Elena, pembunuh bayaran terbaik dari Klan Bayangan, terpaksa menikahi Pangeran Arlon yang dikenal lemah demi sebuah misi rahasia. Rencananya sederhana, yaitu menyamar, selesaikan misi, lalu menghilang.
Namun, semua berubah saat serangan terjadi di malam pertama mereka. Elena tertegun melihat sang Pangeran Tak Berguna justru menghabisi musuh dengan tangan kosong secepat kilat.
Kini, keduanya terjebak dalam sandiwara besar. Di siang hari mereka adalah pasangan yang malang, namun di malam hari, mereka adalah duet maut paling mematikan.
"Kau dikirim untuk menjaga nyawaku, tapi kau justru mencuri hatiku. Jadi, jangan harap bisa pergi setelah ini. Aku akan melakukan apa pun, bahkan membakar istana ini, asal kau tetap menjadi milikku." _Arlon Belmont.
Di dunia di mana cinta lebih berbahaya daripada racun, sang Pangeran Kegelapan tidak akan membiarkan istrinya pergi begitu saja, bahkan jika dia harus membakar seluruh istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vier08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERIKAT
TRANG
BHUK
BHUK
BRAKKKK
"AAAAAAKKKKKKKHHH!"
Suara tendangan di dan suara jeritan, memenuhi paviliun bintang.
Pangeran Arlon yang biasanya hanya terbaring lemah di ranjang nya, kini tengah membantai puluhan pembunuh bayaran itu.
BRAKK
BRAKK
BHUK
Elena yang masih berada dai balik punggung Pangeran Arlon, mendengus saat melihat lebih banyak lagi penyusup yang masuk lewat jendela.
"Cih, mereka benar-benar niat membunuhmu malam ini!" ucap Elena, berdecak kesal.
Elena baru saja akan menerjang maju dengan belatinya, tapi langkahnya terhenti, saat dia melihat Arlon yang tadi berdiri tegak seperti monster, tiba-tiba limbung.
Tubuh Pangeran Arlon goyah, pedang di tangannya hampir jatuh dan wajah nya kembali pucat.
"Pangeran?" panggil Elena mengernyit.
Baru saja tangan mereka terlepas karena Elena hendak menyerang, untuk membantu Pangeran Arlon, tapi Arlon justru langsung ambruk berlutut.
Uhuk
Uhuk
Uhuk
Pangeran Arlon terbatuk hebat, mulut nya mengeluarkan darah segar yang membasahi lantai.
"Jangan... uhukk... jangan lepaskan..." rintih Pangeran Arlon dengan suara yang kembali serak dan lemah.
Salah satu dari pembunuh bayaran itu melihat celah, dan mengayunkan pedang besar ke arah kepala Arlon.
"Sial!" umpat Elena berdecak kesal.
Elena terpaksa melompat kembali ke sisi Pangeran Arlon, menangkap bahu pria itu untuk menariknya menghindar dari tikaman musuh.
Srett
Deg
Begitu kulit telapak tangan Elena menyentuh leher Pangeran Arlon yang berkeringat dingin, ledakan energi itu kembali lagi.
Pangeran Arlon tersentak, punggungnya menegak, dan matanya kembali berkilat tajam.
Elena tertegun, dia mencoba melepaskan tangannya karena kaget, dan detik itu juga Pangeran Arlon kembali lemas.
"Sial, jadi benar-benar karena aku?" gumam Elena tidak percaya.
Elena menatap tangannya sendiri, lalu menatap Pangeran Arlon yang kini tampak seperti pecandu yang baru saja mendapatkan dosis obatnya.
Sekarang Elena sadar, Pangeran Arlon bukan pura-pura kuat, tapi dia memang butuh kontak fisik dengannya untuk memicu kekuatan tersembunyi di tubuhnya.
"Lakukan, habisi mereka," bisik Elena, mempererat genggaman nya di tangan Pangeran Arlon.
Pangeran Arlon menyeringai, wajah pucat nya sudah kembali hilang, wajah nya kini dihiasi sebuah seringai iblis yang sangat tampan namun mematikan.
Dengan tangan kiri tetap mengunci tangan Elena, Pangeran Arlon menerjang ke depan.
TRANG
TRANG
TRANG
Pangeran Arlon bergerak secepat bayangan, setiap pukulan dan tendangannya menghancurkan tulang musuh dalam sekejap.
"Tetaplah di dekatku, Istriku!" seru Pangeran Arlon sambil mematahkan leher musuh terakhir dengan satu tangan nya.
KRAKKKK
"AAAAKKKKKKHHHH!"
Hanya dalam hitungan detik, para penyusup itu tewas berserakan di lantai paviliun dengan keadaan yang sangat mengenaskan.
Suasana kembali hening, hanya menyisakan suara hujan di luar.
Pangeran Arlon berdiri di tengah genangan darah, napasnya kini sangat tenang dan bertenaga, perlahan memutar tubuhnya, menatap Elena dengan tatapan dalam nya, yang seolah ingin menembus jiwa gadis itu.
"Siapa kamu sebenarnya?" bisik Pangeran Arlon, dengan posisi masih menggenggam tangan Elena.
"Kenapa hanya sentuhanmu yang bisa membakar darahku, Elena."?" tanya Pangeran Arlon, dengan suara seraknya.
Elena tersenyum tipis, menyadari bahwa misinya kali ini jauh lebih gila dari yang ia bayangkan.
"Sepertinya, aku bukan sekadar pengantin cadangan, Pangeran, tapi aku adalah nyawamu," jawab Elena, tersenyum miring.
"Kalau begitu, jangan pernah berpikir untuk melepaskannya, karena jika kamu pergi, aku akan menyeret seluruh dunia ini ke dalam kegelapan bersamaku," bisik Pangeran Arlon, merapikan anak rambut Elena yang berantakan.
Elena mematung, merasakan deru napas Arlon yang hangat menerpa kulit leher nya, kata-kata pria yang kini menjadi suaminya itu bukan sekadar gertakan, melainkan janji yang mengerikan sekaligus memikat.
Di tengah aroma anyir darah yang memenuhi ruangan, Elena perlahan menjauhkan wajahnya agar bisa menatap mata Pangeran Arlon, yang tampak sangat bersinar, tajam dan juga sangat berbahaya.
"Kamu terlalu dramatis untuk seseorang yang baru saja bangkit dari ranjang kematian, Pangeran," ucap Elena dengan nada remeh, yang sengaja dia buat untuk menutupi rasa gugupnya.
"Aku tidak bercanda, Elena, begitu tanganmu terlepas, racun sialan ini akan kembali menggerogoti jantungku," gumam Pangeran Arlon, dengan suara bergetar
Elena menghela nafas nya pelan, dirinya benar-benar tidak menyangka, misi yang dirinya kira gampang dan sangat mudah , justru seperti ini, namun Elena juga sadar bahwa saat ini dirinya adalah penawar sekaligus kekuatan bagi suaminya.
Dengan tangan yang masih bertautan, Elena berjalan melewati mayat-mayat penyusup itu menuju pintu paviliun yang tertutup rapat.
"Kita tidak bisa diam di sini, keributan ini pasti akan mengundang pengawal istana untuk datang kemari," ucap Elena sambil memeriksa keadaan luar melalui celah pintu.
Pangeran Arlon mengikuti langkah Elena dengan patuh, meskipun langkahnya sedikit limbung karena tubuhnya masih berusaha beradaptasi dengan kekuatan besar yang dipicu oleh sentuhan Elena.
Samar-samar mereka berdua mulai mendengar suara teriakan dan langkah kaki banyak orang, yang mulai mendekati paviliun mereka.
"Bersiaplah, Elena, panggung sandiwara kita baru saja dimulai," bisik Pangeran Arlon, menyeringai dingin.
BRAK
Pintu terbuka dengan kasar, memperlihatkan barisan pengawal kerajaan yang dipimpin oleh Pangeran Arkan.
Mereka semua terperangah melihat ruangan yang hancur berantakan dan mayat-mayat yang bergelimpangan, sementara di tengah ruangan, Elena tampak sedang menangis sambil memeluk Arlon yang kembali terlihat lemas dan terus terbatuk darah.
"Apa yang terjadi di sini?!" teriak Pangeran Arkan, matanya melotot menatap tumpukan mayat itu.
Elena mendongak dengan air mata buatan yang membasahi pipinya.
"M-mereka masuk lewat jendela! Mereka ingin membunuh Pangeran!" teriak Elena, menangis dengan bahu bergetar ketakutan.
Pangeran Arkan mendekat, memeriksa salah satu mayat.
"Siapa yang membunuh mereka semua? Gadis lemah sepertimu tidak mungkin menghabisi puluhan pembunuh profesional sendirian," ucap Pangeran Arkan, mengerutkan alisnya tajam.
Elena menunduk, menyembunyikan kilat matanya yang tajam, sementara Pangeran Arlon masih dengan sandiwara nya yang tampak sedang sekarat.
"Saya tidak tahu, saat mereka menyerang, tiba-tiba ada seseorang berjubah hitam masuk lewat jendela lain, orang itu bergerak sangat cepat dan menghabisi mereka semua, lalu pergi begitu saja setelah melihat para pengawal datang," jawab Elena, begitu lancar.
Pangeran Arlon menatap Elena penuh selidik, lalu beralih menatap Pangeran Arlon yang tampak pingsan.
BHUK
Pangeran Arkan menendang kaki Pangeran Arlon dengan kasar untuk memastikan apakah pangeran itu benar-benar tidak sadar.
"Cih, dasar sampah beruntung, bahkan pembunuh pun merasa kasihan melihat nyawamu yang tinggal seujung kuku ini," gumam Pangeran Arkan pelan.
Elena mengepalkan tangannya di balik lipatan gaun nya, tentu saja dia tidak terima dengan perlakuan Pangeran Arkan pada suaminya, walapun mereka baru menikah dan baru kenal, tetap saja Elena marah.
"Kalau saja kamu tahu pria yang kamu tendang ini baru saja mematahkan leher orang dengan tangan kosong, kamu pasti sudah kencing di celana," batin Elena, kesal.