Di dunia lama, dia adalah narapidana paling ditakuti, seorang maestro strategi yang menghancurkan satu negara dari balik jeruji besi. Dia dieksekusi dengan kursi listrik tepat saat sistem melakukan sinkronisasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Simfoni Kematian di Lembah Tengkorak
Angin malam bergemuruh bagai lolongan jiwa-jiwa yang tersiksa di dasar neraka. Lembah Tengkorak menyambut tuan barunya dengan badai debu yang bercampur aroma darah kering.
Valerius menunduk menatap tangannya yang kini tidak lagi gemetar karena racun. Otot-otot di balik kulit pucatnya terasa kencang, diisi oleh aliran energi asing yang berdenyut seirama detak jantungnya.
Ia menendang tubuh kaku Elian hingga terguling ke kubangan lumpur hitam. Tidak ada rasa hormat untuk yang lemah di dunia yang hanya memuja kekuatan absolut ini.
Valerius menelanjangi perlengkapan yang masih berguna dari mayat prajurit muda itu dengan gerakan efisien. Ia mengambil sebuah pedang pendek yang bilahnya sudah tumpul, sebuah kantong air, dan beberapa keping koin tembaga berkarat.
Setiap sentuhannya pada mayat itu dingin, tanpa keraguan sedikit pun. Di kehidupan sebelumnya, ia telah mengubur kerajaan-kerajaan dalam lautan darah tanpa pernah menyentuh senjatanya sendiri.
Kini, merasakan darah lengket di jari-jarinya memberikan sensasi euforia yang gelap. Ia menyeka sisa darah di wajahnya dengan punggung tangan, matanya menatap tajam menembus kegelapan malam.
Layar merah sistem kembali berkedip di sudut pandangannya. Layar itu memancarkan pendar cahaya yang hanya bisa dilihat oleh matanya sendiri.
[Status Host diperbarui. Kondisi Fisik: 80% (Masa Pemulihan).]
[Misi Tersedia: 'Darah Dibayar Darah'. Habisi para pengejar yang mengkhianati tubuh ini.]
Valerius menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang tidak pernah menghiasi wajah pemilik tubuh asli. "Jadi, dewa-dewa di dunia ini memiliki selera humor yang mematikan," gumamnya pelan.
Di kejauhan, suara derap langkah sepatu bot berlapis besi memecah keheningan yang mencekam. Suara itu berasal dari sekelompok ksatria yang menerobos semak berduri, membawa obor yang apinya menari-nari ditiup angin.
Itu adalah mereka, anjing-anjing pelacak dari Keluarga Duke Draken. Mereka dikirim oleh kakak kandungnya, Aldrich, untuk memastikan kematian Valerius di lembah terkutuk ini.
Valerius mundur selangkah, membiarkan bayangan tebing batu hitam menelan sosoknya sepenuhnya. Insting memburunya, yang diasah selama bertahun-tahun di dalam sel isolasi, kini mengambil alih setiap saraf tubuhnya.
Di bawah cahaya obor, tiga sosok ksatria berjalan dengan formasi merapat. Wajah mereka tertutup helm baja, namun bahasa tubuh mereka meneriakkan ketakutan yang berusaha ditutupi dengan arogansi.
Pemimpin mereka adalah Kaelen, seorang ksatria dengan jubah merah berlambang naga hitam milik Keluarga Draken. Kaelen berjalan dengan pedang terhunus, matanya liar memindai setiap tumpukan mayat monster di sekelilingnya.
"Cepat temukan mayat anak manja itu!" teriak Kaelen dengan suara parau. Ia meludah ke tanah berlumpur, berusaha menghilangkan rasa pahit ketakutan di lidahnya.
"Tuan Aldrich menjanjikan posisi Baron jika kita membawa kembali cincin stempelnya malam ini," lanjut Kaelen. Tangannya mencengkeram gagang pedang begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Ksatria kedua, yang bertubuh kurus bernama Vane, gemetar saat obornya menerangi sebuah tengkorak raksasa. "T-Tapi Tuan Kaelen, tempat ini... ini wilayah perbatasan Iblis."
Vane menelan ludah dengan susah payah, membayangkan rahang monster merobek lehernya. "Bagaimana jika pangeran lemah itu sudah dimakan habis? Kita tidak akan menemukan cincinnya."
Ksatria ketiga, Rurik, yang bertubuh paling besar, tertawa kasar menggelegar. "Kalau begitu kita belah perut setiap monster di lembah ini sampai cincin itu ketemu, dasar pengecut!"
Rurik menendang bangkai serigala mutan di dekatnya, menikmati suara gemeretak tulang yang patah. Ia menyukai kekerasan, dan membunuh bangsawan buangan adalah hiburan terbaik baginya.
Valerius mengamati mereka dari atas tebing batu dengan mata hitamnya yang sedingin es. Tiga nyawa ini bukan sekadar musuh, melainkan batu loncatan pertamanya untuk membangun singgasana barunya.
Ia memejamkan mata, memanggil kemampuan baru yang diberikan oleh sistem kepadanya. [Mengaktifkan Skill: Mata Penilai Iblis.]
Seketika, pandangan Valerius berubah menjadi spektrum warna yang mengerikan. Aura merah menyala mengelilingi Rurik, menandakan agresi fisik yang tinggi namun kelemahan pada kecerdasannya.
Aura kuning pucat berkedip-kedip di sekitar tubuh Vane. Warna itu berbau seperti daging busuk, mewakili ketakutan ekstrem dan kepengecutan yang mengakar di jiwanya.
Sedangkan Kaelen memiliki aura campuran, keserakahan hijau yang menutupi kecemasan hitam di dadanya. Mereka bertiga adalah mangsa yang sempurna untuk sebuah pertunjukan teater psikologis yang kejam.
Valerius mengambil batu seukuran kepalan tangan, menimbangnya sejenak. Ia melempar batu itu jauh ke arah semak-semak di sebelah kiri Vane.
Brak!
Suara semak yang patah bergema keras di tengah kesunyian lembah. Ketiga ksatria itu serempak menoleh, mengangkat senjata mereka ke arah sumber suara.
"Apa itu?!" jerit Vane, suaranya melengking tinggi mirip jeritan babi yang akan disembelih. Obor di tangannya bergetar hebat, membuat bayangan mereka menari-nari menakutkan di tanah.
"Tetap tenang, dasar bodoh!" bentak Kaelen, meski matanya sendiri terbelalak lebar penuh kewaspadaan. "Mungkin itu hanya monster sekarat. Rurik, periksa semak itu!"
Rurik mendengus kesal, namun ia melangkah maju dengan kapak perangnya yang berlumuran darah kering. Ia mengayunkan kapak itu dengan kasar, membelah semak berduri hingga hancur berantakan.
Di saat perhatian Kaelen dan Rurik tertuju pada semak tersebut, Valerius meluncur turun dari tebing batu tanpa suara. Ia seringan bulu, tidak meninggalkan jejak sekecil apa pun di tanah berlumpur.
Vane yang berdiri paling belakang terus menoleh ke kiri dan kanan, napasnya terengah-engah dalam kepanikan. Tiba-tiba, ia merasakan hawa dingin yang luar biasa membekukan tengkuknya.
Sebuah bisikan pelan terdengar tepat di telinga kanannya, begitu dekat hingga ia bisa merasakan embusan napas esnya. "Kau mencari cincin di jari tanganku, Vane?"
Mata Vane melebar maksimal, jantungnya seolah berhenti berdetak saat itu juga. Ia berputar dengan cepat, mengayunkan obornya secara membabi buta ke arah kegelapan.
Namun tidak ada siapa-siapa di sana, hanya angin malam yang berdesir mengejeknya. "S-Siapa di sana?!" teriak Vane, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya karena teror murni.
Kaelen dan Rurik segera berbalik, menatap rekan mereka dengan tatapan marah campur bingung. "Ada apa denganmu, idiot?!" umpat Rurik sambil meludah.
"Suara itu... Tuan Valerius... dia ada di belakangku!" racau Vane, wajahnya sepucat mayat yang sudah seminggu membusuk. Ia mundur terhuyung-huyung, tanpa sadar menjauh dari cahaya obor Kaelen.
Kaelen mendecakkan lidah dengan jijik. "Anak manja itu sudah mati karena racun yang kuberikan padanya, tidak mungkin dia selamat."
Valerius yang bersembunyi di balik tumpukan batu besar, tersenyum sinis di dalam kegelapan. Penyangkalan adalah tahap pertama dari kehancuran pikiran manusia yang paling ia sukai.
Ia bergerak cepat memutar, menargetkan Vane yang kini berdiri terlalu jauh dari perlindungan teman-temannya. Ia memungut sebuah panah patah dari tanah, menajamkan ujung kayunya dengan pedang tumpulnya.
Vane terus mundur, kakinya tersandung sebuah batu hingga ia jatuh berdebum ke tanah. Obor di tangannya terlepas, berguling dan perlahan padam tersiram genangan darah hitam.