Kael Valmont adalah pewaris sekaligus pemimpin muda Shadow Crown, organisasi mafia yang mengendalikan segalanya dari balik bayangan. Dikenal kejam dan tak terkalahkan, tidak ada yang berani mengkhianatinya.
Namun suatu malam, seseorang berhasil menyusup ke dalam organisasinya. Pengkhianatan itu membuat Kael terluka parah dan menghilang tanpa jejak.
Di sebuah desa terpencil bernama Desa Sekar, Hana, seorang dokter muda, menemukan pria misterius yang terdampar di pesisir pantai dalam keadaan sekarat. Tanpa mengetahui identitasnya, Hana berjuang menyelamatkan nyawa pria tersebut.
Saat semua orang mengira ia hanyalah korban biasa, sebuah rahasia perlahan terungkap. Seseorang sedang mencarinya. Bukan untuk menolongnya, melainkan untuk memastikan ia tidak pernah bangun lagi.
Siapa sebenarnya pria misterius yang ditemukan di tepi pantai itu? Dan rahasia apa yang tersembunyi di balik lambang mahkota hitam yang terukir di tubuhnya?
Ketika masa lalu mulai mengejarnya, Desa Sekar yang damai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 19 Cerita yang Tersimpan
Setelah mengerjakan rutinitasnya seperti biasanya Kael duduk termenung di rumah panggung menatap matahari yang mulai bersembunyi di balik gelapnya malam.
Langit yang sejak sore dipenuhi awan kelabu akhirnya menjatuhkan gerimis tipis. Atap-atap seng rumah panggung berdenting pelan saat tetesan air mulai membasahi desa nelayan kecil itu, membawa aroma tanah basah yang menenangkan.
Di dalam rumah Bu Ratih, suasana justru terasa teramat hangat. Lampu minyak menyala temaram di sudut ruangan, memantulkan bayangan samar pada dinding kayu.
Aroma teh jahe yang baru diseduh menguar, memenuhi udara malam yang mulai dingin. Bu Ratih duduk berselonjor sambil mengupas singkong rebus yang masih mengepulkan asap, sementara Rani asyik coret-coret di lantai dengan buku gambarnya.
Di dekat mereka, Kael sedang sibuk mengetuk-ngetuk palu, memperbaiki kursi bambu yang kakinya mulai longgar. Suasana sederhana itu terasa begitu damai. Terlalu damai, hingga Kael sendiri terkadang masih sulit percaya bahwa hidupnya yang penuh darah kini diisi oleh hal-hal sehangat ini.
Tok... tok... tok...
Suara ketukan pintu terdengar di antara deru gerimis.
"Masuk saja, pintu tidak dikunci!" seru Bu Ratih lantang dari tempat duduknya.
Pintu kayu itu terbuka perlahan. Hana muncul dari balik pintu sambil menguncupkan payung anyaman bambunya yang masih dipenuhi tetesan air hujan. Di tangan kirinya, ia mendekap sebuah wadah makanan yang masih hangat.
"Aku membawa sup ikan bumbu kuning untuk makan malam," ujar Hana. Ia melangkah masuk dengan senyum manis yang seketika mencairkan udara dingin di ambang pintu.
"Syukurlah! Tadi aku sedang malas sekali menyalakan tungku memasak," sahut Bu Ratih langsung tersenyum lebar, menyambut wadah makanan itu dengan antusias.
Hana tertawa kecil mendengarnya. Saat tatapannya beralih ke lantai, Rani yang menyadari kedatangan sang dokter langsung melambaikan tangan dengan riang. Gadis kecil itu kini sudah jauh lebih nyaman berada di dekat Hana.
"Terima kasih menyambutku, Rani," ucap Hana lembut. Ia berjalan mendekat lalu mengusap pelan puncak kepala gadis kecil itu dengan penuh kasih sayang.
Malam semakin larut, dan hujan di luar justru turun semakin deras menghantam bumi. Karena cuaca sama sekali tidak memungkinkan bagi Hana untuk berjalan pulang ke rumahnya, Bu Ratih memaksa dokter muda itu untuk tinggal lebih lama.
Akhirnya, mereka berempat duduk melingkar di atas tikar pandan, menikmati makan malam bersama. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rumah panggung kecil itu dipenuhi oleh percakapan yang mengalir dan tawa yang renyah.
Bu Ratih, dengan semangat khas orang tua, mulai membongkar berbagai cerita kenakalan Rani saat masih balita.
"Dia itu pernah menyembunyikan ayam peliharaan tetangga di bawah tempat tidur sampai seisi desa heboh mencari," ujar Bu Ratih terkekeh geli.
Rani langsung menutup seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangan karena malu, merengek pelan di samping neneknya.
"Astaga, Rani! Kau sekongkol dengan ayam?" tanya Hana. Tawa dokter muda itu pecah hingga ia harus memegangi perutnya yang kram karena terlalu banyak tertawa.
Kael yang biasanya memasang wajah sedingin es pun tidak bisa melepaskan diri dari suasana itu. Ia hanya menggelengkan kepala pelan sambil menahan senyum tipis di sudut bibirnya.
"Dan yang lebih parah lagi," lanjut Bu Ratih, melirik cucunya dengan mata jenaka, "dia pernah memanjat pohon mangga tinggi sekali hanya karena merajuk tidak mau disuruh tidur siang."
Rani buru-buru menggelengkan kepala dengan kuat, memasang wajah cemberut seolah ingin membantah telak cerita tersebut. Namun, rona merah yang menjalar di pipi tembamnya justru menjadi bukti paling kuat bahwa cerita sang nenek nyata adanya. Rumah kayu itu kembali dipenuhi gelak tawa.
Di tengah suasana hangat yang melingkupi mereka, perhatian Hana kembali terlempar pada sosok Kael. Pria itu tidak banyak bicara, ia lebih memilih menjadi pendengar yang baik, memperhatikan interaksi di depannya, dan sesekali tersenyum tipis.
Namun malam itu, karena gerakan Kael yang condong ke depan saat mengambil singkong, kerah kemejanya sedikit terbuka. Kalung perak kusam di lehernya kembali menyembul, memantulkan pendaran cahaya lampu minyak. Kalung yang sama. Kalung yang tidak pernah lepas seujung kuku pun dari tubuhnya.
Tatapan Hana tertahan di sana selama beberapa detik. Rasa penasaran yang sempat ia kubur tempo hari mendadak bergejolak kembali di dalam dadanya.
"Siapa sebenarnya pemilik kalung itu sebelum Kael kehilangan ingatannya? Siapa wanita yang begitu berharga hingga Kael menjaganya seperti menjaga nyawanya sendiri?" Namun, Hana buru-buru menghela napas pendek dan menarik pandangannya. Ia tidak ingin menjadi orang asing yang lancang mengorek luka pria itu.
Tanpa Hana sadari, Kael menangkap basah arah pandangannya. Secara refleks, jemari tangan Kael bergerak naik, menyentuh dan meremas pelan liontin kecil yang tersembunyi di balik kain kemejanya.
Seketika itu juga, suara tawa di dalam ruangan terasa menjauh dari rungu Kael. Pikirannya terlempar mundur menembus ruang dan waktu, kembali ke malam berdarah di pelabuhan itu. Wajah Arin yang pucat, tatapan matanya yang sayu, dan bisikan terakhirnya kembali terngiang dengan sangat nyata di kepala Kael.
“Aku... sangat mencintaimu, Kael...”
Kael menundukkan kepalanya dalam-dalam, memejamkan mata sesaat untuk menghalau rasa perih yang mendadak menusuk ulu hatinya. Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan seraya mendongak kembali. Tidak, ia tidak boleh terjebak di masa lalu malam ini. Tidak di depan orang-orang yang tulus menyayanginya.
Di luar rumah, gemuruh hujan akhirnya mulai mereda, menyisakan suara ketukan ritmis tetesan air yang jatuh dari rumbia atap. Saat keheningan malam mulai mengambil alih, sebuah suara cicitan pelan mendadak terdengar dari arah Rani yang sedang menatap Hana.
"...Ha..." bisik Rani lirih.
Seketika itu juga, Bu Ratih, Hana, dan Kael langsung menoleh serempak ke arahnya. Menyadari dirinya mendadak menjadi pusat perhatian, Rani langsung membeku ketakutan.
Hana dengan sigap menggeser duduknya, berjongkok tepat di hadapan gadis kecil itu. Ia menggenggam jemari Rani yang gemetar, menatapnya dengan binar mata yang teramat lembut.
"Pelan-pelan saja, Rani. Kak Hana mendengarkan."
Rani menggigit bibir bawahnya, mengumpulkan seluruh sisa keberanian di rongga dadanya, lalu mencoba memproduksi suara sekali lagi.
"...Ha..." Rani menjeda ucapannya sejenak, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya karena frustrasi. Namun dengan satu hentakan napas, ia menyelesaikannya.
"...Hana..."
Suara itu terdengar sangat kecil dan sedikit serak, namun di dalam keheningan malam, nama itu terdengar sangat jelas. Menembus gendang telinga semua orang di sana.
Hana membelalakkan matanya tidak percaya. Mulutnya sedikit terbuka, dan jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.
"Kau... kau baru saja memanggil namaku?"
Rani hanya mengangguk malu-malu, lalu menyembunyikan wajahnya yang memerah di pundak Hana.
Detik itu juga, air mata langsung merebak jatuh membasahi pipi Hana. Itu bukan air mata kesedihan, melainkan luapan rasa haru yang luar biasa. Mengingat beberapa bulan lalu gadis ini bahkan trauma untuk sekadar menatap mata orang lain, mendengar Rani menyebut namanya adalah sebuah keajaiban yang nyata.
✨✨✨
Malam yang dingin itu pun kembali berubah menjadi lautan air mata bahagia. Bu Ratih menangis sesenggukan sambil memeluk cucunya, Hana ikut menangis haru, dan Rani yang bingung melihat semua orang menangis akhirnya ikut meneteskan air mata di dalam dekapan mereka.
Sementara itu, Kael hanya duduk bersandar pada tiang rumah, memperhatikan pemandangan emosional itu dalam diam. Perlahan, sebuah senyuman yang teramat tulus senyuman yang kini semakin sering muncul sejak ia menapakkan kaki di Desa Sekar terukir di wajah tampannya.
Namun, tepat di balik senyuman itu, sebuah pertanyaan kelam tiba-tiba menyeruak masuk dan meracuni isi kepala Kael.
Apakah seorang monster pelarian yang tangannya berlumuran darah seperti dirinya, benar-benar pantas menikmati kebahagiaan sebersih ini? Ataukah suatu hari nanti... masa lalu berdarah itu akan datang mengetuk pintunya dan merenggut paksa semua kedamaian ini?
Angin malam yang dingin mendadak berembus kencang, menerobos masuk melalui celah jendela yang sedikit terbuka. Hawa sedingin es itu seketika berdesir di tengkuk Kael, membuat dadanya mendadak terasa sesak dan tidak nyaman.
Insting tempur lamanya yang telah lama mati, malam itu mendadak menggeliat bangun, mengirimkan sebuah sinyal bahaya yang samar di kepalanya. Seolah-olah ada sepasang mata di kegelapan yang tengah mengintip jalannya. Kael mengepalkan tangannya kuat-kuat, sadar bahwa kedamaian ini mungkin memiliki batas waktu.
Bersambung....