kata pepatah, badai sering kali datang tanpa memberi tanda terlebih dahulu.
Hari itu cuaca cerah, langit biru bersih tanpa awan sedikit pun. Siang menjelang sore, lalu lintas di depan gedung mulai agak ramai karena banyak karyawan yang akan pulang kerja. Aku berdiri tegak di depan pintu utama, mengawasi setiap kendaraan yang masuk dan keluar dengan pandangan yang tajam, meski di luar terlihat santai.
Tiba-tiba, dari kejauhan terdengar suara deru mesin mobil yang sangat keras, melaju lebih cepat dari kendaraan lain. Suaranya begitu nyaring sampai membuat beberapa orang yang sedang berjalan menoleh dengan kening berkerut. Dalam sekejap, sebuah mobil sedan hitam berukuran besar dan terlihat sangat mewah meluncur masuk ke halaman gedung, memotong antrean kendaraan yang sedang menunggu giliran keluar masuk.
Brak!
Mobil itu berhenti mendadak tepat di depan pintu masuk, membuat debu beterbangan dan sedikit menggeser kerikil di jalan. Suasana seketika menjadi hening. Semua mata tertuju pada mobil itu.
Pintu samping pengemudi dibuka lebih dulu, dan dua orang berbadan kekar dengan wajah datar, mengenakan kemeja hitam lengan panjang dan celana panjang yang seragam, turun dengan gerakan sigap. Mereka berdiri mengapit pintu belakang, seolah menjadi benteng hidup.
Tak lama kemudian, pintu belakang terbuka. Seseorang melangkah keluar dengan gaya yang sangat angkuh.
Lelaki itu berusia sekitar tiga puluh tahun, mengenakan jas hitam yang terlihat sangat mahal dan terjahit rapi, kemeja dalam berwarna putih bersih, serta dasi bermotif yang mencolok. Rambutnya disisir rapi ke belakang, dan di jari manis tangannya terlihat melingkar cincin berkilau. Wajahnya tampan, tapi tatapan matanya dingin, sombong, dan seolah memandang segala sesuatu di sekitarnya lebih rendah dari dirinya.
Dia meluruskan kerah bajunya perlahan, lalu menatap sekeliling dengan pandangan meremehkan, seolah tempat ini tidak sebanding dengan kedudukannya.
Aku segera melangkah maju, tetap menjaga sikap sopan namun tegas sesuai tugasku.
“Selamat sore, Pak. Boleh saya tahu keperluan dan nama Anda? Sesuai aturan, setiap tamu harus melapor dulu sebelum masuk ke dalam gedung,” ucapku dengan nada tenang, menggunakan bahasa Indonesia yang sudah semakin lancar.
Lelaki itu menoleh ke arahku, menatap dari atas sampai bawah seolah sedang menilai barang rongsokan. Bibirnya menyunggingkan senyum sinis.
“Kamu ini siapa? Berani-beraninya menghalangi jalanku?” suaranya berat, dingin, dan penuh rasa merendahkan.
“Saya—eh, maksudku, aku petugas keamanan di sini. Tugas aku memastikan keamanan dan ketertiban. Silakan sebutkan nama atau tujuan, supaya aku bisa catat dan izinkan masuk,” jawabku lagi, tidak terpancing emosi meski sikapnya sudah jelas tidak menyenangkan.
Mendengar jawabanku, lelaki itu tertawa kecil, tertawa yang terdengar mengejek. Ia melangkah mendekat, mendongakkan kepala sedikit lebih tinggi.
“Kamu tidak tahu siapa aku, ya? Pantas saja berani bicara setegas itu. Dengarkan baik-baik. Namaku Rafael Wijaya. Aku adalah tunangan resmi dari Anindya Prameswari, pemilik gedung ini. Jadi, tempat ini juga sebentar lagi akan menjadi milikku. Masuk ke sini tidak perlu izin dari orang rendahan sepertimu!”
Jantungku berdegup sedikit lebih kencang mendengar kata-katanya. Tunangan Anindya?
Rasanya ada sesuatu yang terasa sesak di dadaku, tapi aku segera menepis perasaan itu. Bagaimanapun juga, itu urusan pribadi dia dan Mbak Anin. Tugasku tetaplah menjalankan peraturan.
“Maaf, Pak Rafael. Meskipun begitu, aturan tetap harus dijaga. Aku hanya menjalankan perintah, bukan bermaksud menghalangi. Kalau Anda memang keluarga dekat atau tunangan Mbak Anin, silakan hubungi dia sebentar supaya kami bisa memastikannya,” kataku tetap tenang, tidak mundur selangkah pun.
Mendengar jawaban itu, wajah Rafael berubah seketika. Senyumnya hilang, digantikan ekspresi marah dan jijik. Tangannya mengepal kuat, lalu ia menunjuk dadaku dengan jari telunjuknya.
“Berani sekali kamu membantah kataku? Dasar satpam kampungan, berlagak punya kuasa! Aku bilang aku tunangannya, berarti itu sudah cukup! Jangan banyak alasan, minggir sebelum aku buat kamu menyesal sudah lahir ke dunia!”
Aku tetap berdiri tegak, tidak bergeming. “Aku tidak bisa minggir sebelum ada kepastian. Demi keamanan semua orang di dalam sini.”
Kata-kataku itu bagaikan minyak yang dituangkan ke atas api. Rafael melototkan matanya, lalu menoleh ke dua pengawal kekar yang berdiri di sampingnya dan memberi isyarat dengan anggukan kepala yang singkat.
“Lihat itu? Ada orang yang tidak tahu tempatnya. Ajari dia sopan santun, supaya dia tahu siapa yang harus dihormati di sini!” perintah Rafael dengan suara dingin dan penuh amarah.
“Siap, Tuan!” jawab kedua pengawal itu serempak.
Mereka langsung melangkah maju dengan langkah lebar, rahang mereka mengeras dan tangan mereka sudah mengepal siap menyerang. Salah satu dari mereka, yang bertubuh lebih besar, mendorong bahuku dengan keras seolah ingin menjatuhkanku ke lantai.
“Minggir, atau kami patahkan tulangmu satu per satu!” bentaknya.
Dorongan itu cukup kuat untuk membuat orang biasa terhuyung-huyung atau bahkan terjatuh. Namun, bagiku, rasanya hanya seperti disentuh oleh angin sepoi-sepoi. Aku hanya berdiri diam, tubuhku tidak bergeser sedikit pun, seolah tertanam kuat di atas tanah.
Pengawal itu terkejut melihat reaksiku, tapi ia tidak berhenti. Dengan gerakan cepat, ia mengayunkan tinjunya yang besar ke arah wajahku, ingin membuatku langsung pingsan.
Orang-orang yang melihat kejadian itu berteriak kaget dan mundur menjauh. Budi yang baru saja keluar dari pos jaga langsung berteriak panik.
“Kaito! Hati-hati!”
Tinju itu melesat cepat, tapi bagiku, gerakannya terasa sangat lambat, seolah berjalan dalam air. Aku bisa menghindarinya dengan sangat mudah. Sedikit saja aku memiringkan kepala, dan tinju itu melayang di udara, mengenai ruang kosong.
Belum sempat pengawal itu sadar, rekannya yang satu lagi sudah menyerang dari samping, mengarahkan tendangan keras ke arah pinggangku. Aku sedikit mengangkat satu kaki, lalu menahan ujung kakinya dengan telapak tanganku, menahan tenaga tendangan itu seolah sedang memegang sepotong kayu ringan.
DUG!
Suara benturan terdengar, tapi aku tidak merasakan sakit sedikit pun. Sebaliknya, pengawal itu merasa kakinya terhantam benda yang sangat keras dan tak tergoyahkan. Ia mengerang kesakitan, mencoba menarik kakinya kembali tapi tidak bisa bergerak sama sekali.
Wajah Rafael berubah pucat lalu memerah karena marah dan terkejut. Ia tidak menyangka seorang satpam biasa bisa bertahan melawan dua orang pengawal profesional yang sudah terlatih bertahun-tahun.
“Kalian bodoh apa bagaimana? Hanya satpam rendahan saja tidak bisa diatasi? Hajar dia lebih keras lagi!” teriak Rafael geram.
Kedua pengawal itu kembali menyerang dengan lebih ganas, menggunakan berbagai jurus bela diri yang mereka kuasai. Pukulan, tendangan, dan serangan dari segala arah datang bertubi-tubi. Namun, bagiku, semua gerakan itu terlihat lambat dan mudah ditebak.
Aku hanya bergerak sedikit, menghindar, menepis, atau menahan serangan itu dengan tenaga sekecil mungkin. Aku tidak ingin melukai mereka parah, karena aku tahu jika aku mengeluarkan kekuatan asliku, mereka bisa terlempar sampai puluhan meter jauhnya atau bahkan terluka parah. Aku hanya ingin melumpuhkan mereka sementara waktu agar mereka berhenti menyerang.
Dalam hitungan detik saja, suasana berubah. Kedua pengawal itu terengah-engah, keringat membasahi seluruh tubuh mereka, dan tangan serta kaki mereka terasa kesemutan karena terus-menerus menabrak tenaga yang tak mereka mengerti. Sementara aku masih berdiri tegak, napasku tetap teratur, tidak ada setetes pun keringat yang keluar dari dahiku.
“Ini… mustahil… orang biasa tidak mungkin sekuat ini,” gumam salah satu pengawal itu dengan wajah pucat.
Rafael melangkah mundur sedikit, matanya melotot tak percaya. Ia merasa ada sesuatu yang salah pada orang asing ini. Tatapannya berubah dari angkuh menjadi curiga dan sedikit takut.
“Kamu… siapa sebenarnya? Bukan hanya satpam biasa, kan?” tanyanya dengan suara yang sedikit bergetar, berusaha tetap terlihat berwibawa.
Aku menatapnya dengan tenang, tanpa amarah yang meluap. “Aku memang hanya satpam biasa. Tapi aku punya tugas yang harus dijaga. Kalau kamu benar-benar tunangan Mbak Anin, tunggu saja sebentar. Nanti dia pasti akan turun dan menyambutmu sendiri. Tidak perlu menyakiti orang yang hanya menjalankan aturan.”
Belum sempat Rafael menjawab lagi, suara langkah kaki cepat terdengar dari arah lobi gedung. Semua orang menoleh, dan terlihat Anindya berjalan tergesa-gesa keluar dengan wajah yang tampak bingung dan sedikit cemas. Ia pasti sudah mendengar keributan dari lantai atas.
“Kenapa ada keributan di sini? Ada apa ini?” tanya Anindya sambil memandang sekeliling, lalu matanya tertuju pada Rafael, kemudian padaku dan kedua pengawal yang terlihat kelelahan itu.
Begitu melihat Anindya, sikap Rafael langsung berubah drastis. Wajahnya yang semula marah seketika berubah menjadi senyum manis dan sopan, seolah tidak terjadi apa-apa. Ia segera melangkah mendekat, mencoba menyentuh lengan Anindya, tapi Anindya sedikit mundur menjauh.
“Anin, sayang! Akhirnya aku datang. Maaf membuat keributan sedikit, ini hanya kesalahpahaman saja. Satpammu ini terlalu keras kepala, tidak mau membiarkanku masuk begitu saja,” kata Rafael dengan nada lembut, berusaha memutar fakta.
Anindya menatap Rafael, lalu menoleh ke arahku. Matanya bertemu dengan mataku, dan aku bisa melihat kebingungan serta rasa ingin tahu di dalamnya. Ia melihat posisiku yang masih siap siaga, sementara kedua pengawal itu terlihat lemas.
“Kaito, ceritakan apa yang sebenarnya terjadi,” pinta Anindya kepadaku dengan nada tenang.
Aku mengangguk, lalu menjelaskan semuanya dengan jujur, tanpa menambah atau mengurangi satu kata pun. “Aku hanya menjalankan tugas, Mbak. Pak Rafael datang, aku minta melapor dulu, tapi dia tidak mau. Dia bilang dia tunangan Anda, lalu memerintahkan pengawalnya untuk memukul aku karena menghalangi jalannya.”
Mendengar penjelasanku, wajah Anindya berubah menjadi serius. Ia menatap tajam ke arah Rafael.
“Rafael, apa yang kamu lakukan? Ini tempat kerja, bukan tempat untuk main hakim sendiri. Peraturan itu dibuat untuk semua orang, tidak terkecuali kamu. Kalau kamu mau datang, cukup hubungi aku atau beritahu petugas dengan sopan. Tidak perlu memukuli orang yang sedang bekerja.”
Suara Anindya tidak keras, tapi tegas dan berwibawa. Rafael tertegun, wajahnya memerah karena malu ditegur di depan orang banyak. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu mencoba tersenyum paksa.
“Maaf, Anin. Aku hanya terburu-buru dan kesal saja. Tidak akan terulang lagi,” katanya mencoba membenarkan diri.
Anindya menghela napas panjang, lalu menoleh kembali ke arahku dan memberi senyum maaf.
“Kaito, maafkan dia. Terima kasih sudah bertindak dengan benar dan tetap tenang. Kamu boleh kembali bertugas. Kalau ada apa-apa, lapor saja ke aku.”
“Baik, Mbak. Terima kasih,” jawabku, lalu mundur kembali ke pos jaga, meski rasanya masih ada pandangan tajam dari Rafael yang terus mengawasiku dengan penuh kebencian dan kecurigaan.
Rafael pun akhirnya masuk ke dalam gedung bersama Anindya, tapi sebelum menghilang di balik pintu, ia melirik ke arahku sekali lagi, matanya menyiratkan ancaman. Seolah berkata: Kita belum selesai, orang asing.
Aku menghela napas panjang, memandang langit yang masih cerah. Ternyata, kedamaian yang aku harapkan tidak semudah itu didapatkan. Dengan kedatangan orang seperti Rafael ini, aku tahu tantangan baru sudah dimulai. Dan yang paling membuatku waspada, dia adalah tunangan dari wanita yang diam-diam mulai membuat hatiku terasa berbeda.
Aku hanya bisa berdoa semoga hal ini tidak menjadi masalah yang lebih besar lagi. Namun, naluriku yang sudah terasah selama ribuan tahun itu berbisik perlahan: Badai yang sesungguhnya baru saja mulai datang.