NovelToon NovelToon
Di Balik Seragam Yang Sama

Di Balik Seragam Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tazaya

Sebuah kisah 2 orang anak SMA, dibalik seragam yang sama ternyata kehidupan mereka sangat bertolak belakang

dengan kisah anak gadis bernama Naira dengan kehidupan nya yang sunyi dan dingin
dan kisah anak lelaki yang berkerja keras sambil bersekolah tapi dikelilingi keluarga yang hangat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tazaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gara-Gara Bu Sarah

Hari presentasi tugas ekonomi besar akhirnya tiba. Ruang kelas 11-A mendadak tegang saat Bu Sarah, guru ekonomi yang terkenal pelit nilai, menatap tajam ke arah proyektor di depan kelas. Beberapa kelompok sebelum mereka maju dengan materi yang ala kadarnya kebanyakan cuma membaca ulang poin-poin dari internet tanpa analisis yang jelas.

Ketika nama Rama dan Naira dipanggil, bisik-bisik langsung terdengar di penjuru kelas. Kombinasi juara kelas yang kuotanya terbatas dan si putri diler mobil mewah yang dingin jelas jadi tontonan yang menarik.

Rama maju dengan tenang, menggenggam pointer presentasi, sementara Naira berdiri di sampingnya dengan pembawaan yang elegan. Kerja keras mereka semalaman suntuk benturan antara data lapangan riil milik Rama dan teori berbayar dari jurnal internasional milik Naira menciptakan sebuah mahakarya.

Naira membuka presentasi dengan penyampaian yang lugas dan berkelas, lalu Rama masuk menyabet bagian analisis mikro dengan begitu tajam. Mereka tidak saling mendominasi; mereka saling melengkapi. Pertanyaan demi pertanyaan sulit dari Bu Sarah babat habis oleh argumen mereka yang kokoh.

Saat slide terakhir ditutup, suasana kelas hening sejenak sebelum akhirnya Bu Sarah tersenyum tipis sebuah pemandangan langka dan mulai bertepuk tangan, diikuti oleh riuh tepuk tangan teman-sekelas.

"Analisis yang luar biasa, Rama, Naira," puji Bu Sarah tegas. "Ini bukan lagi level tugas SMA. Kalian menggabungkan realitas pasar dengan teori makro dengan sangat jenius. Kelompok kalian adalah yang terbaik di angkatan ini."

Naira refeks melirik ke samping. Di saat yang sama, Rama juga menoleh ke arahnya. Untuk pertama kalinya, mereka saling melempar senyum tipis yang tulus. Ada rasa puas yang membuncah di dada Naira rasa puas yang berbeda dari sekadar mendapatkan nilai bagus hasil membayar orang lain. Ini hasil jerih payahnya sendiri.

Namun, senyum itu tidak bertahan lama ketika Bu Sarah kembali bersuara.

"Karena hasil kerja kalian sangat matang, saya punya tugas tambahan untuk kalian berdua. Berhubung masih banyak kelompok yang analisisnya berantakan dan terancam tidak lulus KKM, saya tugaskan kalian untuk menjadi mentor mereka. Kalian harus membantu mereka memperbaiki analisisnya sampai minggu depan."

Naira langsung mengernyitkan dahi. Mentor? Membantu kelompok lain? Itu artinya waktu belajarnya atau lebih tepatnya, waktu tenangnya bakal tersita.

Baru saja Naira ingin membuka mulut untuk protes, Rama sudah mendahuluinya. Cowok itu mengangkat tangan dengan sopan. "Maaf, Bu. Kalau boleh tahu, apakah bimbingannya harus dilakukan di sekolah setelah jam pulang?"

"Terserah kalian, Rama. Yang penting laporan perbaikannya saya terima minggu depan," jawab Bu Sarah mutlak, tidak menerima bantahan.

Rama menurunkan tangannya, lalu melirik jam dinding dengan helaan napas pendek yang samar. Naira yang melihat itu langsung paham apa yang ada di pikiran cowok itu jadwal kerja sampingannya bakal terganggu.

Begitu bel pulang sekolah berbunyi, kerumunan anak-anak dari kelompok yang nilainya jeblok langsung menyerbu meja mereka.

"Ra, Ram, tolongin kelompok gue dong! Ini Bab 3-nya musti dirombak dari mana sih?"

"Rama, lo ada waktu gak sore ini? Temenin kelompok gue nyari data riil dong, please..."

Rama tampak kewalahan. Dia melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul dua siang. Shift kerjanya di toko fotokopi dimulai pukul tiga, dan dia belum pulang untuk ganti baju.

Naira yang berdiri di samping meja Rama memperhatikan wajah cowok itu yang mulai berubah gelisah. Ego lamanya sempat berbisik, 'Biarin aja, bukan urusanmu.' Tapi entah kenapa, ingatan tentang suara perut Rama yang keroncongan dan motor bebeknya yang mogok kemarin subuh mendadak melintas di kepalanya. Cowok ini butuh kerjaan itu buat bertahan hidup.

Naira menggebrak meja dengan pelan menggunakan buku tebalnya, membuat perhatian anak-anak kelas langsung teralih padanya.

"Stop, jangan berisik," ucap Naira dengan nada dingin andalannya, seketika membuat kelas senyap. Dia menatap anak-anak yang mengerubungi mereka. "Rama gak bisa sore ini. Dia ada urusan penting."

Rama menoleh ke arah Naira, sedikit terkejut karena gadis itu mendadak membelanya.

"Terus gimana dong, Ra? Kapan kita bisa konsultasi?" tanya salah satu teman sekelas mereka dengan wajah melas.

Naira diam sejenak, melirik Rama, lalu kembali menatap teman-temannya. Sebuah ide gila yang bahkan membuat dirinya sendiri heran kenapa dia bisa memikirkannya meluncur begitu saja dari bibirnya.

"Bagi kelompok yang mau bimbingan, datang aja ke ruko fotokopi depan kampus malam ini jam delapan. Kita mentorin kalian di sana."

"Hah? Toko fotokopi?" anak-anak saling berpandangan, bingung.

Rama melotot kecil, menatap Naira dengan pandangan gak percaya. Naira? Si anak orang kaya yang ke sekolah aja dijemput sedan mewah, mau nongkrong di toko fotokopi tempatnya kerja paruh waktu?

Naira mengabaikan tatapan syok dari Rama. Dia langsung menyampirkan tas bermereknya di bahu, menatap Rama sekilas dengan tatapan menantang seolah ingin berkata: 'Gak usah geer, aku cuma bagi tugas.'

"Gimana, Rama? Jam delapan malam kamu udah senggang, kan?" tanya Naira tenang, membalikkan keadaan.

Rama menahan napasnya sejenak, lalu sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyuman kecil yang tidak bisa dia sembunyikan. "Ya. Jam delapan malam toko sudah agak sepi. Saya tunggu di sana."

Naira mendengus pelan, berbalik, dan berjalan keluar kelas dengan jantung yang kembali berdegup kencang. Di dalam hatinya, dia merutuki dirinya sendiri lagi. Ihh, apaan sih Naira! Ngapain kamu malah bikin janji di tempat kerja dia?!

1
Wawan
Sepertinya ini sama persis degan bab di depan 💪✍️
Wawan
Nah kena Amor lu 😍😄✍️
tazayaa: hahaha🤭
total 1 replies
Wawan
Kok mirip ceritaku ya ... "Pada Suatu Masa" 💪✍️
Wawan: Panjang kalau di ceritaku 😄 ... But ide tulisamu menarik dan menyenangkan Thor 💪✍️
total 2 replies
Wawan
Satu ilklan plus mawara buat yang lagi klepek klepek 😄✍️
tazayaa: hihii terimakasih 💪😄
total 1 replies
Wawan
Suit suiiit 😍
tazayaa: hihiii🤣
total 1 replies
Wawan
Rama dan Naira 😍😍😍
tazayaa: jangan lupa baca kisah selanjutnya yaa😍😍😍
total 1 replies
Protocetus
Bibit2 timnas 💪
Protocetus
Gk sekolah mau kerja apa bossku 😂
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
tazayaa: siapp, sama-sama👍
total 3 replies
Dhatu Lukita
terus semangaattt 💪💪💪
tazayaa: terimakasih kak, semangat jugaa 💪
total 1 replies
Dhatu Lukita
haloo thor aku mampir nih, semangat terus berkarya ya 💪💪💪
tazayaa: siapp kak, makasihh yaa
total 1 replies
tazayaa
bantu follow ya supaya admin semangat update niii🤭🤭
cila_aa
aduhh ada yang mulai tumbuh tapi bukan pohon nihh 🤭
tazayaa: wkwkw
total 1 replies
tazayaa
BAGUSSS POLLL!!!🩷🩷
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!