"Jangan pernah jatuh cinta padaku, karena kontrak ini tidak menyertakan perasaan," itulah aturan nomor satu yang ditulis oleh Arga Dirgantara untuk istrinya.
Selama dua tahun, Keysa hidup dalam bayang-bayang. Sebagai istri kontrak, ia adalah asisten yang tak terlihat, tameng perusahaan, dan sosok yang paling dibenci Arga karena dianggap sebagai penghalang kebahagiaan pria itu dengan wanita lain. Keysa sudah siap untuk menyerahkan surat cerai dan pergi selamanya.
Namun, takdir punya rencana lain. Sebuah kecelakaan fatal menghapus memori Arga selama tiga tahun terakhir.
Saat pria itu membuka mata, ia tidak lagi melihat Keysa sebagai 'istri kontrak' yang menyebalkan. Ia melihat seorang wanita yang dingin, cerdas, efisien, dan memiliki tatapan tajam yang membuat jantungnya berdebar tanpa alasan.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Arga dengan nada posesif. "Dan kenapa setiap kali aku melihatmu, aku merasa aku adalah orang paling bodoh karena pernah membiarkanmu menangis?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Pertengkaran Rasional
"Kau mencoba menjebakku, Keysa?!" bentak Arga dengan suara menggelegar.
Keysa sama sekali tidak tersentak mundur melihat pecahan piring dan roti panggang yang berantakan di meja makan. Wajahnya tetap sedingin es. Mata cokelat terangnya menatap lurus kilat kemarahan Arga tanpa ada rasa takut. Ia justru mengambil serbet kain dari pangkuannya, lalu mengelap perlahan tetesan teh yang memercik ke punggung tangannya akibat bantingan keras tersebut.
"Gunakan kata yang lebih tepat, Arga. Itu bukan jebakan murahan," balas Keysa dengan nada suara yang sangat tenang. "Itu adalah jalan keluar paling efisien yang sengaja aku susun untuk menyelamatkan kita berdua. Terutama untuk menyelamatkan masa depan perusahaanmu."
"Menyelamatkan perusahaanku?!" Arga tertawa sinis yang terdengar sangat mengerikan. Ia mencondongkan tubuh besarnya melintasi meja, mengintimidasi Keysa dari jarak dekat. "Kau menyusupkan surat persetujuan gila ini di tengah tumpukan laporan keuangan, dan kau berani menyebut tindakan pengecut ini sebagai langkah menyelamatkan perusahaan?!"
"Duduk dan pakai akal sehatmu, Arga," perintah Keysa tajam, tidak kalah mendominasi. "Jangan biarkan ego lelakimu menutupi logika bisnismu yang berharga itu. Mari kita bicara tentang deretan angka dan sentimen pasar."
Arga menggertakkan rahangnya kuat-kuat. Ia menolak duduk, namun terdiam menunggu istrinya.
"Saat ini, sentimen pasar saham sangat berpihak padamu," Keysa mulai menjabarkan faktanya dengan sangat lancar layaknya sedang presentasi di ruang rapat. "Publik dan pemegang saham melihatmu sebagai CEO tangguh yang berjuang dalam pemulihan pasca kecelakaan. Jika kita mengurus perceraian kita diam-diam hari ini, dengan alasan ketidakcocokan damai, saham Alvandra Group hanya akan mengalami koreksi wajar. Paling banyak turun dua persen, lalu akan kembali stabil dalam hitungan hari."
Keysa menatap mata suaminya lekat-lekat. "Tapi coba bayangkan skenario terburuknya. Bagaimana kalau ingatanmu kembali utuh minggu depan? Kau akan kembali berubah wujud menjadi monster tiran yang tidak terkendali. Kau akan mencari gara-gara di kantor, melempar barang lagi seperti dulu, dan gosip kekerasan dalam rumah tangga kita pasti bocor ke media."
Keysa menarik napas pendek, lalu memberikan pukulan logikanya. "Jika hal itu terjadi, skandalnya akan meledak sangat besar. Investor asing akan lari ketakutan. Saham Alvandra bisa anjlok hingga dua puluh persen. Perusahaanmu bisa hancur hanya karena kau menolak melepaskanku secara baik-baik sekarang. Jadi, sebagai pebisnis sejati, pilih mana yang kerugiannya paling kecil?"
Arga terbungkam telak. Napas laki-laki itu memburu kasar. Kata-kata Keysa bukan omong kosong, melainkan analisis risiko bisnis yang sangat tajam. Sebagai pemimpin perusahaan raksasa, insting bisnis di dalam kepala Arga membenarkan setiap patah kata istrinya.
Keysa seratus persen benar. Bercerai secara damai saat ini adalah langkah paling aman untuk mengamankan nilai triliunan rupiah milik perusahaan mereka.
Namun, ada sesuatu di dalam dada Arga yang menolak keras logika brilian tersebut. Hatinya meronta hebat. Laki-laki itu mendadak tidak peduli pada grafik saham atau sentimen investor sialan itu. Ia hanya memikirkan eksistensi perempuan di depannya ini.
"Aku sudah bilang padamu, Keysa!" suara Arga sedikit bergetar menahan gejolak emosi yang sangat asing baginya. "Pria brengsek di masa lalu itu sudah mati! Aku tidak akan pernah kembali menjadi monster itu! Kenapa kau keras kepala menolak percaya padaku? Apa yang harus aku lakukan supaya kau percaya?!"
"Karena aku tidak pernah mau bertaruh pada janji manis laki-laki yang otaknya sedang rusak!" balas Keysa menaikkan nada suaranya. Pertahanan esnya sedikit retak oleh rasa frustasi. "Kamu tidak punya kendali atas ingatanmu, Arga! Saat sirkuit di kepalamu itu kembali tersambung sempurna, perasaan pedulimu padaku akan ikut terhapus bersih tanpa sisa!"
Keysa cepat-cepat membuka ritsleting tas kerjanya. Ia merogoh ke dalam dompetnya dan menarik keluar kartu logam hitam legam berlogo Zenith. Kartu debit prioritas langka yang membuktikan bahwa dirinya memiliki kekayaan tunai mandiri tidak terbatas dan sangat aman dari campur tangan siapa pun.
Prang! Keysa membanting kartu logam itu ke meja makan.
"Lihat kartu ini baik-baik, Arga," desis Keysa dengan mata berkilat tajam. "Jika kamu setuju menandatangani surat evaluasi medis itu sekarang, aku berjanji tidak akan menuntut sepeser pun harta gono-gini darimu. Aku tidak akan meminta rumah mewah, deretan mobil sport, atau uang pesangon triliunan dari perusahaan. Aku sama sekali tidak butuh hartamu."
Arga menatap kartu hitam itu dengan rahang yang semakin mengeras.
"Aku bisa membiayai gaya hidupku sendiri sampai tujuh turunan," lanjut Keysa dingin mematikan. "Aku membeli kebebasanku sendiri darimu hari ini juga. Semua ini murni transaksi bisnis yang paling menguntungkan untuk kita berdua. Tanda tangani kertas itu sekarang, dan kita selesai hari ini tanpa ada yang terluka lebih jauh."
Suasana apartemen itu terasa sangat mencekam. Adu mulut ini jauh lebih melelahkan daripada pertarungan fisik mereka di atas ring tinju. Tidak ada teriakan histeris, tidak ada tangisan, hanya dua manusia tangguh yang saling beradu logika tingkat tinggi tanpa ampun.
Arga benar-benar terpojok. Ia merasa ditelanjangi oleh kecerdasan istrinya sendiri. Logika bisnis Keysa sama sekali tidak bisa dibantah argumen mana pun. Tawaran perempuan itu terlalu menggiurkan dan sangat efisien untuk ditolak oleh akal sehat seorang direktur utama.
Namun, Arga adalah laki-laki penguasa yang memiliki ego sebesar gunung.
Tangan besarnya bergerak kilat menyambar dua lembar kertas evaluasi medis dari dalam map biru. Arga menatap kalimat di atas kertas putih itu dengan kilat mata penuh kebencian, lalu tanpa ragu sedikit pun, ia menarik kedua ujung kertas itu kuat-kuat.
Sret!
Bunyi kertas robek terdengar sangat keras di tengah keheningan apartemen tersebut.
Arga merobek dokumen maut itu menjadi dua bagian besar, lalu ia merobeknya lagi secara brutal hingga menjadi serpihan kecil. Ia melempar potongan kertas itu ke udara, membiarkannya berjatuhan mengotori piring keramik dan meja makan mereka layaknya hujan salju yang kotor.
"Persetan dengan anjloknya harga saham perusahaan," geram Arga dengan suara serendah bisikan iblis. Matanya menatap Keysa penuh obsesi yang menggelap pekat. "Aku menolak bercerai."
Keysa menatap serpihan kertas rencananya yang kini telah hancur berantakan. Wajahnya kembali membeku total. Tidak ada celah untuk negosiasi rasional dengan laki-laki keras kepala ini. Perempuan itu berdiri dari kursinya dengan gerakan yang sangat tenang namun sarat kepastian yang tidak bisa diganggu gugat.
Keysa berdiri tenang. "Kalau begitu, aku yang akan angkat kaki dari apartemen ini sekarang juga."
semoga Arga bisa meluluhkan hati Keysa walaupun harus menunggu waktu yg lama..
apalagi Keysa sosok mandiri tangguh dan badass..